HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 27


__ADS_3

Daren membaca sebuah atikel lama di layar laptopnya, ia kemudian mengganti tampilan layarnya dengan sebuah foto pria tua beruban, pria yang beberapa hari ini cukup membuat darahnya mendidih, namun ia terpaksa harus ber akting bahagia dengan wajah penuh dusta dihadapannya.


Aku berhasil mengambil sesuatu yang paling berharga bagimu!!!


Daren menyinggung sebuah senyuman aneh, lalu tertawa terbahak bahak seraya menyenderkan punggungnya dan menengadahkan wajah menatap langit langit kantornya. Kursi berodanya terus digoyangkannya kekiri dan kekanan.


Wajah tua itu masih menari dibenaknya, sebuah wajah yang dianggapnya sebagai penyebab luka masa lalunya.


Fikiran Daren tiba tiba menerawang ke masa 7 tahun yang lalu, saat seorang siswi menengah atas menghampiri dirinya dan barbara yang tengah menikmati indahnya kota Osaka Jepang dari dalam bus.


Siswi itu mengenakan seragam sekolah yang khas dalam dorama Jepang, Rambutnya tergerai dengan kaca mata bulat yang menghiasi wajahnya, meski terkesan cupu namun tak bisa menutupi kecantikan alaminya, ia berbicara dalam bahasa ingris yang fasih dan duduk di kursi kosong disamping dua sejoli itu.


"Kalian dari Columbia University?" tanyanya , melihat Hoddie yang dua orang itu pakai, Daren dan Barbara memang memakai baju serupa dengan tulisan nama campus mereka dibagian belakang. Sejak naik bis netranya memang tertuju pada dua orang bule yang kemungkinan mahasiswa di campus idamannya.


Daren tak menanggapi ia sibuk mengamati pemandangan, sementara Barbara terlihat antusias dengan sapaan gadis SMA yang tak lain adalah Ayana Kimura itu



"Banar kami dari campus tersebut" jawab Barbara ramah.


"Wah....aku juga sangat ingin kuliah disana " ujar Ayana dengan tatapan berbinar.


setelah percakapan singkat itu sebuah guncangan hebat terjadi, dan entah apa yang terjadi begitu membuka mata Daren sudah mendapati dirinya di sebuah ruangan serba putih, dengan perban di kepalanya, dan seluruh tubuhnya merasakan nyeri yang luar biasa hebat, ia bisa mengenali jika tempat ini adalah rumah sakit, riuh suara roda brankar dan sirine ambulance memenuhi telinganya ditambah lagi teriakan panik orang orang dengan bahasa yang sama sekali tidak ia mengerti menggema di seluruh ruangan, Daren menarik tirai yang menjadi sekat, dan betul ia berada di ruangan UGD dengan sekumpulan petugas medis yang nampak sibuk merawat puluhan orang yang terluka sama seperti dirinya.


"Barbara...."Gumamnya, lalu perlahan mulai memanggil nama itu dengan teriakan saat ia tak melihat sosok wanita yang paling dicintainya itu.


"BARBARA!!! BARBARA!!!!"

__ADS_1


"have you seen my lover barbara? he was with me in the accident where was her?" (Kau lihat kekasihku barbara? dia bersamaku saat kecelakaan dimana dia?) Daren bertanya dengan gusar sambil mengguncang bahu seorang petugas medis yang ia temui. namun orang itu nampak acuh dan menepis tangan Daren lalu kembali ke kesibukannya merawat pasien, lagi pula ia tidak mengerti apa yang dikatakan pria bule itu.


Daren kembali berjalan menyusuri ruangan besar yang nampak sangat ramai itu. hingga kedua matanya berhenti pada sebuah ruangan berdinding kaca yang memperlihatkan seorang gadis pirang terbaring lemah tak berdaya dengan seperangkat bantuan pernafasan terpatri diwajahnya yang penuh goresan, beberapa orang dengan pakaian putih senada nampak mengelilinginya.


Daren menghambur masuk, namun saat ia hendak memeluk tubuh kekasihnya, orang orang didalam mencegatnya dan berusaha menenangkannya, salah seorang dokter residen yang bisa berbahasa inggris menarik tangannya keluar.


"Apa kau temannya?"


"Aku kekasihnya!" dengan gusar Daren menepuk nepuk dadanya sambil menangis.


"Baiklah baiklah" dokter muda itu mencoba menenangkan Daren dan membawanya kepojok lalu perlahan mendudukkan tubuhnya pada disebuah kursi tunggu, dan ia duduk disebelahnya, "Limpanya pecah karena benturan yang sangat kuat, ia harus segera dioperasi, tapi saat ini jadwal dokter bedah full kami masih, menunggu dokter kepala Departemen bedah umum selesai mengoprasi" jelasnya! Dokter itu lalu melihat jam tangan yang melingkar ditangannya "mungkin sekitar 15 menit lagi, jadi sebaiknya anda tenang" Lanjut dokter itu.


Tak lama kemudia Dokter yang masih mengenakan pakaian operasi itu datang dan memeriksa Barbara, ada lelah tersirat disudut matanya karena baru saja menyelesaikan operasi transplantasi ginjal selama berjam jam, namun kondisi pasien dihadapannya sudah tak bisa ditunda lagi.


"Dia pasien dengan limpa pecah? " sebelum ke UGD dokter yang tak lain adalah Ayah Ayana itu sudah diberitahu mengenai kondisi pasien.


"Benar dokter! "


"Tekanan...dar...." Parawat yang hendak menjelaskan itu kemudian menghentikan kata katanya saat mendengar rusuh suara roda brankar yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan CT Scan, disertai teriakan seorang dokter residen yang mendampinginya.


Sementara Daren hanya bisa berdiam diri mendengar manusia manusia diruangan itu berbicara dengan bahasa yang tidak ia mengerti, namun berkat penjelasan dokter tadi kini ia tahu Barbara bisa segera dioperasi karena dokter kepala yang dimaksud sudah berdiri disamping barbara.


"Dokter Kimura....,sepertinya dia putri anda! Menurut hasil CT limpanya pecah dan harus segera dioperasi" Teriak Dokter residen yang membawa tubuh Ayana diatas Brankar.


mendengar penjelasan rekan sejawatnya dokter Kimura mendekati tubuh anaknya yang masih dalam keadaan meringis namun tidak bisa membuka mata, hatinya hancur menyaksikan kondisi putri tunggalnya itu.


"SIAPKAN RUANG OPERASI SESEGERA MUNGKIN!!!!" titah ayah Ayana yang diangguki semua staf medis disana.

__ADS_1


Meski tak mengerti namun Daren bisa melihat jika dokter tersebut sepertinya lebih mengutamakan pasien yang dikenalinya terakhir kali berbicara dengan Barbara di Bus, Gadis SMA itu!


"You have to operate on her first, she's a critical!!!" ( kau harus mengoprasinya terlebih dahulu, dia sedang kritis ) Pinta Daren yang langsung menghampiri dokter kimura dan menunjuk kearah barbara.


Dokter Kimura tahu maksud Daren tapi ia juga tidak bisa menelantarkan putri yang ia cintai, butuh 15 tahun setelah menikah baru ia bisa memiliki Ayana, dan kini kondisinya tengah kritis? sebagai Dokter seharusnya ia lebih mengutamakan Barbara, tapi tidak sebagai Ayah, jika ia meninggalkan Ayana bukan tidak mungkin gadis itu akan meninggal, begitu pula dengan Barbara jika ia tidak segera melakukan tindakan operasi padanya.


Doktet Kimura mendesah kesal lalu mengusap wajahnya gusar " Apa ada dokter bedah lain??"


"Semua dokter bedah umum tengah diruangan operasi," jelas salah satu staff medis.


"Bagaimana dengan dokter bedah jantung?"


"begitupun dokter bedah jantung"


"Hubungi dokter dari rumah sakit xxx untuk menangani pasien kita"


salah satu staf segera menelpon dan meminta dokter bedah umum dari rumah sakit xxx untuk segera datang, dan mereka menyanggupinya.


Kini dokter residen yang sejak tadi bersama Daren berusaha menjelaskan situasinya, dari situ Daren tahu jika gadis SMA itu adalah putri dokter tersebut, dan seorang dokter lain dari rumah sakit berbeda akan datang dan menangani Barbara, Daren hanya bisa pasrah melihat dokter Kimura membawa brankar putrinya menuju kedalam.


Setelah beberapa menit dokter yang dimaksud tiba, lengkap dengan para asistennya, sepertinya mereka bergegas kemari setelah ditelepon , namun terlambat seorang Perawat dari dalam ruangan barbara berteriak setelah melihat layar monitor yang terhubung dengan tubuh gadis itu sedang tidak baik baik saja.


"Serangan Jantung!!"


Beberapa petugas medis segera menyiapkan alat kejut jantung, beberapa kali mereka menempelkannya didada Barbara namun tak bisa mengubah garis dilayar monitor, hinnga akhirnya garis lurus dengan bunyi yang panjang menjadi tanda kepergian Barbara untuk selamanya, meninggalkan Daren yang hanya bisa meraung sedih tak terkendali.


...****...

__ADS_1


Dendam itu nyata namun cintanya pada Ayana juga begitu Nyata, ia hampir melupakan dendamnya karena terpesona dengan kepolosan gadis jepang itu, tapi tidak sekarang ia akan membuat pria itu kehilangan putrinya selama lamanya, Daren tak berniat membunuh istrinya karena ia begitu menyayanginya, ia hanya ingin menahannya disisinya selama lamanya.


Semua sudah ia rencanakan sangat matang, Sejak pertama kali melihat Ayana di proses wisudanya bersama orang tuanya, saat itu Daren diundang sebagai tamu kehormatan dikampusnya. Dan ia segera mengatur agar gadis itu bisa langsung bekerja di perusahaannya.


__ADS_2