HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 82


__ADS_3

Adam Lee segera menghubungi Ji Hoon, satu satunya yang terlintas difikiran Adam Lee hanya gadis itu.


"Iya, Ha neul Oppa?" gugup Ji Hoon menjawab, ini kali pertama ia dihubungi Adam Lee sejak terakhir kali mereka bertukar nomor ponsel untuk memantau proses belajar Ayana.


"Ji Hoon, sepertinya terjadi sesuatu dengan Ha Jin, bisa tolong untuk melihatnya? ponselnya tidak aktif, mungkin ia masih di mini market"


"Baik Oppa, kebetulan aku disini" Ji Hoon segera mematikan ponselnya, tak ada lagi waktu untuk bebahagia karena mendapat telepon dari sang pujaan hati, Lee Ha Jin dalam bahaya.


"Tuan, sepertinya terjadi sesuatu dengan kekasih anda" ujar Ji Hoon


Ji Hoon dan Daniel lalu menghambur masuk kedalam toko, langkah keduanya terhenti tatkala menemukan pintu kamar Ayana yang terkunci dari dalam.


"Ayana..." panggil Daniel Kuat sambil memukul mukul permukaan pintu yang keras, berapa kali pun ia mengulang tetap tak ada jawaban dari dalam.


"Tuan cari sesuatu untuk membuka pintunya!" Titah Ji Hoon


"Ayana, kumohon buka pintunya sayang" Daniel semakin frustasi ia tak lagi menghiraukan perkataan Ji Hoon dan langsung mengambil ancang ancang untuk membuka pintu, dan dengan sekali hentakan kakinya yang kokoh pintu tersebut terbuka bahkan engsel atasnya pun sampai lepas.


Daniel segera masuk dan meraih tubuh Ayana yang sudah terkulai lemas, menyandandarkan wajah Ayana didada bidangnya sambil terus mengusap lembut pipi wanita yang pernah ia titipi benih itu.


"Apa didesa ini ada rumah sakit yang besar"


"Tidak Ada Tuan" Ji Hoon menggeleng seraya mengamati perlakuan Daniel kepada Ayana, pria berbadan tegap dan atletis namun berhati hello kitty ketika berhadapan dengan wanita yang ia cintai.


Apa sebenarnya alasan Adam Lee menolak hubungan Ha Jin dan Daniel? Ji Hoon bertanya dalam benaknya sambil membaca sebuah pesan yang baru masuk.

__ADS_1


Bantu aku membawa Ha Jin ke rumah sakit xxx dengan taxi, setelah keretaku tiba aku akan menyusul ke Seoul, ada seorang pria bule yang baru pindah jangan biarkan ia dekat dengan adikku.


Ji Hoon, mendesah pasrah entah bagaimana ia akan menjelaskan kepada Adam Lee nantinya.


"Aku akan membawa Ha jin ke rumah sakit di Seoul"


"Biar aku saja" Daniel menghentikan gerakan tangan Ji Hoon yang mulai mengetik sebuah pesan guna memesan taxi, pria itu memgeluarkan benda pipih dari dalam saku celananya dengan tubuh Ayana yang masih ia dekap erat.


"Calvin, siapkan 1 helikopter ke desa tempat tinggal Ayana, dia butuh kerumah sakit segera" titah Daniel.


Dengan menggunakan helly Ayana akan lebih cepat mendapatkan perawatan, karena bisa mengikis waktu dua jam perjalanan apabila menggunakan mobil le Seoul.


Tak lama berselang sebuah deru helikopter mulai terdengar, Daniel menggendong tubuh Ayana menuju mobil dan membawanya pergi kesebuah lapangan terbuka dimana burung besi berukuran kecil itu sudah menunggu.


"Aku harus ikut Tuan, ini perintah Adam Lee, aku harus bertanggung jawab" Pinta Ji Hoon, saat Daniel justru menghalaunya untuk masuk kedalam helly.


"Tapi Tuan....aku"


"Maaf, sampaikan maafku pada Adam Lee" ucap Daniel sebelum helly itu benar benar pergi membawa tubuh Ayana.


"Aish....."Ji Hoon meramas kuat rambutnya," dia tidak akan membawa Ayana ke Amerika kan? apa yang akan ku katakan pada Lee Ha Neul?" gadis itu berbicara pada dirinya sendiri seraya menggigit kuku kukunya yang cantik.


.


.

__ADS_1


Meski bukan dinegaranya bukan berarti Daniel tidak bisa mendapatkan pelayanan no 1, para petinggi rumah sakit langsung menyediakan fasilitas nomor wahid begitu mengetahui jika pasien yang dibawa dengan helly itu adalah istri seorang Daniel Bosley.


Meski di Korea Bosley Group hanya memiliki kantor perwakilan yang menyalurkan alat elektronik medis namun Daniel tetap dilayani dengan baik atas perintah Calvin yang memegang kendali orang orang di kantor perwakilan tersebut, mereka bahkan mengirimkan seorang penerjemah khusus untuk memudahkan Daniel berkomunikasi di rumah sakit.


Untuk kesekian kalinya Ayana menjelani serangkaian test dikepala dan seluruh tubuhnya, dokter tidak menemukan ada yang salah kecuali limpa yang memang sejak lama menghilang.


Daniel menatap sendu wanita yang kini terbaring lemah. dengan penuh kasih ia membersihkan peluh peluh yang berkucuran disekitar wajah Ayana, ia bahkan berkeringat ditengah musim dingin ini. Yah Ayana memang sudah terbiasa dengan mimpi buruk yang menggerayanginya, namun kali ini orang tuanya datang dan memeluknya, sebuah pelukan perpisahan yang tidak sempat ia lakukan, dua orang tua itu seakan bisa tenang karena menitipkan Ayana dengan orang yang tepat.


Berapa kali pun kau menyakiti dirimu takdir tidak akan pernah berubah, jangan menghianati kehidupan yang sudah ayah dan ibu berikan padamu, Semua orang akan mati sayangku, jalani hidupmu dengan baik bersama orang orang yang mencintaimu.


Gambaran yang jelas itu perlahan berubah menjadi siluet, hingga benar benar menghilang di ujung dunia mimpinya. Kedua sudut mata Ayana basah dalam kegelapan mimpinya, membuat Daniel semakin terenyuh, ia lalu naik dan berbaring diselelah Ayana memeluknya dan menenggelamkan wajah Ayana pada dada bidangnya, inilah alasan mengapa ia tidak membiarkan perawat memasang selang infus, ia ingin menikmati waktu berdua bersama Ayana seperti saat ia masuk rumah sakit pertama kali Di Amerika.


Daniel mengecup kedua mata Ayana yang basah sambil terus melafalkan permintaan maaf yang mendalam.


Kenapa kau kembali? kau tahu aku juga merindukanmu, namun aku sudah memutuskan untuk pergi, tak bisakah kau hidup bahagia saja, wanita bukan hanya aku seorang, kau mengorek luka dan memberinya obat secara bersamaan Daniel, ingatan yang ingin ku kubur kini telah kembali, kenapa kau harus jadi bagian ingatan tersebut?.


Andai bisa kuulang waktu akan kuminta tuhan menghilangkan semuanya ingatan dan menyisakan tentang dirimu seorang.


Ayana terisak dengan mata yang masih terpejam erat, dada bidang dengan bulu halus ini sejak pertama sudah melindunginya dari guyuran air hujan. Dan ia merindukannya.


"Maaf Ayana" Lirih Daniel, mendengar isakan halus dan getaran kecil dari tubuh Ayana, ia terus membelai pucuk kepala wanita yang paling ia cintai itu hingga terlelap, atau lebih tepatnya pura pura terlelap.


God...ini begitu berat, masa lalu itu tidak bisa kupikul sendiri, mengapa memberikan kebahagian bersama Adam Lee dan Ibunya jika pada akhirnya aku harus kembali?


"Aku tidak akan memaksamu Ayana, tetap simpan ingatan mengenai diriku didasar hatimu yang terdalam" Bisik Daniel lembut, mungkin ia akan menuruti saja kemauan Adam Lee, menjalin hubungan baik dengan mantan asistennya itu, dan menerima Ayana sebagi Lee Ha jin.

__ADS_1


Haruskah aku mengganti identitas juga? Agar bisa menjadi bagian dari masa depanmu sebagai wanita korea bernama Lee Ha Jin?.


Daniel lalu meraih ponselnya, dengan satu tangan diatas nakas, mengetik alamat rumah sakit dan memgirimkannya kepada Adam Lee.


__ADS_2