
Ayana tak bisa berhenti menatap takjub sesaat setelah kakinya mendarat disebuah pulau yang sangat luas, lima puluh persen tanah dipulau ini didominasi indahnya hamparan hutan pohon kelapa yang berjejer rapi, sementara sisanya adalah tanah lapang yang diselimuti indahnya pasir putih yang bersih, Sebuah villa mewah dari kayu pilihan berdiri kokoh, Ayana tidak bisa membayangkan Daniel akan mengajaknya tinggal di pulau yang indah ini.
"Tak ada Villa lain?" Ayana menunjuk kearah Villa yang sebentar lagi akan mereka tempati, Daniel hanya mengangguk menjawab pertanyaan wanita mungil nan cantik yang kini sudah resmi menjadi istrinya itu.
Ayana berhenti sejenak dan melihat ada bangunan lain dibelakang sana, sebuah kandang kuda yang berisi sepasang kuda jantan dan betina.
Disebelahnya juga terdapat sebuah villa kecil namun masih nampak mewah, "Itu apa?" tanya Ayana lagi.
"Villa itu khusus pelayan, tapi baru dua minggu mereka akan tiba, untuk saat ini hanya kita berdua yang ada dipulau ini" Ujar Daniel.
Ayana mengernyitkan dahinya, untuk ke pulau ini Daniel mengemudikan Spedboatnya sendiri tadi, "Kau menyewa semua pulau ini?" mata Ayana membola sempurna, lalu memukul pelan dada Daniel hingga pria kekar itu pura pura mengaduh.
"Tapi kau sudah bukan lagi seorang chairman! Seharusnya kita bulan madu di villa yang dulu saja" Daniel memang sudah menceritakan mengenai ia yang sudah tidak terikat sama sekali dengan perusahaan.
"Kenapa? Kau baru sadar jika pria yang kau nikahi sekarang seorang pengangguran?hehh" Daniel terkekeh.
"Bukan begitu, hanya saja menyewa seluruh pulau sangat berlebihan, aku hanya tidak ingin kau bertindak berlebihan untukku, uangnya nanti kan bisa kita gunakan untuk membeli sebuah rumah dimana kita akan hidup bersama selama lamanya"
"Kenapa kau begitu khawatir heem" Daniel mengusap pucuk kepala Ayana, "Selama bersamaku jangan sekali kali memikirkan hal semacam itu, istriku tidak boleh menggunakan kepalanya untuk memikirkan ekonomi keluarga, kau lupa sudah menikah dengan siapa? Daniel Bosley" Daniel menepuk dadanya dengan percaya diri. " Kenapa fikiranmu begitu dangkal, kekayaanku bahkan tidak akan habis meski setiap hari harus memandikanmu dengan serbuk emas sekalipun" .
"Lagi pula, ini pulau pribadi milikku yang ku persembahkan khusus untuk istriku yang tercinta"
"Benarkah?" Ayana berbinar, setelah semua yang ia lalui ternyata tuhan sudah menyiapkan kehidupan dengan seorang suami yang begitu mencintainya.
"Tapi, aku tak ingin mandi dengan serbuk emas" bibir Ayana mengerucut, lalu tiba tiba menundukkan pandangan menatap pasir putih yang ia mainkan dengan kakinya.
"Lantas sayangku ini mau mandi dengan apa berlian?" Daniel mendekap tubuh Ayana, dan wanita itupun menggeleng dibawah ceruk leher Daniel, ia menengadah lalu menatap gemas pada wajah suaminya yang nampak sangat tampan jika dilihat dari bawah.
__ADS_1
"Aku....aku aku ingin mandi bersamamu" Ayana menggigit bibir bawahnya.
"Istriku rupanya sudah lihai menggoda suaminya, jangan menyesal kau yang memintanya" Daniel menggendong tubuh Ayana ala ala bridal style sambil terus melakukan pagutan mesra, Pria itu memang sudah tidak bisa menahannya, ia bahkan tidak bisa melakukan penyatuan setelah menikah karena kamar di rumah Adam Lee yang bersekat kayu, meski itu kayu pilihan namun Daniel tidak bisa menjamin lenguhan dan desah*n mereka tidak akan terdengar, itu akan sangat memalukan jika harus didengar orang lain.
Setelah bermain dengan satu kali pelepasan, keduanya istirahat sebentar lalu kembali menikmati pemandangan Bloom Island yang sangat indah.
Ayana tengah berdiri dibalkon kamar ketika Daniel datang dan memindai seluruh tubuhnya dengan jari yang ia bentuk persegi
"Istriku memang sangat cantik" Gumamnya lalu melingkarkan tangan besarnya di pinggang Ayana dengan dagu yang bersandar pada bahu wanita cantik itu.
Mereka berdua menyapu semua pemandangan yang tersaji dihadapannya, hamparan laut biru yang nampak mengkilat karena terpaan sinar matahari sungguh membuat mereka terlena dan sekali lagi ingin melanjutkan kegiatan pengantin baru mereka.
"Masih mau? Tanya Ayana yang kini menggeliat geli karena Daniel menggesekken bulu bulu halus diwajahnya pada ceruk leher Ayana yang putih bersih.
"Apa Ini?" Ayana mengamati botol tersebut.
"Pil agar kau tidak hamil"
"Apa?" Ayana terperanjat, bagaimana mungkin Daniel memberinya pil semacam ini, apa pria ini tak ingin dirinya kembali mengandung benihnya ? Beberapa fikiran buruk mulai berkecamuk di benak Ayana, ia baru ingat pantas saja Daniel tadi mengeluarkannya diluar.
"Kau tidak ingin aku mengandung anakmu lagi?" Ayana menatap Daniel dengan sorot mata butuh penjelasan.
"Bukan sayang, Aku hanya tidak ingin kau hamil secepat itu, kau ingat kita hanya melakukannya sekali saat dirumah sakit dengan kondisi fisikmu yang lemah tapi kau langsung hamil, aku akui istriku ini memang sesubur itu" Daniel mencubit hidung Ayana, namun istrinya itu masih menatapnya tajam, karena merasa belum mendapat penjelasan yang tepat.
__ADS_1
"Hufht.....Ayana istriku,"Dengan tangan besarnya Daniel menangkup wajah Ayana, " Begitu sulit hingga akhirnya bisa sampai ketitik ini, jadi biarkan seperti ini dulu, aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama berdua saja denganmu, hanya berdua tanpa kehadiran seorang anak, lagi pula kita sudah memiliki Ryuu" Jelas Daniel.
Sorot mata Ayana mulai melemah, wanita itu tidak membutuhkan penjelasan lagi, ia bisa menangkap dengan jelas maksud Daniel.
"Jadi kapan kau akan siap memiliki anak lagi?" Tanya Ayana.
"Entahlah, mungkin 10 tahun lagi" Jawab Daniel asal, dibenaknya tanpa kehadiran seoarang anakpun ia akan sangat bahagia jika harus menghabiskan waktu berdua saja dengan Ayana.
Berbeda saat masih bersama Lauren, ia sangat ingin memiliki anak untuk menghidupkan cinta dikeluarganya yang memang tak pernah ada.
"Sepuluh tahun?"Ayana mengangkat kesepuluh jarinya didepan wajah Daniel.
Dan pria itu mengangguk antusias.
"Sepuluh tahun lagi usiamu sudah empat puluh enam tahun, saat kita punya anak orang orang akan mengira dia cucumu"
"Hei....mana mungkin, 10 tahun lagi aku akan tetap tampan seperti sekarang ini"
"Baiklah, aku akan menuruti keinginan suamiku yang tampan ini, karena bagiku sekarang atau sepuluh tahun lagi tidak jadi masalah, toh 10 tahun lagi usiaku masih 34 tahun aku tidak terlalu tua untuk kembali memiliki anak"
"Tapi jangan salahkan aku kalau saat jalan bertiga orang orang akan mengira kau sedang jalan bersama anak dan cucumu" Ayana segera melompat dari pangkuan Daniel dan berlari masuk kedalam kamar.
"Sayang! Kau sedang mengejekku tua? " Daniel bangkit dan segera memerangkap tubuh Ayana ketika menemukannya didalam kamar, ia tak membiarkan istrinya itu memberikan perlawanan.
Daniel terus menghujami tengkuk Ayana dengan gigitan gigitan kecil yang membuat Ayana terkekeh geli.
"Ah hentikan itu menyiksaku" tegur Ayana.
__ADS_1
"Akan aku tunjukkan sebuah penyiksaan yang nikmat Baby" Bisik Daniel yang kembali membuat tubuh Ayana meremang.
Ia mengangkat tubuh kecil istrinya keatas tempat tidur dan membuatnya polos layaknya bayi baru lahir. Lalu dengan hasrat yang sudah membuncah keduanya mengulang lagi aktivitas panas yang memang sudah seharusnya terjadi berulang ulang dimasa bulan madu.