HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 19


__ADS_3

"Cepat bereskan!!"Seru notulen dari departemen lain disamping Ayana, sorot matanya tajam seakan hendak ******* hidup hidup Ayana, sambil sesekali mencuri pandang kearah Daniel yang kemungkinan besar akan membatalkan rapat.


Ayana masih belum bisa menstabilkan kondisinya jemarinya masih terus bergetar disertai peluh panas dingin yang terlihat menetes diwajahnya padahal suhu ruangan tersebut sangat sejuk.



Sementara Daniel hanya bisa menatap Ayana dan berusaha tak menimbulkan ekspresi apapun diwajahnya, meski kedua tangannya ia kepal sempurna, ingin sekali rasanya ia menarik tubuh wanita itu dan membawanya keluar untuk menjelaskan semuanya.


Daniel melanjutkan rapat dan membuat semua orang diruangan itu bernafas lega, sementara Ayana bahkan tak bisa menulis satu huruf pun dari setiap kata yang diterangkan Daniel dan direksi lainnya, fikirannya kalut berusaha menyusun setiap moment yang ia lalui bersama Daniel Bosley yang merupakan kakak dari Daren, Ayana berusaha menerka apakah Daniel mengetahui dirinya yang sebenarnya adalah kekasih Daren, namun ia tak menemukan kemungkinan tersebut, ia hanya teringat bagaimana Daniel yang bertanya,


Apakah kau mengenalku?


Bagaimana jika Chairman sendiri yang menjadikanmu karyawan tetap?


Kenapa ia tak menyadarinya saat itu, kau bodoh Ayana! umpatnya pada diri sendiri.


Rapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu meski diwarnai insiden Ayana tadi, beberapa direksi nampak mengantri hanya untuk sekedar berjabat tangan dengan Daniel, sementara para notulen dari berbagai departemen berjalan keluar beriringan, beberapa dari para wanita nampak mencuri pandang kearah Daniel yang masih sangat gagah dan tampan diusia yang ke 35 tahun itu ,sedangkan Ayana berjalan dengan lutut yang terasa sangat bergetar dan tak berani mengangkat wajahnya.


Ayana tak langsung kembali keruangannya namun terlebih dahulu ke kamar mandi guna membasuh wajahnya dan menhembalikan kesadarannya yang sempat terombang ambing.


Ayana menatap wajahnya yang nampak pucat dicermin, semua bayangan Daniel seketika menari dikepalanya, bagaimana ia menghadapi Daniel sebagai calon kakak iparnya setelah apa yang mereka lalui? mulai dari ia dan Daniel yang berpelukan di rooftop, digendong di Maldives, kemudian kecupan di pipi, dan masih jelas di ingatan Ayana bagaimana lusuhnya seprei tempat tidur karena mereka nampak seperti tidur di tempat tidur yang sama.


"Aa....." Ayana tersungkur seraya mengacak acak rambutnya, memikirkan apa yang ada dibenak Daniel jika mengetahui dirinya adalah kekasih Daren.


...***...


Daniel, terlihat memijit pangkal hidung mancungnya begitu tiba diruangannya, ia tak bisa membayangkan betapa terkejutnya Ayana saat mengetahui siapa dirinya sebenarnya, saat rapat berlangsung Daniel selalu mencuri pandang kepada Ayana yang bahkan tak berani menatap matanya, gadis itu terlihat pucat pasi dengan tangan yang bergetar, bahkan Daniel bisa melihat setiap peluh yang mengucur deras diwajah Imutnya yang cantik.


Setiap peristiwa yang terjadi di Maldives masih begitu membekas diingatannya bahkan saat bekerja ia hanya bisa mengingat hal itu,bagaimana ia menja*ah tubuh calon adik iparnya dalam ketidak sadaran, Daniel tidak khawatir mengenai hal itu karena ia yakin Ayana tak akan mengingatnya, tapi....? Daniel memegang bibirnya dan mengingat jika luma*an yang terjadi si sofa saat itu Ayana bahkan masih dalam keadaan membuka matanya dan membalas ci*mannya.

__ADS_1


"Aku melihatmu...." ucap Calvin yang tiba tiba masuk seraya menunjuk dua bola matanya dengan jari yang dibentuk v lalu balik menujuk kearah Daniel.


Daniel gelagapan dan segera berhenti menampakkan raut wajah khawatirnya, "Dimana kau membuang sopan santunmu?" tanya Daniel kesal, pada pria yang langsung duduk dihadapannya itu.


"Haruskah aku memanggilnya sekarang?" Calvin mengeluarkan ponselnya.


"Apa yang ingin kau lakukan?"


"Memberimu kesempatan untuk menjelaskan segalalanya" balas Calvin seraya mengutak atik ponselnya guna menemukan kontak Ayana.


"Tak ada yang perlu dijelaskan"Tukas Daniel.


"Tidak ada kau bilang?" Calvin tersenyum miris, ia tahu jika sahabatnya itu bingung bagaimana menghadapi Ayana kelak, "Kau harus menjelaskan kesalah pahaman diantara kalian saat di Maldives, agar kelak kalian tetap bisa menjalani hubungan keluarga yang normal".


"Kesalahpaham apa? aku hanya menolongnya di Maldives tak lebih dari itu" tutur Daniel.


"Kau tahu koneksiku kan? kalian bahkan menginap dikamar yang sama! jika ingin membantunya seharusnya kau tidak membuatnya tidur dikamarmu, kau bukan pria kekurangan uang yang tidak bisa menyewa 1 villa lagi"


"Justru itu selesaikan semua hari ini, agar saat bertemu esok, kalian sudah menghilangkan rasa canggung, kau fikir aku tidak menyadari apa yang terjadi antara kau dan Ayana di ruang rapat? kalian saling kikuk dan bingung"


Calvin berhasil melakukan panggilan kepada Ayana dan langsung dijawab dengan suara yang masih terdengar gugup.


"Ayana sekertarisku sedang sibuk bisa kau membawakan berkas diatas mejaku keruangan Daniel Bosley?" Tutur Calvin dengan mata yang saling beradu dengan Daniel.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Daniel kesal.


"Aku melakukan tugasku!menyelesaikan semua masalahmu! jadi jangan coba coba untuk kabur!" Jelas Calvin, ia lalu beranjak dan sengaja pergi untuk memberi waktu berdua bagi Daniel dan Ayana, sementara Daniel hanya menatap punggung Calvin dengan perasaan kesal, memang tak ada permasalahan dalam hidupnya yang tidak melibatkan sahabatny itu.


...****...

__ADS_1


Ayana tak bisa merasakan tulang yang menopang tubuhnya, seluruh raganya terasa lemas dan akan ambruk saat pertama kali kakinya keluar dari lift dan menapaki lantai tempat Chairman Bosley group itu berkantor, ia merasa sepertinya Calvin punya dendam pribadi kepadanya, mulai dari liburan ke Maldives yang membuatnya bertemu dengan Daniel yang kedua kalinya hingga menyuruhnya mengantarkan berkas padahal ia melihat nona sekertarisnya sama sekali tidak sibuk, lalu mengapa menyuruhnya?.


Sebelum, masuk keruangan Daniel ia terlebih dahulu mselapor kepada Adam lee yang duduk dimejanya, sebuah ruangan sebelum kantor Daniel. Adam segera mempersilahkan Ayana untuk masuk dan menyelesaikan tujuannya.


Tok...


Tok...


Tok....


Setelah mengetuk Ayana segera masuk dengan posisi kepala yang terus menunduk, Daniel hanya bisa menggeleng pelan, Calvin benar benar melakukannya sesuka hatinya.


"Mendekatlah Ayana" titah Daniel pada Ayana yang masih tak mau jauh dari pintu masuk, gadis itu pun mengayunkan kakinya pelan dan menyerahkan bekas permintaan Calvin, Ayana berfikir harus segera keluar segera menyerahkannya karena ada rasa malu yang amat mendalam menggerayangi seluruh tubuhnya, bagaimana ia menuduh Daniel hendak tidur dengannya karena mengungkit masalah ranjangnya, dan kecupan di pipi..ah...Ayana segera membalik badan dan ingin berlari cepat, tapi suara bariton yang khas milik Daniel menahannya.


"Tunggu Ayana! Duduklah dulu...", Ucap Daniel berusaha menahan kepergian Ayana.


"Baiklah tuan!" Kini mereka duduk saling berhadapan diantarai sebuah meja.


"Maafkan aku tuan karena tak mengenalimu" ucap Ayana yang masih tertunduk malu, debar jantungnya memacu seakan hendak melompat keluar.


"Maafkan aku juga karena meninggalkanmu di maldives"


Seketika Ayana mengangkat wajahnya memandangi Daniel, sehingga Daniel bisa melihat wajah Ayana yang seperti kepiting rebus," kenapa ia mengungkit Maldives kalau begini kan mau tidak mau dirinya harus mengingat kejadian malam itu "Maafkan aku tuan, malam itu aku terlalu mabuk" Ayana kembali menunduk dalam " sehingga aku men....cium pipimu" lanjutnya lagi dengan terbata bata.


Daniel terkekeh tak percaya, ternyata ingatan gadis itu begitu buruk ia bahkan tak ingat kejadian dimana mereka saling bertukar saliva.


"Kenapa kau tertawa tuan?" Ayana menatap Daniel heran, setelah mengutarakan isi hatinya rasanya Ayana sudah kembali memiliki keberanian meski hanya sedikit.


"Tidak apa apa, mengapa kau meminta maaf ?padahal itu cuma sebuah kecupan," Daniel lalu beranjak dari tempat duduknya, ternyata Daniel merasakan keberanian yang sama, ia menghampiri Ayana yang kini mendongak menatap wajahnya, Daniel mengangkat Dagu Ayana dan memberinya sebuah kecupan dipipi yang terasa sangat kenyal. Ayana hanya bisa membelalakkan matanya menerima kecupan Daniel.

__ADS_1


"Itu kecupan selamat datang dariku untukmu, selamat datang di keluarga Bosley" ucap Daniel hangat namun menyembunyikan rasa sakit yang mendalam, bukankah ini memang yang harus ia lakukan? sesuai permintaan Calvin.


__ADS_2