HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 26


__ADS_3

Proses pernikahan berjalan begitu cepat , kini Ayana dan Daren sudah resmi menyandang gelar suami istri, ayah ibunya juga sudah kembali ke Jepang dengan pesawat pribadi, Nyonya Bosley sangat bahagia mengetahui Ayana dan Daren tidak berencana pergi bulan madu karena banyak hal yang harus diselesaikan Daren sebelum menjabat sebagai CEO Bosley Ponsel, ini artinya rencana liciknya bisa berjalan lancar.


Ayana nampak murung setelah bangun tidur, bukan karena Daren sama sekali tidak menyentuhnya dimalam pernikahan mereka, karena terlalu lelah dengan proses panjang pertunangan hingga pernikahan selama tiga hari ini, ia murung lebih kepada keputusan Nyonya Bosley dan Daren yang mengharuskannya berhenti bekerja di Bosley Elektronik, Ayana hanya akan membantu mertuanya mengurus rumah tangga dan yayasan amal yang mereka miliki.


Semua berkumpul di meja makan paviliun utama untuk sarapan pagi, ini adalah jamuan pertama sejak kehadiran Ayana dalam keluarga Bosley.


Nyonya Bosley duduk dikursi utama di ujung meja dengan Lohan yang berdiri mematung dibelakangnya, sedangkan Ayana dan Daren duduk berdampingan. Jejeran pelayan dengan pakaian senada tak berhenti membuat Ayana takjub, bahkan saat hendak melebarkan serbet dipangkuannya pun ada yang membantunya, ia tak bisa berhenti menundukkan kepala memberi hormat dan mengucapkan terima kasih setiap pelayan selesai melayani keperluan makannya, mulai dari membalikan piring dan menata peralatan makannya.


"Jangan lakukan itu! kau seperti orang bodoh" bisik Daren didekat telinga Ayana. sesaat gadis itu tercengang dengan perasaan kesal, Bodoh? Daren barusan menyebutnya bodoh! sebuah kata yang tak pernah ia keluarkan dulu, dan ia menggunakannya dihari pertama mereka menjadi suami istri? Ayana tertunduk lesu namun Daren segera menyadari kesalahannya ia lalu menggenggam erat tangan istrinya itu dibalik meja dan menatapnya dengan tatapan memohon maaf, tentu saja gadis baik itu memaafkannya.


Tak lama kemudian, Daniel datang dengan Lauren yang menggelayut manja di lengan kekar suaminya itu, sementara satu tangannya menenteng sebuah tas make up yang nampak terisi penuh. mereka duduk dihadapan Daren dan Ayana.


Seketika jantung Ayana memompa darah lebih cepat dari biasanya melihat Daniel yang duduk dihadapannya dan terlihat berusaha menghindari kontak mata dengannya.


"Ayana sayang......" sapa Lauren mesra sembari tersenyum, dan memberikan tas yang tadi dibawanya, yang diterima Ayana dengan senyum merekah sempurna, ia tak menyangka akan duduk semeja dengan seorang designer kenamaan, ditambah lagi kakak iparnya itu sangat ramah padanya, di hari pernikahannya ,Lauren tak henti hentinya memberi wejangan bagaimana menjadi menantu yang baik di keluarga Bosley, meski ia tak menyadari kalau dirinya sendiri tak cukup baik sebagai seorang istri dan menantu.


"Itu adalah edisi terbatas! produk kosmetik yang baru launching bulan kemarin " Jelas Lauren.


"Ah...terima kasih nona Lauren..."


"No no no...Call me Lauren...okay" protes Lauren mendengar panggilan Ayana yang begitu formal padanya, meski usia mereka berbeda jauh karena Lauren sebaya dengan suaminya, namun ia ingin menjalin hubungan layaknya teman dengan adik iparnya itu, ia ingin ada orang yang bisa ia kendalikan di keluarga Bosley dan menjadi mata matanya ketika ia harus terbang mengurusi bisnisnya di berbagai negara.


"Baiklah lauren" Ayana menyanggupi.


Proses sarapan berlangsung santai, seperti biasanya diwarnai dengan obrolan di meja makan, Lauren bercerita antusias mengenai perkembangan bisnisnya kepada ibu mertuanya itu, sedangkan Daniel dan Daren membahas masalah perusahaan mereka, tinggallah Ayana yang tak tahu harus masuk jalur obrolan yang mana, ia merasa sendiri dan dirundung rasa malas, sambil menghela nafas Ayana menjulurkan kakinya sedikit kedepan untuk mengakhiri ketegangan pada syaraf kakinya hingga ia menyenggol kaki Daniel dihadapannya.


"oppss sorry," ucap Ayana hanya dengan gerak bibir saja, sekilas Daniel melihatnya lalu kembali membuang muka dan melanjutkan makannya sambil sesekali menanggapi Daren.


Ayana terlihat mencebik kesal, tidak percaya dengan perlakuan Daniel yang begitu sombong ! ia tak berharap diperlakukan bagai ratu tapi setidaknya Daniel bisa mencoba untuk sedikit lebih ramah seperti istrinya ditambah lagi mereka sudah kenal sebelumnya, bahkan beberapa kali menghabiskan malam bersama.

__ADS_1


Malam bersama? ah...Ayana menggeleng kuat dibenaknya kenapa ia harus mengingat hal itu? membuat tengkuknya seketika menegang.


...******...


Nyonya Bosley memanggil Ayana kedalam ruangan melukis dan merangkai bunganya, gadis Jepang itu datang dengan mengekori Lohan dibelakang, ia segera menunduk memberi hormat saat melihat wajah hangay ibu mertuanya.


"Bagamana hari pertamamu disini?" tanya Nyonya Bosley basa basi.


"Aku baru beradaptasi ibu"


"Heem...apa kau menginginkan Asisten pribadi?"


"Sepertinya tidak ibu" tolak Ayana, siapa ia yang perlu seorang asisten? ia mengedarkan pandangan keruangan luas ini terdapat jejeran lukisan ibu mertuanya yang dituang kedalam kanvas dan terlihat begitu hidup.


Bagai terhipnotis Ayana melangkah lerlahan dan memgamati jejeran lukisan tersebut, ada lukisan potret dua anak kecil yang tidak sebaya.


"Itu Daniel dan Daren" Jeles Nyonya Bosley, Ayana hanya tersenyum mereka memang tampan sejak kecil ! pujinya dalam hati.


"Ibu sudah tidak sabar ingin menjadi seorang nenek" ucap Nyonya Bosley lalu mengelus perut Ayana.


Aku harap kau segera mengandung anaknya Daniel!!! ucapnya didalam hati.


Ayana tersanjung, ia merasa mertuanya itu benar benar memiliki hati yang hangat, selain menerima dirinya sebagai menantu kini ia berharap cucunya bisa lahir dari rahimnya.


"Aku akan berusaha ibu"


"Tentu sayang ibu juga akan berusaha membantumu" Nyonya Bosley tersenyum penuh makna.


"Ah iya....karena kau menolak seorang asisten, ibu harap jika kau butuh bantuan kau bisa bicara pada Lohan , anggap ia sebagai asisten mu juga, ia orang yang bisa dipercaya" Nyonya Bosley meyakinkan Ayana, ia berharap dengan kehadiran Lohan disisi menantunya akan lebih memukuskan rencananya.

__ADS_1


"Terima kasih banyak ibu"


"Sama sama sayangku," nyonya Bosley membelai rambut Ayana lembut," Ah iya kau boleh berkeliling rumah agar bisa lebih mengenal tempat ini, kau juga bisa berkeliling keluar, ada lapangan golf dan kandang kuda dibelakang paviliun, Lohan akan menemanimu" lanjut nyonya besar itu lagi.


Ayana sangat senang mendengarnya ia memang sudah tidak sabar mengeksplor rumah ini.


"Nona Ayana kau bisa menungguku di ruang keluarga, aku akan menyusul" ujar Lohan, Ayana lalu pamit dan keluar tuk menunggu Lohan.


Nyonya Bosley dan Lohan menunggu Ayana hingga benar benar hilang dari balik pintu.


"Nyonya aku sudah mendapatkannya." Lohan memperlihatkan sebuah gambar di Ipadnya, ada beberapa gambar obat yang sudah ia beli. ia tak berani membawa obat itu dengan alasan keamanan dan hanya memperlihatkan fotonya saja.


"Apakah manjur?" tanya wanita tua itu penasaran, netranya mengamati dua foto yang diperlihatkan Lohan, satu foto adalah tablet obat tidur dosis tinggi sedangkan yang satunya adalah obat perangsang.


"Nyonya tinggal memilih mau memakai yang mana!"


"Jika obat tidur, terkesan Daniel memperk**a Ayana, benarkan?? Apa kita pakai perangsang saja ya? " nyonya Bosley menatap Ipad dan Lohan bergantian seraya mendesis bingung.


"Itu tergantung keputusan nyonya"


" Atau...." Mata Nyonya Bosley menatap pintu dengan fikiran yang menerawang jauh...


"Atau apa nyonya?"


"Atau kita buat se natural mungkin, aku rasa mereka sudah memiliki hubungan khusus, kita tinggal membumbuinya sedikit" Nyonya Bosley tetiba tersenyum, sebuah senyuman yang cukup membuat bulu kuduk Lohan berdiri.


"Tapi nyonya rencana awal tidak seperti itu!" Protes Lohan " Bukankah kita akan melakukannya diam diam dan hanya kita berdua yang tahu, beberapa yang mencoba obat perangsang ini jika diberi 2 dosis lebih banyak mereka mengaku lupa jika sudah bercinta, Ayo lakukan seperti itu, sehingga Ayana tidak akan sadar sudah mengandung benih Daniel".


"Tidak Tidak Lohan, itu pemikiran kekanak kanakan, aku ingin mereka melakukannya atas dasar suka sama suka, sehingga benihnya tidak stress...aku ingin cucu yang sehat" tutur nyonya Bosley.

__ADS_1


Wanita gila!! pikir Lohan, dan kini ia merasa juga seperti ikut ikutan gila.


__ADS_2