
"Adam....Lee apa kau tidak merindukan kampung halamanmu?" tanya Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari laporan yang tengah diperiksanya. sejak kepindahan Ayana ke Elektronik Bosley, Daniel memutuskan untuk berkantor disalah satu anak perusahaannya yang baru merintis dengan alasan mencari suasana yang lebih tenang.
Adam Lee yang tengah berdiri di depan meja itu manatap pucuk kepala atasannya mengernyitkan dahi tentu saja ia rindu dengan kampung halamannya namun ini bukan saatnya meminta cuti dan pulang.
"Tentu saja rindu tuan!!" jawab pria blasteran Amerika-Korea itu.
Kali ini Daniel mengangkat wajahnya menatap asisistennya yang masih dalam keadaan bersiap itu.
"Besok kita akan melakukan perjalanan bisnis ke Korea!!"
"Korea tuan? benarkah? " tak sadar Adam mengulum sebuah senyuman mendengar negara asal Ibunya itu disebutkan.
Daniel dan Adam mempersiapkan perjalanan untuk esok pagi. Kali ini giliran Daniel yang meninggalkan Lauren yang sudah seminggu pulang kerumah. Ia tak pernah lagi peduli saat terakhir kali berbicara dengan istrinya yang sudah membulatkan tekadnya untuk tak lagi berusaha mengobati kemandulannya dengan melakukan proses bayi tabung, Karena hanya akan menghambat perjalanan karirnya.
Sepasang suami istri itu tengah mengamati masing masing asisten pribadinya yang sedang menyusun pakaian kedalam koper, Daniel menatap Lauren yang akan pergi ke Madrid menghadiri acara fashion show, sedangkan Lauren melakukan hal sebaliknya, Ada gurat penyesalan yang terpatri di wajah Lauren mengingat seminggu ini tidak bisa menghangatkan ranjang pengantin mereka, dikarenakan kesibukannya yang ekstreem meski sedang berada di dalam negeri.
Lauren mendekati Daniel dan memeluknya dari belakang sambil berbisik.
"Aku hanya tiga hari di madrid sayang tunggu aku!!"
Daniel membalikkan tubuh dan memeluk istrinya itu lalu balas berbisik.
"Aku pun tak sampai seminggu, sebaiknya siapkan permainan terbaikmu Baby" ucapnya lalu menggigit telinga istrinya lembut hingga lauren kegelian dan menggeliat, mereka tak canggung meski harus melakukannya dihadapan asisten masing masing.Sebenarnya Daniel kesal karena sudah menahan nafsunya selama ini, namun memikirkan dirinya yang akan melakukan perjalanan membuatnya lupa akan hal itu.
Daren melepas Ayana yang berangkat seorang diri ke maldives di bandara setelah semalam melakukan ritual malam mereka, Daren kesal bikan main karena tiba tiba saja Daniel menyuruh Bosnya memberikannya pekerjaan yang banyak dengan alasan menempa adiknya itu sebelum memegang jabatan sebagai Ceo, jika tidak seperti itu tentu saja Daren akan ikut dan menemani Ayana. Daren sempat bertanya pada Calvin mengapa Ayana bisa mendapat hadiah liburan seorang diri? sesuatu yang belum pernah dilakukan perusahaan sama sekali namun karena pesan Daniel yang melarangnya mengatakan apapun pria itu berkilah jika hadiah itu didapatkannya dari seorang client namun karena tidak sempat sehingga Daniel memberikannya kepada Ayana melalui proses pemilihan Acak, dan alasan itupun terdengar logis ditelinga Daren.
__ADS_1
Baru kali ini Ayana melakukan penerbangan dengan first class, biasanya saat kembali ke Jepang ia menggunakan ekonomi class. Di first Class semua serba dilayani mulai dari bagian imigrasi, bagasi hingga jalur khusus masuk pesawat. Sampai di pesawat sudah disiapkan sebuah kursi empuk yang bisa berbaring dilengkapi dengan tv lcd dan seorang asisten pramugari yang siap melayaninya kapanpun.
Dipenerbangan ini tak nampak banyak penumpang hanya ada sekitar 5 orang yang kursinya saling berjauhan, meski begitu Ayana tak melakukan banyak aktifitas, dipesawat ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur selama tujuh belas jam perjalanan, Ayana tidak sadar jika selama dipesawat dirinya terus diawasi oleh Daniel yang duduk di kursi paling pojok.
Sebelumnya Saat dibandara Daniel mengejutkan asistennya karena secara tiba tiba ia memutuskan tidak ikut terbang ke Korea, namun Adam harus tetap terbang dan seakan akan melakukan perjalanan ke Korea bersamanya, seperti yang diketahui Calvin, Daren, lauren, dan juga ibunya.
Daniel bahkan menyiapkan kartu kredit unlimited untuk digunakan Adam selama di Korea sebagai bayaran tutup mulutnya, dan dengan sedikit nada ancaman Daniel akhirnya berhasil mengirim asistenya seorang diri sementara ia terbang ke Maldives.
Ayana sebenarnya merasa tak nyaman bepergian seorang diri, dibandara Maladewa itu ia lebih banyak berjalan menunduk menarik koper dan sebuah tas kecil berisi ponsel dan dompet diatas koper dari pada memperhatikan sekeliling, sementara Daniel terus mengawasi didepannya, dari suara langkah kaki Ayana yang terdengar malas ia tahu jika gadis itu tidak menikmati liburannya.Daniel sengaja memperlambat langkahnya hingga kepala Ayana tethantuk di punggungnya. Seketika Ayana tersadar jika ia telah menabrak seseorang dihadapannya.
"Maaf kan aku" ucap Ayana cepat sambil membungkuk sembilan puluh derajat ala orang Jepang saat menyadari orang didepannya membalikkan badan.
"Its Okay"
deg....
deg....
Jantungnya seketika berdetak cepat diiringi darah yang mendesir membuat bulu kuduknya berdiri Ayana seperti tak bisa merasakan tengkuknya saat benaknya kembali memutar memori kehujanan di lantai atas menara Bosley.
"Tuan...."Sapa Ayana lembut.
Daniel berbinar di balik kaca mata hitamnya hitamnya, saat bertemu kembali dengan gadis bertubuh kecil dihadapannya ia tahu jika sudah memupuk rasa rindu yang begitu mendalam, Daniel tahu jika sepertinya ia telah masuk kedalam sebuah jurang yang tak berujung namun ia masih begitu menikmatinya.
"Kau gadis yang di rofftoop" Daniel membuat pertemuan mereka seakan akan sebuah kebetulan yang ditetapkan alam.
__ADS_1
Meski takut, namun Ayana tak bisa menyembunyikan senyumannya yang merekah sempurna menyadari jika dinegeri dimana ia pertama kali mnginjakan kaki ini ada seseorang yang ia kenal.
" Ayana Tuan" ucap Ayana mengingatkan namanya, padahal Daniel sama sekali tak pernah alpa memikirkan nama itu setiap Hari..
Daniel hanya mengangguk angguk seakan akan baru saja kembali mengingat nama tersebut.
"Kau sendiri? tak mengajak kekasihmu?" tanya Daniel malas dan penuh kepura puraan, padahal dibalik semua peristiwa yang dialami Ayana adalah hasil arahan sang sutradara Daniel Bosley.
"Tidak tuan, ini adalah hadiah dari perusahaan Bosley dan hanya untuk satu orang" Ayana mengangkat satu jarinya, dan sekali lagi Membuat Daniel menganggukkan kepala, "Tuan sendiri tidak membawa keluarga? istri dan anak tuan?" .
"Kau tidak lihat aku seorang diri!!" ketus Daniel, Ayana memanyunkan bibirnya padahal ia tadi bertanya hal serupa tanpa melihat dirinya juga seorang diri.
"Kau menyebalkan Tuan ck.." Ayana berdecak kesal, sementara Daniel yang mendengarnya tersenyum puas.
"Kau akan menginap dimana?" tanya Daniel, yang juga belum menentukan pilihan akan menginap dimana, sesungguhnya ini adalah kali pertama ia melakukan perjalanan tanpa persiapan ,biasanya ia tak perlu memikirkan hal receh mengenai hotel namun kali ini ia bahkan membawa kopernya sendiri.
Ayana nampak berfikir ia mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya yang ia simpan di atas koper dan membuka percakapannya dengan Calvin. Direktur pemasaran itu nampak merekomendasikan beberapa resort dan hotel namun yang paling ia rekomendasikan adalah resort coco budu hithi yang terletak di pulau budu hithi sekitar empat puluh menit perjalanan dari kota Male dengan Speadboat.
"Sepertinya aku akan menginap disini tuan"Ayana dengan polosnya memperlihatkan layar ponsel bergambar sebuah villa diatas laut" ini rekomendasi dari atasanku di Bosley" Ayana lalu menarik lagi ponselnnya dan menyimpannya ditas kecil.
Daniel mengangkat sebelah alis, dan memasang senyum smirk, kini ia tahu dimana akan menginap.
Mereka berdua berjalan beriringan hingga keluar dari Bandara, Karena tak ingin terlihat terlalu peduli pada Ayana Daniel memutuskan untuk meninggalkan gadis itu dengan sebuah taxi.
Semantara Ayana mengendarai taxi lainnya, namun sebelum beranjak seorang pria menabrak tubuh mungilnya hingga terhuyung bersama dengan kopernya, pria gendut yang sedang terburu buru itu merampas taxi Ayana dan tidak sadar jika koper mereka tertukar.
__ADS_1