
Ayana duduk termenung seraya menopang dagu, menatap butiran salju tipis yang kembali menyapa sore, sudah seminggu ini Daniel tidak memperlihatkan batang hidungnya di mini market membuat Ayana merasakan rindu yang mendalam, namun tidak sampai pada tahap penyesalan ia yang menyuruh Adam Lee menolak niat baik Daniel untuk menikahinya.
"Apa ia pulang ke Amerika?"Gumam Ayana lalu mendesah pasrah, ia tak bisa menghubungi Daniel karena sama sekali tidak memiliki nomor ponselnya, ia juga terlalu gengsi meminta kepada Adam Lee.
"Ataukah pria itu marah? Tidak tidak" Ayana menggeleng kuat guna mengusir fikiran buruknya, yang ia tahu Daniel Bosley adalah seorang Chairman Bosley Group, tidak mungkin ia akan tinggal lebih dari sebulan di desa kecil ini, barang tentu Daniel akan kembali ke Amerika mengurusi pekerjaan dan keluarganya,
Daniel aku merindukanmu, tapi aku tidak siap menjadi istrimu, bisakah seperti ini saja dulu.
Ayana sadar ia adalah wanita bodoh yang lebih memilih hubungan tanpa status ketimbang menjadi seorang istri, namun ia sudah siap melakukannya karena menjadi istri Daniel berarti ia akan kembali menyandang nama Bosley di belakang namanya.
Kini Ayana hanya bisa meratapi kesendirinnya, tak ada yang bisa ia ajak berbagi cerita karena Ji Hoon pun baru akan pulang dari Maldives minggu depan.
.
.
.
"Berlibur? Di Seoul?" Ayana yang baru saja selesai mencuci piring membuka sarung tangannya dan menarik sebuah kursi meja makan lalu mendudukkan tubuhnya disana, kini ia dan Adam Lee duduk saling berhadapan.
Beberapa detik yang lalu Adam Lee baru saja mengutarakan niatnya untuk mengajak adiknya itu berlibur tiga hari di Kota Seoul.
"Bagaimana dengan ibu? Kondisinya tidak memungkinkan untuk pergi berlibur" ucap Ayana, ia sebenarnya tidak ada niatan untuk berlibur, Ayana tahu betul maksud Adam Lee mengajaknya liburan karena dirinya yang selalu terlihat lesu selama kepergian Daniel yang tanpa kabar.
"Kau ingin menghiburku Oppa? Aku baik baik saja, Jika Daniel benar benar mencintaiku ia pasti akan kembali tak peduli lamarannya ditolak. aku tahu Daniel." Lanjut Ayana.
"Kita tidak akan mengajak ibu, aku akan menyewa jasa perawat selama sehari untuk menjaganya, kau yakin baik baik saja? Bagaimana Jika Daniel tidak kembali?" sorot mata Adam Lee penuh telisik, ia berharap reaksi Ayana seperti yang ia harapkan.
Seperekian detik Ayana terdiam dan menghela nafas sebelum akhirnya kembali mengukir senyuman dibibir kecilnya.
"Aku akan baik baik saja Oppa, meski Daniel meninggalkanku, aku masih punya kamu dan Ibu" Ayana tidak sadar jika senyumannya terlihat begitu getir dimata Adam Lee.
Bohong!
Adam Lee bisa melihat keterpaksaan di wajah Ayana, Wanita itu kekeuh dengan pendiriannya jika Daniel ingin menikahinya maka dia harus siap kehilangan nama Bosley, tetapi Ayana juga tak ingin itu terjadi. Keluarga adalah segalanya bagi seseorang. Lagi pula Daniel bukan orang biasa, yang dengan mudah bisa menaggalkan namanya.
__ADS_1
Untuk itu Ayana tak ingin menjadi wanita egois, asal tetap bisa mencintai Daniel dan dicintai pria itu sudah lebih dari cukup.
"Kalau begitu mari berlibur, kali ini aku memaksa" Adam Lee memicingkan mata sipitnya untuk mengintimidasi Ayana.
"Bosok? Baiklah" sahut Ayana.
Adam Lee memang sudah meminta cuti dari kantornya untuk menemani Ayana selama di Kota Seoul.
Selama di Korea Ayana memang belum pernah menikmati liburannya karena 3 bulan pertama di Seoul ia harus berkutat dengan terapi pengembalian ingatan yang menguras tenaga dan pikirannya hingga raganya menderita.
Dan sejak pindah kedesa ini Adam Lee sama sekali tidak pernah mengijinkannya kemanapun kecuali di mini market dan rumah Ji Hoon.
Saat salju sudah mulai menipis di jalanan Adam Lee memutuskan untuk menggunakan mobilnya, dua jam perjalanan akan lebih terasa nikmat ketimbang setengah jam dengan menggunakan kereta.
"Kau sering bermain salju saat di Jepang?" Adam melirik Ayana yang sejak tadi memandangi hamparan salju tipis yang tersaji di sepanjang jalan.
"Tidak" Ayana menggeleng," Saat kecil paru paruku bermasalah, aku tidak bisa berada disuhu yang terlalu dingin makanya Ibu tidak mengijinkanku bermain salju, aku hanya melihatnya dari balik jendela kaca rumah kami, namun ketika sudah dewasa dan menjadi lebih sehat aku sudah mendapati diriku akan lebih menikmati salju dengan memandanginya saja dari pada berseluncur ataupun membuat bola salju" Tutur Ayana,putaran memorinya kembali setiap kali salju pertama turun, maka kedua orang tuanya akan menemaninya memandangi salju hingga puas.
Mendengar cerita Ayana Adam Lee mengusap pucuk kepala adiknya itu.
"Tapi kenapa?"
"Itu terlalu beresiko, aku akan menjagamu sebagaimana Tuan Dan Nyonya Kimura menjagamu"
"Lantas kita kemana?"
"Club!"
"Club? Ah Oppa kau bercanda ya itu lebih beresiko," Ayana mencebik kesal dan mengerucutkan bibirnya, meski sama sekali belum pernah ke Club namun Ayana tahu tempat itu dipenuhi orang orang mabuk dan gadis gadis yang menari dengan baju kekurangan bahan.
"Ha Jin usiamu sudah 24 tahun, setidaknya sekali seumur hidup kita harus melakukan hal hal yang tidak seharusnya" Adam Lee terkekeh.
Cih...Ayana berdecih namun ia sadar jika ini kali pertamanya ia melihat Adam Lee tertawa lepas.
"Oppa! Apa kau juga biasa ke Club saat tinggal di Amerika?"
__ADS_1
"Hampir setiap malam, namun aku tidak minum sedikitpun, karena harus mengantar Daniel pulang kepaviliun dalam keadaan selamat, maka dari itu aku tidak boleh mabuk"
"Hah....Daniel ini"
"Ha Jin, apa kau tahu Daniel begitu menderita dengan kehidupannya yang dulu, namun saat bertemu denganmu dia perlahan berubah dan merasakan setitik kebahagiaan, sayangnya kalian terjebak dalam suatu ikatan yang tidak seharusnya Untuk itu___" Adam Lee menggantung kalimatnya.
"Aku masih tetap tidak bisa Oppa"
"Bagaimana jika ia bersedia meninggalkan keluarganya?"
"Tidak oppa itu tidak boleh terjadi, Ibunya sangat mencintai putranya"
Huh..... Hanya helaan nafas yang terdengar dari kedua setelah bincang bincang singkat mereka, Adam Lee terus melajukan mobilnya hingga mereka tiba disebuah Hotel, Ayana Dan Adam Lee terlebih dahulu akan beristirahat setelah peejalanan yang cukup panjang. Mereka memesan dua kamar yang berada dilantai yang sama.
"Oppa apa kau yakin kita bisa bersenang senang disini?"
"Heem"
"Ah bagaimana aku begitu bodohnya bertanya pada orang yang bahkan tidak pernah bersenang senang di club malam"Ayana menggerutu, ia lalu menerima uluran tangan Adam Lee yang akan membawanya masuk kedalam sebuah club malam yang sangat mewah.
Ayana tampil cantik dengan sebuah dress hitam selutut berlengan panjang, ia membuka mantelnya tatkala pijakannya sudah berada ditengah kerumunan orang orang yang gila akam sebuab hiburan.
Hentakan musik begitu memekakkan telinga, dimainkan oleh seorang DJ asal Amerika yang tengah naik daun, beberapa kumpulan manusia nampak menari dilantai dansa dengan gerakan bebas, Ayana hanya bisa tercengang melihat beberapa pria dan wanita yang tanpa malu bermesraan di depan umum, ia begidik ngeri dan langsung teringat saat Ji Hoon mendapatinya tengah bermesraan bersama Daniel.
Ah memalukan!
"Bagaimana?" tanya Adam Lee seraya meneguk Vodkanya, sementara Ayana hanya meminum jus jeruk, ia tak begitu baik saat mabuk makanya tak ingin minum alkohol.
"Apa?"
"Bersenang senangnya?"
Bersenang senang apanya?
__ADS_1
Ayana memutar bola matanya malas, hingga ia menemukan seseorang yang begitu ia kenali di pojok ruangan, ia duduk disebuh sofa dan dikelilingi wanita wanita cantik yang seksi, bahkan mereka secara bergantian mengusap dada orang itu.