HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 53


__ADS_3

"agh...agh...." Ayana terengah engah ditengah pagutannya bersama Daniel, Dadanya sesak saat nafasnya tak lagi beraturan, namun ia masih berusaha menikmatinya, tak bisa dipungkiri Ayana memang sangat merindukan Daniel entah itu keinginan sang bayi ataukah dirinya sendiri. Lagi lagi batinnya seakan berontak menuntut agar dirinya menjadi seseorang yang lebih tegas ia tahu ini salah namun masih menginginkannya, bahkan bayangan kedua orang tuanya seakan sirna terkalahkan Nafsu tatkala ia bersama Daniel.


"Stop..."Ayana secara sepihak melepaskan ciumannya.


"Ada Apa sayang? kau tidak nyaman? tidak bisa menikmatinya?" cecar Daniel.


Ayana hanya menjawab dengan gelengan kepala pelan, ia menatap Daniel dengan wajah sendu dan dengan mata yang berkaca kaca.


"Aku merindukanmu!" Lirih Ayana


Daniel menghela nafas lega mendengar pengakuan Ayana, Pria itu mengusap pipi wanitanya yang terlihat memerah lalu membenamkan bibirnya yang disana, merengkuh kepala Ayana sehingga pipi wanita hamil itu bisa merasakan bulu Dada yang seakan memberikannya sentuhan dengan rasa tiada tara.


"Aku juga sangat merindukanmu" ujar Daniel.


"Maafkan aku tak bisa menghiburmu, aku tau kau sangat sedih hari ini" Ayana menengadah menatap wajah Daniel seraya mengelus bulu halus yang tumbuh di dagu dan sekitar bibirnya.


Daniel memgerutkan Dahi, Sedih? padahal hari ini ia sangat bahagia.


"Mengapa aku harus bersedih ?"


"Lauren....."Ayana menghentikan kata katanya dan menggigit bibir bawahnya, ia yang masih begitu polosnya seakan enggan menyinggung Lauren dan membuat pasangan selingkuhannya itu bersedih.


"Lauren? kau sudah melihatnya?"


Sekali lagi Ayana mengangguk penuh rasa bersalah.


"Ayana mengapa kau begitu polos padahal sebentar lagi kau akan jadi seorang ibu" gemas Daniel seraya mencubit hidung mancung Ayana.


"Jadi kau tidak sedih?"


cup.

__ADS_1


sebuah kecupan ringan mendarat dibibir Ayana.


"Aku justru bahagia karena ada kau disini" Daniel semakin merapatkan tubuh Ayana ke dalam dekapannya, sementara Ayana berusaha melonggarkannya dengan mendorong pelan dada bidang Daniel.


"Bukan kah kau begitu mencintai istrimu? saat di maldives kau terlihat begitu putus asa saat mengatakan Lauren sangat jarang menghangatkan ranjangmu, dan kau......" ucapan Ayana menggantung sejenak Dengan tatapan penuh selidik, ia sangat ingin bertanya Bukankah dulu kau tidak menyukai wanita Asia bertubuh mungil? namun urung dilakukannya.


Pertanyaan Ayana membuat Daniel mendesah kasar.


Hah...."Bukankah sudah ku katakan aku menyukaimu pada pandangan pertama?, Dan Lauren! berhenti membahasnya saat kita berduaan, aku tak pernah mencintainya begitu pun sebaliknya, kami hanya berusaha mempertahankan rumah tangga demi nama baik dan keuntungan keluarga masing masing" Jawab Daniel dengan sorot mata tajam kepada Ayana.


"Tuan...Kau marah?" cicit Ayana.


"Tidak sayangku" Daniel mengecup kepala Ayana lalu mengusapnya lembut, bagaimana bisa wanita yang sangat ia cintai ini berfikir ia lebih mencintai istrinya dibanding dirinya, inilah alasan mengapa Daniel sangat ingin menikahi istri adiknya itu, agar Ayana tahu hanya dirinya seoranglah wanita yang berhak mendapatkan cinta seorang Daniel Bosley.


"Apa kau tau Ayana, ranjangku mulai terasa hangat saat di Maldives" Tatapan Daniel kali ini lebih intens, ia mulai menyingkirkan poni yang mengerubuni dahi wanita hamil yang saat ini menikmati kehangatan pelukannya.



"Di Maldives ? apa mungkin?" tatapan Ayana seakan menaruh kecurigaan "Benarkan? Aku mendapati seprei lusuh saat bangun dihari kedua, aku tau saat itu kita tidur bersama"Ayana mendorong lengan berotot Daniel, membuat pria itu tertawa mengingat hal yang pernah ia lakukan terhadap Ayana di Maldives.


"Kau? "Ayana membalik tubuhnya kesal " Padahal saat itu kau mengatakan tidak menyukai gadis Asia bertubuh mungil sepertiku" Ayana mendengkus.


"Hei...Hei..Baby, kenapa kau marah? padahal saat mabuk kau bahkan memanggilku Paman, apa aku setua itu?"


"Benar kau memang tua, usiamu 35 tahun sedangkan aku dua puluh tiga tahun"ketus Ayana.



"Apa kau kecewa karena saat itu aku hanya menyesapnya? Apa kau berharap lebih? heheh" Daniel sengaja membuat Ayana kesal, entah mengapa wajah marahnya terlihat begitu menggemaskan dipelupuk mata Daniel.


"Saat melihatmu aku langsung ingin menjadikanmu hiasan ranjangku"

__ADS_1


"Hia-san ranjang??" Ayana kembali memutar tubuhnya menghadap Daniel.


"heem"


Ayana menelusupkan wajahnya ke dalam dada bidang Daniel lalu mulai terisak, mendengar pèrkataan Daniel membuat hatinya terasa diiris sembilu, tentu saja status apa yang bisa diharapkan dari hubungan mereka! sepertinya kehamilan membuat Ayana lebih mudah terbawa perasaan.


"Baby....?kau menangis?" Daniel meraup dagu Ayana dan menengadahkan wajahnya, dadanya bagai dihujam melihat wanita pujaannya berderai air mata, mungkinkah ia terluka karena salah satu perkataannya?


"Maafkan aku jika sudah menyinggung perasaanmu" Daniel mengecup kelopak mata Ayana bergantian, namun tak bisa memghentikan aliran crystal beningnya yang bercucuran.


"Apa kita akhiri saja semua ini"


"Apa yang harus diakhiri?"


"Hubungan perselingkuhan diantara kita"


"Tidak!!!" Tukas Daniel menatap Ayana dengan sorot mata yang tajam.


"Aku takut semakin tidak bisa hidup tanpamu, aku selalu merindukanmu sementara kau adalah paman dari bayi di dalam kandunganku, rasanya aku tidak bisa memikul rasa  bersalah kepada Daren, orang tuaku, Ibu Bosley dan anakku kelak."tutur Ayana , setidaknya ia sudah berusaha untuk mengakhirinya meski perih harus mengucapkan kata kata itu, karena rasa tidak ingin kehilangannya yang ia rasakan tak kalah besarnya.


Huffht..... Daniel menghela nafas panjang, mengusap air mata Ayana dan kembali membenamkan kecupan hangat di dahi wanita itu, ia bisa mengerti beban perasaan yang dipikul Ayana akibat ulahnya yang begitu egois menjebak wanita itu ke dalam perasaan cinta terlarang yang dipupuknya.


"Ayana kimura gadis kecilku, bisa jangan membahasnya sekarang? Aku sedang berfikir jalan terbaik untuk kita tanpa harus melepaskan satu sama lain, kau fikir aku bisa hidup tanpamu?Tidak!"


"Tapi....bagimu aku ini apa?ipar?hiasan ranjang ? Atau....." kata kata Ayana bagai menggantung diawang awang, ia tak mungkin menginginkan hal yang lebih dari sekedar pasangan selingkuh, kondisi tidak memungkinkan mereka memiliki hubungan yang normal.


"Kau wanita yang sangat kucintai" Jawab Daniel pelan namun terdengar tegas.


"Akupun sangat mencintaimu" ujar Ayana seraya mengangkat wajahnya, lalu meraup bibir Daniel yang begitu ****, ini kali pertama ia nampak lebih agresif. Hanya selama Daren tidak ada! Ayana membatin.


Tak lama kemudian Daniel membalasnya dengan pagutan penuh gairah, lidahnya perlahan masuk mengabsen setiap inci bagian dalam mulut Ayana, lama mereka saling bertukar saliva beradu lidah hingga nafsu itu sudah berada dipuncak ubun ubun.

__ADS_1


"Aku janji tidak akan menyakitimu, dan kandunganmu" ujar Daniel meyakinkan, dan hanya dibalas dengan katupan kelopak mata Ayana, hingga akhirnya mereka saling menyatu tanpa sekat sehelaipun.


Setelah Lampu dipadamkan Ayana memberikan permainan terbaiknya hingga membuat kakak iparnya itu meracau berkali kali memanggil namanya.


__ADS_2