HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 39


__ADS_3

Semua mata tertuju pada puluhan layar cctv yang terdapat pada hampir setiap sudut rumah sakit, Dada Daniel dan Daren begitu bergemuruh saat tak menemukan sosok wanita yang begitu mereka khawatirkan.


"Putarkan rekaman, bebrapa saat setelah istri saya keluar ruangan" titiah Daren  sontak membuat Daniel menelan saliva.


Bagaimana jika Daren sadar jika selama ini dirinyalah yang  menemani Ayan dirumah sakit?


Daniel menguatkan rahang hingga urat lehernya tertarik, ia tak ingin menjadi pengecut begitu Daren mengetahui segalanya, tak boleh ada kesalahan yang dipikul Ayana untuk itu ia bersiap menerima segara resiko yang akan terjadi malam ini, termasuk menjadi sasaran amuk Daren, karena ia sudah memutuskan akan memperjuangkan Ayana meski hubungan persaudaraannya menjadi taruhannya.


Beberapa petugas segera mencari rekaman cctv beberapa jam yang lalu, namun sebelum rekaman itu ditemukan petugas lainnya terlebih dahulu menemukan gambar Ayana yang berjalan menyusuri tangga darurat menuju rooftoop.


"Apakah dia yang anda cari?" Seorang petugas menzoom rekaman Ayana.


"Benar !!dia istri saya" Daren dan Daniel seketika memacu langkah dan berlari seakan berlomba menemukan Ayana terlebih dahulu.


.


.


.


Ada rasa kesal yang terbesit di hati Daren tatkala menyadari jika raut wajah Daniel bahkan terlihat lebih khawatir dibanding dirinya.


"Apa kau mengenal Ayana dengan baik? Sejak pergi berbelanja bersama dengan ibu?" Tanya Daren, ia berhenti sejenak sebelum membuka pintu rooftoop, sepengetahuannya itu adalah pertemuan pertama kakak dan juga istrinya.


"Apa itu penting sekarang? Cepat buka dan temukan Ayana" jawab Daniel datar yang kini berdiri dibelakang Adiknya itu.


"Aish..." Daren mendengkus kesal, dan segera memutar kenop pintu.


"AYANA!!!...." Teriak Daren di atas hamparan hellypad, matanya memindai hampir kesetiap sudut dan cela, hingga dua manik matanya menangkap sosok wanita yang tengah duduk memeluk kedua lututnya di tepi bangunan.


Ayana sebenarnya tak ada niat untuk mengakhiri hidupnya ia hanya membutuhkan waktu sendiri guna merenungi dosa besar yang baru saja ia perbuat bersama Daniel.

__ADS_1


Namun Daniel dan Daren yang berfikiran sempit segera berlari sekuat tenaga menghampiri Wanita yang kini sudah menoleh dan melihat Daren yang begitu ia cintai dan Daniel yang selalu ia rindukan.


Egois....yah itu yang tengah ia rasakan kini, mata Ayana sembab akibat air mata yang terus tertumpah ia merasa bersalah kepada Daren namun tak bisa melupakan Daniel.


Daren semakin mendekat sementara Daniel memilih mengambil jarak dan hanya mengamati dari jarak yang tidak terlalu dekat, ini adalah konsekuensi yang harus ia rasakan akibat menyelingkuhi istri adiknya, meski sakit namun ia tak bisa menampakkan rasa cemburunya.


"Ayana....sayangku...." Daren mendekap tubuh Ayana erat seakan tak akan pernah melepaskannya.


"Daren maafkan aku...." pinta Ayana sesegukan, ia terlalu banyak menangis sehingga seperti ada batu besar mengganjal didadanya.


"Tidak sayang...aku yang minta maaf karena membuatmu celaka.."


Tidak Daren....aku yang harusnya bersimpuh dan berlutut dihadapanmu karena sudah tidur dengan kakakmu.. Batin Ayana.


"Maafkan...aku..."


"Maafkan aku..."


Dari kejauhan Daniel hanya bisa menatap dengan kedua mata yang berkabut,


apakah kau menyesalinya Ayana?


Perihnya mencintai istri adiknya sendiri begitu berat ia rasakan, padahal ia adalah seorang Daniel Bosley, Pria yang bahkan bisa membeli wanita sekelas artis Hollywood sekalipun dengan uang dan ketampanannya, namun ia sama sekali tak tertarik bahkan melakukan bersama istrinya pun hanya dianggapnya sebagai penggugur kewajiban, namun kini tidak lagi wanita durjana itu telah berselingkuh, sehingga ia tak punya alasan lagi untuk tidak memperjuangkan Ayana meski harus berebut dengan Daren, karena hanya Ayanalah wanita yang benar benar bisa memacu degup jantungnya setiap kali mereka berdekatan.


Cukup lama Ayana memohon pada Daren hingga akhirnya terlelap dalam dekapan suaminya sambil sesegukan, penyesalan yang teramat ia bawa hingga alam bawah sadarnya.


"Cukup sampai disini kau melindunginya dari suami yang sangat ia cintai " sarkas Daren saat melewati Daniel yang menatap lekat Ayana dalam gendongan Daren.


.


.

__ADS_1


.


Daniel meneguk vodkanya di balkon kamarnya hingga habis, lalu menghempaskan tubuhnya pada sebuah kursi, ia tak bisa berhenti tertawa miris mengingat Ayana yang kini menghabiskan malam bersama suaminya, ingatan yang seakan menyayat hatinya itu membuat tangannya mengepal hingga sanggup memecahkan sloki dalam genggamanya.


Darah segar mengucur deras dari tangannya yang ia biarkan menggelantung begitu saja, bahkan derap langkah nyonya Bosley yang mengunjungi paviliunya pun sudah tak ia pedulikan lagi.


Kini wanita tua itu berdiri sambil menyilangkan tangan didepan dadanya seraya berdecak lirih tak percaya menatap Daniel yang tengah menikmati rasa sakitnya, Nyonya Bosley segera mengambil kotak p3k yang memang tersedia dikamar Daniel.


Meski seorang nyonya Besar, wanita yang bernama Elizabeth Bosley itu tetaplah seorang Ibu yang bisa merasakan apa yang tengah dirasakan putra sulungnya , ia berlutut dan mulai merawat luka ditangan Daniel dengan telaten meski pria itu hanya bisa bergeming.


"Sudah sampai mana hubunganmu dengan Ayana?" Tanyanya santai seakan sudah mengetahui segalanya.


Daniel seketika menautkan dua alisnya dan menoleh menatap wajah ibunya yang sudah hampir selesai membalut luka ditangannya, ia seperti tidak mengenal ibunya itu saat melontarkan pertanyaan yang bisa membuatnya langsung bisa kehilangan jabatannya sebagai seorang Chairman, Tentu saja ibunya tak akan mentolerir perselingkuhan apalagi antara ia dan Ayana, dengan kata lain posisi Ayana kini sedang dalam bahaya saat nyonya besar itu sudah mengetahui segalanya.


"Moms...."panggil Daniel ada rasa memohon yang terdengar disana.


"Kau begitu menyukainya? lakukan sesukamu ibu akan mendukungmu" Kini giliran Nyonya Bosley yang menatap putranya dengan tatapan ber api api.


Daniel masih menampakkan raut wajah bingung dan takut, ia tak takut jika dirinya menjadi pusat kemarahan ibunya, tapi keselamatan Ayana bagaimana?


"Mengapa kau nampak bingung? kau tidak bisa mengerti perkataan ibumu ini?"


"Bu..kau tak perlu seperti itu, aku akan mempertanggung jawabkan semua kesalahanku" Daniel seakan menyuruh ibunya untuk berhenti berpura pura.


Heh.... nyonya Bosley terkekeh, "Apa kalian sudah sampai di tahap tidur bersama?"


Daniel tercengang, saliva yang ia telan terasa begitu kasar dan pahit, bagaimana ibunya bisa mengutarakan pertanyaan seperti itu dengan santainya, bukankah wajar jika ia menanyakan hal seperti itu dengan emosi yang menggelegar didada.


"Kenapa denganmu Daniel? ibu bertanya dengan serius, jika kau sudah menidurinya maka itu bagus, jika belum maka ibu akan membantumu hingga Ayana bisa mengandung anakmu"


"BU!!!" suara Daniel agak ditinggikan ia bukan tidak mengerti apa yang ibunya bicarakan, namun sarkas yang ia gunakan begitu berlebihan.

__ADS_1


"Mengapa membentak ibumu ini? ibu serius! Kau harus membuat Ayana hamil anak darimu untuk menyelamatkan keturunan Bosley, karena Ayana tidak akan pernah bisa mengandung anak Daren. dikarenakan adikmu itu persis sama seperti istrimu!"


__ADS_2