HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 34


__ADS_3

Daren kembali dengan harapan yang menguap kepermukaan, ia sama sekali tak menemukan kemana sebenarnyaDaniel membawa Ayana, koneksi yang ia miliki sudah bergerak mencari keseluruh Rumah Sakit yang ada di Kota Los Angeles jika ada kemungkinan mereka menerima pasien wanita Jepang diusia awal dua puluhan dengan luka robek dipelipisnya, namun sama sekali tak membuahkan hasil. Daren sadar betul dalam urusan seperti ini koneksinya tak bisa dibandingkan dengan Daniel, tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun Daren beranggapan jika Daniel telah salah paham kepadanya. Kakaknya itu berfikir dirinya telah menyakiti istrinya sehingga menyembunyikan keberadaannya.


Daren menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang berada diruangan rahasianya, berapa kalipun ia mengamati tumpukan foto barbara dengan dirinya namun sama sekali tak ada perubahan, lipatan koran tua yang sudah lama disimpannya pun masih sama seperti semula, Daren juga sudah memeriksa salah satu laci paling bawah yang masih terkunci rapat, didalamnya terdapat puluhan cetakan artikel internet mengenai dokter Kimura Ayah Ayana, itu adalah hal yang paling tidak boleh diketahui Ayana.


Daren memijit kepalanya kuat, kini ia tahu Ayana sama sekali tak mengetahui apa apa, kalaupun ia melihat artikel mengenai Barbara dan foto-fotonya tentu tak cukup untuk membangkitkan kecurigaan Ayana, gadis itu paling paling akan berfikir dirinya sama sekali belum bisa melupakan mantan kekasihnya. Dan Daren sudah siap dengan kemungkinan tersebut, ia yakin Ayana akan memaafkannya hanya dengan kata kata manis yang dirangkai indah, Daren sadar betul kepolosan Ayana.


Ia tidak seharusnya berteriak seperti itu pada Ayana sehingga membuat istrinya itu begitu terguncang. Kini Daren hanya bisa menyesali dirinya sendiri, mengutuk dan mengumpat kebodohannya yang telah membuat Ayana celaka, pantaslah jika Daniel sangat membencinya.


.


.


.


Daniel memgamati wajah Ayana yang kembali tertidur pulas dalam dekapannya, wajah bantal dengan rona alami, ia tak habis fikir bagaimana bisa dirinya begitu tergila gila dengan seorang gadis kecil yang bahkan sudah menikah dengan adik kandungnya sendiri.


Haruskah ia meminta Daren menceraikannya? Lalu ia sendiri menceraikan Lauren, apalagi kini ia sudah memiliki bukti yang cukup untuk meninggalkan wanita yang sudah hampir 10 tahun menjadi isterinya itu, Meski sebenarnya dirinya tidak yakin bisa mengatasi guncangan perusahaan yang diakibatkan perceraiannya.


Hufht...lagi lagi Daniel menghembuskan nafas berat memikirkan kemungkinan yang mungkin bisa membuat dirinya bisa bersama Ayana dimasa depan. Ia lalu menengadahkan wajah Ayana sedikit mendongak keatas agar bisa puas memandanginya wanita kesayangannya itu, Ayana sedikit mengggeliat dalam dekapannya sehingga Daniel harus menjaga ekstra infus yang menempel di tangan kananya yang kini merangkul pinggul six pack nya. Ia lalu menekan sebuah tombol yang menempel pada dinding tepat diatas kepalanya, dan meminta perawat agar segera datang.


Tak butuh waktu lama seorang wanita berpakaian putih datang dan membawa catatan rekam medis Ayana yang tersimpan pada Ipad digenggamannya, perawat itu tersenyum simpul melihat posisi Daniel dan Ayana yang saling merangkul mesra.


"Apa yang bisa saya bantu tuan?" Tanya perawat itu lembut dan sopan, ia tahu betul bagaimana melayani pasien bergelar VVIP.

__ADS_1


"Apakah dia sangat memerlukan ini?" Ujar Daniel sambil mengangkat tangan kanan Ayana.


"Ah..cairan infusnya?" Perawat itu terlebih dahulu memeriksa catatan medis Ayana, dan ia tak menemukan kemungkinan jika Ayana bisa dirawat tanpa infus, "Istri tuan, sepertinya baik baik saja agar anda berjanji akan menjaga dan membuatnya makan tepat waktu maka infusnya bisa saya lepas".


"Istri?" Sejenak Daniel terbuai dengan kata itu, entah sudah berapa lama ia merasa hidup sebagai suami yang sama sekali tak pernah menjadi sandaran seorang istri.   namun Daniel segera mengerjap tak ingin terlena begitu lama, ia segera menyetujui  syarat yang diajukan perawat sehingga infus Ayana bisa dilepas, kini ia bisa merangkul tubuh Ayana dan membenamkan wanita itu  sehinga benar benar merasuk kedalam tubuhnya  tanpa rasa khawatir.


Daniel mulai mengecup ringan bibir Ayana yang nampak sedikit terbuka, memancing desiran darah yang membuatnya seakan melayang, wanita ini benar benar bisa membuatku gila! Pikirnya.


Tak ingin berbuat hal yang tidak sepantasnya kepada seorang pasien, ia memutuskan membelai lembut wajah Ayana yang nampak tersenyum dalam lelapnya, Daniel yakin pelukannya berhasil menghempaskan mimpi buruk yang menggerayangi Ayana tadi.


Mereka tetap dengan posisi yang sama hingga senja menjelang, dan Danielpun ikut terlelap.


.


.


.


Ayana bahkan tak ingin menyalahkan Daren atas trauma yang kembali memporak porandakan dirinya, ia ingin menganggap semuanya sebagai kebetulan, pria mana yang bisa melupakan dengan mudah jika kehilangan sang kekasih dengan tragis seperti itu.


Hufht... Ayana menghela nafas, Daren begitu terbebani dengan kematian Barbara sampai sekarang, ia tak ingin menambah beban bagi Daren dengan menceritakan traumanya karena turut menjadi korban dalam kecelakaan naas itu.


Dengan pandangan yang samar ditambah lagi tak adanya cahaya lampu, hanya kemuning senja dari balik jendela kaca besar yang masih setia memberikan cahaya temaramnya,  Ayana mengecup bibir pria yang masih terlelap dihadapannya itu, "Im sorry" bisiknya Lirih, namun cukup membuat Daniel untuk terperangah karena merasakan benda kenyal menempel pada bibirnya.

__ADS_1


"Ayana....kau sudah sadar?"


"Daniel? " Ayana terperanjat tentu ia bisa dengan mudah mengenali suara bariton milik kakak iparnya itu.


"Kemana Dare..." Ayana tak sempat melanjutkan perkataannya karena Daniel keburu menghujaminya dengan permainannya yang penuh nafsu, sehingga hal sama di kolam berenang kembali terjadi namun kali Daniel berusaha melakukannya lebih lembut mengingat kondisi tubuh Ayana.


Lagi lagi Ayana tak dapat mengelak meski diawal ia menolak dengan tidak bereaksi apa apa namun permainan lihai Daniel mampu menghipnotisnya dengan kembali memejamkan mata dan menerima setiap lum*tan lembut Daniel yang sudah mulai mengabsen setiap inci bagian dalam mulutnya dengan benda tak bertulang.


Kali ini permainan Daniel sedikit lebih brutal, ia menghujam kecupan panas dinleher putih Ayana sehingga membuat wanita itu melenguh lirih,namun ia mendesah kuat saat Daniel berhasil membuat satu kiss mark disana yang membuatnya merasa seakan pembuluh darahnya hendak pecah.


"Ah...Daniel...hentikan..." pinta Ayana namun tak bisa dipungkiri ia masih menikmati suguhan Daniel, tak ingin larut dalam kegilaan yang semakin dalam Ayana menahan dengan kuat kepala Daniel saat hendak turun di kedua gundukannya yang masih tertutup rapat.


"Ah...ah...Daniel apa yang kau lakukan? Dimana kita?" Rentetan pertanyaan Ayana dilontarkannya dengan nafas yang terengah engah.


"Rumah sakit, aku fikir kau yang menginginkanya??" Daniel berusaha melimpahkan semua  keslahan kejadian ini atas dasar tindakan Ayana yang mengecupnya terlebih dahulu. 


Ayana tertunduk malu bahkan Daniel bisa melihat rona merah jambu sesaat setelah ia menekan saklar lampu di samping tombol untuk memanggil perawat tadi.


Daniel mengatupkan rahangnya seakan gemas melihat tingkah lucu Ayana yang masih membenamkan wajah cantiknya di dada bidangnya yang berbulu.


"Kan bukankah ku bilang kau yang menginginkannya ?" Goda Daniel sekali lagi , kali ini Ayana menengadahkan wajahnya lalu mengedarkan pandangan, meski terbilang mewahbia langsung bisa mengenali jika memang benar ia berada dirumah sakit.


Mendengar perkataan Daniel, ia semakin malu dan memukul Dada pria itu serta berusaha membalikkan tubuhnya memunggunginya, namun Daniel tidak terima ia lekas membalik kembali tubuh Ayana kedalam dekapannya.

__ADS_1


"Jangan tidur disisi yang salah, kau akan semakin menyakiti tubuhmu"


Mereka kembali saling mendekap tubuh masing masing.


__ADS_2