HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 29


__ADS_3

Sekuat apapun Ayana menggeser pintu kaca dijadapannya tidak akan pernah bisa terbuka, ia menoleh dan hanya melihat kegelapan menyelimuti ruangan tersebut,dengan suara gemercik air yang sama.


Apa listriknya rusak?


Ayana menengadahkan wajah kelantai dua dan masih mendapati cahaya merah temaram disana.


Ah mungkin koslet!


Ia akhirnya memutuskan untuk berjalan mendekat kearah kolam berenang ,sepertinya Daniel tidak menyadari kehadirannya, tentu saja! Jika didalam air dia tidak akan bisa mendengar suara gelas itu. Pikirnya.


Ayana tetap fokus agar langkahnya tak melenceng dan tetap di tepian kolam, ia ingat penjelasan Lohan jika kedalaman kolam ini hampir dua meter, itu artinya jika terjatuh ia bisa mati karena tak bisa berenang.


Gemercik air karena terpaan tubuh Daniel, sudah tak terdengar, ini artinya pria itu sudah  menghentikan aktifitasnya.



Daniel sengaja duduk ditepian kolam dengan kedua kaki yang menjulur kedalam air, ia bisa mendengar cicit langkah kaki perlahan mendekatinya, bahkan deru nafas Ayana yang memburu ditengah keheningan malam sayup sayup menyapa rungunya, apakah gadis itu tengah ketakutan? Ah bahkan nafasnya saja mampu membangkitkan nafsu kelelakiannya.


"Daniel..." cicit Ayana, beberapa kali ia mengulang panggilannya namun tetap tak ada jawaban, apa pria itu benar benar akan mengacuhkannya sampai akhir? Ia bahkan sudah tak mendengar suara air, ini memandakan Daniel sudah naik dipermukaan, ia tak mungkin menyelam dan menahan nafas kan?


Kau sendiri yang datang kesini Ayana, jangan salahkan aku!!


Byur.......karena tepian kolam yang licin kaki Ayana tergelincir dan membuat tubuhnya terjerembap kedalam air yang dingin. dengan gerakan cepat Daniel menyelam dan mengangkat tubuh mungil Ayana.


Ini seperti Dejavu, kejadian malam ini seakan mengkopi peristiwa di Maldives.


"Wanita ini....!!" 

__ADS_1


Dua wajah itu saling berhadapan dengan deru nafas yang memburu, mereka seperti tengah bertukar oksigen dengan jarak tak sampai lima centi meter.


"Mengapa kau datang?ini sudah tengah malam"


"Ak...Aku....sepertinya kau terlalu dekat Daniel aku tidak nyaman"ucap Ayana mengabaikan pertanyaan Daniel, ia mencoba menjauhkan wajahnya namun sialnya dibelakang adalah dinding tepian kolam yang keras.


"Apa kau merindukanku??"tanya Daniel dengan percaya diri, ia tak lagi peduli apa yang akan dipikirkan adik iparnya itu.


"Ah...apa..maksudmu? aku sama sekali...tidak merindukanmu" elak Ayana dengan nafas tersengal sengal. Rindu? mengapa saat Daniel mengucapkan itu hatinya justru tidak membantah, apa ia sudah gila?


Daniel berusaha mengulum senyuman dan tertunduk, kedua orang itu tidak dapat saling melihat sehingga sibuk membuat ekspresi masing masing, Ayana dengan gemasnya memanyunkan bibirnya berusaha terlihat tidak terima dengan tuduhan Daniel.


"Aku...hanya...." Ayana menghentikan kata katanya saat sebuah sorot lampu nampak mengitari ruangan dari arah luar, itu adalah petugas keamanan yang tengah patroli dirumah besar itu.


Daniel semakin menghimpit tubuh Ayana untuk menghindari sorot lampu senter sang penjaga,kini wajah mereka hampir tanpa jarak jalan satu satunya bagi Ayana terlepas dari situasi ini adalah dengan membenamkan kepalanya kedalam air, tapi ia urung melakukannya entah mengapa ia justru menikmati sensai tantangan hembusan nafas Daniel yang seketika membuat tengkuknya menegang.


"Hush...."


Ah...Ayana benar benar menggila, bahkan bau nafasnya yang maskulin merasuk kedalam rongga hidung dan mulutnya menerobos masuk hingga ubun ubun. ini gila !


Daniel bisa merasakan dada Ayana bergerak naik turun tak terkendali, bahkan dua benda kenyal itu terasa begitu lembut di dadanya yang berbulu, ya Ayana hanya membalut tubuhnya dengan sebuah lingerie tipis tanpa dalama* dan kini basah, untungnya keadaan sangat gelap sehingga Daniel hanya bisa merasakannya dan tidak bisa melihat dengan kedua matanya.


"Aku hanya...ingin bertanya kenapa kau mengabaikanku?" ucap Ayana dengan suara pelan.


"Kenapa ? kau keberatan?"


"Iya itu membuatku tidak nyaman, bukankah kita....saling mengenal dengan baik"

__ADS_1


Ya aku mengenal mu bahkan setiap bentuk lekuk tubuhmu aku sangat mengenalinya Timpal Daniel didalam hatinya.


"Baiklah kalau itu maumu, aku tidak akan mengabaikanmu lagi" bisik Daniel tepat didaun telinga Ayana "Maaf belum memberikan sebuah hadiah pernikahan, aku akan memberikannya malam ini" lanjutnya lagi .


Ayana menautkan alisnya, hadiah pernikahan? benar pria itu memang tidak memberi apa apa dihari pernikahannya sementara Lauren memberinya satu stell perhiasan logam mulia dan kado kecil yang ia terima saat sarapan.


"Apa yang akan....."Ayana tak dapat melanjutkan perkataannya , saat mulutnya tiba tiba di bekap dengan benda lembut yang menghanyutkan. ia bahkan bisa merasakan bulu tipis disekitar bibir Daniel yang memberikan sensasi tiada tara.


Mata yang semula membelalak tiba tiba redup sendu, menikmati ***** demi ***** yang suguhkan Daniel padanya, ia menikmatinya dalam diam dan kegelapan. Ayana bahkan mau saja membuka mulutnya saat benda tak bertulang yang menjulur merongrong masuk dan mengabsen setiap yang ada didalam sana.


Ini salah! Ini salah! hentikan kegilaan ini Ayana. Batin Ayana menjerit namun ia tak memiliki kekuatan merealisasikannya, aksi itu bahkan berlangsung lebih dari 1 menit hingga akhirnya Ayana sadar jika ia tak bisa bernafas, kedua tangannya refleks mendorong tubuh Daniel menjauh, namun tubuhnya langsung terjerembab dan terbenam ia lupa jika dirinya tak bisa berenang.


Daniel segera mengangkat tubuh Ayana dan membaringkannya di tepian kolam, sorot lampu senter dan penjaga juga sudah tak terlihat lagi. Mendengar Ayana yang terbatuk batuk, Daniel lalu meraba tempat ia menaruh remot control dan menyalakan satu bola lampu dengan sinar temaram.


"Apa yang kau....huk huk...." Daniel membantu Ayana dengan menepuk nepuk punggung gadis itu, meski cahaya yang tidak begitu terang namun Daniel bisa melihat semua isi dalam Ayana dibalik Lingerienya yang basah, cardigan rajut yang tadi menutupi tubuhnya kini hanya hinggap dikedua bahunya dengan bagian depan terbuka sempurna.


"Itu Hadiah dariku, bukankah kau menerimanya" ucap Daniel serius, namun dibenaknya ia tertawa bahagia mengingat Ayana yang menyambut ciumannya dengan senang hati.


Pipi Ayana seketika seperti kepiting rebus rona merah hampir menghiasi seluruh wajahnya, ia akui jika memang terbuai dengan permainan lembut Daniel.


"Itu ciuman selamat datang dariku" Daniel kini merapikan cardigan Ayana agar tubuh bagian depannya tertutup sadar akan hal itu Ayana segera bangkit dan merapatkan cardigannya dengan kedua tangannya . ia tak tahu harus bagaimana sekarang. malu, nikmat , marah bercampur menjadi satu.


Apa itu pelecehan? tidak! ia juga ikut menikmatinya ah..Ayana hanya bisa tertunduk malu.


"Jangan terlalu difikirkan, Bukankah itu Hadiah wajar jika kau menerimanya dengan senang hati" ledek Daniel sambil memakaikan Handuk kimono yang disambarnya.


Kali ini Ayana benar benar kehilangan harga dirinya ia meninggalkan Daniel tanpa sepatah katapun.ia berjalan cepat menuju pintu keluar , sebelum tangannya memegang kenop pintu geser dihadapnnya terlebih dahulu Daniel menekan remot yang membuka kuncinya, Ayana sempat menoleh dengan tatapan kesal kepada Daniel karena ia baru tahu jika lampu mati dan pintu terkunci itu adalah ulahnya.

__ADS_1


__ADS_2