HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 32


__ADS_3

Sementara dibelahan bumi lain Ibu Ayana juga sedari tadi menghubungi nomor anaknya dengan ponsel pribadinya, tak jauh dari tempatnya berdiri Dokter Kimura menghubungi melalui pesawat telepon rumah namun hasilnya nihil.


"Apa Ayana masih sibuk sehingga tak bisa menerima panggilan?" tebak Nyonya kimura.


"Entahlah, mungkin juga! sepertinya ini konsekuensi yang harus kita terima karena menikahkannya dengan pria luar biasa" meski tidak matrealistis namun tuan kimura sangat bangga putri tunggalnya bisa menikah dengan keluarga konglomerat, walaupun ia sangat berpegang teguh pada prinsipnya jika Ayana harus menikah dengan orang Jepang, tapi jika itu Daren Bosley maka bisa dibicarakan.


.


.


.


Ayana membawa tubuhnya malas ke balkon seraya merentangkan tangan serta menghirup udara yang hampir siang, bau dedaunan hijau menyeruak masuk seakan menyegarkan kembali hati dan fikirannya, ia benar benar sudah sehat kembali.


Setelah membersihkan tubuhnya ia memutuskan untuk kembali mengeksplor rumah besar ini, masih banyak ruang yang sama sekali belum dipijakinya, ia juga tak banyak menyapa pelayan yang bekerja disini meski kata Daren tak perlu.


Seperti Apa yang tersirat dari Lohan yang seakan menyruhnya jangan membahas hal hal yang tidak perlu kepada orang lain maka Ayana memutuskan melupakan kejadian bersama Daniel dikolam berenang, ia berusaha menstimulasi fikirannya jika hal itu adalah wajar meski sebenarnya tidak, jadi jika bertemu Daniel maka ia akan pura pura tak terjadi apa apa.


Ayana menyusuri sebuah lorong dengan interior mewah,beberapa prabot bahkan dilapisi emas murni, dinding dengan ukiran dewa yunani nampak menghias indah disana. dipojok lorong Ayana menghentikan langkahnya menatap ruangan dengan pintu tertutup dihadapannya, ia ingat betul kemarin Lohan mengatakan itu adalah ruangan Daren dan tidak ada yang boleh masuk kesana kecuali Daren, siapapun itu tak boleh termasuk Ayana, Lohan menjelaskan penuh penekanan.


Daniel dengan hutannya sementara Daren dengan ruangannya..ah terserahlah, Ayana memutar balik langkahnya sebelum bunyi cicit pintu mulai terdengar ditelinganya.


Daren memang keruangan itu semalam dan sepertinya lupa untuk menguncinya kembali, Ayana mulai melupakan peringatan Lohan dan mengintip kedalam ruangan, tak ada yang istimewa disana hanya ada sebuah meja dan kursi serta beberapa rak buku yang tingginya mencapai atap, itu terlihat seperti perpustakaan tua yang terawat bagi Ayana.


Kali ini Ayana masuk dan menutup pintu perlahan, ia menyentuh satu persatu jejeran buku didalam Rak sambil sekilas membaca judulnya, tak ada yang benar benar menarik perhatiannya hanya beberapa kumpulan novel tua yang tertata rapi, ia memang bukan tipe orang yang gemar membaca fiksi.


Ia berfikir Daren tak mungkin marah jika ia masuk, toh ia adalah istrinya, apa yang bisa disembunyikan seorang suami kepada istri yang begitu dicintainya.


Ayana mendudukkan bokongnya disebuah kursi dan mulai asal membuka satu per satu laci yang terdapat pada meja dihadapannya. ia menemukan puluhan bahkan mungkin ratusan foto dengan berbagai ukuran berbeda tapi menampilkan wajah yang sama disalah satu lacinya.


Wanita itu nampak sangat cantik dengan rambut pirang yang sedikit ikal, ada foto dengan senyum merekah dan juga simpul, Ayana lalu mengambil secara acak foto yang tertindih dan membaliknya, meski terkejut namun ia dengan cepat dapat menguasai perasaannya menyaksikan foto Daren yang mencium wanita berambut ikal itu. Ayana sadar betul jika ia memang bukan yang pertama bagi Daren, terbukti pria itu sangat telaten membimbingnya saat pertama Ayana memutuskan untuk melepaskan mahkota kesuciannya yang selama ini dijaganya.

__ADS_1


Ada rasa cemburu yang menghujam tajam menyaksikan potret dihadapannya, beberapa foto selanjutnya memperlihatkan betapa Bahagia Daren bersama wanita itu, merasa tak kuat Ayana memutuskan menutup Laci itu dengan gusar.


Titik Amarah mulai ia rasakan, mengetahui jika Daren bahkan masih menyimpan foto mantan kekasihnya, apa karena ini tak ada siapapun yang boleh masuk termasuk dirinya? Mungkinkah Daren masih menyimpan rasa kepada wanita itu? lalu mengapa ia menikahinya?


Huh.....Ayana mendesah kuat dengan mata yang berkaca kaca, jangan menangis! ucapnya didalam hati berusaha menguatkan perasaannya, sesekali Ayana menengadah guna mencegah Air matanya tumpah dan membasahi pipi.


Ia kembali membuka laci yang lain, mungkin saja Daren juga menyimpan potret dirinya disana jika memang ada setidaknya tidak akan begitu menyakitkan, namun nihil dilaci selanjutnya hanya ada koran tua yang warnanya sudah mulai memudar, Ayana membentangkannya dan menelisik setiap artikel yang dimuat disana. Sebuah artikel dengann kolom tidak terlalu besar menarik perhatiannya.


Tengah berlibur di Osaka, seorang mahasiswi cantik tewas dalam kecelakaan Bus.


Itu judul artikel yang tengah dibaca Ayana, pupil matanya seketika membesar, saat menelaah satu persatu isi artikel tersebut, Dadanya seakan sesak tak bisa bernafas ketika matanya tertuju pada tanggal terjadinya kecelakaan tersebut, sebuah peristiwa sama dengan nama bus yang sama yang hampir merenggut nyawanya, orang tuanya bahkan harus menunggu tiga bulan lamanya agar dirinya sadar dari koma yang dialaminya setelah operasi.


Ayana mengamati gambar hitam putih seorang gadis cantik yang dimuat dikoran tersebut ia lalu kembali mengambil foto dari laci sebelumnya dan mencocokkan dua wajah yang serupa itu.


"Bar...bara...quinn" gumamnya pelan dengan terbata bata membaca nama yang tertara pada artikel tersebut, menyadari jika wanita yang dicintai Daren adalah wanita terakhir yang ia ajak berbicara sebelum kecelakaan itu terjadi, ia hanya mengingat wanita itu tidak dengan Daren yang kala itu tak terlihat jelas bagi Ayana.


Ayana semakin sesak, bukan karena Barbara melainkan ia memang mengalami trauma berat tatkala kembali mengingat kejadian tersebut, seluruh tubuhnya bergetar namun ia masih sempat merapikan kembali koran dan foto foto itu seperti semula dengan tangan tremor.


.


.


.


Daren berlari kuat setelah turun dari mobil yang dikemudikannya, ia bahkan meninggalkan pertemuan bisnis yang begitu penting saat mengingat jika ia lupa mengunci ruang rahasianya, sementara dari kejauhan Daniel yang tengah menunggangi kudanya melihat gerak gerik Daren yang tidak biasa, ia bisa memastikan pertemuannya bahkan belum selesai dan segera pulang.


Apakah Ayana baik baik saja?


masalah apa yang bisa membuat Daren begitu terburu buru selain istrinya yang tengah sakit!


Daniel segera memacu tunggangannya itu menuju paviliun utama.

__ADS_1


.


.


Daren berlari menyusuri anak tangga dan mengabaikan sapaan pelayan yang menyambut kedatangannya, sekelumit kemungkinan Ayana telah masuk keruangan tersebut dan menemukan kebenaran yang ia sembunyikan membuatnya lupa jika ada lift yang bisa membawanya lebih cepat kelantai 3.


Dengan nafas yang tersengal sengal Daren menemukan Ayana yang tengah memegang kenop pintu, entah istrinya itu baru hendak masuk ataukan baru keluar, Menyadari kedatangan suaminya Ayana menatap Daren dengan sendu dan bibir kaku tak bisa berkata apa apa, sekujur tubuhnya terasa menggigil. Namun Daren justru menatapnya tajam seperti hendak menelannya hidup hidup, padahal saat ini Ayana sangat butuh seseorang mendekapnya.


Daren menghambur masuk dan meriksa semuanya, ia menemukan tak ada yang berubah posisi sedikitpun, namun Daren tak bisa serta merta percaya dengan penglihatannya ia kembali keluar dan langsung menarik tangan Ayana dengan kasar dan membawanya menuju kamar, menyadari tangan istrinya itu sedingin es, Daren menarik kesimpulan jika wanita itu sudah mengetahui segalanya.


Ayana menghentikan langkahnya tepat didepan undakan anak tangga, mau tak mau Daren juga ikut berhenti, ia menoleh dan menatap tajam kearah istrinya yang nampak linglung tersebut.


Daren meremas dengan kuat kedua bahu Ayana dan menguncangkanya.


"Kenapa kau masuk? HAH!!!"


"APA YANG SUDAH KAU LIHAT?!!!"


Ayana tak bisa menjawab ia bahkan tak bisa mendengar apa yang dikatakan Daren, hanya gerak bibir yang ditangkap oleh manik matanya.


Ayana melangkah dengan tatapan kosong saat Daren sudah melepaskan Cengkramannya, sementara Daniel yang mendengar teriakan Daren semakin mempercepat langkahnya.


Gadis jepang itu tak menyadari jika kakinya salah memijak dan membuat tubuhnya jatuh dan terguling di tangga yang cukup curam.


"AYANA!!!!"


"AYANAA!!!"


Daniel dan Daren yang melihat tubuh Ayana terjatuh berteriak bersamaan.


😇😇😇jangan lupa like dan komen ya...agar author semangat melanjutkan ceritanya🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2