
Bruk...
Pintu kantor Calvin didobrak dengan paksa, sekertaris pribadinya diluar tak bisa melakukan apa apa saat pria yang adalah Daren itu memaksa masuk.
Calvin terperanjat hingga tidak sengaja mencoret berkas penting dihadapannya.
"Daren!!Kau tidak bisa mengetuk dulu" Gerutu Calvin seraya berdiri dan duduk di sofa tempat dimana Daren sudah dudu terlebih dahulu dan nampak sangat gusar.
"Ada apa?"
"Apa kau tau siapa sebenarnya Ayana?"
"Yang pertama aku tidak tahu siapa dia, yang aku tahu dia bawahanmu dengan kinerja yang baik makanya aku meminta dia dimutasi" jelas Calvin " Dan lagi, Apa Ayana sepenting itu? " Calvin pura pura bego.
"Dia wanita akan aku nikahi, dan kau harus bertanggung jawab karena sejak keberangkatannya ke maldives aku sama sekali tidak bisa menghubunginya" Kesal Daren.
"Benarkah...." Calvin mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya dan mencoba menghubungi nomor Ayana tapi tidak aktif, berapa kalipun ia mencoba jawaban operator telepon telepon tetap sama, ia kini mulai khawatir bagaimana jika terjadi sesuatu dengan gadis itu. ini semua karena Daniel yang memintanya mengirim Ayana berlibur seorang diri.
"Bagaimana?" tanya Daren penasaran.
"Nomor ponselnya tidak bisa dihubungi, tapi aku akan menghubungi koneksiku disana, kau jangan khawatir" Calvin berusaha menenangkan Daren yang terlihat begitu khawatir.
"Ingat jika terjadi sesuatu kepada Ayana aku akan membuatmu membayarnya!!" ancam Daren, sambil menunjuk depan wajah Calvin. Ia lalu melangkah dengan rasa amarah dan khawatir yang berpadu menjadi satu meninggalkan Calvin yang masih memegang dadanya merasakan jantungnnya apakah masih berdetak atau tidak, ini kali pertamanya Daren terlihat begitu marah padanya. ini semua karena Daniel yang merahasiakan liburan Ayana.
"DANIELLLLL!!" teriak Calvin kesal, membuat sekertarisnya diluar terperanjat dan tidak berani menengok kedalam ruangan bosnya itu.
Dua saudara itu telah menyusahkan Calvin, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ayana? maka orang yang paling pertama akan disalahkan adalah dirinya, tidak mungkin melimpakan kesalahannha kepada Daniel.
Calvin kembali meraih ponselnya dan kembali mencoba menghubingi ponsel Ayana...
__ADS_1
tut....
tut....
Kali ini panggilannya berhasil " Terima kasih tuhan" gumam Calvin, ia masih harus menunggu jawaban dari seberang.
"Halo"
"Halo..." calvin membawa ponsel didepan wajahnya saat mendengar yang menjawab panggilannya adalah seorang pria, untuk memastikan jika ia benar menghubungi nomor Ayana.
"Ini Ayana" ucapnya lalu kembali menempelkan ponselnya di kuping.
"Bukankah ponsel ini milik seorang gadis jepang?" tanya Calvin.
"Benar tuan, saya dari petugas keamana bandara kota Male, pemilik ponsel ini telah kehilangan kopernya dan kami sudah menemukannya"
"Astaga" Saat mendengarnya Calvin memukul jidatnya, bagaimana bisa Ayana begitu ceroboh, untung saja semuanya sudah ditemukan.
"Kami sudah mencoba menghubungi nomor yang ditinggalkan oleh teman pria wanita yang bernama Ayana Kimura ini tapi ia tidak berniat mengambilnya dalam waktu dekat ini, ia meminta kami menyimpannya sampai ia membutuhkannya kembali" jelas petugas tersebut, sebenarnya saat mendapat jawaban seperti itu ia juga heran melihat Ayana yang begitu khawatir saat kehilangan kopernya.
"Kenapa begitu???" Calvin nampak menautkan dua alisnya sambil bergumam sendiri, ia baru selesai mencerna kata kata petugas diseberang yang mengatakan teman pria....
"Tunggu!!apa yang kau katakan tadi? teman pria?" kerutan di dahi Calvin semakin menjadi, bagaimana bisa Ayana langsung memiliki seorang kenalan disana dan pria? apa ia mencoba menghianati Daren!
"Bisakah kau memberikan nomor ponsel pria itu? biarkan aku berbicara dengannya"
"Baiklah" petugas bandara itu segera mencari secarik kertas yang bertuliskan nomor ponsel Daniel, sementara diseberang telepon Calvin melakukan hal serupa ia segera mengambil pena dan kertas untuk mencatat nomor ponsel teman pria Ayana.
Petugas bandara tersebut menyebutkan satu persatu nomor telepon Daniel yang segera di copy Calvib kedalan selembar kertas, dan panggilanpun berakhir.
__ADS_1
Calvin mengamati nomor ponsel yang terasa tidak asing baginya...ia lalu memindahkannya nomor ponsel tersebut kedalam hpnya dan betapa terkejutnya ia saat nama yang muncul di panggilan tersebut adalah Daniel Bosley.
Daniel memandang layar ponselnya, dimana nama Calvin bertengger disana, namun segera direjectnya..dan menonaktifkan nomornya.
"Heh" Calvin tertawa miris.
"Apa ini?" pria itu masih menatap layar ponselnya dan kembali mencocokkan nomor ponsel Daniel dengan nomor yang baru saja ditulisnya dan benar tak ada yang salah dari nomor itu.
" Daniel dan Ayana berada di maldives" Calvin berjalan mondar mandir memikirkan situasi macam apa yang sebenarnya tengah terjadi ini, ia lalu mencari nomor ponsel Adam lee dan memanggilnya, karena setahu Calvin, Daniel dan Adam sedang tengah melakukan perjalanan bisnis ke Korea.
"Halo...Adam, apa Daniel bersamamu?" tanya Calvin tanpa basa basi.
"Benar pak!" Jawab Adam Lee Mantap, karena pesan Daniel tak ada yang boleh tahu jika mereka berpisah dibandara, Adam juga tak tahu kemana sebenarnya Chairman itu pergi.
"Jangan berbohong, jika Daniel ada disana bisa aku bicara padanya?"
" Maaf pak Calvin sebaiknya anda menghubungi ponsel Tuan Daniel untuk berbicara" Adam Lee masih mantap berbohong.
"Adam lee jangan coba coba berbohong padaku? apa kau lupa siapa yang menjadikanmu asisten pribadi Daniel" Calvin menggunakan trik mengungkit jasa kepada Adam, memang ia lah yang telah merekomendasikan Adam sebagai asisten karena melihat kinèrja dan karakter Adam lee yang sangat cocok untuk Daniel, sebelumnya Adam Lee adalah bawahannya di departemen pemasaran.
Adam lee terdengar menghela nafas panjang, yang segera di mengerti Calvin, ia tahu posisi Adam sekarang sedang tidak mungkin berkata jujur.
"Baiklah Adam cukup batuk dua kali jika Daniel memang tidak disana aku tidak akan membocorkannya" ucap Calvin
"Huk... huk.." tak lama kemudian Adam lee pun trrbatuk dua kali dan mengakhiri panggilannya.
Calvin yang mendengarnya segera menaruh ponselnya dengan kasar keatas meja, ia terus menerus tertawa miris sambil berkacak pinggang dan menengadah keatas, Calvin lalu duduk kembali dikursinya seraya memijit kepalanya kuat, memikirkan Daniel dan Ayana yang memang tengah berada di Maldives.
Sekelumit bayangan Daniel yang meminta Ayana untuk dimutasi dan dibiarkan pergi berlibur menari nari dikepalanya, Dari karakter Daniel yang sudah ia kenal sejak jaman sekolah, Calvin langsung menarik kesimpulan jika ada cinta segi tiga yang terjadi diantara dua saudara ini. Daren yang sangat mencintai Ayana dan Daniel yang berusaha keras memiliki wanita jepang itu. Jika semua terbongkar maka Calvin bisa membayangkan bagaimana pengaruhnya terhadap Perusahaan.
__ADS_1
"Ini tidak boleh terjadi!!! Daniel harus menjelaskan semuanya padaku nanti!!" Sebagai sahabat Daniel, Calvin tentu akan lebih mendahulukan kepentingan Daniel dibanding Daren, karena pria itu terlalu lama menderita dengan keluarga dan perusahaan. untuk itu Calvin kembali menghubungi ponsel Ayana dan meminta petugas tersebut menonaktifkan ponsel Ayana, jangan sampai ada yang menghubunginya, sampai Daniel sendiri yang datang untuk mengambilnya, tak lupa pula Calvin mentransfer beberapa jumlah uang yang cukup untuk petugas tersebut.