
"Bagaimana jika Daren melihat ini, ia akan salah paham" ujar Ayana dengan tatapan lesu dan memelas, ah! Kenapa garis wajah pria dihadapannya begitu indah membuatnya enggan untuk menoleh, fikirannya mulai bisa membaca situasi,tak mungkin Daniel berani berbuat seperti ini jika Daren memang ada disini.
Apakah ia tengah mengajukan pertanyaan basa basi?
"Daren tak mungkin kesini, ia tak akan sanggup mengakses keberadaanmu" jawaban Daniel persis yang difikirkan Ayana, lantas? Apakah Daniel yang menolongnya ketika terjatuh? Kemana Daren? Bukankah ia ada didepan matanya? Bahkan tatapan merah saga Daren sebelumnya masih begitu jelas dipelupuk mata Ayana.
Ada gurat kecewa yang terlukis jelas di wajah Ayana, mungkinkah suaminya itu benar benar marah padanya karena masuk tanpa izin dan melihat foto foto itu?
Sudut mata Ayana mulai basah menatap Daniel yang memandangnya dengan tatapan penuh kasih.
"Kenapa kau menagis, ?" Daniel mengusap mata Ayana, "Kau sedih karena suamimu ?, apa ia menyakitimu? " cecarnya penasaran.
Ayana menggeleng kuat dan kembali membenamkan wajahnya di dada Daniel, ah, entah mengapa dirinya sangat menikmati posisi seperti ini, mengapa kehadiran Daniel bisa sangat pas disaat dirinya memang putuh kehangatan dan sandaran.
"Aku yang menyakitinya" jawab Ayana lirih, seketika pupil mata Daniel membesar mungkinkah? Ia kembali menengadahkan wajah Ayana yang kini benar benar basah akibat buliran air mata yang juga menempel pada dada berbulunya.
"Kau memberitahu mengenai ciuman yang di kolam berenang??" Tebak Daniel, apa lagi yang bisa membuat Daren sesakit itu? Ah mungkinkah ini kabar baik? Pikirnya. Bukankah lebih baik jika Daren mengetahuinya dan segera melepas Ayana, bahkan jika seperti itu ia tak keberatan melepas segalanya dan membawa Ayana pergi untuk hidup di belahan bumi yang jauh.
Namun tebakan Daniel salah,karena Ayana menggeleng pelan.
"Lantas apa? Mengapa gadis sekecil dirimu bisa menyakiti Daren?"
"Aku masuk kedalam ruangan yang tidak seharusnya"
"Ruangan?" Tatapan Daniel penuh telisik,
"Ruangan dimana ia menyimpan foto foto kekasihnya"
"Barbara? " tebak Daniel, ia baru ingat jika ruang baca pribadi Daren memang sudah lama berubah fungsi menjadi tempat ia mengenang cinta pertamanya itu, ia juga tak pernah tertarik untuk masuk kedalam sana.
"Kau sedih mengetahui ia masih menyimpan foto kekasihnya? " Tanya Daniel,yang disusul gelengan kepala Ayana.
__ADS_1
"Lantas?"
"Sepertinya ia begitu sakit karena kecelakaan yang merenggut nyawa kekasihnya, aku seperti tengah menyiram air garam kelukanya karena masuk keruangan itu tanpa ijin"
"Kau juga tahu mengenai kecelakaannya?" Tanya Daniel lagi, ia bisa melihat Ayana kini tengah menyalahkan dirinya sendiri, ia tak habis fikir bagaimana Daren begitu tega kepada Ayana hanya karena masuk keruangannya itu.
Ayana tak menjawab ia kembali membenamkan wajahnya,
"Tuan....."panggil Ayana lirih, entah sudah berapa Lama Daniel tak mendengar panggilan manja Ayana seperti saat mereka pertama berjumpa di rooftoop.
"Jangan memanggilku seperti itu" Daniel membelai lembut rambut Ayana.
"Tuan....maukah kau melindungiku seperti saat pertama kali bertemu?" Pinta Ayana, ia benar benar tak sanggup jika harus membicarakan mengenai kecelakaan itu,kini ia membutuhkan seseorang untuk melindunginya dari rasa takut yang menari disekitarnya dan Daren tak mungkin melakukannya.
Daniel yang tak benar benar mengerti maksud Ayana hanya tersenyum simpul, "kapanpun kau butuh aku akan selalu ada" jawabnya bahagia.
"Terima kasih Tuan, boleh aku memanggilmu seperti itu? "
"Aku hanya menginginkan Tuan yang selalu melindungiku di rooftoop dan dimaldives, bukan seorang Daniel yang ku kenal sebagai chairman Bosley group atau kakak Daren"tutur Ayana, entah mengapa ia merasa nyaman dengan hubungan yang seperti ini, seorang kakak ipar yang kadang memberinya sebuah ciuman yang tidak seharusnya, namun dirinya tak kuasa menolak, apakah ia tengah berada diambang jurang perselingkuhan? Bersama kakak iparnya? Ataukah ia memang butuh seseorang sebagai sandarannya? Ah...Ayana mendesah dengan perasaan yang entah.
Daniel terenyuh mendengar perkataan Ayana,setidaknya ia tahu jika wanita itu sudah bisa menerima kehadiran dirinya bukan hanya sebagai kakak ipar tapi yang lainnya, meski mereka belum melangkah terlalu jauh.
.
.
.
Daren sedari tadi mengutak aktik ponselnya mencoba untuk melakukan panggilan ke Daniel namun, panggilannya selalu saja terhubung dengan layanan Mailbox, ia juga tak menyentuh sama sekali sarapan dihadapannya kelaukan Daniel menghilangkan nafsu makannya sejak kemarin.
Daniel benar benar keterlaluan, ini sudah satu malam namun ia sama sekali tidak memberikan kabar kepada dirinya sebagai suami dari Ayana!
__ADS_1
Sementara Nyonya Bosley menatap iba pada putra keduanya itu, ia geram bukan main terhadap Daniel padahal aturan main yang ia tetapkan tidak seperti ini, bisa bisanya pria itu menunjukkan secara terang terangan membawa kabur istri adinknya sendiri dihadapan para pelayan, untung saja Lohan cepat bertindak dan menghalau rumor yang beredar didalam paviliun.
Bukankah perselingkuhan harusnya dilakukan diam diam? Daniel benar benar tak pandai menyembunyikan perasaannya, untung saja Daren tak menaruh curiga, Nyonya Bosley sudah mengetahui permasalahan yang sesungguhnya setelah berbicara kepada Daren, ia yang menyuruh Lohan menyebar rumor Jika Daniel salah paham dan hendak melindungi Ayana, meski begitu Tak mudah membohongi mata para pelayan, Daniel yang terkenal dingin dan acuh begitu peduli pada istri adiknya? Arghhhhh!!!! Nyonya Bosley mengepal kepalang tangannya kuat.
"Kau sudah menghubingi Calvin?" Tanya nyonya Bosley, pada Daren yang masih menatap layar ponselnya seakan murka pada benda pipih keluaran perusahaannya itu.
Daren bergeming, Calvin orang pertama yang ia hubungi namun Daren bisa mengetahui dari intonasi dan nada bingung yang di jabarkannya jika pria itu sama sekali tak tahu apa apa.
Begitu memgetahui jika Daniel membawa Ayana kerumah sakit setelah kecelakaan kecil dirumahnya, Calvin segera mencari tahu dengan menggerakkan segala koneksinya tanpa harus melibatkan adam lee yang dipastikan akan tetap tutup mulut meski kiamat dunia sekalipun.
"Adam Lee bagaimana?" Tanya nyonya Bosley, seketika Daren teringat jika ia melihat mobil inventaris Adam terparkir didepan paviliun Daniel.
"Panggilkan Adam Lee sekarang juga!" Titah Daren pada salah satu dari jejeran pelayan yang menemani santap pagi keluarga Bosley.
Tak butuh waktu lama Adam yang memang nampak selalu bermuka datar datang dan menghampiri Daren dan nyonya Bosley setelah sebelumnya menunduk memberi hormat.
"Adam, aku ingin kau menjawab jujur di rumah sakit mana Daniel menyimpan Ayana?"
Adam menelan saliva mendengar pertanyaan tanpa basa basi Daren, ditambah lagi tatapan tajam Nyonya Bosley yang seakan menuntut, namun ia masih bisa mempertahankan raut wajah datarnya.
Jika ia berkata tidak tahu tentu mereka akan murka, karena sebagai asisten Daniel pasti melibatkannya dalam setiap urusan.
Adam kembali membungkuk memberi hormat sebelum menjawab.
"Nona Ayana dalam kondisi stabil, benturan dikepalanya tidak menyebabkan geger otak apalagi sampai membahayakan nyawanya, Tuan Daniel menitipkan Nona Ayana pada salah satu rumah sakit terbaik dengan fasilitas terbaik anda tidak perlu khawatir, "Adam lee terlihat menarik nafas dan menghembuskannya pelan sebelum melanjutkan penjelasannya " Dan untuk mengatakan dimana tempatnya saya tidak bisa mengatakannya, karena Nona Ayana saat ini butuh waktu sendiri" jelas Adam panjang lebar.
Heh...butuh waktu sendiri??Daren tertawa miris mendengar penuturan Adam yang tak membiarkannya mengetahui keberadaan istrinya sendiri.
"Lantas Daniel?dimana dia?" Tatapan Daren penuh selidik
"Tuan Daniel, menginap di mansion Baverry Hilss " bohong Adam tanpa ragu sedikitpun, sehingga membuat Daren langsung percaya, sementara Nyonya Bosley menelan saliva yang terasa sangat pahit, bagaimana jika Daren curiga? Atau Adam membocorkan jika Daniel tengah menemani Ayana dirumah sakit, tentu saja! Ia tidak percaya dengan perkataan Adam, tapi syukurlah setidaknya Adam Lee membuktikan jika dia adalah Asisten terbaik yang dimiliki Daniel, Adam berhasil memadamkan dua bola panas sekaligus.
__ADS_1