HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 88


__ADS_3

Flashback


"Mengapa meminta untuk bertemu?" Adam Lee membuka mantelnya dan menggantungnya pada sandaran sofa, ia langsung menuang bir kedalam gelas kosong lalu meneguknya cepat.


Daniel tersenyum sinis menatap Adam Lee yang dengan pembawaan santainya, setelah beberapa hari yang lalu menolak secara tegas niatannya untuk menikahi Ayana, padahal Daniel merasa sudah menurunkan harga dirinya dengan mengakui Ayana sebagai adiknya.


"Kenapa menyembunyikannya kau dan Ayana?"


"Maksudnya?" Adam Lee menatap bingung.


"Ingatan Ayana yang sudah pulih sepenuhnya"


Deg....


Adam Lee kembali meletakkan gelasnya yang berisi Bir, ia menatap Daniel Lekat, tak usah mencari tahu bagaimana pria ini mengetahui segalanya karena Adam sadar Daniel adalah pria dengan IQ tinggi, tidak mudah membodohinya dalam waktu yang lama.


"Mengapa kau bertanya padahal sudah tahu jawabannya" Adam Lee berusaha setenang mungkin, padahal ia khawatir bagaimana jika Daniel membawa paksa Ayana darinya, bagaimanapun Keluarga Bosley lebih berhak, apalah guna identitas lee Ha Jin yang sudah dilegalkan jika dalam satu jentikan jari keluarga Bosley bisa mengembalikan semuanya seperti semula.


"Dia tak ingin kembali kemasa lalunya?"


"Iya, dan kau bagian dari masa lalunya, Ayana sedang menyakiti dirinya sendiri sekarang, bahkan darah dagingnya sendiri tak bisa membuatnya kembali apalagi dirimu, namun ia tetap bisa menerimamu dengan dirinya sebagai Ha Jin." Jelas Adam Lee


"Akupun menerimanya sebagai Ha Jin, lantas mengapa ia menolak lamaranku?"


"Menikah denganmu, artinya ia kembali menyandang nama Bosley, dan menjadi bagian keluargamu, dimana ada Daren didalamnya"


"Tidak" Daniel menggeleng, "Adam Lee, kau tahu aku bahkan bisa meninggalkan segalanya demi Ayana, harta, keluarga! Aku bahkan sudah menyiapkan "


"Ayana tidak ingin itu! Ia tak mau melihat kau meninggalkan keluarga Bosley"


"Lantas ia ingin aku bagaimana?" sorot mata Daniel menunjukkan jika ia benar benar berada di puncak frustasinya, "Aku ingin seperti orang normal lainnya yang bisa menikah dengan wanita yang mereka cintai, punya anak dan hidup bersama hingga tua, Apa Ayana hanya ingin kusentuh tanpa ada ikatan?"


"Hufht......." Adam Lee menghela nafas berat, jika ia memposisikan dirinya sebagai seorang kakak tentu tak ingin Adiknya hanya jadi pemuas hasrat belaka.


"Adam Lee kau bisa menolongku?"


Flashback off


.


.


.


Adam Lee tersenyum miris saat melihat kelakuan Daniel di Club, padahal ia tahu pria itu tak pernah suka jika tubuhnya disentuh orang asing.


Mata Ayana membulat dengan mulut yang sedikit terbuka, ia kembali meletakkan gelas orange jusnya dengan tangan yang nampak bergetar, meski jaraknya cukup jauh namun Ayana tahu jika manik mata Daniel kini tengah tertuju kepadanya, tapi kenapa pria itu hanya diam saja? Ia tentu bisa dengan mudah mengenali wajah Ayana? Apa ia mabuk? Ayana menelan salivanya kasar, rasanya pahit sekali, sorot mata Daniel begitu menakutkan.

__ADS_1


"Oppa, Bukankah itu Tuan Daniel?" Ayana menoleh dan bertanya pada Adam Lee yang juga menatap Daniel dari kejauhan dengan perasaan yang entah.


"Heem, kau ingin menyapanya?" Tanya Adam Lee santai, seraya mengamati wajah Ayana yang kini tertunduk.


"Tidak Oppa sebaiknya kita pulang"


"Setidaknya cari tahu apa yang ia lakukan, heem"


Ayana menggeleng pelan dengan air mata yang mulai terjatuh, bersamaan dengan itu Adam Lee mengepalkan tangannya kuat, ia masih menatap sinis Daniel yang sudah berani membuat Ayana menangis.


Harusnya Daniel tahu Ayana bukan tipe wanita yang bisa secara gusar mempertontonkan kecemburuannya didepan umum, apa Daniel fikir Ayana langsung akan melabraknya? Adiknya itu adalah type wanita lembut yang memilih menyimpan segala duka laranya seorang diri.


"Tunggu aku disini!" titah Adam Lee pada Ayana, ia lalu bangkit dan berjalan dengan langkah tegas kearah Daniel.


Daniel mengusir para wanita bayaran disampingnya begitu melihat Adam Lee mendekat.


"Apa kau Daniel Bosley yang ku kenal? Dangkal sekali fikiranmu, Cih" Adam Lee berdecih.


"Aku hanya ingin melihat Ayana memperjuangkanku."


"Jangan harap! Kau justru membuatnya menagis disana" Adam Lee menunjuk Ayana di belakang sana dan Daniel mengikuti Arah telunjuk Adam Lee, mereka sadar jika tidak ada siapa siapa dibelakang sana.


"Ayana!" ujar keduanya kompak.


Mereka berdua lalu menghambur berlarian mencari keberadaan Ayana.


"Dia ada di tepi suangai Han," Adam memberitahu saat baru selesai mengecek aplikasi pelacak yang memang sudah lama ia instal di ponsel Ayana.


"Serahkan ia padaku, "Sorot mata Daniel begitu penuh harap, saat tangannya mencekal lengan Adam Lee yang hendak masuk kedalam mobilnya.


"Baiklah, selesaikan masalah kalian, aku harap titik temu yang kalian pilih tidak akan menyakiti Ayana" Adam menasihati.Yang diangguki Daniel.


Pria itu lantas bergegas pergi dengan mobil sedan mewahnya.


Tak butuh waktu lama bagi Daniel menemukan Ayana, wanita itu nampak duduk di sebuah kursi panjang di tepi sungai Han, karena terburu buru keluar Ayana bahkan tidak mengenakan mantelnya padahal suhu kota Seoul sekitar 5 derajat celcius, Bahunya bergerak naik turun karena isakan tangis.



Daniel Tertegun mendengar isakan Ayana, mengapa ia baru sadar jika Ayana tak akan pernah memperjuangkan dirinya, Wanita itu lebih memilih melepaskan sesuatu walau begitu menginginkannya.


Daniel duduk disamping Ayana dan membalik tubuh wanita itu hingga menghadap dirinya, "Apa aku tidak berarti apa apa bagimu hemm?"


Ayana masih menunduk ia tak berani menatap wajah pria itu, ada rasa bersalah dan cemburu yang ia rasakan bersamaan.


"Kau fikir aku tidak tahu kalau ingatanmu sudah pulih? sampai kapan kau mau menyembunyikannya?"


Bola mata Ayana yang basah membola sempurna, ia bukanlah pembohong yang ulung dengan seribu alasan yang dipersiapkan untuk keadaan seperti ini.

__ADS_1


selain mengakui semuanya Ayana merasa sudah tidak punya pilihan lain lagi.


"Apa aku tidak berarti apa apa bagimu? Kau bahkan tidak cemburu padaku saat melihat wanita lain memelukku, padahal aku berharap kau langsung berlari kepadaku, mengatakan kepada wanita wanita itu agar menjauh dariku" Daniel berbicara sambil membuka mantelnya dan memakaikannya ketubuh Ayana, ia tak peduli jika dirinya harus kedinginan dengan hanya kemeja yang melekat ditubuhnya.


"Sejak kapan kau tau semuanya?" Ayana masih belum berani menatap pria dihadapannya.


"Tak penting sejak kapan, Adam Lee sudah menceritakan semuanya padaku,"


"Oppa?" Ayana meremas mantel Daniel, mengapa ia merasa seperti dihianati oleh Adam Lee.


"Apa kau tahu Ayana, aku sudah bèrjanji tidak akan menyentumu sebelum bisa memberimu status mulia di hidupku, tapi kau menolak semua itu dengan dalih tak ingin kembali kemasa lalu mu, Ayana...." Daniel meraih kedua pundak Ayana," Bukan hanya Daren yang menjadi bagian masa lalumu tapi ada Aku dan Ryuu, putra kita "


Ayana memicingkan matanya, kali ini ia ia menatap manik Daniel seksama, pria itu ternyata tahu jika Ryuu adalah putranya.


"Mengapa kau heran? Ayana aku tidak akan memintamu memaafkan ibuku karena sudah berniat memanfaatkan tubuhmu, tolong jangan salah paham, aku sama sekali tidak terlibat dalam rencana licik ibuku, Aku yang sangat berhasrat saat dirumah sakit bahkan belum mengetahui prihal rencana bodoh ibuku, Ryuu terlahir bukan karena itu, tapi Ryuu ada karena keinginan kita berdua"


Ayana mencoba mencari kebohongan dari sorot mata Daniel namun gagal.


"Ayana sampai kapan kau akan sembunyi terus? Kau takut Daren menyakitimu lagi jika kembali sebagai Ayana?"


Ayana bergeming, ia yakin Daren tak akan menyakitinya, ia hanya belum bisa memaafkan pria yang pernah menjadi suaminya itu.


"Jangan memaafkannya!" Tukas Daniel yang seakan tahu isi hati Ayana.


"Aku tidak akan memaafkannya, Tapi...bersamamu__"


"Bersamaku, akan membuat mu kembali menjadi menantu keluarga Bosley! "Daniel seakan memyambung maksud kalimat Ayana yang menggantung."padahal aku sudah memutuskan meninggalkan semua demi dirimu, Jabatan Chairman, keluargaku bahkan Ryuu sekalipun. Tapi hatimu terlalu lembut Ayana kau tidak tega melihatku melakukan itu semua"


"Sama seperti dulu, hubungan kita sekarang juga tidak akan memiliki masa depan" Ayana kembali menundukkan pandangannya dan terisak dalam.


"Ayana percaya padaku, please......kita akan menghadapi ini bersama sama, perjalan kita tidak mudah untuk bisa sampai kepada kesempatan dimana aku bisa menjadikanmu sebagai istriku"


"Tapi Daren...."Ayana terdengar frustasi, yang ia tahu Daren dan dirinya bahkan tidak pernah bercerai.


"Daren sudah menikah!"


Deg....mata Ayana kembali membola.


"Kau kecewa?" tatapan daniel penuh selidik, meski sebenarnya ia tahu Ayana tak kecewa, mungkin hanya kaget.


"Tidak" Ayana tersenyum miris, pria itu bahkan bahagia setelah kematiannya, Ayana seperti tidak rela.


Daren sudah bahagia sementara dirinya menolak berbahagia.


Ayana terkekeh sendiri, menertawakan nasib yang benar benar mempermainkannya, tak lama kemudian ia kembali menangis, Daniel segera meraih tubuh Ayana dan membawanya kedalam dekapannya, membiarkan wanita itu menumpahkah segala kesedihannya pada Dada bidang miliknya.


"Daniel..."Panggil Ayana , ia lalu menengadah guna melihat wajah Pria yang kini tengah memperjuangkannya.

__ADS_1


"Aku merindukanmu" lanjut Ayana dengan Lirih.


__ADS_2