HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 48


__ADS_3

"Nyonya apa ini tidak terlalu cepat?" Lohan seketika tersungkur karena kakinya seakan tak kuat lagi menahan bobot tubuhnya, ia menatap tak percaya kearah Nyonya Bosley yang bahkan tak bisa melayani dirinya sendiri, namun kini wanita tua itu bahkan berdiri diatas kursi dan memasang sendiri sebuah lampion berwarna merah menyala didinding.


"Kau ini masih muda tapi sangat mudah lelah" ujar Nyonya Bosley yang masih mencari sudut yang pas untuk lampion yang katanya membawa keberkahan itu.


Hufht....Lohan mendesah pasrah mengamati sekeliling ruangan yang sudah disulap nyonya Bosley menjadi kamar bayi, "Dan lagi nyonya itu...." Lohan menunjuk lampion merah yang kini sudah terpatri didinding bercat biru itu.


"kenapa?" Nyonya Bosley mengikuti arah telunjuk Lohan.


"Itu bukan budaya Jepang Nyonya, Lampion itu dari China!" Jelas Lohan.


saat memilih lampion itu dipusat perbelanjaan Nyonya Bosley berkata jika ingin memberi kesan Jepang di kamar cucunya, namun Lohan tak menyadarinya saat itu.


"China?benarkah? terus apa bedanya? Jepang, china, dan korea apa bedanya" Jawab Nyonya Bosley masa bodo yang ia tahu jika itu dari Asia maka semuanya sama saja.


Hufht....lagi lagi Lohan hanya mendesah pasrah mendengar jawaban atasannya, ia kembali bangkit dan menyusun prabot khas kamar bayi yang masih banyak berserakan, meski dalam hati ia tak berhenti menggerutu jika menyiapkan kamar bayi masih terlalj cepat padahal usia kandungan Ayana baru juga sebesar biji jagung.


.


.


.


Ayana menatap kosong kearah luar jendela kaca besar, mengamati gedung gedung bertingkat diluar sana seraya memutar kembali fikirannya saat ia memberikan tubuhnya untuk dinikmati sang kakak ipar, air matanya kembali jatuh mengingat mereka bahkan tak menggunakan pengaman saat melakukan hal itu.


Tangannya tak berhenti mengusap perut membayangkan jika anak dalam kandungannya adalah milik sang kakak ipar, bagaimana tidak! ia selalu merindukan pria itu dan benci bila didekati Daren. Ia bahkan sangat lega saat suaminya pamit untuk kembali melakukan pekerjaannya diperusahaan yang sempat terbengkalai karena harus menunggu dirinya bangun dari tidur panjangnya.


Huh....Ayana menghela nafas namun tak bisa menghilangkan beban yang seakan menindih tubuh mungilnya.


Bagaimana jika Daren, Lauren dan ibu mertua tahu aku berselingkuh dengan Daniel?

__ADS_1


Ayana memijit kepalanya kuat dengan air mata yang terus berderai, memikirkan ia yang tak bisa menyesali kegilaannya. Wanita itu mulai memukul pelan kepalanya dan merutuki dirinya sendiri yang kini seperti tengah berjalan kedalam neraka dengan kedua kakinya secara sukarela.


Bodoh, Bodoh!


Kau wanita bodoh!


Krek...pintu terbuka.


"Nona! apa yang kau lakukan?" seorang pria bertubuh tegap menghampiri dengan sedikit berlari dari balik pintu, itu membuat Ayana berhenti dan segera mengusap wajahnya yang yang basah.


Adam Lee muncul dengan gurat khawatir yang begitu jelas, sementara Ayana hanya bisa membuang muka sambil mengusap air mata diwajahnya, lalu berbalik lagi sambil menundukkan kepala memberi hormat, yang dibalas Adam dengan membungkuk 90 derajat.


.


.


Saat di mobil hendak kekantor Adam terus menerus mengamati wajah Daniel dari spion, senyumannya merekah sepanjang perjalanan, Aura bahagia sangat terpancar diwajah dengan rahang tegas itu saat ia begitu yakin jika anak yang dikandung Ayana adalah miliknya, Sementara didalam hati Adam Lee ada setitik kemarahan yang menyeruak mengingat Ayana adalah seorang anak perempuan yang begitu dihargai oleh kedua orang tuanya, namun dua bersaudara Bosley seperti memperlakukannya layaknya mainan yang bisa dipakai bergantian, Mungkin Ayana menyukai salah satu dari mereka meski begitu tetap tidak bisa membuat Adam menerimanya, ia membayangkan betapa hancur hati Tuan kimura jika mengetahui putrinya tidak mengandung anak Suaminya melainkan anak dari kakak iparnya sendiri.


Adam mendesis lirih mendengar jawaban Daniel.


"Tuan, mengapa anda tidak memberikan makanan Jepang untuk nona Ayana, biasanya orang hamil akan menrindukan masakan dari rumahnya" Adam mulai memprovikasi Daniel.


"Benarkah?" Daniel terlihat berfikir, mengingat masakan jepang yang ia tahu, namun hanya susi yang terlintas dibenaknya dan ia tahu susi mentah tak baik bagi wanita hamil.


"Ah iya apa kau punya rekomendasi?" Daniel bertanya, mungkin saja asistennya itu lebih tau mengenai Jepang.


"Sebaiknya anda memberi Nona Ayana Kue mochi tuan" Seru Adam.


"Baiklah," Daniel melihat jam yang melingkar ditangannya, ia tidak mungkin menjenguk Ayana sekarang, ada rapat penting yang harus dihadirinya, "Antarkan aku kekantor, setelah itu bawakan mochi untuk Ayana dan pastikan ia memakannya" Lanjun Daniel.

__ADS_1


"Baiklah Tuan!" Adam mengangguk, Ia sudah menduga rencananya akan berjalan lancar, semua bagai sudah diperhitungkan, ia tahu pasti jika Daniel akan menyuruhnya, sehingga ia bisa bertemu Ayana dan menyampaikan kabar Tuan Kimura, meski pria tua itu tak memintanya namun Adam tidak tega mendengar rindu yang membuncah disetiap kata yang diutarakan Tuan Kimura.


"Oh iya Adam, ternyata kau banyak tahu juga mengenai kesukaan orang Jepang, Bahkan aroma terapi yang paling sering digunakan kau juga tahu" Puji Daniel namun dengan tatapan penuh selidik yang terlihat di spion depan.


"Mungkin karena negara kami saling berdekatan Tuan" kilah Adam berusaha terlihat santai.


Pria keturunan Korea itu berhasil mengelabuhi Daniel.


Ia benar benar hanya mengantarkan Daniel ke Kantor, dan kembali untuk menjalankan rencananya setelah sebelumnya ia mencari informasi keberadaan Daren yang ternyata sudah kembali ke Bosley Ponsel perusahaanya.


.


.


.


"Nona kemana pelayan yang menemani anda?" tanya Adam Lee sambil meletakkan Box berisi Mochi diatas Nakas.


"Aku menyuruhnya keluar, aku ingin sendiri!" Ujar Ayana, ia lalu memicingkan matanya menatap Adam Lee, apa yang dilakukan asisten pribadi Daniel disini?


"Nona aku membawakan anda kue Mochi, ini dari Tuan Daniel" Adam berbicara sambil mengetik sebuah pesan di ponselnya lalu memperlihatkannya pada Ayana.


Nona aku disini bukan sebagai asisten Tuan Daniel, tapi ingin menyampaikan pesan Tuan Kimura, Bunyi pesan yang diketik Adam.


Ayana seketika berbinar penuh harapan, ia memang sangat merindukan kedua orang tuanya.


sendiri di negeri orang tanpa tahu harus bertanya kepada siapa pun memang sangat menyedihkan, dan kini ada pria setengah Asia yang berdiri dihadapnnya bagai membawa pijar istimewa yang sinarnya sudah sangat lama ia nantikan.


Air mata Ayana seketika meleleh, "Tak ada penyadap maupun cctv yang dipasang Daren disini kau bisa berbicara padaku" ujarnya penuh Haru.

__ADS_1


"Bisa aku berbicara dengan Ayahku?" Pinta ayana memelas.


"Tentu Nona!" Adam lee terlebih dahulu mengunci pintu dan kembali kepada Ayana, ia mencari kontak Tuan Kimura dan segera melakukan panggilan.


__ADS_2