
Ayana menatap selembar amplop diatas meja riasnya yang bertuliskan surat pengunduran diri, ia menunggu hingga Daren keluar dari kamar mandi apartemennya untuk menjelaskan semuanya, karena saat mereka dibandara hingga sampai ke Apartemen Daren sama sekali belum mengatakan apapun kepada Ayana mengenai rencana pertunangan mereka dan pengunduran diri Ayana dari perusahaan yang baru saja mengangkatnya sebagai karyawan tetap itu, karena terlalu sibuk melampiaskan kerinduan masing masing yang berakhir diatas ran*ang.
"Apa ini?" Tanya Ayana begitu Daren keluar.
Pria itu tak menjawab, ia terlebih dahulu mengeringkan rambutnya lalu memakai pakaiannya yang memang sudah tersedia di dalam lemari Ayana, membuat gadis jepang itu mencebik kesal, ia sebenarnya sudah bisa menduga jika surat itu adalah miliknya yang sengaja dibuat Daren.
"Surat pengunduran dirimu baby, aku akan menyerahkannya pada Calvin" Jawab Daren santai sambil menyisir rambutnya dan berdiri di belakang Ayana yang sudah siap dengan penampilan casualnya untuk ke kantor.
"Kenapa aku harus mengundurkan diri? padahal belum sebulan aku diangkat jadi karyawan tetap!" Ayana mengerutkan dahinya seraya menyilangkan kedua tangan didada, Daren yang gemas segera memutar kursi beroda Ayana dan menatap gadis itu lekat dengan memegang kedua tangan Ayana, sementara ia dengan posisi berjongkok.
"Aku sadar setelah tak bisa menghubungimu kalau aku tak bisa hidup tanpamu baby " ucap Daren sambil mengecup mesra dahi Ayana, "Untuk itu aku meminta ibu menyegerakan pernikahan kita, besok adalah ulang tahunnya dan saat itu pula ibu akan mengumumkanmu di hadapan semua kolega bisnisnya".
Ayana menelan saliva mendengar setiap kata yang terlontar dari bibir Daren.
"Tapi aku belum siap Daren"
"Bukankah dulu sangat ingin pernikahan ini disegerakan?" Daren menautkan dua alisnya.
"Dulu saat aku mengenalmu sebagai Daren smith, bukan putra dari Bosley group! sekarang....??" lama Ayana terlihat berfikir sebelum melanjutkan kata katanya "Sekarang aku sadar, bahkan ujung kukumu pun tak pantas untukku?"
__ADS_1
"Mengapa kau mengungkitnya lagi?"
"Aku hanya ingin diberi sedikit waktu" ucap Ayana sambil menautkan dua tangannya, disisi lain ia begitu mencintai Daren, tapi latar belakang keluarganya membuat nyalinya untuk mencintai seketika ciut, "Aku bahkan belum mengatakan apapun pada orang tuaku"Ayana tertunduk..
"Hei...Hei....Apa kau kira aku seperti saudaraku? tidak sayang, Jabatan tertinggi yang paling mungkin kupegang adalah CEO aku juga karyawan kakakku, Kau akan tetap memiliki seorang suami yang biasa biasa saja dimana masih berharap bayaran hemmm" tutur Daren membujuk Ayana yang sudah memanyunkan bibir kecilnya.
Ayana mendorong bahu Daren tidak cukup keras namun cukup untuk membuat tubuhnya mundur kebelakang beberapa centi "Kau menyebut CEO seperti menyebut staff biasa "Ayana mencebik kesal karena Daren terdengar menggampangkan semuanya, gadis itu lalu berdiri dan mengambil tas kecilnya namun Daren segera memeluknya dari belakang.
"Kau satu satunya alasan aku menyesal terlahir di keluarga Bosley" ucapnya sambil mengecup Bahu Ayana, gadis itu seakan hanya bisa pasrah, ia tak menemukan jalan keluar dari situasi yang tengah dialaminya saat ini.
"Tak ada waktu lagi...hari ini aku akan membawamu berbelanja gown untuk pesta esok"
"Jemput aku saat malam hari, karena hari ini aku akan ke kantor, Aku menyetujui pertunangannya tapi tidak denga pengunduran diriku!" tegas Ayana.
...***...
"Aku senang kau kembali berkantor disini..." Calvin membuka tirai besar dan membiarkan cahaya matahari masuk menyinari ruangan besar yang didominasi warna abu abu putih itu, Daniel tak menghiraukan ia masih fokus memeriksa beberapa laporan dihadapannya.
Calvin membuang tubuhnya diatas sofa kualitas premium yang terletak agak jauh dari Daniel seraya merentangkan tangan dan menyenderkan punggungnya santai, ia merasa sahabatnya itu perlahan mulai kembali ke jati dirinya yang semula.
__ADS_1
"Bukankah akan ada rapat, sepertinya Ayana akan berada disana juga" ucap Calvin sambil menatap Daniel penuh telisik untuk menguji ekspresinya namun Daniel tetap terlihat begitu acuh.
"Baiklah....aku akan keluar, sepertinya kau sibuk dan menganggapku hanya angin lalu, lanjutkan pekerjaanmu boss besar" tutur Calvin lalu keluar dan menghilang dibalik pintu, meninggalkan Daniel yang kini mulai memijit kuat kepalanya dan terdengar mendesah dengan nafas yang sangat berat.
Ayana....Ayana.... ia bahkan tak bisa konsentrasi dan hanya memikirkan nama itu, sikapnya tadi hanya sebagai kamuflase untuk menipu Calvin agar berhenti menasehatinya. pria itu bahkan terdengar lebih cerewet dari pada Elizabeth Bosley ibunya.
Daniel mengepalkan tangannya sempurna mengingat esok adalah hari dimana pengumuman pertunangan Daren dan Ayana, setelah itu ia harus mengubur perasaannya terhadap gadis itu.
Daniel adalah Sosok yang paling logis didunianya namun kali ini ia berharap bisa memutar waktu dan menemukan Ayana sebelum Daren, jika itu bisa terjadi ia siap kehilangan segalanya agar bisa hidup bersama Ayana gadis yang terpaut usia dua belas tahun lebih muda darinya itu.
Daniel masih mengusap wajahnya gusar saat Adam Lee masuk dan memberitahu jika semua direksi sudah berkumpul di ruang rapat.
Daniel terpaksa meninggalkan ruangnnya dengan berat, akan lebih baik jika Ayana mengetahuinya hari ini dibanding esok, hufht...Daniel masih menghela nafas dan berusaha terlihat se biasa mungkin.
Ayana dipilih Calvin secara sengaja untuk menemaninya sebagai Notulen yang mewakili Departemen pemasaran, Ayana dan para rekan sejawatnya duduk di kursi yang menempel pada dinding dibelakang jejeran para dewan direksi termasuk Calvin.
Ayana tak berhenti menghirup nafas dan menghembuskannya cepat, karena hari ini kali pertama ia bertemu dengan salah satu keluarga Daren yakni Daniel Bosley ,seluruh peserta tengah membicarakannya jika Daniel akan memimpin rapat hari ini. Jika bertemu kakaknya saja Ayana segugup ini bagaimana saat bertemu ibunya? Ayana tak bisa berhenti bergumam sendiri didalam hati, bagaimana jika ia tidak bisa menerimaku ? ah..... Ayana seakan mengacak acak rambutnya didalam benaknya.
Begitu pintu terbuka semua peserta rapat berdiri dan menyambut Daniel, tak terkecuali Ayana yang tak berani mengangkat wajahnya, Daniel hanya bisa menelan saliva saat menatap gadis yang tengah menunduk itu, hatinya bagai diiris sembilu menyaksikan Ayana yang akan segera resmi menjadi adik iparnya itu, Sementara Calvin hanya bisa mencuri pandang kearah keduanya secara bergantian sambil sesekali tersenyum penuh makna.
__ADS_1
"Baiklah rapat akan segera kita mulai" ucap Daniel yang seketika membuat Ayana mengangkat wajahnya mencari sosok pemilik suara yang terdengar akrab ditelinganya.
"Da..ni..el.." ucap Ayana gugup dengan tangan yang bergetar hingga menjatuhkan pena dan kertas dipangkuannya, seketika hening dipecahkan dan beberapa orang berbalik menatap Ayana sinis karena yang mereka tahu Daniel sangat tidak suka jika ada hal yang menggagu jalannya rapat.