
"Tinggalkan mobilmu, supirku akan membawanya pulang, aku akan memgantarmu kesuatu tempat" Jalas Calvin saat ia dan Daniel ajalan bersisian keluar dari ruangan rapat.
"Apa maksudmu? Aku harus segera pulang, Ayana sendirian"
"Sendirian? Astaga Daniel, pelayan yang berjumlah 100 orang itu kau anggap apa?" ucap Calvin, namun setelahnya ia memgepalkan tangan, begitu banyak pelayan di Paviliun Bosley tapi tidak bisa melindungi Ayana dari Lauren.
Mereka berdua akhirnya sampai di tempat parkir, Calvin mengendarai sendiri mobilnya dengan Daniel yang nampak menurut saja duduk disamping kemudi.
"Sebenarnya kau mau mengajak ku kemana?"
"Ikut saja!" Calvin tidak berani memgatakan yang sebenarnya, karena tidak siap dengan Daniel yang mungkin akan menggila dan menghajarnya karena tidak memberitahukan keadaan Ayana diawal.
"Oh iya Daniel, jika Lauren memyakiti Ayana apa yang akan kau lakukan?" tanya Calvin tiba tiba.
"Lauren?" Daniel menautkan kedua alisnya, ia tak pernah berfikir sejauh itu, karena selama ini ia menjaga Ayana dengan nyawanya sendiri.
"Seujung kuku ia menyentuh istriku aku akan mematahnkan kedua tangannya" Jawab Daniel sekenanya.
__ADS_1
Mendengar hal itu Calvin menghela nafas panjang. Ia lalu mengganti topik pembicaraan mengenai perusahaan hingga tak terasa mobil mereka sudah memasuki pelataran parkir sebuah rumah sakit mewah.
"Mengapa ke rumah sakit?" Daniel sedikit bingung saat membuka sabuk pengamannya, ia menatap bangunan menjulang tinggi dihadapannya.
Calvin masih enggan menjawab, dan terus berjalan hingga mereka berdua sampai pada lantai 29 bangunan itu. Langkah Calvin terhenti dan berbalik menatap wajah bingung Daniel.
"Daniel, Ayana baik baik saja sekarang, ia berada didalam sekarang" terang Calvin yang sontak membuat Daniel mengeraskan rahangnya? Ia tentu tahu maksud perkataan Calvin.
Daniel segera membuka kenop pintu "Urusan kita belum selesai" Sentaknya pada Calvin lalu masuk kedalan kamar Ayana.
"Baby" Daniel segera memeluk erat tubuh Ayana, lalu menangkup kedua pipinya dimana terdapat banyak luka cakaran.
"Siapa? Siapa yang melakukan ini padamu Arghhhh" Daniel berteriak frustasi, ia lalu bangkit dan meninju tembok dengan kuat hingga buku buku tangannya memutih dan kebas, untungnya tidak sampai berdarah.
Ayana terperanjat, baru kali ini ia melihat Daniel begitu emosional, Sebagai seorang suami Daniel merasa gagal melindungi istrinya.
"Lauren mantan istrimu" Timpal Calvin yang masuk belakangan.
__ADS_1
"Kau? Kenapa tidak memberitahuku" Daniel meraih kerah baju Calvin.
"Tenanglah Daniel....., kau membuat Ayana ketakutan" Calvin menunjuk dengan dagu wajah Ayana yang terlihat pucat pasi.
"Sayang" Daniel kembali merengkuh tubuh Ayana, hingga wajah mungilnya terbenam di dada bidang Daniel.
"Aku baik baik saja Daniel, jangan marah seperti itu heemm" bujuk Ayana.
"Maafkan aku sayang yang tidak bisa menjagamu, aku akan pastikan Lauren tidak akan lagi bisa menggunakan tangannya untuk mendesain" Daniel mengecup pucuk kepala Ayana bertubi bertubi.
"Apa kau terkejut Ayana?" tanya Calvin yang berdiri disisi ranjang Ayana, ia tidak bisa melihat anggukan kepala Ayana yang menjawabnya karena masih dalam dekapan Daniel.
"Apa kau tau ? saat mengira kau sudah mati, ia seperti orang gila saat menghajar Darren, jangan mengira kau menikah dengan pria lembut karena suami mu ini sebenarnya adalah pria dingin yang tidak berperasaan. Dia kejam Ayana" jelas Calvin, dan sedikit berbisik di akhir kalimatnya.
Namun Daniel tak terlalu menggubris ocehan Calvin, pria itu memang selalu berbuat sesukanya.
"Lauren brengsek!!" Sekali lagi Daniel mengamati wajah sang istri dan memberikan kecupan disetiap luka cakaran disana bahkan ada di leher Ayana juga.
__ADS_1