
Ayana berlari dengan deraian air mata, ia melihat semuanya bahkan saat Daniel mendorong dengan kasar tubuh Wanita penggoda itu, namun entah mengapa hatinya sudah terlanjur sakit, ia percaya Daniel henya menjaga tubuhnya untuk dirinya seorang tapi melihat wanita lain mengecup bibir suaminya membuatnya seperti di remat remat hingga hancur.
Brak....Ayana membanting pintu kamarnya lalu memutar kunci sebanyak dua kali, ia tak sanggup bila harus bertemu Daniel sekarang.
"Ayana...."
"Baby...."
"Buka pintunya sayang"
Daniel setengah memohon didepan kamarnya sendiri.
Bahkan pelayan yang berlalu lalang pun tak bisa percaya apa yang mereka lihat dan dengar, 10 tahun membina rumah tangga bersama Lauren Daniel tak pernah menurunkan harga dirinya semili pun seperti itu.
Kini tuan besar salah satu keluarga terkaya di Amerika itu harus memohon kepada sang istri untuk dibukakan pintu kamarnya sendiri.
"Ayana.....Please Baby, itu tidak seperti yang kau lihat..." Bujuk Daniel sambil masih menggedor gedor pintu kamarnya.
"Apa yang kalian Lihat, panggilkan keamanan suruh ia membawa kunci cadangan" Ketus Daniel pada seorang Pelayanv yang memang sejak tadi membersihkan salah satu guci raksasa tidak jauh dari pintu kamarnya.
"Baik Tuan"
Tak lama kemudian seorang petugas keamanan kediaman Bosley membawa kunci cadangan, ia dan Daniel masuk melalui ruang kerja Daniel yang memang berseblahan dengan kamarnya.
Didalam ruang kerja tersebut terdapat sebuah pintu rahasia dibalik rak buku yang menghibungkan langsung dengan walk In Closet dikamarnya.
"Tugasmu sudah selesai" Titah Daniel, ia lalu masuk kedalam walk in Closet kamarnya.
Cekkklekk.... Daniel tidak langsung membuka pintu dengan sempurna karena mendengar isakan tangis Ayana yang begitu menyedihkan.
"Jahat" Racau Ayana disela isakan tangisnya, ia kini terduduk disamping tempat tidur berukuran king size itu sambil memeluk kedua lututnya.
Hufhh.....Daniel yang melihat Ayana menangis hanya bisa mengepalkan kedua tangannya, ia bertekad Betrice siwanita penggoda itu akan membayar setiap air mata yang dikeluarkan oleh Ayana.
Daniel begitu mencintai Ayana, ia tak bisa memikirkan wanita lain selain istrinya itu, Ia begitu memghargai ikatan yang terjalin antara dirinya dan Ayana, bagaimanapun untuk berdiri disamping Ayana sebagai suaminya penuh dengan perjuangan.
"Baby...." Lirih Daniel, ia kini sudah duduk di samping Ayana yang baru saja memunggunginya.
Ayana tidak terkejut bagaimana Daniel berhasil masuk kedalama kamarnya meski pintu utama ia kunci.
"Aku membencimu!" Sentak Ayana.
"Tapi aku mencintaimu" timpal Daniel cepat.
"Pergi sana dengan mantan kekasihmu, ia cantik dan seorang pelukis ternama, ia lebih pantas bersanding denganmu dari pada diriku"
__ADS_1
"Ayana jangan bicara seperti itu, kau tidak lihat aku mendorongnya?" Daniel yakin Ayana bukan wanita bodoh yang menelan mentah mentah apa yang ia lihat.
"Aku bilang benci ya benci" pekik wanita hamil itu. kecemburuan Ayana tak bisa lagi ditoleril, hormon kehamilannya sangat memperparah keadaannya..
Daniel menyugar rambutnya gusar, ia berinisiatif memeluk tubuh istrinya namun percuma, karena Tubuh ayana licin bagai belut, ia berhasil lolos dari dekapan Daniel.
"Ayana...." Daniel semakin gusar meremat rambut pendeknya.
"Siapa bilang dia mantan kekasihku? aku tak pernah memiliki hubungan dengannya! Aku tau di wanita penggoda yang berusaha merayuku, salahmu datang terlambat padahal tadi aku sempat memcengkram dagunya" Tukas Daniel, Pria yang menikah diusia 25 tahun itu dan tidak banyak memiliki pengalaman bercinta hanya bisa memberi alasan yang masuk akal baginya.
Sementara Ayana dengan hormon yang ingin selalu dimanja apalagi disaat seperti ini tidak bisa menerima penjelasan Daniel.
"Aku akan memberi pelajaran pada wanita itu!" Ketus Daniel lalu beranjak dan hendak keluar.
"Tidak perlu , aku yang akan memberimu pelajaran" Ayana menarik paksa lengan Daniel kedalam kamar mandi dan mengguyur tubuh kekar suaminya dibawah shower, ia menggosok bibir tebal Daniel dengan kasar hingga pria itu mengaduh.
"Ayana...apa yang kau lakukan?" Sebenarnya Daniel ingin tertawa, kecemburuan wanita hamil ternyata sangat mengerikan.
setelah cukup lama menggosok bibir Daniel kini Ayana berpindah pada dua telapak tangan suaminya yang ia pakai mendorong tubuh Betrice.
"Ayana....kau sangat lucu" Daniel terima saja diperlakukan seperti itu.
"Jangan mengajakku bicara!aku belum memaafkanmu" Ketus Ayana.
"Astaga Ayana, ini sama sekali bukan kesalahanku wanita itu...."
"Ayana hanya kau wanita yang aku perjuangkan didunia ini, aku bahkan harus bersaing dengan adikku sendiri demi mendapatkanmu, perjuanganku tidak mudah, aku pernah berada dititik terendah dan berfikir untuk mengakhiri hidup karena tak bisa hidup tanpamu, aku bukan pria bodoh yang mudah berpaling sayangku, setelah apa yang kita lalui untuk bisa bersama" Daniel memeluk Ayana dengan paksa hingga tubuh mereka basah kuyup di bawah guyuran shower, Ayana menangis mendengar penjelasan Daniel, benar perjalanan yang harus mereka lalui untuk sampai ketitik ini tidaklah mudah.
Kali ini Ayana membiarkan tubuhnya berada didalam dekapan Erat Daniel.
"Itu Yang terakhir jangan lagi biarkan wanita lain menyentuhmu hemmm" Ayana mendongak menatap wajah suaminya yang semakin mendekat.
Daniel menangkup wajah Ayana dengan kedua telapak tangan besarnya dan memberikan kecupan bertubi tubi disetiap inci wajah cantik nan sendu milik istrinya.
.
.
.
"Tapi Nyonya bagaimana mungkin?"
"Aku tidak ingin bekerja sama dengan pelukis yang berusaha menggoda putraku" tukas Nyonya Bosley seraya tersenyum miring.
"Apa menantumu yang berkata seperti itu? Apa salahnya sebuah kecupan diantara kawan lama.
__ADS_1
Betrice masih berusaha membela diri.
"Cih...kawan lama, kau terobsesi dengan putraku aku bisa merasakannya"
"Maaf Nyonya jangan menghinaku, banyak pria diluar sana yang mengejar ngejar diriku"
"Tapi tak ada yang sebanding dengan Daniel Bosley putraku. bawa semua lukisanmu keluar dari galeryku"
"Apa nyonya fikir hanya galery ini yang ingin mengajakku bekerja sama"
Brak....Betrice menggebrak meja dengan kasar, ia tidak sadar tengah berurusan dengan siapa. Tangan Nyonya Bosley mengepal dibawah meja namun ia masih berusaha meredam emosinya.
"Baiklah buktikan saja!"
Nyonya Bosley sangat geram dengan wanita itu, memiliki dua putra tampan dan kaya raya membuat Nyonya Bosley sudah hapal dengan watak wanita sejenis Betrice ini.
Dengan koneksinya yang luar biasa Nyonya Bosley membuat Betrice akan segera mengakhiri karir pelukisnya diusianya yang ke 36 tahun. Ia benar benar tidak terima Ayana harus mengalami syok yang luar biasa akibat ulah Betrice, apalagi wanita itu tengah mengandung calon penerus kedua bagi keluarga Bosley.
.
.
.
Sarapan pagi hari terasa ada yang berbeda, aura negatif yang selama ini menaungi keluarga Bosley seakan sirna tak bersisa.
Nyonya Bosley menatap Haru kepada kedua putra dan para menantunya.
Darren bahkan sudah berani bersenda gurau dengan Georgina sang istri,sebuah pemandangan yang belum pernah tersaji sejak mereka menikah.
"Ayana, aku Ryuu dan Georgina akan pergi ketaman bermain kau dan Daniel tak ingin pergi?" Ajak Darren antusias.
Daniel yang belum tahu menahu masalah Darren dan Ayana menautkan alisnya bingung. Dari mana asal keberanian Darren mengajak Ayana padahal istrinya itu belum memaafkannya.
"Tidak, aku masih belum bisa beraktifitas berlebih " Jawab Ayana sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Sesaat setelah mendengar Ayana yang berbicara kepada Darren yang seakan tanpa beban sontak membuat Daniel mengulurkan tangannya dibawah meja dan menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Kalian?" Daniel menatap Ayana dan Darren bergantian.
Ada rasa cemburu melihat kedekatan Ayana dan Darren yang begitu tiba tiba.
"Kenapa aku tak boleh mengajak kakak iparku?" Darren menjawab sorot mata Daniel padanya.
"Stress tidak baik untuk anak kita sayang" Ujar Ayana seraya mengelus pipi Daniel yang ditumbuhi bulu bulu halus itu.
__ADS_1
Ayana lalu mendekatkan wajahnya pada Daniel.
"Aku sudah memaafkannya" Lirih Ayana.