
"Ibu...apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya?" Meski setengah mabuk namun Daniel masih bisa mengintimidasi Ibunya itu dengan tatapan penuh selidik dan kecurigaan.
"Mengapa ekspresimu seperti itu?" kali ini Nyonya Bosley sudah duduk disamping putranya," bukankah kau seharusnya senang mendengar apa yang baru saja ibu tuturkan?".
"Jika Ayana harus mengandung anakku maka aku akan menceraikan Lauren!" Tukas Daniel.
"Bayangkan apa dampaknya bagi perusahaan jika kau menceraikan Lauren lalu menikahi Ayana? lalu bagaimana dengan Daren?kau fikir ia akan menerimanya? Ayolah Daniel, Perusahaan akan hancur jika kalian berdua saling bertikai. Ibu hanya ingin kau melakukannya diam diam bersma Ayana, jika ia mengandung maka Daren akan berfikir itu anaknya,sementara kau dan Ayana bisa terus berhubungan tanpa harus menceraikan Lauren. Ibu hanya menginginkan seorang cucu!"
Mendengar penuturan Ibunya nafas Daniel seakan tercekat, Rencana apa yang barusan didengarnya? meski ia culas karena telah mencintai istri adiknya namun ia tak menyangka pemikiran ibunya jauh lebih parah, akan tetapi jika keadaan seperti sekarang ini, haruskah ia mendengar saran ibunya? dimana Ayana nampak menyesal dan seakan bisa pergi dari kungkungannya kapanpun. Ah...Daniel hanya bisa menghela nafas pasrah, ia tak bisa menjawab ibunya malam itu, Nyonya Bosley juga tak menuntut persetujuan Daniel segera, ia hanya ingin Daniel mengikuti ritme permainannya meski tidak setuju setidaknya jangan menghalangi!
.
.
.
"Bukankah kau merasa sangat bersalah Baby ?", Daren menatap Ayana yang duduk menyender seraya memeluk kedua lututnya diatas tempat tidur.
Wanita yang dikerumuni rasa bersalah itu hanya mengangguk pelan, "Kalau begitu kau mau menuruti segala keinginanku?"
Ayana tak perlu waktu menjawab ia segera menganggukkan kepalanya cepat, apapun akan ia perbuat demi menebus dosanya yang sangat berat.
"Tinggal dirumah ini dan jangan pernah berfikir menginjakkan kaki melewati gerbang" Tukas Daren, ia sempat melihat ada secerca penolakan yang tersirat dari tatapan Ayana namun wanita itu lekas merubahnya menjadi sendu seakan patuh,mengingat bayangan dosa kenikmatan yang ia lakukan bersama Daniel, "Mana ponsel mu?" Daniel membuka telapak tangannya, menunggu Ayana memberikan benda pipih yang kini ia cari didalam laci nakas samping tempat tidur.
"Mengapa kau mau menyimpan ponselku?"
__ADS_1
"Agar kau tak menghubungi kedua orang tuamu"
"Tapi Daren....."
cup....
Daren segera menutup bibir Ayana dengan pagutan yang hangat dan penuh nafsu, wanita itu terlihat berusaha mengimbangi permainan lidah tak bertulang suaminya namun bayangan wajah Daniel yang menari disekitarnya seakan merusak segalanya, ia tak bisa berkonsentrasi hingga membuat Daren merasa tidak enak karena Ayana bermain dengan deraian air mata.
"Hei...Hei... kau kenapa? apa kau sedih karena tak bisa menghubungi orang tuamu? aku berjanji sayang musim dingin nanti kita akan berkunjung ke Jepang" Ucap Daren yakin, tentu saja ia berbong ia tahu Ayana adalah kesayangan orang tuanya, untuk itu menahan gadis itu disisinya adalah keputusan yang tepat, untuk memberi pelajaran bagi orang yang dianggapnya sudah membunuh Barbara.
"Benarkah?" Ayana menatap dengan binar binar yang terpancar di dua manik mata bulatnya.
Tentu tidak sayang!!! batin Daren.
.
.
.
"Sudahlah jangan terlalu difikirkan, lihat masalah pencernaanmu kembali kambuhkan?" Tuan Kimura berusaha agar istrinya itu tidak banyak memikirkan hal hal yang buruk mengenai Ayana, meski ia juga tak kalah khawatirnya dengan keadaan putrinya,namun demi kesehatan sang istri ia harus terlihat kuat.
Tak lama kemudian seorang dokter berjas putih masuk dan terlebih dahulu membungkuk memberi hormat pada mantan atasannya yang sudah pensiun itu, Ia adalah masahiro takahasi salah satu dokter spesialis gastroenterologi yang menangani penyakit Gerd yang kini di diderita nyonya kimura.
Ia juga adalah dokter yang tuju tahun lalu mendampingi Daren sebagai penerjemah saat pria itu bahkan menuntut habis rumah sakit sampai ke direktur karena telah melalaikan Barbara yang dalam kondisi kritis dan lebih memilih menangani Pasien yang memiliki hubungan darah dengan dokter terkait, Namun Daren harus menelan pil pahit, ini bukan negaranya ia tak bisa memakai pengaruh keluarganya disini bagaimanapun Rumah sakit tetap membenarkan tindakan dokter Kimura karena kondisi putrinya juga Buruk.
__ADS_1
"Anda makan dengan baik nyonya?" Sapa dokter masahiro ramah, wanita itu hanya menagngguk seraya berusaha melu*mat buburnya yang masih tersisa didalam mulutnya,"Ayana belum pulang untuk menjenguk ibunya? sensei" Dokter masahiro yang memang sangat dekat dengan keluarga Kimura itu berbalik menatap Ayah Ayana yang nampak sangat lesu, dulu Dokter Kimura sempat memiliki niat untuk menjodohkan Ayana dengan dokter masahiro , ia bahkan sudah membicarakannya dengan pria berusia 32 tahun itu dan masahiro menganggukinya.
"Belum" jawab dokter kimura singkat.
Hufht.... dokter kimura menghela nafas setelah melihat istrinya sudah enggan menatap buburnya lagi, tanpa disuru dokter masahiro mengambil nampan rumah sakit dari pangkuan dokter Kimura dan meletakkannya diatas Nakas.
Disana dokter masahiro bisa melihat ponsel nyonya Kimura dengan layar yang masih menyala, memperlihatkan wallpaler Ayana dan suaminya saling bergandengan mesra, Ayana begitu cantik dalam balutan gaun putih sementara pria disampingnya sangat tampan dengan setelan tuksedo mahal yang ia kenakan.
Dokter masahiro menatap layar ponsel itu lekat dengan kedua alis yang saling bertautan, ia merasa tidak asing dengan wajah suami Ayana dan berusaha mengingat jika mungkin pernah mengenalnya ataukah melihatnya disalah satu tempat.
Melihat dokter masahiro mengamati ponselnya, nyonya kimura segera mengambilnya dengan cepat dan menaruhnya didepan dada, ia teringat pesan perwakilan keluarga Bosley, jika mereka tidak terlalu suka wajahnya di publish.
"Ah....maafkan aku nyonya Nanami Kimura" Dokter masahiro segera membungkuk sembilan pulur derajat di hadapan kedua orang tua dihadapannya, memohon maaf karena telah lancang, "Aku hanya merasa jika sepertinya pernah melihat pria yang berdiri disamping Ayana" Lanjut Masahiro dengan punggung yang sudah kembali tegap.
"Benarkah Dokter masahiro? apa kau melihatnya saat kunjungan kerja sama antara rumah sakit dan Bosley elektronik di Callifornia?" Dokter Kimura mencoba menebak, ia memang ingat jika Dokter Masahiro adalah salah satu utusan yang berangkat 3 tahun lalu.
"Sepertinya bukan" Masahiro terlihat menutup matanya dalam mencoba mengingat kepingan memori yang mungkin sudah berserakan didalam kepalanya, ini karena terlalu banyak membaca jurnal kesehatan dan buku sehingga masahiro seakan sulit mengingat hal hal yang tidak berhubungan dengan ilmu kedokteran, "Sepertinya aku sudah ingat Sensei, apa anda tidak mengingatnya? bagaimana bisa Ayana dan orang itu ????" Gurat khawatir tiba tiba saja terlukis jelas di wajah dokter masahiro.
"Bagaimana mungkin aku tak mengingatnya???" Dokter Kimura mengulang pertanyaan yang ditujukan kepadanya, dan mengamati perubahan mimik wajah Dokter masahiro.
"Apa jodoh manusia sekebetulan itu? Apa anda tidak mengingat peristiwa 7 tahun yang lalu saat dua pasien dengan limpa pecah tiba di UGD dan salah satunya adalah Ayana."
Raut wajah dokter kimura seketika berubah merah tatkala dokter masahiro mengingatkannya dengan kejadian itu, itu adalah salah satu hal yang paling tak ingin ia ingat dalan kehidupannya.
"Jangan berbelit belit Masahiro takahasi!"
__ADS_1
Hufht.....sebelum menjawan Dokter masahiro menghela nafas berat terlebih dahulu, "Aku yakin tak salah mengingat, nama pria itu adalah Daren namun ia tak menyebutkan nama belakangnya, ia adalah pria yang sama dengan pria yang bersanding dengan Ayana didalam foto"
"Pria yang sama??" gumam dokter Kimura pelan, perlahan ia sudah mulai menebak arah pembicaraan ini, pria tua itu seakan lemas dan tak bisa merasakan persendiannya saat memorynya kembali memutar peristiwa tujuh tahun lalu, begitu ia keluar dari ruangan operasi, seorang pria muda langsung mendaratkan kepalang tangannya diwajah lelahnya, Seorang pria muda dengan semua urat yang begitu jelas diwajahnya menandakan jika ia tengah berada dipuncak kemarahannya, seorang pria dengan tatapan membunuh memintanya untuk mengembalikan nyawa kekasihnya yang lenyap di UGD rumah sakit akibat pertolongan yang terlambat.