
"Nyonya lalu bagaimana jalan keluarnya?" tanya Lohan lagi.
Hufht....Nyonya Bosley menghela nafas kasar, lalu meletakkan kuas disamping kanvas seraya memandangi lukisan garis wajah dihadapannya yang hampir jadi.
"Entahlah Lohan, andai aku tahu sejak awal Lauren akan bertindak bodoh, tak akan kubiarkan perempuan seperti Ayana masuk kedalam keluarga Bosley, saat Daniel bercerai ia akan kunikahkan dengan putri keluarga kaya lainnya, dan Daren? Meskipun ia mandul aku tetap menikahkannya dengan wanita yang sepadan dengan keluarga Bosley bukan wanita biasa seperti Ayana, tapi nasi sudah menjadi bubur Ini semua salahku, karena merencanakan hubungan perselingkuhan Ayana dan Daniel."
"Nyonya kau tidak boleh berkata begitu! Nona Ayana juga menderita, apa lagi ia sekarang mengandung cucumu, anak dari Tuan Daniel" tukas Lohan.
"Aku sangat bahagia dengan kehamilan Ayana, tapi dilain sisi aku berharap andaikan wanita itu belum mengandung maka aku akan mengusirnya dari rumah ini dan menata ulang kehidupan Daniel dan Daren Hufh..."
Pembicaraan Nyonya Bosley dan Lohan bagai samurai tajam nan tipis yang kini tengah mencabik cabik tubuh Ayana hingga menjadi potongan potongan kecil, Ayana sudah merasa tak punya harga diri lagi sehingga tubuhnya lebih pantas dijadikan santapan binatang buas.
Ia menutup mulutnya kuat dengan kedua telapak tangannya, berusaha agar isakan tangisnya tak menyeruak dan menyadarkan kedua wanita yang menganggapnya tak lebih dari sekedar mainan anak anak, yang bisa dibuang dan dipungut kembali ketika masih berguna.
Hiks...
Hiks...
Rasanya Ayana ingin menghilang saja dari muka bumi ini, Mertua yang dianggapnya bagai malaikat tak bersayap yang bersedia menerimanya dengan segala kekurangannya ternyata tak lebih dari sekedar pemain opera yang menggunakan topeng.
Dan Daniel? mustahil jika Daniel tidak mengetahui rencana ibunya!
Lalu bagaimana dengan Daren yang ternyata mandul? Suaminya itu sama sekali tidak menyadari jika bayi yang tengah dikandung istrinya adalah benih yang berasal dari kakak kandungnya sendiri.
Ayana meratapi nasib malangnya, padahal ia hanya seorang gadis kecil dari keluarga sederhana dengan mimpi bisa kuliah di salah satu kampus terbaik di dunia itu, dan sekarang ia harus menerima nasibnya menjadi sebuah alat yang digunakan untuk menghasilkan cucu bagi keluarga kaya dan parahnya ia menikmatinya, Ayana tertawa mencemooh dalam tangisan tanpa suaranya, merutuki tubuh kotor dan dirinya yang bodoh, kini ia mulai meragukan cinta yang diagung agungkan sang kakak ipar.
Tidak!!!! Pria itu tidak pernah mencintaiku, ia hanya butuh seorang wanita untuk memgandung anaknya, begitu pula Nyonya Bosley yang selalu memberikan kebaikan dan senyuman yang ternyata palsu, sedangkan Daren? Pria itu bahkan menikahinya dengan setumpuk dendam yang mengerubuni hatinya.
__ADS_1
Miris...air mata Ayana tak bisa berhenti berderai, hingga dua orang wanita yang saling kerjasama itu meninggalkannya seorang diri didalam ruang kesenian dalam keadaan gelap gulita.
.
.
.
Daniel menghisap rokoknya dalam seakan menikmati setiap nikotin dan tar yang menjalar masuk kedalam tubuhnya,lalu kepulan asap yang keluar melalui mulut dan hidungnya mulai mengitari sekitar wajahnya.
Tak puas dengan puluhan batang rokok, Daniel juga sudah meneguk sebotol Wine hingga habis tak bersisa, ia seakan hanya ingin mabuk dan melupakan semua yang telah dikatakan Ayana, bagaimana wanita itu bisa begitu tega pada dirinya? Dengan berharap Daniel melupakan segalanya yang telah mereka lalui!
Hah...Daniel hanya bisa tertawa mencemooh dirinya sendiri yang bahkan tak bisa lepas dari jerat pesona sang adik ipar ditambah lagi wanita itu tengah mengandung buah cinta mereka.
Ia lalu berjalan Gontai ke arah Balkon membiarkan angin malam menghantam tubunya yang hanya dibalut celana boxer dan kimono tidur yang tidak tertutup rapat,memperlihatkan dada bidangnya dan perut yang dihiasi enam buah roti sobek.
Daniel mebenamkan kepalanya diantara kedua tangannya yang bertumpu pada pagar pembatas balkon, sambil sesekali menengadah menatap puluhan juta bintang bintang yang menghiasi langit Los Angeles.
"Sepertinya aku sudah sangat mabuk" pikirnya, bagaimana tidak ? Ia bahkan bisa melihat Ayana seakan berjalan menjauh darinya.
.
.
.
Ayana berjalan Gontai keluar dari ruang kesenian, ia menyeret kakinya menuruni satu persatu undakan anak tangga yang melingkar, hingga ia sadar jika kini sudah berada dilantai dasar, sebuah ruangan yang sudah lama tidak dipijakinya kerena keputusan diktator Daren.
__ADS_1
Ayana berdiri mematung didepan pintu masuk utama yang tidak dijaga, ia yakin pintu besar nan lebar dengan ornamen pahatan yang terukir indah itu terkunci.
Malam ini juga Ayana memutuskan untuk keluar dari kediaman mewah yang dipenuhi orang orang yang tidak pernah tulus terhadap dirinya.
Ayana membuka pengait sebuah jendela dan menelusupkan tubuh mungilnya keluar, ia hanya membawa pakaian tidur tipis namun tidak memerawang yang melekat pada tubuh mungilnya.
Beruntungnya sepertinya petugas yang bertanggung jawab dengan gerbang utama nampak Lalai, padahal sudah hampir tengah malam namun gerbang masih juga belum tertutup rapat.
Itu memberikan cela bagi Ayana untuk bisa segera terbebas dari belenggu Daren, dan semua orang yang sudah memanfaatkannya, ia tak bisa membayangkan bagaimana kelak jika anak dikandungannya lahir maka bukan tidak mungkin Nyonya Bosley akan memisahkan dirinya dari anak kandungnya sendiri, bagi Ayana wanita tua itu bahkan sanggup melakukan hal hal kejam diluar nalarnya.
Ayana melangkah pelan tanpa alas kaki, menyusuri jalanan hitam yang diapit hutan maple dan pinus dikedua sisi jalan, meski hanya ditemani cahaya temaram dari sang rembulan sama sekali tidak menimbulkan keraguan bagi Ayana untuk keluar dari sana.
Kediaman keluarga Bosley terletak di sebuah dataran tinggi yang dikerumuni hutan hutan indah yang tertata rapi, sehingga sangat sulit menemukan pemukiman warga biasa disini.karena hampir semua hak kepemilikan tanah didaerah ini adalah milik Keluarga Bosley.
Ayana yakin ia hanya perlu berjalan sekitar dua jam untuk sampai pada jalanan besar diujung jalan.
Angin bertiup sangat kencang malam ini, membuat tubuh Ayana menggigil dengan gigi yang saling bergemertak kuat, sesekali ia berusaha merapatkan pakaian tidurnya seraya mengusap perutnya yang buncit.
"Maafkan ibu Ryuu..."bisiknya lirih pada sang buah hati.
Semakin lama langkah kaki Ayana semakin berat, akibat tertusuk beberapa ranting pohon yang mengering dan batu batu kerikil tajam hingga mengeluarkan darah segar, namun itu tak mengapa asalkan bisa segera keluar dari jerat keluarga Bosley rasa sakit seperih apapun akan tetap dilaluinya.
.
.
.
__ADS_1
Daren menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat lima belas menit, itu artinya sudah lebih satu jama Ayana berada diruang kesenian, jika siang hari istrinya itu bisa menghabiskan waktu berjam jam diruangan itu namun tidak dimalam hari, apalagi ini sudah hampir tengah malam.
Daren memutuskan turun dari tempat tidur dan menyusul Ayana diruang kesenian.