
"Benar benar pasangan yang serasi" Gumam Calvin seraya merentangkan tangannya menyambut Daniel dan Ayana yang seperti berlindung dibalik tubuh suaminya.
Mereka berdua berjalan mendekati Calvin yang sudah menjemputnya dengan sebuah limousin mewah.
Calvin memeluk erat tubuh Kekar Daniel sahabat terbaiknya, begitupun sebaliknya. Calvin begitu bahagia melihat rona tak biasa yang terpancar diwajah sahabatnya, beberapa tahun mengenal Daniel ia tahu kehidupan Daniel hanya dipenuhi urusan bisnis dan kehidupan percintaan yang payah.
"Setelah melihatmu sekarang aku rasa aku akan segera menikah, mungkin aku juga harus mencari seorang gadis mungil Asia yang bisa membuatku bertekuk lutut" Calvin berujar sambil melirik Ayana yang berada di belakang Daniel, Wanita Jepang itu segera menunduk dan memberi hormat pada Calvin.
Daniel yang mendengar kata kata Calvin hanya bisa memutar bola matanya dengan malas, ia tak yakin Calvin si casanova bisa betah hanya dengan 1 wanita.
"Bagaimana kabarmu Ayana?" Calvin mengulurkan tangannya untuk menjabat Ayana.
"Baik Tuan!" Jawab Ayana seraya menyambut uluran tangan Calvin.
"Bukankah sudah kukatakan, jangan terlalu formal padaku, panggil Calvin saja"
"Baiklah Calvin" Ayana tersenyum Kikuk.
Mereka bertiga akhirnya masuk kedalam mobil berukuran panjang itu, Daniel dan Ayana duduk berdampingan sedangkan Calvin duduk sendiri di hadapannya, limousin itu dikemudikan seorang supir pribadi Calvin.
Daniel tak pernah melepas tangan Ayana yang terasa sangat dingin, wanita itu memang sangat tegang begitu menginjakkan kakinya kembali di negara yang membuatnya merasakan luka yang begitu dalam.
"Aku akan selalu bersamamu, rileks sayangku" Daniel mengecup pucuk kepala Ayana berkali kali, untuk meredakan ketakutan Ayana.
"Aku...benar benar...."belum sempat Ayana melanjutkan kata katanya, Daniel segera mengecup bibir Ayana, kali ini wanita itu tidak hanya takut melainkan wajahnya memerah karena Calvin yang melihat kearah mereka.
"Astaga, Daniel apa kau remaja SMA? Aku tidak menyangka akan melihat sisi romantismu hehe kau membuatku seperti seseorang yang menumpang di mobilku sendiri"
__ADS_1
"Harusnya kau hanya mengirim seorang supir, tak usah repot repot menjemputku" ucap Daniel datar.
"Wah wah, dimana rasa terima kasihmu, Oh iya Ayana, Jangan terlalu gugup semua orang sangat menantikan kehadiranmu, kau lihat ini? " Calvin memperlihatkan layar ponselnya dimana terdapat panggilan tak terjawab dari Nyonya Bosley sebanyak puluhan kali, namun Calvin terlalu malas menjawabnya. Wanita tua itu tahu jika Calvin yang menjemput Daniel dan Ayana dibandara.
"Mertuamu sudah tidak sabar bertemu denganmu" Calvin tersenyum hangat.
Ayana mencoba tersenyum meski terlihat getir. Ia sudah mencoba memaafkan mertuanya itu meski masih terluka Jika mengingat setiap kata yang dilontarkan mertuanya itu saat diruang kesenian.
Tapi Darren?
Ayana sama sekali tak tahu harus bersikap seperti apa saat nanti melihat wajah seseorang yang pernah mengisi seluruh hatinya itu, dan secara bersamaan menyiksanya hingga secara tidak langsung membuat Kedua orang tuanya meninggal.
Haruskah ia langsung mencabik cabik wajahnya? Tapi sayangnya hati Ayana terlalu lembut untuk melakukan hal seperti itu.
Bagi Ayana, Darren adalah pembunuh kedua orang tuanya, andai saja ia masih bisa berhubungan baik dengan kedua orang tuanya maka ia tak akan pernah meminta orang tuanya datang untuk menjemputnya.
.
.
"Aku akan pulang bro, sebenarnya ibumu mengundangku, tapi aku tak ingin mengganggu pertemuan keluargamu" Pamit Calvin setelah mengantarkan Daniel dan Ayana.
Dilantai satu semua pelayan menunduk 90 derajat menyambut kedatangan Ayana dan juga Daniel. Diujung jejeran pelayan Nyonya Bosley, dan Lohan sudah nampak berbinar menyambut putra dan Menantunya.
"Anakku....." ucap Nyonya Bosley tergugu, ia berjalan menghampiri Daniel dan Ayana namun Ayanalah yang ia peluk terlebih Dahulu.
"Anakku....Maafkan Ibumu yang bodoh ini" Nyonya Bosley mendekap Ayana erat seraya mengusap pucuk kepala wanita yang kini sudah menjadi menantunya untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Ahh....hiks hikss Ayana tak bisa berkata kata, ia hanya bisa terisak dalam saat masih mengingat betapa memilukan hidupnya ketika masih tinggal di kediaman ini.
Nyonya Bosley dan Lohan bergantian memeluk Ayana dengan hangat, hanya derai air mata dan kata maaf yang terbata bata yang keluar dari mulut dua orang wanita yang pernah menulis skenario kehidupan Ayana yang harus berakhir sebagai selingkuhan kakak iparnya sendiri. Meski sebenarnya Daniel dan Ayana mulai berakting tanpa sempat membaca skenario itu.
Dan mungkin hal itu akan membuat Ayana lebih mudah memaafkan dua orang ini.
Tak lama kemudian seorang wanita dengan rambut pirang turun dari tangga dengan seorang anak laki laki dalam gendongannya.
Georgina berusaha tersenyum hangat meski sebenarnya dadanya bergemuruh apalagi saat melihat Ayana yang ternyata sangat cantik dengan tubuhnya yang mungil, wajah yang Baby face dengan umur yang masih muda membuat Ayana terlihat masih seperti seorang remaja.
Ayana melepas genggaman Nyonya Bosley dan berjalan ke arah wanita yang tidak ia tahu adalah istri dari mantan suaminya.
"Dia Ryuu" Bisik Nyonya Bosley, disertai anggukan agar Ayana segera menghampiri putranya.
Daniel menggenggam erat tangan Ayana dan menuntunnya untuk mengambil Ryuu dari gendongan Georgina.
"Ryuu Anakku" suara Ayana bergetar, tatkala mengulurkan tangannya untuk mengambil Ryuu, Ayana sempat melirik Georgi dan wanita itu tersenyum hangat seraya memberikan Ryuu.
"Ryuuu" Air mata Ayana benar benar luruh, memeluk Bayi yang hampir berusia dua tahun itu, tubuhnya gembul dengan kulit seputih salju seperti miliknya, Ayana masih mengingat betapa malang nasib putranya itu tatkala harus lahir dalam kondisi prematur.
"Maafkan Ibu nak yang egois karena meninggalkanmu" Isak Tangis Ayana terdengar begitu menyayat hati, ia memang begitu jahat karena meninggalkan putra semata wayangnya. Namun rasa sakit karena kehilangan kedua orang tuanya kala itu membuat Ryuu tak cukup untuk membuatnya tetap bertahan hidup didunia ini, meski pada akhirnya ia tetap hidup dan menemukan secerca harapan dari Daniel yang kini sudah menjadi suaminya.
Daniel merengkuh tubuh Ayana dan anaknya dalam dekapannya. ia akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki sebuah keluarga yang benar benar sempurna.
Sementara di sudut paviliun yang sangat tersembunyi Darren hanya bisa menatap nanar penuh kepedihan wajah Ayana yang terlihat masih sama seperti dulu, wanita yang pernah begitu ia sayangi dengan sepenuh hati namun pada akhirnya ia sia siakan jua.
"Ayana.....aku merindukanmu, benar benar merindukanmu" Lirih Darren yang hanya bisa ia dengar sendiri. Ia tak punya keberanian untuk menghambur dan bersimpuh meminta maaf dibawah kaki Ayana.
__ADS_1
Sementara Georgina bisa melihat Darren dari kejauhan yang kini menyeka air matanya, pria itu berbalik dengan punggung yang bergetar.