HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 8


__ADS_3

Daniel masuk dan menemukan Daren yang tengah meneguk segelas bir, sudah ada beberapa jejeran botol kosong dihadapannya, Daniel ikut nimbrung dan langsung menuang sendiri vodka kedalam sloki yang sudah disediakan. Ini kali pertamanya Daren memintanya untuk minum bersama, Daniel bisa memastika sesuatu yang buruk telah dialami adiknya itu.


Dua saudara itu minum alkohol tanpa saling menegur, Daren sibuk memikirkan Ayana begitupun dengan Daniel yang tak bisa menghilangkan wajah Ayana dari fikirannya ia menghawatirkan jika hal yang barusan dilakukannya untuk memutasi Ayana sudah mempengaruhi Daren secara langsung.


"Aku sangat mencintainya!!!" ucap Daren yang sudah mabuk lalu meletakkan sebuah botol kosong diatas meja dengan kasar. Daniel yang melihat itu bergeming dan masih terus meneguk vodkanya.


"Aku bahkan bisa melepaskan segalanya Daniel!!!Segalanya!! Untuk bisa bersama wanita ini"


"Ck" Daniel berdecak tak percaya, mana mungkin seorang Daren bisa melakukannya.


"Dia tak menyukaiku sebagai Bosley tapi sebagai Daren Smith"


Daniel membiarkan Daren mengeluarkan semua isi kepalanya.


"Bantu aku Daniel!!! Bantu aku....Da...."Gusar Daren sebelum akhirnya kepalanya terhantuk keras diatas meja dan tak sadarkan diri.


Daniel mengoyang goyangkan kepala Daren namun tak ada respon, pria dengan brewok tipis itu lalu mendekatkan bibirnya di dekat telinga Daren dan berbisik.


Aku akan membantumu adikku!! untuk melihat apakah gadis itu pantas untuk ditukar dengan seluruh kekayaan Bosley. Daniel tersenyum smirk.


...***...


Dimeja makan Daren, Daniel, dan nyonya Elizabet Bosley tengah menikmati santapan sarapan, Daren masih sibuk memikirkan Ayana sementara Daniel tengah membaca sebuah artikel mengenai kepulangan istrinya melalui ponsel, yah satu satunya anggota keluarga Bosley yang biasa terekspos media adalah Lauren, Ia mengernyitkan dahi ,Akhirnya dia pulang juga!! gumam Daniel dalam hati.


"Kapan lauren pulang?" tanya nyonya bosley memecah keheningan.


"Besok! aku juga baru membacanya" Jawab Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

__ADS_1


"Hufht....." nyonya Bosley menghela nafas berat, bagaimana mungkin seorang suami mengetahui kepulangan istrinya dari berita internet.


"Daren..."


Daren bergeming ia masih mengaduk sup hangat didepannya yang sama sekali belum diseruputnya.


"DAREN!!!" Tukas nyonya Bosley.


"Hemm..." Daren hanya membahasnya dengan deheman lirih.


"Kapan kau mengajak Ayana??"


"Ibu! setelah menikah apa aku boleh tinggal terpisah darimu dan Daniel?" Tanya Daren tiba tiba yang membuat Nyonya Bosley nampak mengerutkan dahi dan hidung, tentu saja wanita tua itu tak akan pernah setuju karena ia selalu ingin melihat kedua putranya ada disampingnya.


"AH...aku tahu pasti tidak boleh" Daren menjawab sendiri pertanyaannya dan membuat nyonya bosley kembali meluruskan mimiknya


"Tenang saja Daren, ibu bersumpah akan menerima Ayana apapun yang terjadi, kau tinggal membawanya pada ibu" Nyonya Bosley mengangkat kelima jarinya yang dirapatkan keatas, membuat Lohan yang sedari tadi berdiri di samping Nyonya Bosley terbatuk batuk.


...***...


Sebelum pindah Ayana sudah mempersiapkan mental baja untuk ditempa bekerja lebih keras di perusahaan Bosley dengan omzet terbanyak itu, Namun kenyataan yang ia terima tidak sesuai dengan harapannya, pekerjaan di sini bahkan lebih ringan dari kantor sebelumnya, hanya saja fasilitas dan gaji lebih besar tiga kali lipat dari sebelumnya.


Tok..


tok...


tok...

__ADS_1


Calvin menyembulkan kepalanya Dahulu lalu masuk memastikan jika Ayana ada didalam ruangannya. Ayana segera berdiri memberi hormat dan meninggalkan kursinya mempersilahkan Calvin untuk duduk namun pria iti lebih memilih untuk duduk di sofa, Akhirnya Ayana juga ikut duduk ditempat yang sama.


Calvin menyerahkan satu buah tiket beserta kartu credit berwarna biru.


"Apa ini pak?" tanya Ayana bingung.


"Ini hadiah dari perusahaan, sebuah tiket liburan ke Maldive" tutur Calvin ramah seraya mengamati Ayana yang tengah menunduk meraih tiket dan cartu kredit dihadapannya. Ia benar benar dibuat bingung dengan tingkah Daniel yang begitu memanjakan calon istri adiknya itu. Ini seperti Daniel yang ia kenal.


Ayana menatap dengan penuh kebingungan. Hadiah? mengapa perusahaan ini sepertinya terlalu baik padanya?


"Maaf apa ini permintaan Daren sm....ah bukan maksudku Daren Bosley?" tanya Hana dengan tatapan mengintrogasi, ia yakin jika Daren tengah menggunakan pengaruhnya diperusahaan ini untuk membujuknya karena Ayana masih belum bisa menerima ajakan Daren untuk segera menemui ibunya, walaupun hubungan mereka sudah perlahan membaik.


"Hush...." Calvin menaruh telunjuk dibibirnya "Daren? Apa kau mengenal Daren Bosley?" Calvin pura pura tidak tahu, ia tak ingin memperpanjang waktu dengan membahas hal tidak penting, yang ia tahu tiket ini harus segera diterima dan Ayana segera berangkat ke maldiv esok pagi dengan penerbangan pertama, karena jika sampai hal itu tidak terjadi Daniel berjanji akan menarik semua fasilitas mewah yang dinikmati Calvin. Sial pria itu! umpat Calvin saat mengingatnya.


"Tapi pak maldiv? apa semua karyawan akan berangkat?"


"Tidak! ini hadiah khusus untukmu" senyum Calvin penuh harap, rasanya ingin berlutut dan memohon agar gadis itu tak mempersulit hidupnya dan menerimanya dengan senang hati.


"Tapi pak...."Ayana menyerahkan tiket digenggamannya pada Calvin, " first class??"tanyanya bingung, melihat hal itu Calvin nyengir kuda bahkan perjalanan bisnis sekelas manager saja hanya menggunakan business class. kenapa tak bawa saja Ayana berlibur dengan Jet pribadi miliknya jika ia begitu ingin berbuat baik pada calon istri adiknya itu!! Gerutu Calvin dalam hati.


"Ayana! bisakah kau menerimanya saja dan berangkat esok pagi ??jika kau tak berangkat kau akan dipecat karena dianggap menghina Perusahaan" tukas Calvin. ia lalu beranjak dan pergi dengan kesal, namun tak bertahan lama Calvin kembali menatap pintu kantor yang trrtutup milik gadis yang nampak sangat polos itu. kini ia yakin sikap Ayana lah yang membuat Daren jatuh cinta dan Daniel merestuinya, gadis itu sama sekali tidak menilai uang dan kemewahan diatas segala galanya, berbeda dengan gadis kebanyakan.


Calvin kembali mendesah saat melihat nomor yang bertengger diponselnya, itu adalah Daniel yang ingin mengetahui apakah Ayana menerima hadiahnya atau tidak.


"Halo" jawab Calvin malas.


"Apa ia menerimanya?" tanya Daniel, meski berusaha tenang namun getaran suaranya tak bisa menutupi kegugupannya.

__ADS_1


"Ia menerimanya, dan aku berhasil memaksanya untuk berangkat besok pagi" kesal Calvin,Puas!!! ingin rasanya ia meneriakkannya ditelinga Daren.


Setelah mendengar jawaban Calvin , Daniel mengakhiri panggilannya, meninggalkan Calvin yang sudah diambang batas kesabarannya menggerutu didepan layar ponsel miliknya.


__ADS_2