HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 78


__ADS_3

"Ayana....benar dia Ayana, dan dia masih hidup" tangan Daniel bergetar memegang benda pipih lebar yang dibawa Calvin, seketika air matanya luruh, ia tidak peduli dengan penjelasan Calvin mengenai kondisi Ayana yang kehilangan ingatannya, wanita itu masih hidup saja ia sudah begitu bahagia, jangankan ingatan, bila Ayana kehilangan kedua kaki ataupun tangannya Daniel bahkan masih sangat mencintainya.


"ish....." Calvin meringis kesakitan ia lalu bangkit dari peraduannya dari atas ubin yang keras dan dingin, sambil menyeka darah yang mengalir sudut bibir dan pelipisnya ia duduk disamping Daniel, merangkul pundak sahabatnya yang bergetar karena tangisan, ia sama sekali tak menaruh dendam atas bogem mentah yang baru saja dilayangkan Daniel kepadanya, karena tega menyembunyikan Ayana. Kini ia justru bahagai melihat ada secerca harapan kehidupan yang menghampiri sahabatnya itu.


"Entah hukuman apa yang akan kuberikan denganmu dan juga Adam Lee" racau Daniel dalam tangis bahagianya.


"Kau hanya perlu bahagia sahabatku, itu hukuman terbaik bagi kami berdua, kini Ayana hanya milikmu seorang, Daren tak akan mengejarnya ia pun sudah memiliki kehidupan sendiri, Bawa Ayana ke istana yang sudah kau siapkan, aku bahkan sudah menyelesaikan pembangunannya" tutur Calvin.


sejak Ayana dinyatakan meninggal, dan Adam pergi begitu saja, Daniel memang tidak melanjutkan pembangunan villanya di Bloom Islan, namun Calvin yang mengetahui segalanya dan sudah menebak jika hari seperti ini akan tiba, diam diam melanjutkan pembangunannya.


Daniel tertawa tidak percaya mendengar Calvin, sahabatnya yang satu ini memang benar benar brengsek! Padaha Villa itu adalah rahasia, namun dia pun menemukannya, Ingin rasanya ia menghajar Calvin hingga tak bisa berjalan lagi, namun bunga bunga yang kini mengitari hatinya seakan mencegah.


.


.


.



"Salju pertama" gumam Ayana, sejenak ia menjeda sarapanya bersama kakak dan ibunya, mengamati butiran salju tipis yang saling berjatuhan dihadapannya.


Adam dan ibunya masih fokus dengan sarapan ala korea dihadapnnya , berbagai macam lauk sayuran dan kimchi yang begitu nikmat di awal musim dingin.


"Ibu, apa aku selalu menyukai salju pertama?"


"Hah?" Nyonya Lee meletakkan sumpitnya, lalu saling bertukar pandangan dengan putranya sebelum memberanikan diri menjawab, "Tentu saja putriku, kau selalu menyukai salju pertama" Jawabnya gugup, namun wanita yang tua itu segera menyamarkannya dengan sapuan hangat dipucuk kepala wanita yang sudah ia anggap sebagai putrinya itu.


"Ah...pantas saja jantungku berdebar debar saat melihat salju pertama dimusim dingin ini" Ayana tersenyum lebar, ia lalu melanjutkan sarapannya, "Oh iya Oppa, hari ini kan sabtu, aku ada kelas dengan Ji Hoon eonnie, kau tak ingin mengantarku? Sekalian bertemu Ji Hoon" sambung Ayana, ia berbicara dengan mulut penuh.


"Aish....kau ini" Adam mengambil tissue dan membersihkan saus kimchi yang tertinggal dibibir Ayana, "Aku akan mengantarmu, dan bertemu Ji Hoon, agar kau puas".


Mendengar niat Adam Lee Ayana tersenyum puas, ia memang sudah sangat ingin melihat pria yang ia kira saudaranya itu segera menikah.


"Oh iya Oppa setelah aku lancar berbahasa Korea rencananya aku ingin membuka kursus bahasa Jepang, kau masih memiliki Ijazah ku kan???" tanya Ayana tiba tiba.


Uhuk...

__ADS_1


Uhuk....


Pertanyaan itu berhasil membuat Adam Lee terbatuk batuk, Ijazah? Mana ia punya. Adam Lee mengarang cerita mengenai Ayana dan dirinya yang sewaktu kecil ikut tinggal di Amerika bersama sang Ayah, karena itu ia tidak lancar berbahasa korea namun fasih berbahasa ingris. Beberapa bulan yang Lalu Ayana menyadari jika dirinya sangat mahir berbahasa Jepang dan Adam kembali menciptakan kebohongan jika saat kuliah di Amerika Ayana mengambil jurusan Sastra Jepang.


"Ijazah? Maaf tapi Oppa meninggalkannya di Amerika, sebaiknya jangan berfikir untuk bekerja kau harus fokus mengembalikan ingatan Hemm" Adam mengelus punggung tangan Ayana yang terulur diatas meja makan.


"Hufht....baiklah Oppa, aku memang tidak sabar mengingat kehidupanku yang dulu" Ayana nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya, sementara Adam dan Nyonya Lee tersenyum miris. Mereka berharap Ayana tidak akan pernah lagi mendapatkan ingatannya, dan selamanya tinggal bersama mereka sebagai Lee Ha Jin.


"Ah, Ibu aku sudah selesai, aku ingin menelfon eonnie dulu, mengabarkan jika kakakku yang tampan akan mengunjunginya" Ayana menggoda Adam sebelum masuk keruangan yang lainnya.


"Hufht.....Adam menghela nafas berat, tubuhnya terasa panas meski salju tengah menyapa, kini bukan hanya Calvin yang mengetahui keberadaan Ayana, bahkan sebuah nomor tidak dikenal kembali menghubunginya.


Terima kasih sudah menjaga Ayana, tugasmu sudah selesai aku akan menjemputnya. From Daniel.


Adam menyugar rambutnya, tentu riak wajah Adam terbaca sang ibu.


"Ha neul aa....ada apa?"


"Ha jin! Seseorang mungkin akan membawa Ha Jin pergi, bu" ucap Adam penuh nada frustasi.


"Siapa?" Nyonya Lee terperanjat," Apa sebaiknya kita pindah ke tempat lain, yang lebih jauh? ibu tidak Ingin Ha Jin meninggalkan kita" Nyonya Lee menunduk lesu, matanya berkabut, sejak kedatangan Ayana luka hatinya karena kehilangan Ha Jin yang tenggelam perlahan terobati, dan kini putranya mengatakan seseorang akan membawa Ayana, rasanya luka yang mulai mengering itu perlahan terbuka kembali.


.


.


.


"Qumawoo eonnie kawai "(terima kasih eonnie cantik ) ucap salah seorang gadis berseragam es em pe, seraya menundukkan kepalanya kepada Ayana lalu berlalu keluar, sudah sejak lama gadis kecil itu selalu datang untuk mengerjakan tugas bahasa ingrisnya sebelum pergi kesekolah, ia juga yang membuat Ayana pertama kali menyadari jika ia begitu mahir berbahasa Jepang, maka dari itu gadis itu selalu memanggil Ayana dengan sebutan Kawai.


"Eonnie, Aku penyuka Dorama Jepang, aku hapal betul garis wajah wanita Jepang, dan itu terpahat jelas diwajahmu, kau yakin orang Korea??" tanya gadis itu saat pertama Kali melihat Ayana di mini market, setelah itu tanpa terasa sebuah kalimat lolos begitu saja dari bibir Ayana.


Watashi wa nihonjindesu ka (Apa aku orang Jepang?)


Yah, Ayana menyadari jika ia sangat fasih dengan bahasa itu, awalnya ia bingung namun setelah Adam mengatakan ia adalah mahasiswa sastra Jepang Ayana bisa menerimanya.


"Hati hati dijalan!" Teriak Ayana, pada gadis kecil itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu mini market kembali terbuka seorang pria tinggi besar masuk dan langsung menghambur ke lemari minuman.


"Selamat datang" Sapa Ayana ramah, tanpa memperhatikan wajah pelanggannya tersebut, ia kembali duduk sambil memeriksa laporan penjualan kemarin di dalam laptop.



Ayana aku merindukanmu


Ingin rasanya memelukmu erat


Daniel mengamati wajah Ayana dari pantulan lemari kaca minuman, meski wajahnya sedikit tirus, namun rona kebahagiaan begitu nyata terpampang disana.


Apa kau bahagia dengan kehidupanmu?


Tidak adakah sedikit saja ingatan yang tersisa untukku?


Tak terasa bulir air mata Daniel kembali jatuh, sial! Umpatnya setahun belakangan ini ia berubah menjadi pria yang begitu cengeng, tapi jika itu karena Ayana maka berubah jadi apapun ia ikhlas.


Daniel mendongakkan kepalanya, guna menghambat bulir beningnya, ia menyusut sebentar dengan kedua tangannya lalu kembali memakai kaca mata hitamnya, ia berbalik setelah mengambil dua kaleng bir dingin dari dalam lemari.


Dengan dada yang bergemuruh Daniel memghampiri Ayana dan meletakkan belanjaannya di atas meja kasir, tangannya bergetar tatkala mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dan hendak membayar.


Wanita itu tersenyum saat mengambil kartu dari tangan Daniel, sebuan senyuman yang begitu dirindukan Daniel, sebuah simpul yang bahkan bisa membuat dadanya bergetar hebat.


Aku merindukanmu


Seketika tungkai Daniel melemah,namun ia segera menopang tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada meja kasir.


"Aku merindukanmu, aku kira tidak akan pernah melihatmu lagi" gumam Daniel seraya tertunduk dalam.


"Ada apa tuan? Kau baik baik saja?" tanya Ayana heran, ia segera keluar dari meja kasir dan sudah berdiri disisi daniel, wanita itu memegang pundak Daniel yang bergetar," Tuan...ap...." Ayana kehabisan kata kata saat Tuan yang tidak ia kenali itu tiba tiba mendekap tubuhnya kuat, sambil berujar lirih ditelinganya.


"Maafkan aku Ayana"


"Tuan...Tuan..." Ayana berusaha melepaskan pelukan Daniel dengan menepuk lengan pria itu," Tuan ada apa denganmu?" Ayana masih berusaha tidak terlihat panik.


Tak lama kemudian, pintu masuk kembali terbuka, Ayana menatap sosok Adam Lee yang baru masuk, ia terengah engah dengan dada yang naik turun, Ayana bisa menebak jika pria itu habis berlari sekuat tenaga.

__ADS_1


"Oppa!"


__ADS_2