
Daren mengintip dari balik tirai jendela kamarnya saat mendengar suara mobil ferari Daniel yang sangat jarang dipakainya itu.
Mobil itu nampak melaju dengan cepat meninggalkan garasi dimana terdapat puluhan mobil dengan harga selangit berjejer. Daren bisa menebak jika Daniel adalah sosok dibalik kemudi, siapa lagi yang memiliki akses menyentuh kendaraannya selain dirinya dan Adam Lee, sementara ia tak melihat keberadaan asistennya itu sejak tadi.
apa dia bermasalah lagi dengan lauren? pikirnya! Daren meraih ponselnya diatas nakas lalu memanggil Calvin, orang pertama yang akan dicari Daniel saat pria itu mengalami masalah.
"Calvin apa Daniel baik baik saja? ia tak menghubungimu?"
Huhhhh....Calvin terdengar menghela nafas "Heemm sedikit kami akan keluar minum, kau tak usah risau aku akan mengantarnya jika ia mabuk " ujar Calvin, pantas jika Daren berfikir Calvin adalah orang yang paling biss diandalkan Daniel, buktinya ia tahu kapan harus berbohong dan berkata jujur.
Panggilan berakhir, Daren merasa aman jika Daniel bersama Calvin karena hanya ia yang bisa menjaga dan mengerti saudaranya itu.
Di kondominium Calvin Smith.....
Calvin menatap berkas dihadapannya dengan tatapan malas, padahal tadi ia sedang menikmati waktu lemburnya dengan semangat yang luar biasa, saat tiba tiba Daniel menelponnya.
"Calvin bukankah kau punya akses untuk melihat data karyawanmu? kirimkan aku alamat Ayana sekarang!! masih ada yang harus ku jelaskan!!
Yah dia memang punya akses untuk hal itu ? tapi kenapa Daniel memintanya ditengah malam begini? setelah berkelud dengan fikirannya Calvin menemukan jika Daniel tak mungkin berbohong, bukankah besok adalah hari pertunangan adiknya? ia tidak akan melakukan hal bodoh! pikirnya. Akhirnya Calvin mengirimkan Alamat Ayana.
Dan setelah panggilan Daren, Calvin baru sadar jika Daniel punya rencana gila, kini semua terlambat nomor pria 35 tahun itupun sudah tak bisa lagi dihubungi.
...****...
__ADS_1
Ayana membuka matanya perlahan, sayup sayup ia mendengar suara gedoran pintu yang semakin lama semakin keras, mimpi? namun dengan mata setengah terbuka ia masih bisa mengenali semua tata letak apartemennya, termasuk jam didinding yang menunjukkan pukul satu dinihari, itu tidak mungkin Daren! Ayana ingat sudah mengusir pria itu dengan sebuah kecupan, dengan dalih ingin beristirahat setelah hari yang menegangkan bersama nyonya Bosley.
Ayana lalu mengerjapkan matanya dan menyalakan lampu dengan sebuah remote diatas nakas sehingga cahaya temaram lampu tidurnya terselimuti. Kini ia bisa melihat dengan jelas dan memastikan itu bukan mimpi seseorang memang tengah menggedor pintunya dengan kasar. Dengan langkah perlahan dan perasaan takut gadis itu melangkah dan mengintip dari balik door viewer.
"Daniel " Guman Ayana lirih, meski sedang menundukkan pandangan dengan satu tangan seakan menahan pintu, ia bisa memastikan jika itu Daniel, Ayana berdiri dan bersandar dibalik pintu.
Apa yang ingin dilakukan pria yang akan menjadi kakak iparnya itu mendatanginya tengah malam begini?
bruk...bruk....Daniel masih menggedor pintu, dan Ayana memutuskan untuk membukanya, toh dia adalah Daniel, kakak Daren apa yang harus ia takutkan?
krekk...
Daniel langsung menjatuhkan tubuhnya didalam pelukan Ayana begitu pintu terbuka seraya tersenyum smirk...ia menyebut dirinya bodoh! tapi tak mengapa asal bisa menghabiskan malam bersama Ayana apapun akan ia lakukan bahkan jika harus berpura pura mabuk sekalipun.
Dengan posisi sepertibitu Daniel berfikir ini akan menyakiti Ayana , dia pun mendorong tubuh Ayana hingga terhempas diatas tempat tidur dengan ia diatasnya.
setelah bersusah payah Ayana bangkit dari tindihan tubuh Daniel, ia berdiri sambil berkacak pinggang dan menatap Daniel dengan posisi tengkurap diatas tempat tidurnya, padahal malam ini ia sangat ingin beristirahat dengan tenang!
Ayana berjalan mondar mandir seraya menggigit kukunya, ia tak mungkin memanggil Daren untuk menjemput saudaranya, apa yang akan dipikirkan pria itu melihat Daniel di dalam apartemennya!
haruskah ia membiarkannya disini sampai ia pulih dari mabuknya? Ayana menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal dengan kuat.
"Kenapa kau kesini....tuan Daniel..." keluh Ayana sambil melepaskan sepatu kulit Daniel, ia juga berusaha membalik tubuh pria itu hingga terlentang.
__ADS_1
Ayana membaui bagian atas tubuh Daniel," bau alkohol!" pekiknya "Apa kau mandi dengan bir?" tanya pada pria yang ia fikir tengah hilang kesadaran itu.
Sekarang bagaimana? Ayana tak mungkin tidur dilantai yang dingin tanpa selimut, apartemennya juga cukup sempit sehingga tidak ada sofa disana.
Hah....Ayana mendesah kesal menatap pria dengan separu dada terbuka itu, sepertinya Daniel sengaja membuka kancing bagian atasnya sebelum masuk. Bulu dada Daniel yang menyembul cukup membuat Ayana menelan saliva, bodoh! Ayana menoyor kepalanya sendiri bisa bisanya ia terpesona dalam keadaan seperti ini.
"Daniel...Daniel...." Ayana menepuk pelan pipi Daniel yang dipenuhi jambang tipis, seketika darahnya mendesir saat kulit telapaknya terasa geli. sebuah tepukan pelan perlahan berubah menjadi usapan lembut, "Daniel...Daniel...."panggil Ayana berulang kali, namun pria itu tetap bergeming, seraya tertawa terbahak didalam benaknya , karena ia bisa melihat ekspresi wajah Ayana melalui cela mata yang masih sedikit terbuka.
Hah....Ayana mendesah pasrah, ia akan tidur dilantai yang dingin ini! saat hendak beranjak dari tempat tidur tiba tiba saja tangan Daniel menarik pergelangan tangannya kuat, Ayana tercengang ia menoleh dan masih mendapati pria itu dalam keadaan menutup mata, Ayana berusaha membuka ikatan jemari Daniel tapi tenaganya tidak cukup kuat, Aneh! bukankah seharusnya orang mabuk tak bisa berkuat?
Ayan berusaha sekali lagi untuk berdiri, namun tarikan tangan Daniel membuat tubuhnya terhempas kembali keatas tempat tidur, ia kini berbaring tepat di samping Daniel dengan tangan yang masih saling bertautan.
"Daniel....huh" Ayana mendengkus kesal, namun suasana hatinya seketika berubah saat Daniel membalik badan kearahnya, wajahnya tepat berada di dekat dada Daniel yang menggoda.
Dada Daniel terlihat bergerak naik turun membuat Ayana sontak menggigit bibirnya, ia menegadah dan mengamati wajah pria itu dari bawah, Istri Bodoh mana yang tidak mau melayani pria macho seperti ini? ia fikir Lauren yang ia kenal melalui artikel dan karya karyanya benar benar bodoh sudah menyia nyiakan suaminya yang tampan ini.
Ah.....Ayana menggelengkan kepalanya kuat, apa sebenarnya yang ia fikirkan, ia harus segera terlepas dari situasi menggelikan ini, tapi terlambat, Daniel memang melepas pegangannya namun menelusupkannya dibawah tubuh Ayana sementara tangan satunya merangkul tubuh mungil wanita itu diatas. Kini ia benar benar terbelenggu dalam dekapan Hangat Daniel dan ia menikmatinya. meski berulang kali fikirannya berontak namun tubuhnya seakan tidak sejalan. Badan mungilnya benar benar terbuai dalam pelukan Daniel.
Ayana menghirup nafas dan bisa merasakan Bau maskulin yang menghipnotis fikirannya agar berhenti berontak. Daniel semakin merapatkan tubuhnya hingga Ayana bisa merasakan sesuatu yang menguat dibawah sana, dan entah mengapa ia merasa miliknya seperti tengah dibelai mesra, hingga ia mendesah pelan..membuat Daniel semakin puas.
Malam ini saja Daniel...karena kau mabuk! gumam Ayana dibenaknya.
__ADS_1
Ia bisa mentolelir posisi ini hingga membawanya kealam mimpi yang tak kalah erotisnya.