HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 36


__ADS_3

"Bagaimana? kau menemukannya?"


"Sudah Tuan!" Adam Lee melirik amplop coklat ditangannya sebelum masuk kedalam mobil, itu adalah berkas kesepakatan yang harus ia tangani seorang diri. Untuk Hari ini Daniel meminta Adam Lee mengambil alih semua tugasnya karena ia akan menjaga Ayana, sesuatu yang sudah cukup mengerutkan dahi Adam karena Daniel tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya, biasanya Daniel menempatkan perusahaan diatas segalagalanya.


Didalam mobil Adam mengalihkan panggilan telepon ke Headset bluethoot yang dipasang ditelinganya agar bisa tetap berbicara dengan Daniel.


"Apa Daren menemuimu?" tanya Daniel.


"Iya tuan, anda tidak lerlu khawatir, saya sudah menjelaskan segalanya tanpa memberitahu posisi Nona Ayana" Jelas Adam Lee yang kini sudah meninggalkan gerbang utama kediaman keluarga Bosley yang terletak sangat jauh dari pusat keramaian kota Los Angeles.


Suara helaan nafas Daniel terdengar lega, Adam memang lebih bisa diandalkan ketimbang Calvin yang tak pernah memberikan jalan atas hubungannya dengan Ayana.


"Baiklah kerja bagus Adam!!"


"Terima kasih Tuan"


Panggilan berakhir.....


.


.


.


Daniel duduk seraya menyilangkan kedua kakinya dan menyeruput kopi hitam yang merupakan layanan khusus bagi keluarga pasien VVIP, matanya tak pernah lepas dari Ayana yang masih menggeliat manja didalam selimutnya.


Ayana meraba Tempat tidur dan tidak lagi dapat menemukan tubuh atlethis yang sudah mendekapnya sepanjang malam itu, beberapa kali ia mengerjapkan mata hingga akhirnya terbuka sempurna, pria itu memang sudah tidak disana, seketika Ayana merasa Ada ruang hampa didalam dirinya, ia juga tak bisa menemukan jawaban mengapa ia merasa begitu nyaman dengan pria itu.

__ADS_1


Hah....Ayana mendesah, ini tak boleh tapi ia begitu merindukan kakak iparnya itu, mungkinkah ia sudah berangkat kekantor? lantas apa yang harus ia lakukan sekarang? mata Ayana tertuju pada telepon rumah sakit diatas nakas, bukankah ia harus memberi kabar kepada Daren, bagaimanapun marahnya Daren seharusnya ia ada disini dan menjaganya, Ayana tak ingin tersesat terlalu lama bersama Daniel.


"Apa yang kau lakukan?" tegur Daniel saat melihat Juluran tangan Ayana yang keluar dari dalam selimut menuju nakas disampingnya.


"Ah...aku..."Ayana bangkit setengah berbaring, dengan punggung yang disenderkan di sandaran tempat tidur,"Aku kira kau kekantor" ucapnya sambil tersenyum, entah mengapa ada perasaan lega di Hati Ayana melihat Daniel yang masih setia menemaninya.


Daniel menatap Ayana dengan memicingkan mata, ia tahu wanita itu hendak menelpon seseorang untuk memeberi tahu keberadaannya, dan orang itu bisa jadi Daren! setelah semua yang Daniel lakukan tentu ia tak akan membiarkan Ayana melakukannya.


"Siapa yang ingin kau telepon?" tanya Daniel penuh curiga dan selidik, ia berjalan mendekati Ayana dan duduk ditepi tempat tidur menatap lekat wajah Ayana yang nampak kikuk, karena merasa terbuai dengan pesona kakak iparnya yang begitu macho, Daniel mengangkat Dagu Ayana dan semakin menatapnya dalam.


"Daniel apa yang...akan..kau lakukan?" Posisi seperti itu membuat Ayana merasa Daniel hendak melakukan sesuatu pada bibirnya lagi,dan ia lagi lagi tak kuasa menolak, Ayana menutup matanya dalam seakan bersiap dengan segala sesuatunya, namun Daniel hanya menautkan bibirnya dikening Ayana lembut seraya berujar.


"Kau mengaktifkan mode kakak ipar?" Daniel tersenyum kecut mendengar namanya disebut padahal ia menanti dipanggil Tuan dengan nada manja sekali lagi.


Ah..sontak wajah Ayana memerah jambu, apa itu tadi? ahkhh..sangat memalukan rasanya Ayana ingin membenamkan kepalanya didalam bantal karena malu, tak sadar ia menunggu mencium bibirnya namun pria itu hanya mengecup keningnya.


"Jangan lakukan hal bodoh! mode apa?...mode kakak ipar? memang ada selain mode itu?" gerutu Ayana, Daniel yang gemas rasanya ingin mengacak acak rambut adik iparnya itu namun melihat masih ada perban disana ia urung melakukannya dan kembali mengecup pipi Ayana membuat wajah gadis itu semakin memerah.


"Daniel...!" bentak Ayana penuh kepura puraan padahal iapun sangat menikmatinya.


tok


tok


tok


pintu diketuk tiga kali, sontak membuat Daniel dan Ayana menoleh bersamaan kearah pintu dengan kenop mulai berputar itu.

__ADS_1


"eh.....?" heran Ayana


"BRENGSE* SONTOLOY*" geram Daniel di benaknya dengan darah mendidih yang seakan muncrat di ubun ubun saat melihat pria sebayanya dengan wajah pura pura bodohnya muncul dari balik pintu. Ia membawa bucket bunga ditangan kanannya yang bertuliskan Lekas sembuh Ayana istri tercinta Daren. Daniel mengepalkan kepalang tangannya kuat membaca pesan yang ditulis diatas secarik kertas berukuran quarto yang ditempel pada bucket bunga, apa Calvin harus menampakkannya sangat jelas?


"Pak Calvin Smith?" Tegur Ayana sekali lagi, ia tak menyangka mantan atasannya itu bisa datang menjenguknya, Ayana menatap Daniel dan Calvin bergantian, dan mulai menerka hubungan apa yang sebenarnya dimiliki oleh dua orang ini, karena Calvin sama sekali tak memperlihatkan sikap hormat kepada raja dari segala raja di perusahaan Bosley Group itu, ia justru menatap Daniel dengan pandangan mencibir.


Daniel mendesah kesal dan kembali duduk pada salah satu kursi dari dua kursi tunggal yang saling berhadapan di pojok ruangan besar itu, ia menatap Calvin saat melaluinya dengan tatapan seorang psikopat yang akan menghabisi korbannya, sementara Calvin masa bodo dan segera menghampiri Ayana untuk menyimpan bukcet bunga itu di atas nakas.


Ayana sempat membaca pesan yang dituliskan Calvin sambil mengulum senyuman, ia tak menyangka mantan atasannya itu bisa berbuat norak seperti itu. Ah... seketika Ayana merindukan kehadiran Daren yang telah ia kecewakan, hari ini ia begitu egois bisa bisanya merindukan dua pria sekaligus.


"Kau menyukainya?" tanya Calvin pada Ayana yang masih menatap bucket disampingnya, dan wanita itu hanya mengangguk kuat.


"Aku sama sekali tidak menyangka, mantan asistenku bisa menjadi Nyonya Daren Bosley, ngomong ngomong selamat ya, aku bahkan belum mengucapkan selamat padamu secara pribadi" tutur Calvin seakan akan ia tak mengetahui siapa Ayana sebenarnya, dan tentu saja wanita polos itu percaya begitu saja, padahal dari awal Calvin sudah mengetahui segalanya, sampai hal yang paling ingin disembunyikan Daniel pun diketahuinya.


"Terima kasih pak, sudah memberiku selamat dan menjengukku"


"Jangan terlalu formal begitu, panggil aku Calvin, just Calvin, karena kelak kita akan seperti keluarga, aku dan keluarga Bosley sudah sangat dekat, aku adalah sahabat karib orang diujung sana" ujar Calvin seraya menunjuk kebelakang, kearah Daniel yang tengah tertawa miris tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Sahabat karib? kau adalah duri dalam daging! sahabat apa yang selalu menghalangi kebahagiaan temannya. Umpat Daniel kesal didalah hatinya.


Sementara Ayana hanya bisa menautkan kedua alisnya mendengar penuturan Calvin, ia berusaha merunut potongan kejadian yang terjadi dalam hidupnya belakangan ini.


Jika Calvin sahabat Daniel, apa Daniel ada hibungannya dengan pengangkatannya sebagai karyawan tetap? bukankah Calvin sendiri yang meminta dirinya dimutasi dari Bosley ponsel ke Bosley Elektronik?


Kau mengenalku?


Bagaimana jika Chairman sendiri yang mengangkatmu?.

__ADS_1


Pertanyaan itu kembali bergema dirungu Ayana, entah mengapa wanita itu meras jika Daniel adalah orang dibalik pengangkatannya dan itu artinya ia sama sekali tidak merangkak dengan kedua kakinya sendiri.


__ADS_2