HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 99


__ADS_3

"Dimana Darren, rapat sudah ditunda selama setengah jam," Calvin berbicara di pojok ruangan seraya mengamati wajah para peserta rapat yang dipenuhi tanya, ini sudah yang kedua kalinya ia menghubungi aspri Darren.


Pertama kali Aspri Darren meminta rapat ditunda dulu sampai urusan Chairman Bosley group itu selesai. Ia tak menyampaikan keadaan sebenarnya mengenai Ayana karena perintah Darren, sepertinya atasannya itu ingin memiliki waktu berdua dengan mantan istrinya.


"Sebentar lagi tuan Calvin, Urusan Tuan Darren akan segera selesai" Jelas Aspri Darren.


"Kau gila? Sampai kapan ditunda? Kau fikir semua orang disini tidak punya kerjaan apa, dimana Darren biar aku bicara padanya" Tukas Calvin.


Asisten Darren sempat gelagapan sebelum akhirnya Atasan datang.


"Katakan yang sebenarnya, dan suruh ia menggantikanku," Titah Darren, ia sepertinya sudah tahu siapa yang menelpon, inilah mengapa Darren mempercayakan Calvin menjabat sebagai CEO perusahaan utama Bosley Group, karena pria itu memang bisa diandalkan.


"Baik Tuan" Angguk Aspri Darren, lalu kembali meletakkan ponsel ditelinganya.


"Maaf tuan Darren, Nona Ayana masuk rumah sakit, Tuan Darren mungkin tidak bisa memimpin rapat, saya akan segera materi rapat"


"What?" Calvin menaikkan intonasi suaranya, lalu kembali menormalkan ekspresinya, ia tak ingin orang orang melihat raut wajahnya, terlebih lagi Daniel, atau pria itu akan bertanya.


Dan ketika dia tahu Ayana sedang tidak baik baik saja, otomatis ia akan meninggalkan ruangan ini, padahal Calvin sangat senang melihat Daniel sudah mau kembali ke perusahaan meskipun hanya menghadiri rapat pemegang saham.


Para petinggi perusahaan juga bahagia dengan kembalinya Daniel.


"Hei,, ada apa dengan Ayana?" Bisik Calvin, Asisten Darren bahkan harus menajamkan rungunya.


"Nyonya Lauren Pettyfer membuatnya harus masuk ke rumah sakit"


"Apa keadaannya parah?"


"Nona Ayana sudah baik baik saja. Sekarang ia beristirahat"


"Ah baiklah"


Calvin mengakhiri panggilannya, ia memutuskan untuk tidak memberitahukan Daniel mengenai istrinya hingga rapat selesai. Setelah kemunduran Daniel, banyak desas desus yang mengatakan jika pria itu sakit mental, dan sekarang adalah saatnya untuk membuktikan jika Daniel baik baik saja.


Bayangkan jika Daniel tahu Ayana dirawat karena ulah mantan istrinya, mungkin pria itu akan menggila dengan berlari tak karuan, dan itu akan memunculkan rumor penyakit mental itu lagi.


Calvin sudah siap jika Daniel nanti marah kepadanya karena tidak mengatakan yang sebenarnnya.

__ADS_1


.


.


.


"Kenapa kau masih disini?" Ayana membuang muka ketika Darren kembali masuk kedalam kamarnya, kali ini ia sudah dalam posisi duduk.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sebelum Daniel datang"


Ayana hanya menghela nafas mendengar pernyataan Darren, tubuhnya terlalu lemah untuk berdebat.


Ruangan tersebut sangat luas jadi tidak masalah jika Darren duduk di di sofa yang terletak cukup jauh di pojok ruangan. Ayana juga memutuskan untuk kembali tidur, ia menekan sebuah tombol diatas kepala untuk menormalkan kembali posisi ranjangnya.


"Arghhh" namun tiba tiba ia mengrang kesakitan, ini untuk yang pertama kalinya padahal usia kandungannya sudah dua bulan, sebelumnya janin itu tak pernah memberikan efek kram perut mungkin karena sudah ketahuan.


Saat masa kehamilan Ryuu, Ayana juga sering mengalami kram perut.


Ayana memegang perutnya dan terus meringis kesakitan, "Arghhhh.....sakit" Lirihnya.


Darren yang panik segera berlari menghampiri Ayana, "Apakah Kram?" Darren sudah bisa menebak, tanpa sadar ia merengkuh tubuh Ayana dan mengusap usap punggungnya. Saat hamil Ryuu ia juga terbiasa melakukan hal ini.


"Sakit Darren....." keluh Ayana.


"Iya sayang, sebentar lagi pasti akan berhenti" bujuk Darren, ia merasa Ayana masih istrinya yang dulu, dan karena rasa sakit Ayana sudah tidak peduli dengan racauan Darren, hingga Georgina yang sedari tadi melihat interaksi mereka merasakan sesak yang teramat penuh didadanya.


"Maaf" Ayana segera mendorong tubuh Darren menjauh, setelah merasa enakan pada bagian perutnya"Seharusnya kau biarkan saja, bukankah nanti akan berhenti sendiri"ujar Ayana Ketus, Darren hanya tersenyum Tipis, dulu Ayana akan tidur dalam dekapannya setelah kram.


"Aku yang meminta maaf karena tidak bisa mengabaikanmu" ucap Darren lalu berdiri, dan ketika ia bangkit Ayana bisa melihat di belakang Darren, Georgina berdiri dengan mata yang menahan kabut, namun wanita itu tetap tersenyum dengan hangat kepada Ayana.


"Georgina" Ayana terlonjak, ia yakin Georgina melihat semua yang terjadi diruangan ini. Ayana menoleh pada Darren namun pria itu terlihat biasa saja menyambut istrinya, seakan tak pernah berbuat kesalahan.


"Dimana ibu? Siapa yang memberitahumu kami disini?" Tanya Darren datar.


"Pelayan yang memberi kabar, Ibu masih di galery ia sangat khawatir tapi ada pelukis dari Belgia yang harus ia sambut, sebentar lagi akan menyusul" Terang Georgina masih berusaha mengatur perasaannya, padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak cemburu namun ternyata begitu sulit. Kini ia bisa melihat betapa Darren begitu peduli dengan Ayana meski wanita itu sudah berstatus sebagai istri kakaknya.


"Jaga Ayana, aku akan keluar" Daren hanya mengelus lengan istrinya itu sebelum keluar.

__ADS_1


"Georgi....."Ayana sangat merasa bersalah, wanita itu harus menyaksikan ia dan Darren berpelukan, meski sebenarnya hanya Darren karena Ayana tak membalasnya.


"Jangan terlalu difikirkan" Georgina seakan tahu yang ada dikepala Ayana, kini ia mengelus wajah Ayana yang seputih porselen namun dipenuhi luka cakaran kecil.


"Lauren benar benar keterlaluan" selain prihatin, Georgina juga tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Ayana yang begitu cantik, pantas jika Darren belum bisa berpaling.


"Georgina, apa yang kau lihat tidak seperti yang kau fikirkan, Darren tadi hanya mencoba untuk membantuku" Jelas Ayana, ia tak ingin ada kesalah pahaman.


"Aku tahu, kau begitu mencintai Daniel tak mungkin berharap lebih dari Suamiku" masih dengan senyuman hangat dibibirnya.


"Tapi Ayana....." Georgina menggantung kalimatnya, lalu menunduk.


"Tapi Darren tak bisa berhenti memikirkanmu, dikepalanya hanya dipenuhi rasa bersalah dan cintanya kepada dirimu"


"Itu tidak mungkin Georgina, kau salah paham"


"Ayana apakah begitu sulit memaaafkan Darren?" Georgina meraih kedua tangan Ayana dan menggenggamnya erat.


"Georgina, yang dilakukan Darren begitu melukaiku" Terang Ayana.


'Meski aku juga menyakitinya' Ayana kemudian membatin.


"Aku tahu, jika aku juga diposisimu aku tak akan memaafkan Darren, tapi bisakah kau melakukannya demi diriku dan Ryuu?" pinta Georgina memelas.


Ayana mengernyitkan dahinya," Jangan memohon maaf untuknya Georgi,"Ayana menarik tangannya lalu membuang pandangannya.


"Aku harus melakukannya Ayana, demi memberikan keluarga yang sehat bagi Ryuu"


Ayana kembali menatap Georgina yang kini menunduk dalam, "Apa keluarga kalian....?" Ayana tak bisa melanjutkan perkataannya karena ia tak bisa menebak apa yang dimaksud Georgi.


"Sampai sekarang Darren tak pernah menyentuhku, setiap berada didekatku ia akan merasa bersalah kepadamu" luruh sudah air mata Georgina, ia sudah cukup bersabar menyimpan semua masalahnya sendiri, hampir dua tahun menikah namun ia hanya dijadikan pajangan sebagai ibu yang sempurna bagi Ryuu.


Deg....


Ayana menenan saliva sangat kasar, seperti ada biji pohon ek didalam lehernya.


"Georgina......"

__ADS_1


Tubuh Georgina bergetar hebat, ia merasa sudah tak punya harga diri dengan menceritakan Masalah ranjangnya kepada Ayana.


__ADS_2