HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 56


__ADS_3

Daniel memutar knop pintu kamar Ayana yang terkunci, ia lalu mengetuknya sebanyak tiga kali, namun Ayana membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membukanya, ia segera memgakhiri video callnya dan benyimpan ponsel Adam dibawah tempat tidur setelah sebelumnya menonaktifkannya.


Ayana melirik Jam dinding yang terpatri dikamarnya, mungkinkah Daren?


Ayana berusaha mengatur nafas dengan setingan wajah ceria, guna memyambut suaminya itu. Ah Dasar bermuka dua! Batinnya pada diri sendiri, sambil berharap agar Tuhan membantunya melepaskan diri dari belenggu cintanya yañg tidak normal bersama Daniel.


Krek...


Begitu melihat Ayana di balik pintu, Daniel segera masuk dan mengunci pintu, ada tatapan protes yang dihujam Ayana kepadanya, namun pria itu tak peduli ia segera menarik tengkuk Ayana dan menghujaminya dengan sebuah ciuman lembut, Ayana sempat membalas namun sepersekian detik ia segera mendorong dada Daniel.


"Daren akan segera pulang! Apa yang kau lakukan disini? "


"Ada hal penting yang ingin kubicarakan"


"Tolong Daniel, aku sedang berusaha" Ayana mencoba memelas dan mulai menyeka bulir air mata yang menetes, sangat sulit untuk membohongi hatinya.


Daniel kembali mendekat namun Ayana memundurkann tubuhnya beberapa langkah.


"Hah...." Daniel mendesah pasrah, ia akhirnya menyodorkan tablet milik Calvin kepada Ayana, wanita itu sempat berfikir sebelum akhirnya mengambil benda pipih berukuran besar itu.


Daniel mengatupkan kedua kelopak matanya sebagai tanda agar Ayana mengamati apa yang kini tertera pada layar.


Ayana yang memgerti isyarat itupun menggeser layar tablet tersebut, itu adalah artikel mengenai mengenai kecelakaan barbara dan....ah.. Ayana menghembuskan nafas kasar, ia mengembalikan Tablet tersebut kepada Daniel, entah apa maksud Daniel meperlihatkan hal itu kepadanya? Apakah ia juga ingin menyalahkan dirinya!


"Kau sudah tau?" Daniel melempar dengan kasar tablet tersebut keatas tempat tidur dan merengkuh kedua bahu Ayana yang kini menundukkan wajah.


"Daren tidak mencintaimu Ayana, ia dendam padamu!"tukas Daniel sambil mengguncang Bahu Ayana.


Ayana menggeleng kuat, perasaannya campur aduk, ia tahu Daren dendam padanya namun Ayana bisa melihat cinta disetiap tatapan Daren, ditambal rasa bersalah yang teramat dalam kepada Suami, dan orang tuanya membuatnya tak bisa serta merta meninggalkan Daren.


Dan kini Daniel justru berusaha mempertahankan hubungan mereka.


"Ayana tinggalkan Daren, bagaimana bisa kau untuk hidup bersama pria yang bisa kapan saja menyakitimu"

__ADS_1


"Tidak, Daren tidak akan menyakitiku!" Sanggah Ayana yang mulai memghempaskan cengkraman Daniel dari kedua bajunya.


Daniel Frustasi, ia berbalik badan tak tentu arah sambil memijit kepalanya kuat.


"Ayana!"


"Aku mohon Daniel, hari ini Daren kembali aku tidak ingin ia melihat ini semua" Ayana mengambil tablet dari tempat tidur dan memberikannya kepada Daniel yang langsung diraih oleh pria itu.


Daniel fikir ia membawa kabar yang bisa membuat Ayana Luluh, namun ternyata ia salah, Ayana sudah memgetahui semuanya dan masih tetap memutuskan untuk hidup bersama suaminya.


"Ayana! aku akan membawamu bersamaku, aku akan meninggalkan semuanya demi dirimu"


Plak...sebuah tamparan melayang kepipi Daniel.


"Sadar Daniel....sadar! Kamu bukan orang biasa, kau Chairman Bosley group berapa banyak orang yang bergantung padamu, Sedangkan aku? Aku istri adikmu, kita sudah melakukan kesalahan yang sangat besar, ini berat bagiku..tapi kita harus mengakhirinya! Aku mohon Daniel jangan berharap apa apa lagi, lupakan semuanya heem..." pinta Ayana memelas.


Daniel tidak terlalu memikirkan tamparan Ayana, bahkan saat mendarat dipipinya hanya dirasakannya sebagai sebuah sapuan lembut, wanita dihadapannya benar benar tidak tahu caranya berbuat kasar.


"Tuan....Mobil Tuan Daren baru saja tiba !" panggilan berakhir.


"Sial" umpat Daniel kesal, ia lalu kembali meraih tengkuk Ayana dan memdaratkan kecupan hangat di jidat wanita yang kini berderai air mata itu.


"Ayana tunggu aku" ucap Daniel lembut sebelum meninggalkan Kamar Ayana.


.


.


.


"Halo sayang, Daddy sudah pulang" Daren mengusap perut Ayana dan lalu mengecup bibir istrinya sebentar, melihat Ayana bergeming Daren melanjutkan permainan bibir Dan lidahnya dengan brutal, kedua mata insan dengan ikatan sah itu saling mengatup, Ayana berusaha memberikan ciuman terbaiknya dengan air mata yang terus berderai, ada apa dengannya? Ia bahkan mengingat pria lain saat tengah bercumbu bersama suaminya.


Perempuan hina!

__ADS_1


Tak punya martabat!


Ayana terus menerus merutuki dirinya sendiri, hingga akhirnya Daren membuka mata dan melihat bulir crystal menghiasi pipi sang istri. Daren menghentikan sesapannya, ia mengusap lembut pipi Ayana.


"Kau merindukanku?" tebak Daren percaya diri, meski ia sebenarnya tahu jika Ayana mungkin sudah tidak memiliki perasaan padanya, ia yakin yang difikirkan wanita itu mengenai pernikahan ini adalah karena Dendam.


Dan itulah yang masih terjadi, entah mengapa Daren masih belum berniat membiarkan Ayana berhubungan dengan orang tuanya, ia masih ingin menyiksa orang tua itu dengan kerinduan yang mendalam seperti yang pernah ia rasakan.


Ayana menggeleng seraya menghapus air matanya, Daren lalu membawa istrinya itu untuk duduk di tepi tempat tidur dan mengusap perutnya.


Ada rasa kasihan saat menatap wajah sendu Ayana, wanita yang begitu patuh dengan semua hal yang dilakukannya kepadanya.


"Mengapa kau begitu patuh Ayana? Aku jadi semakin mencintaimu" ujar Daren lembut.


"Kar-ena aku yang membunuh Barbara!" Jawab Ayana pelan.


"Bukan sayang...Ayahmu yang membunuh Barbara"


"Heh" Ayana menyeringai, pria dihadapannya mengatakan begitu mencintainya tapi masih belum juga bisa lepas dari dendam masalalunya.


"Andai Ayahku tidak menyelamatkanku maka akulah yang akan mati bukan Barbara, maaf karena aku sudah selamat, setelah koma selama tiga bulan, maaf karena aku berhasil lolos dari maut dan justru berakhir menjadi istrimu menggantikan posisi Barbara yang seharusnya berada disini"


"Bukan sayang bukan itu"Daren memggelengkan kepalanya," Ayahmulah yang bertanggung jawab"


"Berhenti menyalahkan Ayahku Daren, aku yang salah karena mengikuti kalian naik ke bis itu, aku yang bodoh dengan keinginan lekanak kanakanku yang hanya sekedar ingin berbincang dengan mahasiswa dari kampus impianku, andaikan Aku tidak naik ke Bus itu maka semua tidak akan terjadi, Ayahku akan memyelamatkan Barbara dan menjadi pahlawan dimatamu, dan aku akan kuliah dengan tenang tanpa pernah bertemu denganmu, Kau akan bahagia dengan Barbara disisimu sedang aku mungkin akan menikah dengan Seorang Dokter pilihan ayahku" tutur Ayana dengan air mata yang masih berderai.


Daren seketika memijit kepalanya, mengapa jadi seperti ini? Bukan itu yang diinginkannya, ia bahkan sangat bersyukur bertemu dengan Ayana namun hubungan mereka tidak berada disituasi yang benar karena Ada dendam yang menjadi sekat pemisah.


Akankah ia bahagia bersama Barbara ia masih hidup?


Bagaimana jika ia tidak pernah bertemu Ayana?


Pikiran Daren semakin kalut, ia meramas rambutnya kuat, haruskah ia melupakan dendamnya dan mulai menata kehidupan baru?

__ADS_1


__ADS_2