HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 74


__ADS_3

Daren dan Daniel nampak gusar berlarian tak tentu arah disetiap sudut rumah sakit saat menyadari Ayana pergi meninggalkan ruang perawatan dan meninggalkan beberapa ceceran darah yang sudah mulai mengering, itu artinya Ayana sudah pergi dari beberapa jam yang lalu.


Riuh petugas keamanan dengan derap langkah tegas namun takut menggema hampir diseluruh rumah sakit mewah itu, Mereka telah lalai menjaga keselamatan salah satu anggota keluarga paling berpengaruh di Amerika Serikat.


"Mereka menemukannya" Teriak salah seorang panjaga dari ruang kendali cctv, sontak Daniel dan Daren berlari masuk dan memastikan keberadaan Ayana.


Daren terlihat meninju udara dengan kesal melihat layar yang menampakkan Ayana berjalan tertatih sambil berpegangan pada dinding.


sementara Daniel yang duduk disamping petugas hanya bisa menyugar rambutnya dengan kasar, matanya mulai berkabut tatkala melihat Ayana berjalan menuju gerbang rumah sakit.


"Sepertinya dia menyetop sebuah taxi, hubungi polisi" titah seorang petugas kepada rekannya yang sigap melaksanakan perintah.


Butuh waktu sekitar tiga jam bagi polisi hingga bisa mengantongi plat nomor taxi yang ditumpangi Ayana, setelah mengecek semua cctv yang ada di depan gerbang rumah sakit serta beberapa cctv dibangunan lainnya.


Saat matahari sudah mulai meninggi Daniel dan Daren baru bisa menemukan sedikit titik terang, namun tidak membuat mereka bisa bernafas lega sebelum benar benar berhasil menemukan Ayana.


.


.


.


"seratus ribu USD??" pekik supir taxi itu dan langsung menutup mulutnya dengan tangan ketika salah seorang wanita pegawai toko perhiasan mengucapkan harga cincin yang ia bawa.


Jumlah uang sebanyak itu bisa ia gunakan untuk membeli sebuah rumah bergaya minimalis dipinggiran kota Los Angeles.


"Tapi ini bukan curian kan pak?" wanita penjaga toko itu memindai seluruh tubuh supir taxi dengan tatapan menuduh.


"Tentu saja bukan, seseorang memberikannya kepadaku" jawab supir taxi itu jujur. Namun tak bisa menghentikan tatapan mencemooh dari sang penjaga toko.


Wanita itu bahkan hampir menekan tombol dibawah etalase guna memanggil petugas keamanan namun terhenti karena beberapa polisi berseragam lengkap sudah terlebih dahulu masuk dan menghampiri supir taxi tersebut.


"Anda bapak alberto supir taxi dengan plat nomor xxx?" tanya salah seorang polisi dengan kaca mata hitam bertengger dihidungnya.


"Benar pak" ujar Alberto membenarkan namun dengan wajah takut dan bingung.


"Anda harus menjelaskan sesuatu kepada kami dikantor" polisi tersebut segera menarik lengan Alberto dan hendak membawanya, namun wanita penjaga toko perhiasan yang berdiri dibalik etalase segera menghentikan mereka.


"Pak Polisi....barang buktinya" wanita itu memberikan sebuah cincin yang dibawa Alberto tadi kepada polisi tersebut, namun polisi itu memasukkanya kembali didalam kantong kemeja tebal Alberto dan berlalu.

__ADS_1


.


.


.


Diruang introgasi sudah nampak Daren dan Daniel yang mulai terlihat lusuh, mereka tak ingin terlewatkan satupun informasi mengenai Ayana sehingga datang sendiri ke kantor Polisi.


"Dimana Ďia??" Daren tiba tiba mencengkram kerah baju Alberto, padahal pria itu baru saja masuk dan belun terlalu jelas memgenai alasan mengapa ia ia dibawa kesini.


"Tenanglah Daren!" ucap Daniel tegas " kau hanya akan memperlambat polisi menemukan Ayana" Tukasnya, lanjut mengusap wajahnya gusar.


Daren lalu melepas cengkramannya dan membiarkan polisi melakukan tugasnya.


Tangan Daniel mengepal kuat, ia bertekad akan membawa Ayana pergi dan tinggal jauh dibelahan bumi yang lain jika nanti ia menemukannya, tak akan ia biarkan setitik pun kesedihan hinggap dihati wanita yang sangat dicintainya itu. Persetan dengan Daren dan keluarga Bosley! Atau rumor yang beredar mengenai dia dan istri adiknya, Toh sejak dulu ia memang sudah siap kehilangan dan menghadapi segalanya.


Polisi lalu memperlihatkan foto Ayana kepada Alberto.


"Kalian mencari wanita ini, dini hari tadi ia meminta diantarkan ke Current Beach!"


"Current Beach?" spontan yang ada diruangan itu berujar bersamaan, Daren segera keluar dan berniat ke tempat itu sesegera mungkin ia menghubungi seseorang dari perusahaannya dan meminta sebuah helly.


Setelah berdiskusi sebentar akhirnya Daniel, Alberto dan pihak kepolisian berangkat menggunakan helly polisi, dan tak lupa pula menggerakkan ratusan personil untuk menyisir area Beach Current, sebuah pantai yang terkenal dengan keganasan ombaknya dan sebuah Rip Current yang menghanyutkan.


.


.


.


Berjam jam polisi menyisir area Rip Current penyelam handal dari Navy Seal pun turut dilibatkan, namun mereka tak menemukan titik terang keberadaan Ayana,ditambah lagi tidak ada cctv didaerah tersebut. Namun Polisi tak habis akal berbekal keterangan Alberto mereka berhasil menemukan sebuah sedan yang diyakini terparkir pada malam itu.


Sepasang sejoli pemilik sedan tersebut dibawah masuk kedalam tenda darurat yang didirikan disekitar pantai ,meski nampak bingung namun mereka mencoba kooperatif.


Tak lama berselang seorang petugas membawa masuk hasil rekaman kamera depan mobil sedan tersebut.


.


.

__ADS_1


.


"Bagaimana bro?" Calvin menepuk pundak Daniel yang tengah duduk pada sebuah batu besar sambil menatap jauh kearah tengah pantai.Pria itu baru datang dengan mengendarai mobil pribadinya.


Daniel bergeming dan tak menjawab sampai Calvin ikut duduk disampingnya.Sementara disekitarnya para polisi masih terlihat menyisir daerah tersebut.


Hah.....Daniel mendesah kuat namun tak bisa melegakan perasaan, bayangan Ayana masih terus menari difikirannya.


"Aku yakin Ayana baik baik saja kawan" ujar Calvin dengan penuh keyakinan, "Kau akan bertemu dengannya lagi entah itu cepat atau lambat" lanjutnya lagi.


"Aku pria bodoh yang bahkan tidak bisa melindungi wanitaku"


"Cih...kemana Daniel yang dulu, kau terlihat sangat memprihatinkan hanya karena seorang wanita" Calvin berdecih, seharusnya ia menghibur Dàniel tapi justru semakin menjatuhkan mentalnya.


"Aku bahkan rela terlihat bodoh jika itu demi Ayana"


kau memang pria bodoh !


Calvin tersenyum miring,entah mengapa hari ini ia terlihat seperti seorang sahabat yang jahat. Tapi mau bagaimana lagi, Calvin punya alasannya sendiri.


Gemuruh beberapa helly kembali terdengar, kali ini mereka membawa beberapa penyelam handal dari Navy seal beserta alat selam, tak butuh waktu lama mereka segera menyusuri bagian dalam laut terutama disekitar rip current yang memang bisa menyeret seseorang ketengah laut dalam.


Seketika Daniel merasa semakin melemah,


Jangan katakan jika Ayana?? Daniel menggeleng pelan mengusir fikiran buruk mengenai kemungkinn Ayana yang mengakhiri hidupnya dilaut. Ia bangkit dan mencoba melangkah kedalam tenda darurat dengan sisa kekuatanya. Tanpa peduli lagi dengan teriakan Calvin yang terus memanggil namanya.


Didalam tenda ia menemukan Daren yang tengah duduk dan menunduk merapatkan wajahnya kemeja kayu dan memukul meja itu kuat sambil terus merutuki dirinya yang bodoh, Daren menangis sejadi jadinya sebuah tangisan yang tak pernah didengar Daniel bahkan ketika adiknya itu masih kecil.


Melihat kondisi Daren, Hati Daniel semakin melemah ia berjalan kehadapan layar komputer yang coba ditunjukkan salah satu anggota polisi, Daniel melewati dua sejoli itu lalu memutar laptop kearahnya. Seketika tungkainya melemah tak bisa menopang beban tubuhnya, ia hampir ambruk namun Calvin berusaha menggapainya.


Video didepannya berasal dari sedan dua sejoli itu, malam itu mereka tidak sadar jika Ayana ada disana dan tertangkap kamera tepat di lokasi Rip Current, wanita itu berjalan hingga ketengah laut namun saat air terlihat batas dada mobil tersebut bergerak mundur meninggalkan lokasi. Cahaya dari lampu jalan cukup jelas memperlihatkan tubuh Ayana yang dibalut Long Coat milik Daniel.


"Tidak mungkin....." Daniel segera menghampiri Daren dang mencengkran kerah baju adiknya itu.


"JIKA AKHIRNYA SEPERTI INI KENAPA KAU TIDAK MELEPASKANNYA SAJA HAH!!!" Daniel menghujam sebuah bogem kearah wajah Daren, namun pria itu pasrah tanpa perlawanan ia bahkan tidak meringis ketika darah segar mengalir dipelipisnya.


"Daniel kau!!!" Pekik Calvin, ia dan beberapa polisi bertugas melerai Daniel. Hingga pria itu terduduk dan memijit kepalanya kuat.


Calvin yang melihatnya hanya bisa mendesah pasrah.

__ADS_1


Aku akan memberimu pelajaran Adam Lee !!! ujar Calvin didalam hati.


__ADS_2