HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 42


__ADS_3

Beberapa kali Daren menghentakkan kepalanya kuat, berusaha agar kesadaran tetap ia miliki namun ia gagal, sekitarnya mulai terasa berputar tak tentu arah sampai seorang wanita berpakaian sangat terbuka datang menghampirinya.


"Dia boleh aku bungkus?" tanya wanita bertubuh sintal itu pada bartender yang masih mengguncangkan tubuh Daren yang seakan sudah berpisah dari ruhnya.


"Silahkan nona, asal anda menyelesaikan Billnya dulu" sang bartender menyodorkan sejumlah tagihan minuman yang sudah dihabiskan Daren.


wanita itu lalu mengambil sebuah credit card berwarna biru dari dalam tas tas jinjingnya, sebelum menyuruh bartender menggesek ia terlebih dahulu menoleh kebelakang menatap genit ke arah Calvin yang memang menyuruhnya untuk membantu Daren dengan cara apapun yang wanita itu mau.


"Lakukanlah" Calvin hanya memberi isyarat dengan gerak bibirnya.


Wanita itu adalah sejenis wanita yang banyak ditemukan di club malam, mereka bukanlah pekerja se* hanya seseorang yang tengah mencari kesenangan semalam, tadinya ia ingin menggait Calvin, namun sahabat Daniel yang kebetulan menyadari kehadiran Daren yang tengah mabuk justru memberi tantangan pada wanita itu untuk menggoda Daren dan dianggukinya.


Semenjak pulang menjenguk Ayana dirumah sakit, Calvin sudah membulatkan tekad untuk mencari tahu titik kelemahan Daren agar bisa melepaskan Ayana secara sukarela, namun yang ia dan koneksinya temukan adalah sebuah fakta yang mencengangkan, Ayah ayana merupakan sosok yang paling bertanggung jawab dengan kematian Barbara, Calvin sampai bergidik ngeri memikirkan jika Daren kemungkinan memiliki niat buruk pada Ayana demi membalaskan dendamnya.


Calvin tak mungkin memberitahu temuannya itu pada Daniel karena kemungkinan besar akan berimbas pada perusahaan.


Untuk itu tak ada salahnya jika malam ini Calvin memberikan pelajaran pada pria itu.


Awas saja jika ia macam macam dengan wanita yang dicintai Daniel. gumam Calvin didalam hati, ia juga sudah meminta wanita itu untuk mengambil gambar sebanyak banyaknya saat berbagi peluh dengan Daren. Calvin tak perlu merasa bersalah toh dulu Daren juga sudah biasa melakukannya dengan wanita manapun.


"Apa Kau Jal*ng?" Daren yang mulai sudah sadar dari mabuknya itu sedikit menekuk lehernya untuk melihat wanita yang kini bermain dengan inti tubuhnya menggunakan lidah, Arghh....Daren sudah tak tahan permainan wanita itu benar benar membuatnya gila, ini kali pertama ia kembali bercinta dengan sembarang wanita setelah memgenal Ayana.


cintanya kepada gadis polos yang tak tahu apa apa itu menyadarkannya dari kehidupan bebasnya dulu, namun kini? meski ia lupa bagaimana dirinya bisa berakhir ditempat penuh dosa ini membuatnya mengumpat dirinya sendiri, shi* mengapa dulu ia menghentikan aktivitas surga dunia ini? . larut dalam kenikmatan yang dipadukan cahaya temaram Daren masih sempat mengingat Ayana yang dua minggu ini selalu menolaknya dan ia terpaksa harus menggunakan kekerasan.


Daren merabah sekitarnya mencari benda pipih miliknya. ponsel dengan kecanggihan kamera yang bisa merekam dalam gelap perlahan menyala menangkap setiap gerakan erotis yang disuguhkan wanita yang kini duduk diatas inti tubuhnya seraya meliuk liukkan miliknya.


"Ck" wanitu hanya mendecakkan lidah, ia tak perlu lagi mendengar titah Calvin untuk mengambil banyak gambar, karena pria dibawahnya itu bahkan melakukannya sendiri.


"Arghh.....Lakukan Ayana....aku sudah sampai" ujar Daren saat dirinya dan wanita itu mencapai puncak pagutannya, Wanita yang dipanggil bukan dengan namanya itu hanya tersenyum dan mendongakkan wajahnya saat ia juga merasakan apa yang dirasakan Daren, peduli apa ia dengan nama yang digumamkan pria itu, toh ini juga hanya cinta satu malam, esok ia akan melakukaknnya lagi dengan pria yang jauh lebih tampan.

__ADS_1


.


.


.


"NONA AYANA!!!" Teriak Lohan, wanita berkaca mata tebal itu memang ditugaskan nyonya Bosley untuk sesekali berjaga didepan kamar Daren, mengingat Ayana yang sudah dua minggu dikurung disana, ia hanya ingin memastikan jika Daren tak berbuat macam macam pada Ayana, namun sialnya kamar itu kedap suara sehingga Lohan tak pernah sekalipun mendengar jeritan kesakitan Ayana, sehingga ia hanya bisa melaporkan keadaan baik baik saja pada atasannya.


Namun kali ini ia menemukan pintu kamar itu tidak menutup sempurna, sepertinya Daren lupa karena bergegas keluar.


Lohan segera menghampiri tubuh Ayana dilantai, dan dengan sekuat tenaga ia akhirnya bisa mengangkat raga Ayana yang memang terbilang mungil itu keatas tempat tidur.


Beberapa kali Lohan menepuk pipi Ayana namun wanita itu tidak sadar juga, tubuhnya yang sedingin es membuat lohan menarik seprei yang memang sudah berantakan itu keatas tubuh Ayana, tangan yang terjuntai di tepi ranjang menarik perhatian Lohan, ada lebam biru yang melingkar disana, reflek lohan membuka kembali balutan selimut dan seprei yang membungkus tubuh mungil Ayana dan menemukan jika kulit seputih porcelen itu dihiasi banyak kiss mark yang membiru bahkan di pergelangan kaki juga terdapat lebam.


Apa yang harus ia lakukan? Lohan kembali membungkus rapat tubuh Ayana, ia tak mungkin memanggil pelayan atau Daren akan tahu kalau dirinya telah masuk tanpa ijin.


Cukup lama Lohan berjalan mondar mandir seraya menggigit kukunya, ia lalu mendongakkan kepala memutar pandangan dan...deg...ia menemukan beberapa cctv yang terpasang di hampir setiap sudut ruangan, Lohan yang mulai disergap rasa takut segera berlari ke ambang pintu. Mungkin Daren tidak bisa membunuhnya Jika tahu ia masuk tanpa ijin, tapi kemungkinan besar ia akan dipecat.


Argh..


Lohan mengacak acak rambutnya dengan gusar, ia masih menetap Ayana yang sepertinya mulai tersadar, timbul rasa kasihan dihatinya melihat kondisi Ayana yang seperti mengalami kekerasan, kini ia bahkan mengigau didalam bawah sadarnya.


Okasan...ottosan..aitaiyo gomen ne


Okasan...ottosan..aitaiyo gomen ne


(Ayah, Ibu, aku merindukanmu maafkan aku)


Beberapa kali Ayana meracau dalam ketidak sadarannya dengan bahas yang tidak dimengerti Lohan, kini wanita berkaca mata itu sudah kembali berdiri disisi tempat tidur, menatap iba kearah Ayana yang tak berhenti bergumam lirih dengan deraian air mata, bagaimanapun Daren mungkin sudah tahu ia masuk, toh tidak ada gunanya ia lari, lagi pula ia bisa berdalih jika Darenlah yang lupa menutup pintu.

__ADS_1


Daniel...maafkan aku


"Daniel??" Lohan menunduk kewajah Ayana, sepertinya ia tidak salah dengar wanita itu memang menyebut nama Daniel, tak lama kemudian Tubuh Ayana bergetar karena kedinginan namun dalam posisi masih belum sadar. Lohan berlutut dan memeluk Ayana.


"Nona...sadarlah, apa kau sakit?"


"Nona..."


"Nona"


Dalam kekalutannya Lohan mengambil benda pipih di sakunya dan menghubungi Daniel.


.


.


.


Daniel masih duduk di Balkon kamarnya dengan pandangan kosong saat ia mendengar deringan ponsel miliknya dari dalam, ia bergegas untuk memastikan siapa yang menghubunginya dinihari begini, namun sebelum menjawab ia sempat menoleh learah Lauren yang tengah tertidur pulas.


Nomor Lohan bertengger di layar ponselnya.


"Halo"


"Halo Tuan Daniel, Nona Ayana sepertinya......"


tut...tut...tut.....


Daniel mengakhiri panggilan, menyisakan Lohan yang menatap bingung pada layar ponselnya padahal ia belum selesai berbicara.

__ADS_1


__ADS_2