HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 83


__ADS_3

Ayana menatap nanar pada jendela kaca yang menampilkan buturan salju tipis yang seperti berlomba, ia seakan baru terbangun dari tidur panjangnya selama satu tahun penuh, entah mengapa kehidupan begitu senang mempermainkan dirinya yang hanya seorang gadis polos biasa, Ayana tak pernah menyangka akan berakhir dan menyandang nama Korea, sebuah Negara maju yang berbatasan dengan tanah kelahirannya. Berakhir menjadi seorang menantu keluarga konglomerat dan dicintai oleh dua orang tuan muda sekaligus, hidupnya seperti yang yang ada didrama yang biasa ia lihat,namun tragis karena berakhir dengan sad ending.


God kenapa tidak kau berikan aku kehidupan yang biasa saja padaku?


Daniel masuk dan menatap Ayana yang kini dalam posisi setengah duduk, wajahnya seakan enggan memalingkan pandangannya, wanita itu terlalu takut jika nanti ia berakhir menghambur dalam pelukan pria yang sangat ia rindukan.


"Ha Jin..." panggil Daniel gugup, ia kini sudah duduk disebuah kursi disamping ranjang rumah sakit, ia tak percaya akan memanggil Ayana dengan nama itu.


Meski samar namun Ayana masih bisa melihat pantulan wajah Daniel di kaca, pria itu nampak kehilangan cukup banyak berat badannya, sepertinya ia sudah lama tidak olah raga berkuda dan berenang.


"Sebentar lagi kakakmu akan datang" ujar Daniel memberitahu, akhirnya ia memgakui juga jika Adam Lee adalah saudara Ayana.


"Tuan" Ayana, tanpa mengalihkan pandangannya, ia tak ingin Daniel melihat tatapan berkabutnya. Haruskah ia bertanya bagaimana kabar pria itu sejak Ayana meninggalkannya?


"Hufht....." Daniel menghela nafas," Ha Jin, maafkan sikapku yang tidak bisa kukendalikan" Pria itu merutuki kejadian saat ia mencium Ayana.


Ayana menoleh, dua manik mereka saling mengunci, jika saja Daniel tidak mengingat Ayana tengah amnesia ia akan merengkuh Ayana kedalam dekapannya.


Tatapannya....


seperti itulah Ayana ketika melihatku.


Daniel menundukkan pandangannya, "Bisakah kau tidak membenciku?"gumamnya pelan namun masih bisa didengar Ayana.


Maaf Daniel rasanya aku belum sanggup kembali sebagai Ayana, biarkan seperti ini dulu. Ayana membatin


"Tuan Daniel, mau berteman denganku?" Ayana mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah kearah Daniel, sedangkan yang menerima uluran seakan tersenyum getir didalam benaknya. Pria itu tak pandai berpura pura bahagia.


Teman? Tidak Ayana! Entah sebagai Ayana atau Ha Jin aku pastikan kau akan jadi milikku.


"Tentu saja!" Jawab Daniel Mantap, seraya membalas senyuman Ayana.

__ADS_1


Tak lama setelah itu pintu kamar Ayana terbuka, suaranya cukup memekakkan telinga, Ji Hoon dan Adam Lee muncul bersamaan, pria blasteran Amerika Korea itu segera menghampiri Ayana dan duduk di tepi ranjang menatap lekat netra wanita yang ia anggap sebagai adiknya.


"Bagaimana keadaanmu?" ujar Adam sambil mengusap kaki Ayana. Pria itu menagkap sesuatu yang berbeda dari cara Ayana menatapnya sembari tersenyum.


"Ay......." kata kata Adam Lee menggantung saat tiba tiba Ayana memajukan tubuhnya dan memeluk Adam Lee erat, ia bahkan bernafas diceruk leher Adam.


Adam Lee mengusap punggung Ayana seraya memejamkan matanya dalam " Biarkan aku menjagamu" Lirihnya yang hanya bisa didengar Ayana.


Ayana mulai terisak, tubuhnya bergetar menahan pilu yang menyelimuti tubuhnya, Ji Hoon yang tidak tahan melihat pemandangan dihadapannya memutuskan untuk keluar, sebagian hatinya iba kepada gadis malang itu, sebagian lagi cemburu.


"Apa sesakit itu?" tanya Adam lee yang hanya dibalas anggukan kecil Ayana, pria itu tak henti hentinya mengusap punggung Ayana.


"Kau belum siap?"


Sekali Lagi Ayana hanya mengangguk pelan.


Hufht.....


.


.


.


"Kau yakin baik baik saja?" tanya Adam Lee, mengusap lengan Ayana yang sudah bersiap untuk masuk kedalam mini market, ia pun sudah siap dengan ransel hitam bertengger dipundaknya hendak brangkat kekantor, tak ada lagi ciuman dikening atau hanya sekedar pelukan hangat kepada Wanita yang satu tahun ini dianggapnya adik, Adam sadar, ia tidak pantas melakukannya kepada Ayana, bagaimanapun wanita itu adalah wanita yang sangat dicintai seorang Daniel Bosley.


"Aku baik baik saja" jawab Ayana lembut.


"Baiklah kalau begitu aku brangkat" Adam Lee mengusap pucuk kepala Ayana sebelum beranjak, namun ketika pria itu sudah membalik badan Ayana menarik lengan kekar Adam lee hingga pria itu kembali membalikkan tubuhnya.


"Aku?" tatapan Ayana sedikit menelisik, setahun ini pria itu selalu menyebut dirinya dengan sebutan Oppa.

__ADS_1


" Oppa," panggil Ayana ia lalu mendekatkan tubuhnya dan menelusupkan kedua tangannya di sela kedua tangan Adam lee hingga tubuh mereka menempel, Ayana memeluk Adam Lee penuh kehangatan ditengah musim dingin yang menggerayangi Korea Selatan.


"Perlakukan aku seperti dulu, Aku adalah Lee Ha Jin adikmu, jika kau tak memberikan kasih sayang itu lagi, maka pada siapa aku bisa meminta kasih sayang keluarga, sementara aku adalah wanita malang dengan status yatim piatu" tutur Ayana, ia mendongak menatap wajah Adam Lee yang langsung memberikannya ciuman dikening.


"Benar! Kau adikku Lee Ha Jin, mari seperti ini selamanya hemm" Adam lee lalu merengkuh erat tubuh Ayana kedalam dekapannya.


Interaksi manis dua saudara yang tidak terikat hubungan darah itu disaksikan sepasang mata dengan perasaan yang tak bisa digambarkan.


.


.


.


Salju awal tahun memang terasa lebih dingin dan menggigit tulang, Ayana menaikkan suhu pemanas ruangan demi kenyamanannya didalam mini market yang sepi, tak ada pelanggan karena hujan salju diluar yang hampir menjelma menjadi badai.


"Selamat Datang" Sapa Ayana yang melihat Daniel masuk sambil merapatkan mantelnya, ia berusaha tersenyum ramah dan menyembunyikan rona bahagianya, pria itu pun berprilaku sama, jangan tanyakan bagaimana perasaannya setiap kali bertatapan dengan Ayana, rasanya seperti ratusan kelopak bunga bunga bererbangan didalam hatinya.


Daniel mengambil sekaleng bir untuk menghangatkan tubuhnya, ia duduk disebuah kursi panjang dimana terdapat meja panjang dihadapannya, posisinya berhadapan langsung dengan sebuah sekat kaca yang membuatnya bisa melihat langsung pemandangan rest area yang ditutupi salju. Namun Daniel lebih banyak mencuri pandang kearah Ayana yang berdiri dibalik meja kasir.


Tak lama kemudian seorang ibu muda masuk dengan anak kecil berusia 1 tahun dalam gendongannya, "Ha Jin sshi, Boleh aku titip Bong sebentar, aku akan menjemput kakaknya di halte bis" pinta ibu muda tersebut sambil menyerahkan Bong kepada Ayana, ibu tersebut tinggal disebelah mini market ia memang biasa menitipkan bayinya sebentar untuk menjemput anak pertamanya dari sekolah, karena bis sekolah hanya mengantar sampai halte.


"Tentu Ahjumma "kini baby Bong, sudah berada dalam gendongan Ayana, ini bukan kali pertama, namun entah mengapa hati Ayana terasa seperti tercubit kala memandang wajah baby Bong.


Maafkan Ibu yang sudah melupakan keberadaanmu selama setahun ini, Ibu bahkan tega meniggalkanmu karna sebuah rasa bersalah.


Maaf karena menjadi ibu yang egois. Ayana membatin.


Mata Ayana mulai berkabut memandang Baby Bong yang bermain dengan untaian rambut lurus sebahu Ayana, hal itu tentu tidak luput dari perhatian Daniel, di dalam benaknya ia pernah beemimpi membawa Ayana dan Ryuu untuk tinggal di pulau pribadi miliknya, tanpa orang lain dan hanya ada mereka bertiga, membina sebuah keluarga kecil yang bahagia disana.


beberapa menit kemudian ibu baby Bong kembali masuk dan memgambil anaknya dari dalam dekapan Ayana, ia membungkuk sebagai ucapan terima kasih sebelum akhirnya keluar dari mini market.

__ADS_1


"Ay...bukan! Ha Jin..." panggil Daniel seraya berjalan mendekati Ayana, ia merogoh benda pipih dari dalam saku mantelnya, membuka galery penyimpanan sebelum akhirnya berdiri pas didekat Ayana.


"Aku pun punya keponakan yang seusia dengan bayi itu," Daniel memperlihatkan foto Ryuu yang diambil ibunya dulu dan dikirimkan kepada Daniel, karena terus terang sejak mengira Ayana meninggal Daniel tak pernah bisa berdekatan dengan anaknya sendiri, hatinya bagai tercabik saat memandang wajah Ryuu yang sangat mirip dengan Ayana, sehingga Nyonya Bosley rutin mengirimkan foto fotonya kepada Daniel.


__ADS_2