
Adam Lee menarik bahu Daniel dengan paksa, hingga pria itu melepas pelukannya dari Ayana, "Apa yang kau lakukan pada adikku?" hardik Adam Lee seraya memindai seluruh tubuh Ayana yang gemetar.
"Adik" Daniel yang tidak terima lalu mencengkram kerah mantel bulu yang digunakan Adam Lee.
Sebenarnya Ayana baik baik saja tadinya, hanya saja pria itu membisiskkan sebuah nama, itu sedikit membuatnya bergidik, ia pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, yah! Pada saat ia masih menjalani terapi, para terapis menyebutkan nama nama yang mungkin bisa membantu memulihkan ingatannya dan tubuh Ayana menolaknya, ia merasa sesak didalam hingga Ayana harus memegang dadanya, dan seakan ingin ambruk.
Adam segera mengurai cengkraman Daniel dan menghampiri Ayana.
"Kau tidak apa apa ? Ha Jin? Apa kepalamu sakit?" cerca Adam, ia memegang kedua pundak Ayana yang wajahnya mulai memucat.
Ayana hanya menggeleng pelan, sedangkan Daniel mengepalkan tangan melihat intetaksi dua orang dihadapannya.
"Sepertinya aku hanya kaget oppa, tuan luar negeri itu memelukku begitu erat, aku akan masuk dan istirahat" Ayana masih mencoba tersenyum, ia tak ingin pria yang ia anggap kakak itu terlalu khawatir. Namun sebelum beranjak Ayana terlebih dahulu menitipkan pesan, "Jangan berbuat kasar kepadanya, sepertinya ia sedang banyak masalah hemm"
Akhirnya Ayana masuk kedalam sebuah ruangan yang memang ditujukan untuk beristirahat, bahkan ada kasur didalamnya, sedangkan Adam menyorot Daniel dengan tatapan membunuh.
"Sebaiknya kita bicara diluar" Adam Lee menunjuk dengan dagunya sebuah rest Area didepan toko, tak ada lagi rasa sopan yang ia tunjukkan pada mantan atasannya itu.
Mereka duduk berhadapan diantarai sebuah meja bundar dan payung warna warni ditengahnya.
Sementara didalam....
Ayana menjatuhkan tubuhnya, duduk di sudut ruangan dan menyandarkan punggunggnya pada dinding seraya memegang dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa terasa begitu sesak?" gumamnya, tak lama berselang air matanya ikut luruh, Ayana menadahnya dengan telapak tangan, " Kenapa aku menangis? Akh.....akh.....mengapa Kau menangis Lee Ha jin?" Tangisan Ayana semakin kencang, ada perasaan lega dan sakit yang ia rasakan secara bersamaan,ia sendiri dibuat bingung.
"Tenanglah Lee Ha Jin," Ayana mencoba menenangkan dirinya namun ia tak bisa berhenti menangis, ia seperti tengah menumpahkan segala kesedihannya yang sudah lama menumpuk, wajah pria diluar yang baru saja memeluknya masih terbayang bayang.
......................
"Aku sudah menghajar Calvin, rasanya aku juga ingin menghajarmu" ujar Daniel seraya meramas kaleng bir kosong yang baru saja ia minum dengan satu tegukan.
__ADS_1
Krekk....kaleng itu remuk dihadapan Adam Lee.
"Aku tidak akan jadi asistenmu jika tidak punya skill bela diri, aku pun akan membalasmu jika kau mau melakukannya, lagi pula aku bukan lagi bawahanmu" Adam lee benar benar sudah kehilangan sopan santunnya, ia kesal karena Daniel tiba tiba saja sudah mengirim pesan jika berada didepan mini market Ayana.
Daniel mengusap wajahnya gusar, "Kau!...kau tahu bagaimana hidupku satu tahun ini?" ucapnya dengan intonasi tinggi.
"Minuman? Rokok? Aku sudah bisa menebaknya, tapi apa kau tahu bagaimana hidup Ayana sebelum tinggal disini? Berat badannya turun drastis, ia tersiksa saat orang suruhan Calvin berusaha mengembalikan ingatannya, begitu sakit dan dalamnya luka yang kalian semua torehkan sehingga tubuh dan fikirannya seakan enggan kembali kemasa itu." jelas Adam Lee.
"Karena itu aku menyembunyikannya, coba fikirkan jika ingatan mengenai kedua orang tuanya yang tiba tiba saja tewas mengenaskan kembali? Aku tidak bisa membayangkannya munggkin ia akan kembali bunuh diri" Tukas Adam Lee, ia benar benar berbicara layaknya seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.
Daniel membuang pandangannya lalu menghembuskan nafas kasar, dibalik kaca mata hitammya maniknya mulai berkabut, apa yang dikatakan Adam Lee benar adanya, Mungkin senyuman yang barusan tak akan pernah ia lihat tersinggung dibibir Ayana, hanya ada kepedihan yang ia rasakan.
Bukankah ia harusnya bersyukur Adam Lee menyelamatkan Ayana.
"Tapi mengapa tak memberitahuku?satu tahun mengira Ayana sudah mati itu sangat menyiksa", kali ini Daniel mulai tenang.
"Cih....Kau tidak lihat? Dia tersiksa jika sesuatu dari masa lalunya tiba tiba muncul,"tegas Adam Lee.
"Aku akan mencarikan dokter terbaik!"
"Adam Lee, kau adalah saksi bagaimana sulitnya aku melewati semua ini, kini Daren sudah memiliki keluarga sendiri, jadi tolong jangan menjadi penghalang bagiku dan Ayana"
"Maaf Tuan Daniel Bosley, aku tidak pernah ingin menjadi penghalang diantara kalian, aku menghawatirkan kesehatannya, seperti yang kau tahu, kehadiranmu akan menyakitinya, jika kelak ingatan Ayana kembali dan ia ingin bersamamu aku tak akan melarangnya, tapi untuk saat ini tidak! Ia sudah cukup menderita. Dan yang harus kau lakukan sekarang adalah menunggu!" jelas Adam Lee.
Tak lama kemudian,Ayana datang dan muncul dari balik pintu, matanya nampak basah dengan wajah yang semakin memucat.
Adam segera menghampiri Ayana dan memegang dahinya dengan punggung tangan.
"Kau baik baik saja Ha jin?"
"Oppa dadaku sakit," ujar Ayana memelas sambil menggelayut manja dilengan kekar Adam Lee, "Antar aku pulang"
__ADS_1
"Aku akan menggendongmu" Adam Lee jongkok dihadapan Ayana dan memberikan punggungnya, ini bukan pertama kali ia melakukan itu.
Melihat wajah sendu Ayana Daniel nampak tidak tega menonjolkan dirinya lagi sebagai bagian dari masa lalu wanita itu. Namun ia yang melihat perlakuan Adam Lee nampak tidak terima, bagaimanapun mereka tidak memiliki hubungan darah, ia segera mengintrupsi.
"Kita naik mobil," Daniel menunjuk sebuah mobil sedan KIA keluaran terbaru yang terparkir diseberang jalan, mobil itu disiapkan Calvin untuknya selama di Korea.
Adam melirik Ayana yang semakin lemah, mau tidak mau ia harus menerima tawaran Daniel, "Baiklah" Adam Lee setuju, ia segera menggendong tubuh Ayana ala bridalstyle,dan tak lupa Ayana mengalungkan tangannya pada leher Adam Lee.
Daniel hanya bisa mengepalakan tangannya kuat, melihat wanita yang begitu ia cintai sangat dekat dengan pria dewasa yang tak lain adalah mantan asistenya.
.
.
.
"Oppa,kau mengenal Tuan bule itu?" bisik Ayana yang kini menyandarkan kepalanya dibahu Adam Lee.
"Hufht...." Adam Lee menghela nafas, manik mata kedua pria itu saling beradu pada spion depan, Adam Lee tak pernah menyangkan jika Daniel Bosley yang terhormat akan menyupiri dirinya.
"Oppa" panggil Ayana dengan nada menuntut sebuah jawaban.
"Dia teman Oppa waktu di Amerika, namanya Da-niel" ragu ragu Adam Lee untuk menyebut nama Daniel karena takut akan berpengaruh pada Ayana.
"Ah...dia teman Oppa! Apa ia juga mengenalku? Mengapa langsung memelukku tadi? Dia bilang merindukanku?" Ayana kembali berbisik dengan intonasi yang direndahkan, namun masih bisa didengar Daniel.
"Oh ....itu" Adam terlihat memegang tengkuknya, "Ia sangat menyukaimu, tapi kau tidak" lanjut Adam Lagi.
Mendengar jawaban Adam Lee, Daniel menelan saliva dengan kasar, kedua tangannya menggenggam kuat stir, sial betul mantan asistennya itu, jika tidak memikirkan kondisi Ayana tentu ia akan menyanggah pernyataan Adam Lee yang menjatuhkannya itu.
Tak lama berjalan mobil itu berhenti didepan sebuah rumah minimalis bergaya tradisional Korea.
__ADS_1
Adam Lee tersenyum tipis, padahal ia sama sekali tidak pernah memberitahukan letak rumahnya.
Calvin memang hebat! Adam Lee membatin.