HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 16


__ADS_3

Ayana berusaha mengembalikan moodnya dengan menghirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, kenapa ia harus marah? dan pada akhirnya Ayana menemukan kembali kesadarannya, ia tidak seharusnya memakai pakaian ini untuk menunjukkan tubuhnya pada seorang pria beristri padahal ia memiliki kekasih, kini gadis itu melangkah malas dan mengambil piyama tidurnya untuk mengganti lingerie yang ia kenakan kini.


Ayana berdiri mematung didepan pintu kamar mandi hingga Daniel selesai dan keluar hanya dengan membalut tubuh bagian bawahnya, ia menatap Ayana dari atas hingga bawah lalu kembali dengan sepasang piyama dalam gengamannya. Ia sudah sangat bahagia tadi melihat gadis itu memakai lingerie, dan kini ia akan menggantinya? Daniel tentu tak akan membiarkannya.


"Ayo..." Daniel menarik tangan Ayana hingga gadis itu menjatuhkan piyamanya...


"Tapi...aku akan mengganti bajuku dulu..." cegah Ayana, namun tarikan pria itu terlalu kuat bagi seorang Ayana, ia lalu didudukkan disebuah kursi yang menghadap kelaut dimana sudah tersaji berbagai hidangan khas maldives dan seorang pelayan wanita dengan botol sampanye ditangannya menunduk memberi hormat lalu tersenyum ramah.


Ayana menikmati makan malamnya, namun karena masih kesal ia tak sadar sudah menghabiskan beberapa gelas sampanye malam itu hingga membuat kepalanya pusing sementara Daniel hanya menatap sambil meneguk seteguk dua teguk sehingga ia masih memiliki kesadaran sempurna.


Saat melihat Ayana yang mulai berjalan gontai dan terhuyung Daniel menyuruh pelayan untuk membereskan semuanya dan menemani Ayana masuk kedalam kamar dengan membopong tubuhnya keatas sofa.


Ia membiarkan Ayana menggumam tak karuan, sementara dirinya menyiapkan obat tidur dengan dosis yang lebih banyak dari kemarin, meski sempat ragu namun Daniel tidak menghentikan aksinya.


Segelas air itu diletakkan Daniel di hadapan Ayana.


Daniel duduk di sofa yang berhadapan dengan Ayana saat tiba tiba gadis itu berdiri dan menghampirinya lalu membuang tubuhnya diatas pangkuan Daniel. Sebenarnya bukan seperti ini liburan yang diharapkan pria itu saat memutuskan mengirim Ayana ke Maldives bersamanya asalkan ia bisa melihatnya beberapa hari saja Daniel akan sangat bahagia, tapi semesta merestuinya dengan menghilangkan koper gadis itu.


Ayana mengabsen setiap bagian wajah Daniel dengan telunjuknya seraya bergumam, persis yang dilakukan Daniel dimalam sebelumnya..


"Paman...ukh...."panggil Ayana sambil cegukan, "Tentu saja kau tak menyukai tubuhku ukh...kar...ena...Aku masih muda, ukh..sedangkan kau meski terlihat tampan tapi kau sudah tua, aku juga tak menyukai pria diatas 30 tahun" tutur Ayana seraya menampar pelan pipi Daniel, membuat pria itu tersenyum penuh makna, ia lalu menarik pinggul Ayana agar tubuhnya semakin rapat di dadanya.


"Sebaiknya kau minum ini" Daniel mengambil segelas air dengan obat tidur dan meminumkannya pada Ayana, dan gadis itupun meminumnya hingga tak bersisa.

__ADS_1


Kini rasa mabuk dan kantuk dirasakan Ayana bersamaan, dengan mata yang hampir tertutup gadis itu masih memainkam bulu tipis yang tumbuh di sekitar dagu Daniel.


"Paman!!" Panggil Ayana lembut lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi Daniel, Ayana lalu menempelkan bibirnya di bibir pria brewok itu lama tanpa menggerakkannya.


"Kau yang duluan gadis kecil nakal." Daniel memulai aksi kejamnya ia memegang kedua pipi Ayana lalu mulai menye*ap bibir wanita itu lembut, kemudian menggigit, menj*lat dan melum*tnya dalam, Ayana membalas sebisanya dengan sisa kesadaran yang dimilikinya, Daniel mulai mengabsen setiap bagian mulut Ayana di dalam dengan permainan lidahnya meraka bertukar saliva hingga akhirnya Ayana benar benar kehilangan kesadarannya.


Daniel menatap bibir Ayana yang nampak bengkak, dengan tubuh terkulai diatas pangkuannya, ia bisa merasakan hawa panas menari disekujur tubuhnya menuntut untuk segara didinginkan.


Tubuh Ayana ia baringkan di tepi tempat tidur, perlahan tangannya membuka luaran lingerienya, Daniel sudah tak tahan melihat tubuh Ayana yang seputih porselen dengan pakaian tipis, bahkan sebelah tali penyangga sudah jatuh dibahunya ia hanya perlu membuka sebelahnya, dan Daniel pun meurunkan pakaian Ayana hingga batas pusat, memperlihatkan dua benda kenyal yang dibungkus Br* berenda, kali ini milik Daniel sudah menguat sempurna..


Daniel membuat dua benda itu menyembul sempurna dengan membuka bungkusan yang menjadi penghalangnya, ujung yang berwarna pink dipadukan pangkal bulat yang menantang benar benar membuat Daniel menggila sejadi jadinya.


"Maafkan aku baby " bisiknya ditelinga Ayana lalu mulai menji*atinya, turun ke Bibir yang kini tertutup rapat, leher yang putih menggoda hingga ke bagian da*a Ayana, sebelah tangannya memainkan benda pink itu sedangkan lidahnya memainkan benda pink yang satunya.


Saat keluar kamar mandi Daniel membalut tubuh Ayana yang hampir bug*l sempurna itu dengan selimut, hingga hanya menyisakan kepala saja yang tak ditutupinya.


Daniel berdiri didepan jendela kaca dan melempar pandangan kosong keluar menatapi cahaya remang yang menyinari lautan malam kota Male sambil sesekali meneguk vodka ditangannya, ia hampir menghabiskan tegukan terakhirnya saat panggilan dari Calvin menggetarkan ponselnya diatas meja.


"Halo..." Jawab Daniel malas seraya menghempaskan tubuhnya yang hanya dibalut handuk sepinggang diatas sofa.


"PRIA BR*NGSEK" umpat Calvin tanpa basi basi, ia sangat kesal bukan main dengan kelakuan sahabatnya itu.


Daniel memijit pelipisnya dan menghela nafas kuat, kali ini ia bisa menebak jika Calvin sudah mengetahui segalanya, "Aku memang breng*ek" Daniel tertawa miris seraya menyenderkan punggungnya disandaran sofa lalu menoleh dan menatap Ayana dalam balutan selimut yang tengah terlelap.

__ADS_1


"Apa kau tidak punya gadis lain hah!!!!!?" Calvin nampak berjalan mondar mandir didalam apartemennya.


"Entahlah, aku terlanjur memilihnya"


"Kau gila Daniel, aku akan mengurus kepulanganmu besok pagi dan Ayana di hari berikutnya" tukas Calvin yang tidak mendapat penolakan dari Daniel, "Apa kalian sudah melakukannya?" tanya Daniel penasaran.


"Tidak!! aku hanya.....ah sudahlah ini adalah urusanku!" Jawab Daniel.


"Bagaimana bisa ini urusanmu? wanita yang bersamamu adalah calon istri adikmu sendiri ! aku yakin Ayana tidak mengetahuinya tapi kau????kau tahu sejak awal!! bagaimana kalian menghadapi situasi yang akan mendatang?" gerutu Calvin berapi api.


"Apa Daren....."


"Mengetahuinya???" Calvin memotong ucapan Daniel kesal, " tidak ia sama sekali tidak tahu, aku sudah mengurus semua kekacauan gila yang kau buat"


"Akan lebih bagus jika ia mengetahuinya, agar menyerahkan Ayana padaku "


"Lauren bagaimana hah!!!kau akan menceraikannya? demi menikahi seorang gadis muda mantan calon istri adikmu?" Calvin menekankan setiap kata kata yang keluar dari bibirnya.


"Pulang besok dan aku akan mengenalkanmu pada gadis muda lainnya" Calvin mengakhiri panggilannya.


hufht....Daniel menghela nafas, memang tak ada yang bisa ia sembunyikan dari sahabat cerewetnya itu.


Daniel menghempaskan handuk yang membalut tubuhnya lalu tanpa mengenakan sehelai benangpun ia tidur seraya mendekap tubuh Ayana di balik selimut, mereka saling merapatkan tubuh hingga pagi menjelang.

__ADS_1


__ADS_2