
"ugh...ugh...Daniel, tak bisakah kau bermain lembut ?" Pinta Lauren yang kini berada dalam kungkungan suaminya itu ia merasa nyeri pada inti tubuhnya karena hujaman Daniel yang begitu kasar, setelah mencapai ******* tanpa basa basi Daniel mencabut miliknya dan bergegas kekamar mandi membersihkan tubuhnya yang terpaksa berpagut dengan rubah licik itu demi memuaskan hasratnya.
Daniel membasuh tubuhnya seraya mengingat Ayana, dua minggu yang lalu dimeja makan adalah kali terakhir ia melihat wanita itu, meski Ayana tak pernah menatap matanya asal bisa melihat wajahnya saja itu sudah lebih dari cukup bagi Daniel.
Namun setelah itu Daren seperti mengurung istrinya didalam kamar tak membiarkannya berkeliaran disekitar paviliun, bahkan pelayan harus mengantarkan sarapan , makan siang dan malam ke dalam kamar.
Pernah suatu ketika Ibunya mengajak Ayana untuk makan malam bersama namun Daren marah dan mengancam akan pergi dari rumah membawa Ayana jika sekali lagi ibunya mencampuri caranya mendidik istrinya, ia juga memasang cctv didalam kamar untuk memantau pergerakan Ayana melalui ponselnya.
Kini nyonya Bosley pun dilanda kebingungan bagaimana bisa ia melaksanakan rencananya jika bertemu Ayana saja ia tak bisa.
.
.
"Aku membutuhkanmu besok bisa?" ucap Lauren pada pria deseberang panggilannya, ia berbicara sedikit berbisik sambil berjalan mondar mandir diatas balkon, dengan mata siaga sesekali mengamati pergerakan Daniel jika saja suaminya itu keluar dari kamar mandi.
"Tentu saja sayang, tapi ingat jangan lupa transferannya " Sahut pria di sebrang telepon.
"Kau tenang saja sayang, siapkan pelayanan terbaikmu! mmuah"
Panggilan berakhir, saat Lauren melihat Daniel sudah keluar dari kamar mandi.
"Dasar lelaki kasar!!" Hardik Lauren pelan, mengingat gaya bercinta Daniel yang akhir akhir ini membuatnya tidak nyaman.
Masih sambil memgamati Daniel yang mulai mengenakan piyamanya, jari jemari Lauren mengetik sejumlah uang di ponselnya dan langsung mengirimkannya pada pria yang sudah ia janjikan.
Selama ini Lauren memang membayar pria pria yang tidur dengan dirinya. usia yang tidak lagi muda membuatnya kesulitan mencari kekasih yang mencintainya sepenuh hati, mereka menyukainya hanya karena uang. Dan bukan Hanya satu pria tapi Lauren telah tidur dengan banyak pria dan Daniel mengetahui semuanya ia bahkan memiliki bukti yang nyata yang akan ia gunakan untuk melawan Lauren kelak dipengadilan.
__ADS_1
.
.
.
Sementara di bangunan yang lainnya Ayana juga tengah meringis dengan tangan yang diikat pada sandaran tempat tidur menyaksikan Daren menggerayangi tubuhnya liar dari atas,Ayana memutuskan untuk melupakan yang terjadi bersama Daniel meski itu seperti menyiksanya, ia melayani Daren dengan baik di ranjang memberinya kepuasan secara batin, namun dua minggu belakangan ini Ayana sering menangis tatkala melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, ia benci dan muak saat Daren menyentuhnya menyadari hal itu Daren berubah menjadi seseorang yang layaknya psikopat gila dalam hal bercinta, ia menerapkan semua gaya yang bahkan bisa menyakiti Ayana dan meninggalkan trauma mendalam, dan Ayana yang juga bingung dengan keadaannya yang tiba tiba membenci Daren mau saja menuruti perintah Daren yang kadang memperlakukannya seperti seorang wanita Jalan* dalam bercinta, ia berharap rasa benci yang tak tahu asalnya dari mana itu bisa segera menghilang.
"Ada apa denganmu Ayana? kau bosan denganku? apa ini karena Barbara? bukankah kau sudah membaik sebelumnya?" Kesal Daren sesaat setelah mencapai kepuasan yang ia usahakan sendiri, pria itu bangkit dan melilitkan handuk putih di pinggangnya ia berjalan keluar balkon, membenampak kepalanya di antara kedua lengan yang bertumpu pada pagar pembatas.
Ayana tak menjawab, ia hanya bisa meringis seraya berusaha melepas ikatan tangannya yang masih belum dilepas Daren. Pria itu kembali masuk dan mengambil kunci kecil diatas nakas lalu membuka borgol yang melingkar di dua pergelangan Ayana.
Wanita itu memegang pergelangan tangannya yang membiru dengan berderai air mata lalu menutupi bagian dadanya yang terbuka dengan selimut, ia juga tak tahu mengapa begitu benci pada suaminya dan justru sangat merindukan Daniel, hingga rasanya ingin mati saja jika tak bisa melihat wajah kakak iparnya itu, ditambah lagi ia tak mengetahui sama sekali kabar orang tuanya di Jepang, Arghh....rasanya Ayana ingin mengerang sekuat tenaga tak sanggup lagi menjalankan kehidupannya.
"Harusnya aku mati saja bersama Barbara waktu itu" Gumam Ayana, yang mengundang tawa cemoohan Daren, Ayana sengaja mengungkit kejadian itu, persetan dengan trauma yang membekas bahkan kehidupannya kini adalah trauma terbesarnya, terjebak cinta dengan kakak ipar, suami yang ia fikir baik malah menyiksanya dan masih menyisahkan ruang bagi mantan kekasihnya.
Mungkinkah ia sudah mengetahuinya jika dirinya juga korban dari kecelakaan itu? lalu kenapa sama sekali tidak ada rasa peduli disana?
Ayana menoleh dan menatap Daren yang masih memandanginya dengan sejuta rasa kesal.
"Barbara."Ayana menghentikan gerak bibirnya, meski tak sanggup melanjutkannya namun harus ia lakukan sebenarnya sudah sejak lama ia ingin mengetahui tentang Barbara," Apa kau hanya peduli dengannya? Aku juga korban saat kecelakan Barbara" Sentak Ayana dengan berlinang air mata, seketika gambaran kecelakaan itu kembali muncul dan membuat tubuhnya menggigil, ternyata ia salah! trauma itu masih begitu menakutkan, Ayana semakin merapatkan selimutnya hingga membenamkan separuh wajahnya.
Reaksi Daren sama sekali tak kaget mendengar penuturan Ayana, kini ia tahu jika dari awal Daren sudah tahu mengenai dirinya dan juga kecelakaan bus itu, lantas ? mengapa pria itu sama sekali tak peduli?.
"Ayana sayangku...."Daren kini duduk di tepi tempat tidur dan membelai pucuk kepala Ayana bukan dengan kasih namun perasaan kesal," Aku juga ada disana, aku juga korban, apa kau kasihan padaku? tidak! jangan kasihan padaku karena aku dan kamu setidaknya masih hidup, tapi BARBARA???dia mati karena seseorang!"
Ayana mengangkat wajahnya, nafasnya tercekat dengan dada yang sesak ia merasa jika paru parunya tengah gagal bekerja,
__ADS_1
"Tidak mungkin...."Gumam Ayana lirih, ia bahkan tak tahu jika Daren ada disana saat itu, kini Ayana hanya bisa melihat kebencian dimata Daren yang seakan ingin diluapkan kepadanya.
"Kau? tidak mungkin!" Ayana menggelengkan kepalanya kuat, rasanya bukan hanya nafasnya yang tersendat bahkan aliran darahnya juga. dingin menyerang tubuhnya hingga bergetar kuat, "Kau juga? la-lu?"
"Lalu kau selamat sedangkan Barbara tidak!"
"Mengapa menghubungkan kematiannya denganku? mengapa menatapku seperti itu? apa aku penyebab kecelakannya?"
"Bukan sayangku,, maafkan tatapanku" Daren meraih kepala Ayana dan membenamkankannya didada bidangnya, hawa panas kemarahan yang tengah dirasakan Daren membuatnya tak bisa merasakan betapa bekunya tubuh istrinya kini.
Daren tahu Ayana tak ada hubungannya, tapi Ayahnya!
"Kau bukan penyebab Bus itu kecelakaan, tapi karena seseorang harus memyelamatkanmu maka Barbara harus meregang nyawanya yang berharga"
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti" Ayana berusaha melepas dekapan Daren, ia kembali merasa kesal karena pria itu menyentuhnya.
"Apa ayahku?" tebak Ayana, siapa lagi yang menyelamatkannya, Ayana tahu jika yang mati matian berusaha menyelamatkannya adalah ayahnya sendiri, "apa ini ada hubungannya dengan ayahku? " cecarnya.
Namun sekali lagi Daren hanya tersenyum getir, sepeŕtinya Ayana sudah tahu banyak, cukup sampai disini! pikirnya, meski dendam namun masih ada rasa cinta Daren untuk Ayana yang harus ia jaga.
Daren yang sudah rapi memutuskan untuk menghabiskan malam yang panjang ini di club,ia meninggalkan Ayana yang masih meringkuk dibawah selimut, yang masih berusaha menyusun berbagai kemungkinan Barbara yang meninggal karena Ayahnya.
Dendamkah Daren padanya dan Ayahnya?
Mungkinkah ia menikahinya karena begitu membencinya?
Ayah apa sebenarnya yang terjadi saat kecelakaan itu?
__ADS_1
Ayana benar benar seperti berada diambang kehancuran hidupnya, perlahan mulai menutup matanya hingga tubuhnya yang hanya dibalut selimut jatuh terjerembab ke lantai.