
"Kamu belum tidur sayang" Daren menggigit daun telinga Ayana,hingga membuat gadis itu mendesis lirih, ayana yang tengah menghapus make up tipisnya didepan meja hias berbalik badan dan langsung mendekap tubuh Daren, ada rasa bersalah yang terbesit didalam hati Daren karena harus menjadikan Ayana sebagai tumbal dendamnya, padahal ia tahu jika gadis itu sama sekali tidak tahu apa apa, bahkan ia selalu menolak membahasnya setiap Daren bertanya mengenai bekas sayatan operasi di tubuhnya yang sudah mulai memudar. Namun ketika wajah Barbara yang memucat terlintas Daren tak bisa menutup mata dari dendam kesumatnya.
"Bagaimana hari pertamamu sebagai Nyonya Daren??"
"Aku berkeliling rumah seharian ini hingga kakiku pegal, ada kandang kuda, lapangan golf, lapangan tenis, dan pusat kebugaran, bahkan ada mini market pribadi di lantai bawah " jelas Ayana masih sambil memeluk suaminya. Pria itu lalu menaruh tas jinjingnya dan menggendong tubuh mungil isterinya lalu membaringkannya diatas kasur, dan berbaring disebelahnya.
"Ada hutan Maple di sebelah utara tapi Lohan tidak mengijinkanku kesana, katanya hanya Daniel yang boleh kesana" kesal Ayana, padahal hutan Maple yang berubah warna itu sangat indah.
"Ohh...hutan itu, itu mutlak milik Daniel, tak boleh ada yang masuk tanpa seijinnya, bahkan Lauren tak pernah masuk kesana, lagi pula dia tidak berminat "
"Apa kau pernah kesana?"
"Pernah sekali! disana ada sebuah danau yang sangat indah, ada rumah yang terbuat dari kayu maple yang tidak terlalu besar, Daniel biasa menghabiskan waktu liburannya ditempat itu"
"Oohhh...," Ayana mengoho panjang "Ah iya Daren aku tak bisa menghubungi ibuku, panggilanku tidak pernah diangkat" keluh Ayana, sejak Daren mengganti ponselnya namun tetap simcard yang sama Ayana belum pernah sekalipun berbicara pada ibunya padahal ia hanya ingin mengetahui bagaimana perjalanannya.
Mendengar keluhan Ayana Daren tersenyum smirk, ia memang meminta tim pengembang membuat ponsel yang bisa ia atur sesuka hatinya , panggilan Ayana kepada orang tuanya dirancang hanya akan tembus sekali seminggu sementara orang tuanya tidak akan pernah bisa melakukn panggilan kepada putrinya.
Daren menyeting ponsel Ayana hanya akan berfungsi untuk nomor² tertentu saja termasuk nomor ponsel Daniel yang sudah ia save.
__ADS_1
Daren tak menaggapi keluhan Ayana ia langsung menghibur istrinya itu dengan permainan ranjang yang sangat brutal, ia berencana untuk memiliki anak secepat mungkin, agar bisa lebih erat mengikat kaki Ayana.
...*****...
"Antarkan ia pulang ke mansion baverry hills!!" titah Calvin, kepada Adam yang sudah duduk dibalik kemudi, sementara Daniel duduk dibelakang seraya memijit kepalanya kuat berusaha untuk tetap sadar, padahal ia hanya minum beberapa gelas tapi ia sudah sangat uring uringan.
"Antarkan aku pulang kerumah"
"Apa yang akan kau lakukan disana? Lauren juga sudah pergi lagi, Kau mau......" Calvin tak jadi melanjutkan kata katanya karena ada Adam Lee disana.
Kau mau sakit melihat kemesraan Daren dan istrinya??
"Baiklah Adam antarkan kemana dia mau!" ujar Calvin sambil menutup pintu mobil Daniel, ia mengamati mobil sedan mewah yang pergi menjauh meninggalkan pelataran parkir pub yang biasa mereka sambangi. Calvin mulai menyesali tindakannya memaksa Daniel berpisah dari Ayana,sepertinya pria itu benar benar belum bisa move on. Tapi Calvin berharap dengan berjalannya waktu perlahan Daniel bisa melupakan Ayana.
Ayana membersihkan tubuhnya dan mengganti lingerienya dengan yang baru, yang tadi ia pakai sudah kusut dan berserakan entah kemana.
Tenggorokannya terasa kering setelah pertempuran dengan suaminya yang kini terlelap diatas tempat tidur, gadis jepang itu memutuskan untuk turun kebawah mengambil segelas air meski ia tidak begitu ingat dimana sebenarnya letak dapur di paviliun berlantai 4 yang sangat luas itu.
sebenarnya sebuah remote sudah tersedia di kamar yang terhubung langsung dengan ruangan pelayan jika saja terjadi hal seperti ini, namun Ayana merasa agak sungkan jika harus dilayani secara berlebihan, bagaimanapun ia berasal dari keluarga sederhana yang sudah terbiasa melayani dirinya sendiri.
__ADS_1
Ayana menyambar blazer rajut dari dalam lemarinya untuk menutupi lingerie tipis bertali satu yang ia gunakan, perlahan kakinya menuruni satu persatu undakan anak tangga, meski ada lift di rumah itu.
Ia ingat ruang makan keluarga ada di lantai dua, dan kemungkinan dapur tidak akan jauh dari sana. Ayana berjalan pelan tanpa alas kaki ditemani cahaya temaram yang memang sengaja dinyalakan dimalam hari.
Ayana menemukan dapur yang sangat luas bahkan lebih luas dari seluruh rumahnya di Jepang, ia mengambil segelas air dari kulkas empat pintu dan membawanya ke pojok ruangan, ia meneguknya perlahan, seraya mengamati kolam berenang dilantai satu yang terlihat dari jendela kaca besar dihadapannya. Sebagian lampu nampak menyala dengan suara gemercik air yang terdengar jelas.
Siapa yang berenang tengah malam begini?
Ayana teringat penjelasan Lauren jika semua fasilitas termasuk kolam berenang hanya boleh digunakan oleh anggota inti keluarga Bosley, gadis itu mulai menerka siapa gerangan yang ada dibawah.
Lauren? tidak! Ayana menggeleng, setelah sarapan iparnya itu kembali terbang keluar negeri, nyonya Bosley juga tidak mungkin, Daren? Ayana menerawang, pria itu tengah tertidur pulas saat ia keluar.
"Mungkinkah Daniel?" gumam Ayana pada dirinya sendiri, entah mengapa ada perasaan sedih saat pria itu mengacuhkannya pagi tadi, padahal ia melempar sebuah senyuman saat ia hendak kekantor, namun pria itu hanya menatapnya nanar.
Apa ia tak suka melihataku masuk ke keluarganya?
Ayana tertunduk lesu, memikirkan kemungkinan jika Daniel kecewa adiknya menikah dengan wanita biasa seperti dirinya. Haruskah ia meminta penjelasan? ia tak bisa didiamkan seperti ini, padahal ia sendiri yang memintanya untuk selalu ada. lantas?
Entah dari mana datangnya keberanian itu sehingga Ayana melanjutkan perjalanannya kelantai satu, setelah undakan tangga terakhir ia berjalan melingkar kearah belakang, sebuah pintu kaca digesernya perlahan, dan kini ia berdiri didepan sebuah kolam berenang berukuran cukup besar, mengamati Daniel yang tengah berenang memunggunginya. Pria itu sama sekali tak menyadari kehadirannya.
__ADS_1
Cukup lama Ayana memanjakan matanya dengan pemandangan dihadapannya hingga membuat gelas setengah isi yang dipegangnya terjatuh karena terlalu terbuai, Ayana terperanjat dengan bunyi benturan gelas kaca dan ubin namun tidak sampak membuat gelas itu pecah, sekali lagi keluarga Bosley membuktikan jika gelasnya pun begitu kokoh.
Daniel menoleh dan melihat Gadis pujaannya itu membereskan kekacauan yang dibuatnya, ia terlihat menunduk mengambil gelas lalu membalikkan badan hendak keluar. seketika Daniel menepi dan mengambil sebuah remote untuk mengunci pintu dan mematikan semua bola lampu bersamaan.