HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 45


__ADS_3

Ayana mendapati dirinya terbangun disebuah ruangan yang sangat besar, dimana warna putih begitu mendominasi ruangan tersebut.


Apakah ini surga? Ayana bahkan bisa mencium aroma terapi yang biasa ia rasakan hampir disetiap sudut rumahnya, yah Ibunya biasa menggunakan dupa dengan wangi lavender seperti ini.


Ayana kembali menutup matanya, merasakan wangi rumah yang sudah sangat lama ia rindukan, beharap tidak lama lagi mendengar suara Ayah dan ibunya yang membangunkannya bergantian, ah...jika ini bukan surga maka biarkan mimpi ini tetap seperti ini.


flashback.....


bug...sebuah bantal busa mendarat tepat diwajah Lohan yang tengah terlelap, sebagian tubuhnya ditempat tidur sedangkan kedua kakinya dibiarkan menjuntai, ia bergeming dengan dengkuran halus dimulutnya, lemparan dari Nyonya Bosley tak cukup untuk membangunkannya.


Wanita tua itu masih menatap gusar sang asisten yang biasanya sudah memperaiapkan segala keperluannya sejak pagi. Tapi hari ia malah menemukan Lohan masih tertidur pulas padahal sebentar lagi jam makan pagi.


"Lohan....Lohan.....!!" Panggil Nyonya Bosley seraya menepuk pipi asistennya itu.


Lohan mengerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan jiwanya yang baru saja beberapa jam yang lalu terpencar dari raganya, padahal ia baru tidur saat gurat fajar mulai terlihat, karena harus menjaga kedatatangan Daren dari branda lantai tiga.


"Nyonya bisakah tidak menggangguku dulu?" pinta Lohan yang kini sudah duduk ditepi tempat tidur dengan wajah bantal dan rambut awuk awukan.


Nyonya Lohan berdesis kesal, bisa bisanya Lohan menganggapnya sebagai pengganggu, "Apa katamu?" pekik Nyonya Bosley.


"Nyonya! aku bahkan terjaga sepanjang malam untuk memastikan ritual kencan Tuan Daniel dan Nona Ayana berjalan lancar" Jelas Lohan.


"Apa maksudmu Lohan Hmm?kencan apa?" Kini Nyonya Bosley suduh mendudukkan bokongnya tepat di samping Lohan.


Wanita berkawat gigi itu lalu meraba sekitar tempat tidurnya guna mencari kaca mata tebalnya yang memang selalu bertengger dihidungnya.


Ia mulai menjelaskan setiap detail kejadian semalam, mulai dari Kedatangan Daniel kekamar Ayana, dan membawa wanita itu berkuda pada dini hari masuk kedalam hutan maple yang tidak sengaja ia lihat dari atas branda ,serta Daren yang hingga pagi tak menunjukkan batang hidungnya.


flashback off


.

__ADS_1


.


.


"Hamil??" Daniel, Daren dan nyonya Bosley mengucap bersamaan, setelah seorang dokter kandungan selesai menerangkan kondisi Ayana yang sesungguhnya, Jika Janin didalam kandungan Ayana sudah berusia dua minggu, usia yang sangat rentan maka dari itu dokter meminta semua pihak keluarga ikut menjaga Ibu dan juga janinnya.


Seutas senyum kemenangan terulas dibibir Daniel, pria itu jelas merasakan kebahagiaan tiada tara karena yakin janin yang ada didalam kandungan Ayana adalah pasti darah dagingnya mengingat kondisi Daren yang tidak memungkinkan.


Semantara Daren melemah seluruh tubuhnya seakan lemas tak berdaya, tubuh atletisnya ia hempaskan begitu saja diatas sofa, pikirannya melayang sambil meramas kuat rambut pirangnya, ia bahagia karena kehamilan Ayana adalah hal yang paling ia tunggu tunggu, namun rasa bersalah seakan begitu menggelayut dan tak ingin sirna, bagaimana tidak? kini Daren sadar jika perubahan sikap Ayana sepertinya dikarenakan hormon kehamilannya dan bodohnya ia malah bermain api dan mempertontonkan adegan itu kepada istrinya. Argh.....rasanya Daren ingin segera bersimpuh pada wanita dihadapannya yang kini tengah terkulai tak berdaya.


Nyonya Bosley pun tak kalah bahagianya keinginannya untuk segera mendapat keturunan sudah tercapai ,namun ia masih bertukar pandangan bingung dengan asistennya Lohan yang kini ditariknya keluar ruangan.


Dikoridor depan Nyonya Bosley berbicara dengan sedikit berbisik.


"Bukankah baru tadi malam mereka kencan?"


"Aku juga bingung Nyonya kapan mereka sempat melakukanny? atau ...."


"Atau apa?"


"Tidak mungkin!!"


"Jangan jangan!!" Dua wanita licik itu berucap bersamaan dan saling menatap penuh keyakinan, kali ini sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama.


"Rumah sakit!"ujarnya lagi kompak.


"Hah...anak itu! bagaimana ia bisa melakukannya


dengan seorang pasien" ujar nyonya Bosley tak percaya.


"Apa itu penting nyonya, yang penting nona Ayana sudah mengandung"

__ADS_1


"Kau benar Lohan, ayo masuk"


saat hendak membuka kenop pintu dua wanita itu bertemu Daniel dan Adam Lee diambang pintu, dua pria itu harus kembali ke Bosley elektronik dan melanjutkan pejerjaannya


Daniel tak menyapa ia hanya mengulas senyuman penuh arti yang dibalas senyuman serupa oleh wanita tua itu.


Nyonya Bosley mengusap pucuk kepala Ayana penuh kasih, seakan mengucap terima kasih pada wanita yang masih nampak terlelap itu karena sudah bersedia mengandung cucu sebagai penerus keluarga Bosley kelak.


"Daren, ibu akan pulang bersama Lohan, ibu akan mengirim beberapa pelayan dan bodyguard untuk menjaga Ayana" ucap nyonya Bosley pada Daren yang masih bergeming meramas rambutnya dengan wajah menunduk.


Namun nyonya Tua itu begitu peduli, ia justru menoleh kearah Lohan yang masih mengamati wajah teduh Ayana yang seperti tengah bermimpi indah.


"Nona terlihat menikmatinya!" ujar Lohan, menunjuk kaarah wajah Ayana.


"Apa?"


"Aroma terapinya" Lohan menunjuk sebuah guci berukuran kecil diatas nakas dengan berbagai serbuk yang dibakar didalamnya, sehingga menghasilkan uap yang membaui seluruh ruangan dengan aroma lavender yang menenangkan.


"Ooh...iya itu ide Adam Lee, mungkin karena mereka berasal dari negara yang saling berdekatan, jadi ia tahu apa yang disukai Ayana,jelas nyonya Bosley yang disusul anggukan pelan Lohan.


Dua wanita itu lalu meninggalkan Ayana dan Daren berdua, tak lama kemudian sesuai janji nyonya Bosley benar benar mengirim 4 orang bodyguard yang berjaga di pintu masuk kamar, serta seorang pelayang yang kini tengah mengusap lembut kaki Ayana dengan handuk basah.


Daren mendesah seakan ingin membuang semua rasa bersalahnya akan tetapi tetap tak bisa mengurangi beban difikirannya, ia menarik sebuah kursi ke samping tempat tidur Ayana dan menggenggam erat tangan istrinya itu, sudah 4 jam lamanya Ayana terlelap dan belum menunjukkan tanda tanda ia akan segera trrbangun, bahkan saking lelapnya dengkuran halus terdengar keluar dari bibirnya.


Apa kau selelah itu ? Daren membatin, mengingat betapa ia menyiksa Ayana selama dua minggu ini.


"Maafkan aku sayang...." ucapnya Lirih, sambil menciumi punggung tangan Ayana.


"Bisa kau keluar sebentar aku ingin waktu berdua dengannya!" Titah Daren pada pelayan wanita yang tengah memijat kaki Ayana, Pelayan tersebut tak menunjukkan penolakan ia segera berjalan keluar setelah sebelumnsya menunduk memberi hormat.


Tak lama kemudia tangan Ayana bergerak perlahan, ia mulai mengerjapkan matanya dan mengamati langit langit, namun kali ini ia tidak berfikir mengenai surga atau mimpi karena ia bisa melihat Daren disamping yang tengah menggenggam erat tangannya sambil menutup mata dalam.

__ADS_1


Ayana melirik diatas nakas dan menemukan dupa yang mirip dengan yang biasa digunakan ibunya di Osaka.


"okasan ottosan" panggilnya lirih dengan buliran bening yang muncul disudut matanya, ah..betapa rindunya Ayana dengan dua orang yang tak pernah lelah memberinya kasih sayang itu.


__ADS_2