HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 104


__ADS_3

beberapa orang sudah berkumpul di ruang keluarga, Nyonya Bosley, Lohan dan Georgina, Daniel dan Ayana datang kemudian disusul Darren yang datang terakhir dan langsung duduk disamping istrinya.


"Kenalkan ini Betrice pamela" Nyonya Bosley antusias memperkenalkan pelukis yang sudah berhasil ia ajak kerja sama, banyak Galery yang ditolak oleh Betrice namun begitu mendengar Galery Elizabeth Bosley ia tak berfikir panjang dan langsung menerima kontrak kerja samanya.


Betrice bahkan rela menetap sementara waktu di Amerika dan meninggalkan negaranya Belgia.


Darren berdiri terlebih dahulu menjabat tangan Betrice disusul Daniel kemudian Ayana.


Ayana mengamati Betrice yang kemungkinan sudah memiliki usia yang cukup dewasa, jari jarinya lentik khas seorang pekukis, wajahnya juga nampak sangat cantik.


"Daniel Bosley kau tidak mengingatku?" Betrice menatap penuh damba Daniel yang kini memicingkan matanya. Pria dewasa dihadapannya adalah alasan terkuatnya menerima kerja sama dengan galery nyonya Bosley, ia sudah mendengar kabar jika pria itu sudah bercerai dari Lauren, namun ia tidak tahu jika Daniel sudah menikah kembali.


Darren, georgi, dan Nyonya Bosley menatap Heran, mereka tidak menyangka jika pekukis wanita itu mengenal Daniel dengan Baik.


Daniel adalah type yang tidak bergaul dengan sembarang orang, tak banyak yang mengenalnya secara pribadi.


"Maaf?" Daniel masih bingung.


"Bukankah anda pernah kuliah di Belgia?" Betrice sangat antusias.


Daniel memang pernah kuliah di Belgia namun hanya 1 semester karena Nyonya Bosley memintanya untuk kembali, ia tak tahan harus berpisah jauh dengan sang putra.


Daniel masih berusaha mengingat, namun nihil ia sama sekali tidak bisa mengingat sosok Betrice. Daniel tidak sadar Ayana yang tengah duduk disampingnya mulai jengah melihat sorot mata Betrice kepada Suaminya.


"Dulu kita sering menghabiskan waktu bersama di ruang kesenian" Betrice mengingatkan, ia nampak kecewa karena Daniel benar benar tidak mengingatnya. Padahal dulu ia bahkan sering membagi bekal makan siangnya dengan Daniel.


Deg. Ayana tiba tiba tiba mengepalkan kepalang tangannya.


Dulu Daniel memang sering menyendiri saat di Belgia, ia menghabiskan waktu istirahat untuk tidur diruang kesenian, namun Betrice yang cerewet sangat suka mengusiknya hingga mereka menjadi cukup akrab, namun belum bisa dikategorikan sebagai sahabat. Kala itu Daniel hanya berusaha bersikap Baik mengingat ia tidak sedang berada dinegaranya.


"Apa kau gadis berkacamata dan berkepang dua?" Tebak Daniel dengan wajah datar, ia tidak terlihat antusias layaknya Betrice.

__ADS_1


"iya..iya benar, ah ternyata kau mengingatnya" Betrice bertepuk tangan gembira, sementara Nyonya Bosley tersenyum miring ia tak menyangka sikap seorang pelukis terkenal ini begitu kekanakan,padahal tadinya ia nampak sangat anggun.


Sementara Daniel menunjukkan raut wajah biasa biasa saja, ia malah masih berusaha menyusun kepingan memorynya, ia tak mengingat banyak hal mengenai Betrice karena dianggapmya bukan suatu hal yang penting.


Cukup lama mereka berbincang karena Nyonya Bosley mengambil alih topik pembicaraan, mereka lebih banyak membahas masalah lukisan dibanding yang lainnya, meski sesekali Betrice terlihat mencuri pandang dengan Daniel yang juga berbincang bersama Darren di sofa yang lainnya.


Sementara Ayana dan Georgina membantu beberapa pelayan menyiapkan makan siang.


Sepanjang waktu makan siang Ayana nampak dongkol, karena Betrice senantiasa memancing Daniel untuk mengingat masa lalu mereka, meski Daniel kebanyakan mengacuhkannya karena ia memang bukan tipe pria yang banyak bicara kecuali pada Ayana dan orang orang terdekatnya, namun wanita itu semakin tidak tahu malu saja, ingin sekali Ayana langsung meluma* bibir suaminya dihadapan semua orang agar Betrice tau dia adalah istri Daniel Bosley. Ayana menyesal tidak memperkenalkan diri tadi.


Setelah makan siang, Nyonya Bosley dan Georgina mengajak Betrice berkeliling paviliun sedangkan Ayana kembali kekamarnya bersama Ryuu karena ia memang tidak boleh terlalu beraktifitas. Darren juga kembali ke ruang kerjanya masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sementara Daniel memilih ke kandang Kuda merawat felicity kuda kesayangannya.


Setelah puas bermain dengan Ryuu Ayana membawa anaknya itu kembali ke paviliun utama, karena Ryuu harus minum susu yang dibuatkan oleh baby sitternya.


Ayana membuka pintu kamar Ryuu dan tidak menemukan siapapun disana ia lantas membaringkan Ryuu diatas tempat tidur karena anak itu juga sudah menguap nguap, mungkin diusap sebentar saja ia akan tertidur.


Sudah beberapa hari ini Box dikamar Ryuu diganti dengan ranjang.


Setelah memastikan Ryuu tertidur Ayana segera bangkit dengan gerakan mengendap endap agar tudur Ryuu tak terganggu.


Ayana baru saja berdiri sempurna saat kenop pintu berputar dan memperlihatkan sosok Darren yang muncul dari balik pintu.


Beberapa detik manik mata mereka saling mengunci sibuk dengan isi kepala masing masing, Darren yang menatap Ayana dengan kerinduan sementara Ayana yang tengah berfikir haruskah ia meluruskan semuanya agara Georgina tidak lagi terluka.


"Aku akan keluar" ujar Darren kikuk


"Tunggu"


Darren membalik tubuhnya, ia tak menyangka mendapat pencegahan dari Ayana, ada binar harapan yang terpancar dari sorot mata Darren.


"Terima kasih sudah menjadi Ayah yang baik "ucap Ayana menunduk, sebenarnya ia sangat ingin mengatakan 'aku memaafkanmu' tapi kata kata itu begitu sulit untuk diucapkannya.

__ADS_1


"Ayana..Jangan lakukan itu" Darren menggeleng pelan, dengan mengucapkan itu saja sudah membuktikan jika wanita itu berusaha menghapus dendam yang ada diantara mereka. Darren tak ingin pergi dari hati Ayana, ia ingin Ayana tetap menyimpan namanya meski sebagai orang yang paling ia benci sekalipun.


"Aku harus melakukannya demi Georgina istrimu, sampai kapan kau ingin menyimpan perasaan bersalahmu padaku dan mengabaikan Georgina?"


"Tidak Ayana, biarkan seperti ini tolong jangan berusaha membuatku bahagia! Aku menikmati penderitaanku"


"Aku tidak keberatan jika hanya kau yang menderita, bagiamana dengan Georgina dan Ryuu" timpal Ayana sendu.


Sementara Georgina diluar terlihat menahan kenop pintu yang sudah terbuka sedikit, ia berhenti lantaran mendengar mendengar suara Ayana dan Darren. matanya berkaca kaca ada rasa haru dan cemburu yang menyeruak didalam dadanya, ia terharu melihat Ayana yang menurunkan egonya demi dirinya, namun setiap melihat Ayana dan Darren hatinya seperti diiris sembilu.


"Ayana...."


"Aku tidak ingin Ryuuku dibesarkan oleh ayah yang tidak bisa memberinya keluarga yang bahagia"


"Tapi Ayana"


"Mengapa kau terus protes Darren? AKU MEMAAFKANMU ! " Tangis Ayana seketika pecah, rasanya begitu berat namun ia sadar harus melakukannya demi takdir yang memang sudah digariskan tuhan untuknya, mungkin ia memang harus kehilangan orang tua dulu demi bisa menemukan kebahagian bersama Daniel.


Georgina ikut menangis, ia kemudian menutup pintu rapat rapat dan berlalu, membiarkan dua orang yang saling menyimpan luka itu menyelesaikan masalahnya.


"Ayana...."Air mata Darren pun ikut luruh, ia beranjak dan mendekati tubuh Ayana, memeluknya erat seraya mengusap kepalanya dengan lembut.


"Maafkan aku Ayana yang sudah memberimu luka, meski aku harus kehilangan nyawa tak akan bisa sebanding dengan penderitaanmu karenaku..maafkan aku"


"Lupakan semuanya Darren, aku ingin kau juga menjalani hidupmu dengan baik demi Ryuu" ucap Ayana disela isakannya, ia sama sekali tak berontak berada dalam dekapan Darren, mungkin pelukan terakhir ini bisa menjadi tanda jika dendam itu perlahan mulai terkikis.


Perih...itu yang dirasakan Darren, bagaimana mungkin ia melupakan perasaannya kepada Ayana, namun bukankah tingkat tertinggi dari mencintai adalah rela?


"Terima kasih Ayana, terus ajarkan aku, bimbing aku perlahan agar bisa keluar dari perasaanku" Darren mengecup pucuk kepala Ayana, ia berjanji itu akan menjadi ciuman terakhirnya.


"Jangan meminta hal itu padaku Darren, kau dan Georgina harus saling belajar hemmm"

__ADS_1


__ADS_2