HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 55


__ADS_3

Sebuah sedan mewah melesat keluar dari pelataran parkir Lapangan terbang pribadi milik Keluarga Bosley, Daren dijemput oleh supir pribadi yang selama kepergiannya ia tugaskan untuk mengamati apa saja yang dilakukan Ayana.


Disamping kemudi duduk Asisten pribadi Daren yang masih mengecek jadwal padat Daren melalui tabletnya.


Sedangkan Daren duduk seorang diri di jok belakang.


"Bagaimana Ayana?" tanya Daren.


"Nona baik Tuan, selama seminggu ini ia hanya berkeliaran di sekitar lantai 3 saja, sesekali masuk keruangan kesenian Nyonya Besar dan menyelesaikan beberapa lukisan" tutur sang supir pribadi seraya mengamati mimik wajah Daren melalui spion depan.


Sejak hamil Ayana memang belajar melukis bersama ibu mertua, namun karena sang mertua juga tengah berlibur ia melukis sendiri di siang hari sambil menunggu pergantian waktu dan menanti Daniel menyambangi kamarnya.


"Bagaimana dengan riwayat panggilan di Paviliun?"


"Tidak ada tuan! sama sekali tidak ada panggilan keluar negeri"


Daren mangut mangut sambil mengelus perlahan dagunya, ia masih tidak menyangka Ayana akan sepatuh itu dan orang tuanya di Jepang juga nampak tidak berusaha mencari tahu kabar Ayana.


"Bagaimana dengan Daniel ?"


"Tuan Daniel?" supir pribadi Daren terlihat menatap bingung kearah spion, ada apa dengan Daniel ?apa ia juga harus menjelaskan perkembangan perceraiannya? Padahal ia hanya ditugasi mengawasi Ayana bukan Daniel.


"Eh..Tuan Daniel seperti biasa Tuan, sekarang ia tengah mengurus percera-iannya" jawab sang sopir nampak ragu, sebagai seorang bawahan ia merasa tidak pantas membahas kehidupan pribadi seorang Chairman Bosley Group.


"Bukan itu! Maksudku apa ia sering teihat dipaviliun utama?"


"Ooh...Tidak Tuan! Sejak nyonya Besar pergi Tuan Daniel tidak pernah menginjakkan kakinya di paviliun utama" tutur sang supir, ia memang hanya mengawasi paviliun di siang hari namun tidak pada tengah malam.


Daren kembali mengangguk anggukkan kepalanya, ia tertawa miris, apa juga yang ia khawatirkan sebenarnya? Tidak mungkin Daniel dan Ayana....ah Daren menghentakkan kepalanya, mengusir fikiran jahat yang terkadang muncul ketika ia kembali mengingat Daniel membawa Ayana kerumah sakit tempo hari.


.


.


.

__ADS_1


Adam Lee mengamati Daniel yang nampak serius mengamati tablet yang ia ketahui milik Calvin melalui spion pandangan Daniel tak pernah sekalipun lepas dari benda pipih tersebut sejak keluar dari ruangan Direktur pemasaran Bosley Elektronik itu.


Entah mengapa sejak mengenal Ayana dan berinteraksi beberapa kali melalui surat Adam selalu saja penasaran dengan urusan pribadi Daniel yang melibatkan gadis Jepang itu, dan seperti kali ini! Adam Yakin isi dari Tablet itu sangat berhubungan dengan Ayana karena beberapa kali Daniel menggumamkan nama Tuan kimura dan Ayana sambil terus mengamati tablet tersebut.


"Ah...Adam bagaimana dengan perceraianku?" tiba tiba Daniel bertanya membuat pandangan dua pria itu bertemu melalui spion.


Daniel memang menyerahkan segala urusan perceraiannya kepada Adam dan para tim pengacara.


"Berjalan Lancar tuan, Tuan pettyfer dan keluarganya bisa memaklumi keputusan anda"


"Lauren? Bagaimana kabarnya?" Bagaimanapun perselingkuhan Lauren wanita itu tetap pernah menjadi istrinya, ia juga merasa bersalah dengan apa yang dialami Lauren namun harus bagaimana lagi,menyebarkan aibnya adalah satu satunya cara bagi Daniel untuk bisa terlepas dari jerat pernikahan tanpa cinta itu.


Tarakhir kali mereka masih berkomunikasi melalui panggilan telepon, Lauren meminta maaf dan menyerahkan semua keputusan ditangan Daniel karena ia terlalu malu untuk meminta pria itu bertahan disampingnya setelah apa yang ia lakukan.


Bisnis Lauren juga perlahan mengalami kemunduran, namun ia yakin itu tidak akan mempengaruhi keuangannya karena keluarga pettyfer masih memiliki Kekayaan yang amat sangat berlimpah ruah, Daniel juga memutuskan memberikan Harta sebagai konpensasi perceraian mereka dengan jumlah yang sangat banyak.


"Sepertinya nyonya Lauren sangat Depresi, menurut pengacaranya sekarang ia tengah menenangkan diri di villa keluarganya yang berada di pegunungan Swiss"


"Hah....." Daniel mendesah berat, menyenderkan punggung dan kepalanya disandaran Jok, ia tak boleh berlarut larut dalam rasa bersalah, lagi pula itu kesalahan Lauren sendiri, wanita itu bahkan lebih dulu berselingkuh dari pada dirinya. Daniel berusaha mencari pembenaran dari tindakannya yang memang sudah sepatutnya.


"Oh iya Adam, apa kau memberikan sapu tanganmu pada Ayana?" Daniel mengganti topik, ia tiba tiba saja teringat dengan sapu tangan bersulam bunga diatas nakas Ayana, meski hanya sekilas karena Ayana segera mengamankannya didalam lemari, Daniel langsung tahu benda itu milik Adam, karena Adam pernah bercerita jika saputangan tersebut adalah hadiah dari mendiang adiknya yang disulamnya sendiri.


Adam menelan saliva kasar, seperti ada biji pohon ek besar mengganjal ditenggorokannya, Bagaimana jika atasannya itu curiga?


.


.


.


"Ehem" Adam tetlebuh dahulu berdehem sebelum menjawab, ia tak mungkin berbohong, jika Daniel mengatakan itu miliknya maka ia pasti sudah mengamati saputangan itu dengan seksama.


"Benar Tuan, aku meminjamkannya pada Nona Ayana saat dirumah sakit ketika mengantarkan mochi?"


"Kenapa kau meminjamkannya?" Tatapan Daniel penuh selidik.

__ADS_1


"Ah...karena saat itu nona tengah menangis."


"Menangisi apa?"


"Entahlah Tuan, aku juga tidak bertanya"


"Tapi kau memberikannya?? Ia sudah terlalu lama menyimpannya! Bukankah itu sangat berharga??"


"Tidak Tuan! Aku meminjamkannya"


"Mungkin Ayana tidak tahu benda itu sangat berharga bagimu, aku akan memintanya untuk mengembalikannya" Sebenarnya alasan utama Daniel ingin Ayana mengembalikan benda itu adalah, ia tidak tahan melihat Ayana begitu menghargai dan berhati hati ketika menyimpan sapu tangan milik Adam Lee itu, ia sudah cukup lelah harus cemburu kepada Daren. Ditambah lagi sapu tangan milik Adam meski sebenarnya ia tahu Adam lee tidak mungkin berani menyukai Ayana.


"Baiklah tuan terima kasih!" Adam lee menundukkan kepala kearah spion, sepertinya ia dan Ayana harus segera mengganti kode.


.


.


.


Mobil sedan Daniel tiba di halaman paviliun utama, Chairman Bosley group itu sengaja meminta Adam untuk menurunkannya disini, ia sudah tidak sabar melihat reaksi Ayana ketika tahu kabar yang tengah dibawanya.


"Adam, tunggu aku di paviliunku!" titah Daniel sebelum keluar dari mobil.


Melihat Daniel berjalan menuju pintu masuk paviliun utama, Adam yang baru selesai memarkirkan mobil itu segera mengejarnya, ia tahu betul jika Daniel hendak menemui Ayana, tidak mungkin ia ingin bertemu ibunya, karena wanita tua itu baru akan pulang malam nanti.


"Tuan!" panggil Adam Lee seraya berlari lari kecil menghampiri Daniel.


Daniel menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Adam Lee.


"Tuan jangan menemui Nona Ayana dulu "


"Kenapa? " Dahi Daniel berkerut menunggu jawaban sang asisten pribadi.


"Tuan Daren akan segera tiba saya dari India!"

__ADS_1


"Terima kasih atas informasimu, tapi ada sesuatu yang harus kubicarakan kepada Ayan" ucap Daniel seraya menepuk pundak Asistenya itu sebelum ia kembali berlalu dan hilang dari balik pintu Utama, meninggalkan Adam Lee yang mendesis kesal.


"Aish...." kesal Adam, bagaimana jika Daren menemukan mereka ? Maka Ayana akan berada dalam situasi yang sangat berbahaya.


__ADS_2