
"Aku fikir semuanya sudah selesai, ternyata kau hanya menunggu untuk membuat masalah lebih gila" Calvin menghampiri Daniel dan duduk dihadapanya ia berbicara dengan mulut yang hampir tak terbuka.
"Kau benar benar pembuat masalah" gerutu Daniel pelan, karena sepasang mata Ayana masih mengamati mereka berdua.
"APA!! PEM...buat masalah?" protes Calvin tak terima, ia sempat berteriak namun menurunkan intonasi suaranya kemudian, "Apa kau tak bisa bermain lebih cantik lagi? Kau membawa istri adikmu didepan matanya!"
"Aku membawanya kerumah sakit, ia terluka"
"Lantas? menyembunyikannya? membuat kiss mark lebam dilehernya? kau fikir aku tak melihatnya tadi?kau gila Daniel"
"Sudahlah! kau tak akan mengerti"
"Jika aku tak mengerti, Daren sudah ada disini, aku akan memberitahunya dulu, sudahlah berhenti membicarakan hal ini aku lelah berbisik bisik seperti ini" kedua pria itu kompak menoleh dan menatap Ayana yang nampak bingung karena tak bisa mendengar pembicaraan dua pria dewasa yang nampak aneh itu.
Cukup lama mereka berdua berbincang mengenai Adam Lee yang yang harus menangani kesepakatan bisnis yang cukup besar, Calvin menyebut Daniel sudah lari dari tanggung jawab dan merasa jika Daniel bukan lagi Daniel Bosley si workholic yang dikenalinya, meski masih samar samar namun Ayana bisa mendengar perbincangan serius mereka kali ini, ia sempat merasa bersalah karena telah membuang waktu yang sangat berharga Daniel, Ayana lupa jika Daniel adalah seorang pemimpin perusahaan besar yang menanggung beban ribuan karyawan Bosley, bagaimana bisa ia yang bukan siapa siapa mengharapkan perlindungan dari orang seperti Daniel.
Kreek...pintu terbuka, seorang perawat dan Dokter yang menangani Ayana masuk dan membawa perlengkapan untuk mengganti perban dikepala Ayana dengan sebuah peban dan plaster luka yang lebih kecil dan hanya membalut bagian yang luka saja.
Daniel segera berdiri meninggalkan Calvin untuk mengetahui kondisi terkini Ayana, Pria bertubuh kekar itu mengamati dengan teliti saat perawat mulai mengganti perban Ayana seakan takut jika saja perawat itu melakukan kesalahan yang membuatnya kesakitan.
"Kapan aku bisa pulang Dokter?" Tanya Ayana, setelah perawat selesai melakukan tugasnya.
"Nona bisa segera pulang jika mau"
"Tidak!! dia harus dirawat lebih lama" Tukas Daniel.
"Tapi....?"
"Nona Ayana sepertinya anda memang harus dirawat lebih lama" Timpal Calvin yang tiba tiba datang lalu berkedip sebelah mata pa Daniel, seketika membuat pria itu ingin mengusirnya keluar ruangan.
__ADS_1
"Aku menunggumu di kantor" lanjut Calvin seraya memukul Pundak Daniel sebelum berlalu pergi, untung saja pria itu cepat pergi kalau tidak ia akan mati dengan hanya dengan sorot mata Daniel.
Calvin menutup pintu dan bersandar di tembok, sepertinya Daniel sudah tidak bisa dicegah lagi, ia sudah melakukan berbagai macam cara untuk mencegah sahabatnya itu jatuh ke jurang cinta terlarang tapi Daniel justru semakin memupuk perasaannya dengan baik, hufht...hanya helaan nafas yang kini bisa ia lakukan, sambil berjalan menuju Lift dengan posisi tangan meremas rambut pendeknya.
.
.
.
Setelah berdiskusi akhirnya Ayana setuju untuk dirawat satu hari lagi, jangang tanya bagaimana perasaan Daniel, debar jantungnya seakan hendak melompat mengetahui ia masih memiliki waktu satu malam bersama Ayana, namun Dokter yang menangani Ayana meminta waktu kepada Daniel untuk berbicara empat mata saja diruangannya.
"Tuan Adam Lee..." Sapa Dokter pria paruh baya dihadapan Daniel, sontak pria itu heran dan mengedarkan pandangan mencari sosok yang dipanggil, setelah sepersekian detik Daniel yang memang pada dasarnya orang yang cepat tanggap sadar jika panggilan tersebut ditujukan kepadanya. Iya ingat Adam Lee kemarin mendaftarkan identitasnya sebagai wali Ayana.
"Benar, itu saya," jawab Daniel yang berhasil membuat Ayana menampakkan gurat bingung.
"Oh tentu saja"
Sebelum keluar mengikuti langkah dokter ahli syaraf yang menangani Ayana dan perawatnya, Daniel terlebih dahulu membelai pucuk kepala Ayana.
"Tunggu aku sebentar"pintanya, yang diangguki Ayana, tingkah keduanya seakan semakin meyakinkan petugas rumah sakit jika mereka adalah pasangan suami istri.
.
.
.
Setelah mendapat pertolongan pertama kemarin Ayana memang melakukan serangkaian tes MRI dan CTscan untuk mengecak keadaan tubuh Ayana secara keseluruhan pasca kecelakaan.
__ADS_1
Jejeran gambar yang sama sekali tak dipahami Daniel terpampang dilayar monitor dihadapannya, dokter menjelaskan dengan detail yang dipahami Daniel jika tak ada efek yang serius yang dialami Ayana akibat benturan dikepalanya dan beberapa lebam ringan ditubuhnya, namun mata Daniel seakan memaku tatkala dokter tersebut mengehentikan penanya di sebuah gambar hitam putih yang nampak kabur, cukup Lama dokter tersebut menghirup udara lalu menghembuskannya perlahan sebelum mulai menjelaskan ada apa sebenarnya dengan gambar tersebut.
"Apakah sudah lama istri anda hidup tanpa limpa?"
"Tanpa Limpa?" Daniel seketika mematung bibirnya kelu sejenak sebelum melanjutkan kembali perkataannya "Apa maksudnya Hidup tanpa limpa?" lanjut Daniel dengan dahi yang berkerut sempurna.
"Anda tidak tahu?"
Daniel hanya menggeleng bingung,
"Sepertinya istri anda pernah melakukan operasi pengangkatan limpah, entah itu disebabkan benturan atau pembengkakan saya tidak tahu, saya hanya ingin memberitahu kepada anda sebagai suaminya, jika seseorang yang hidup tanpa limpa sangat rentan terjangkit infeksi karena daya tahan tubuh yang lemah, untuk itu sebagai seorang suami saya berharap anda bisa menjaga istri anda dengan ekstra, saya harap kecelakaan seperti ini tidak terjadi kembali" tutur dokter yang seakan menjadi gemuruh di telinga Daniel, ia tak menyangka jika Ayana memang seorang wanita yang sangat lemah dan rapuh, ini membuat keinginan Daniel untuk melindungi istri adiknya itu semakin kuat.
.
.
.
Daniel membuka pintu dan menguncinya ia menemukan Ayana tengah berdiri didepan jendela kaca besar mengamati jejeran gedung gedung pencakar langit yang ada diluar, wanita itu sempat menoleh dan memeberikan senyum hangat kepada Daniel.
Tanpa pikir panjang Daniel langsung memeluk tubuh Ayana dari belakang dan mencium pucuk kepalanya, Deg..seakan Ayana merasakan jika jantungnya seperti berhenti memompa darah keseluruh tubuhnya, pelukan Daniel membuatnya lemah dan tak bisa merasakan persendiannya, sekali lagi ia hanyut dalam dekapan hangat pria bertubuh atlethis itu.
"Bisa kau nonaktifkan mode kakak iparmu?" Bisik Daniel tepat ditelinga Ayana, yang membuatnya seakan ingin menggeliat.
"Tu...an.." Gumam Ayana pelan, begitu mendengar Ayana memanggilnya seperti Iti sontak Daniel membalik tubuh Ayana sehingga mereka saling berhadapan, Daniel kembali memebenamkan tubuh Ayana kedalam pelukannya.
Ayana yang bingung dengan dada yang bergemuruh hanya bisa menatap ceruk leher Daniel dari bawah yang bergerak naik turun.
Daniel menundukkan wajahnya menatap lekat Ayana sebelum akhirnya kembali ******* bibir Ayana yang nampak menggoda dan berisi itu, kali ini tak ada penolakan karena Ayana membalasnya dengan ******n yang kalah serakahnya.
__ADS_1