HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 57


__ADS_3

"Bagaimana makan malamnya?" tanya Daren yang baru saja datang, ia juga habis menikmati makan malam bersama sang Ibu di lantai dua.


Ibunya itu terlihat antusia saat menceritakan liburannya diHawai bersama Lohan sang asisten.


"Enak" Jawab Ayana singkat sambil meneguk air putih dan menaruh kembali gelasnya diatas nampan.


Melihat isi nampan sudah habis dua orang pelayan yang bertugas mengawasi Ayana makan segera mengambil nampan tersebut dan membawanya keluar.


Selama ini Ayana memang diperlakukan layaknya pasien rumah sakit yang 3 kali sehari harus makan diatas tempat tidur.


Daren duduk di tepi tempat tidur, mengusap pucuk kepala Ayana dan menyelipkan beberapa helai di daun telinga wanita hamil yang nampak sangat cantik itu.


"Bersabarlah Ayana, aku kini tengah menata hatiku" ucap Daren dengan tatapan penuh penyesalan.


Yah! Ia sudah memutuskan untuk kembali hidup normal dengan melupakan semua dendam kepada Ayah Ayana.


Saat perusahaan yang dipimpinnya kelak sudah bisa mandiri tanpa dibayang bayangi Bosley Group, ia akan meminta kepada Daniel untuk memberikan hak penuh atas Bosley Ponsel untuk dirinya.Ia ingin membawa Ayana keluar dari paviliun ini dan memiliki mansion sendiri, dimana keluarga kecil mereka akan hidup bahagia bersama selamanya.


Ayana hanya memdesah pasrah, ia sudah tidak peduli lagi dengan masa depan pernikahannya yang entah akan berakhir seperti apa! Ia hanya ingin kelak bisa hidup sebagai Ibu yang baik bagi anak yang kini ada didalam kandungannya.


"Bagaimana pemeriksaannya?" Daren mengusap perut Ayana yang terlihat sudah semakin membuncit.


"Kata dokter usianya sudah 7 bulan, dan berjenis kelamin laki laki" Ayana ikut mengusap perutnya sembari tersenyum, jika mengingat anak yang dikandungnya maka segala masalah ia hadapi terasa sudah dihempaskan begitu saja.


"Laki laki? Benarkah?" senyum Daren merekah sempurna, selama pemeriksaan beberapa bulan kebelakang dokter kandungan memang belum bisa memastikan jenis kelam*nnya dikarenakan posisi bayi yang menyembunyikan inti tubuhnya itu.


"Heem.."


"Jika ia lahir Maukah kau memberinya nama Ryuu ?" pinta Ayana.


"Ryuu? Apa artinya?"

__ADS_1


"Naga!Orang Jepang melihat naga sebagai sosok dermawan dan pelindung, Naga melambangkan keberanian, kekuatan, dan kebijaksanaan, aku ingin kelak Ryuu memiliki sifat seperti itu" Ayana kembali tersenyum, senyum yang membuat Daren semakin merasa bersalah kepada istrinya itu.


Ayana kembali mengusap lembut perutnya, Ryuu...aku harap kau memiliki semua sifat naga, dan jangan menjadi seperti ibumu yang hina ini . Batin ayana.


Daren merengkuh tubuh Ayana kedalam dada bidangnya, rasanya sudah terlalu lama ia membiarkan istrinya itu menderita.


"Maafkan aku Ayana" Bisik Daren.


"Tidak! Aku yang harus meminta maaf padamu" balas Ayana, ia sadar Daren memiliki kesalahan besar karena telah berselingkuh dan menyimpan dendam kepada dirinya dan keluarga, namun kesalahan Ayana tidak kalah besarnya, ia sudah jatuh cinta dan menjadi pemuas nafsu kakak iparnya sendiri.


"Saat anak ini lahir, aku berjanji akan membawa ia pulang ketanah kelahiran Ibunya" ujar Daren, kali ini ia begitu bersungguh sungguh.


Mendengar perkataan Daren, Ayana hanya tersenyum pasrah. Jika suatu saat tuhan menghukumnya melalui Daren dengan dosa yang telah diperbuatnya maka ia sudah bersiap dengan kemungkinan buruk sekalipun.


.


.


.


Daren tak langsung mengijinkan, ia yang mengenakan piyama tidur sambil mengecek beberapa pekerjaannya di tablet seraya menyenderkan punggung di kepala ranjang terlebih dahulu menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Apa kau tidak mengantuk?"


"Belum"


"Pergilah" Daren tersenyum, jika itu ruang kesenian Daren tak pernah keberatan karena ruang tersebut juga berada dilantai 3, Ayana hanya perlu melewati sebuah koridor panjang dan satu belokan kekiri.


Ayana segera keluar, sudah tak ada pergerakan dari para pelayan dilantai ini, Ayana menyusuri koridor panjang ditemani cahaya temaram dari lampu hias yang terpatri disepanjang dinding.


Ia tiba didepan ruang kesenian dengan lampu yang masih menyala,mungkin saat keluar mertuanya itu lupa mematikannya.

__ADS_1


Ayana berjalan kearah pojok ruangan dimana lukisan setengah jadinya terpampang,karena mata yang tak bisa dipejamkan ia memutuskan menyelesaikan lukisan setangkai bunga mawar itu malam ini.


Saat tengah meramu cat didalam pallette terdengar derap langkah dari luar, Ayana mencoba menjenjangkan lehernya guna melihat dari pintu masuk sosok yang mungkin akan masuk kedalam ruangan tersebut, didalam sana banya berjejer lukisan jadi maupun setengah jadi sehingga saat duduk pandangan akan sangat terbatas.


Klek pintu terbuka tak lama kemudian terdengar suara Nyonya Bosley dan Lohan saling berbincang, dan disaat yang sama kuas yang dari tadi digunakan Ayana untuk mengaduk cat air di pallette terjatuh kelantai dan masuk dibawah sela lukisannya, sehingga ia perlu berjongkok guna mencari kuas tersebut, sehingga Lohan dan Nyonya Bosley tidak menyadari keberadaannya.


"Nyonya apa kita harus melukis dimalam hari?" Kesal Lohan dengan wajah kantuknya, seminggu berlibur di Hawai membuatnya rindu dengan tempat tidurnya sendiri dan ketika mau terlelap Nyonya Bosley malah masuk kekamarnya, meminta wanita berkacamata itu untuk menemaninya melukis.


"Sudah! Jangan banyak protes" Tukas Nyonya Bosley yang segera memberi isyarat agar asistennya itu menyiapkan sebuah kanvas dan cat didekat ia duduk kini.


Kebiasaan Nyonya Bosley saat bahagia dan bersedih maka ia akan melukis, namun kali ini Lohan masih melihat gurat kesedihan dan kesal diwajah tua itu, Liburan seminggu di Hawai nyatanya belum bisa menghilangkan keresahannya , meski saat bercerita dengan Daren, ia hanya memceritakan kebahagiannya.


"Nyonya, apa tuan Daniel sekeras kepala itu?" tanya Lohan.


Ayana yang mendengar nama Daniel disebut, batal untuk kembali ketempat duduknya, ia tetap berjongkok meski sudah menemukan kuasnya. Entah mengapa ia penasaran ada masalah apa sebenarnya dengan Daniel.


"Jangan menyebut nama anak keras kepala itu, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi kepadanya" Nyonya Bosley dengan gusar mencoret coret kuasnya diatas kanvas,malam ini ia hendak melukis seorang wanita tua dengan penampilan urakan yang seakan melukiskan suasana hatinya kini.


"Nyonya! Ini karena nyonya juga, andaikan dulu kita melakukannya secara diam diam, mungkin tak akan ada yang tahu, Tuan Daniel tidak akan menyimpan perasaan kepada nona Ayana"lanjut Lohan, ia memang merasa jika ide nyonya Bosley tak akan berhasil, mungkin Ayana berhasil mengandung tapi justru memunculkan masalah yang lebih pelik lagi.


Ayana yang mendengar penuturan Lohan itu menautkan kedua alisnya, jadi selama ini mereka tahu mengenai perasaan Daniel? Dan apa yang harusnya dilakukan diam diam ?, Ayana mulai merasa ia akan segera diusir dari keluarga Bosley, tentu Nyonya Bosley tidak akan bisa menerima perselingkuhan yang terjadi antara dirinya dan Daniel.


"Aku sangat menyesal Lohan, andai saat itu kita menggunakan obat perangsang dua dosis sekaligus dan membuat Ayana dan Daniel bercinta dibawah alam sadarnya, lalu Ayana hamil tanpa perlu Daniel ketahui jika benih dalam kandungan Ayana adalah miliknya, ah...mungkin aku akan memggendong cucuku dengan bahagia, dan menyimpan rapat rapat cerita kelahirannya" sesal Nyonya Bosley sembari memperlambat alunan kuasnya diatas kanvas.


Ayana yang mendengar perbincangan itu segera menutup mulutnya dengan bulir air mata yang mulai mengalir deras, ia tak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya.


Relung fikirannya masih belum bisa mencerna sempurna maksud dari perkataan nyonya Bosley, namun ia bisa menangkap jika Nyonya Bosley sangat berharap ia dan Daniel tidur bersama dan menghasilkan buah cinta.


Lantas...?


Ayana menunduk dan memandangi perutnya, mungkinkah bayi didalam adalah milik Daniel?

__ADS_1


__ADS_2