
"Kau baru pulang?" tegur Nyonya Bosley pada Daren dengan roman wajah tidak suka, ia bahkan mencium bau alkohol yang begitu kuat diseluruh tubuhnya saat putra keduanya itu memberinya morning kiss di pipi.
Begitu pulang Daren langsung ke meja makan ikut nimbrung bersama ibu, Daniel dan juga Lauren yang terlihat sudah bersiap bertolak keluar negeri, ekor matanya sempat menangkap rona bahagia yang terpancar di wajah Daniel.
Sial apa ia sebahagia itu bertemu istrinya Lauren?
Ada rasa sesak melihat keadaan Daniel yang berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tangganya yang baru seumur jagung, ia bahkan harus menghabiskan malam bersama wanita yang tidak dikenalnya lantaran Ayana yang seperti merasa jijik padanya. Ditambah lagi ia tak menggunakan pengaman saat melakukannya.
Bagaimana jika wanita itu hamil anaknya? sementara ia hanya ingin Ayana menjadi satu satunya wanita yang mengandung anaknya. Ah...Daren hanya bisa berharap hal itu tidak terjadi.
"Kau sudah mengantar sarapan untuk Ayana?" Tanya Daren sambil menyiapkan sarapannya sendiri.
"Sudah tuan" timpal seorang pelayan yang memang bertugas mengurusi semua keperluan Ayana.
"Apa kau mengurung istrimu?" ujar Lauren, yang memang tak pernah melihat keberadaan Ayana padahal satu satunya yang bisa mengumpulkan mereka semua adalah moment saat sarapan.
"Kau bisa menemuinya di kamar jika mau" tawar Daren basa basi, karena ia tahu kakak iparnya itu tidak akan mungkin punya waktu melakukannya.
"Ah, maafkan aku tapi aku akan ke Paris hari ini, sampaikan salamku untuknya".
Daniel mengantar Kepergian Lauren hingga pintu utama, bagaimanapun ia harus menunjukkan sikap seorang suami sempurna sebelum benar benar menghempaskan Lauren dari kehidupannya.
.
.
.
Daren tak menemukan Ayana diatas tempat tidur, bahkan nampan berisi makanan diatas Nakas sama sekali belum disentuhnya, wanita itu juga tak ada di dalam walk in closet. Kini hanya kamar mandi sebagai pilihan terakhir wanita itu berada, Daren tahu betul siapa Ayana meski ia ingat lupa mengunci pintu ia yakin Ayana tak akan berani kemana mana.
__ADS_1
krekk...
Pintu kamar mandi terbuka, Ayana keluar dengan wajah pucat pasi, padahal saat bersama Daniel sampe akhirnya mereka kembali kekamar ia merasa baik baik saja namun kini?
Daren menghampiri Ayana yang berjalan agak gontai, " Sayang...kamu sakit?" Daren memegang lengan Ayana yang langsung dihempaskan wanita itu, rasa mualnya semakin menjadi ketika pria yang dulu begitu mencintainya itu mendekatinya, ditambah lagi tak ada rasa empati tatkala Daren yang sudah mengetahui sejak awal dirinya adalah korban yang hampir mati seperti Barbara.
"Jangan menyentuhku!!" Sentak Ayana yang langsung berjalan dan duduk ditepi tempat tidur, ia membuang muka saat melihat nampan berisi makanan itu masih ada diatas nakas.
"Apa kau sebenci itu padaku?" Daren meramas kuat rambut pendeknya melihat tingkah istrinya yang semakin menjadi, ia mengambil ponsel dari dalam sakunya guna memeriksa rekaman cctv semalam dikamar mereka, meski tak menaruh curiga apapun namun Daren berfikir ia memang harus memeriksanya.
Ia mengerutkan alis sejadi jadinya saat menemukan hampir semua video cctv lenyap tak bersisa, hanya menyisakan video yang diambil oleh kamera ponsel dan beberapa video kiriman whatsup.
"Apa yang terjadi" Daren bergumam sendiri, ia masih memeriksa setiap file dengan gusar tetap tak menemukan apa apa, ia lalu melakukan panggilan pada salah satu anak buahnya yang bekerja di bidang IT di Bosley ponsel.
"Pulihkan semua file yang ada di ponselku" Tukas Daren lalu mengakhiri panggilannya secara sepihak, mungkin ahli IT yang dimaksud akan memulihkan beberapa video tapi tidak semuanya, karena pagi ini Adam Lee sudah tiba di Bosley ponsel dan lebih dulu memberikan perintah langsung dari Atasan tertinggi Bosley group agar tidak memulihkan Video semalam, Daniel sudah mengatisipasi jika saja Daren meminta hal itu.
"Ayana...." Daren masih belum menyerah ia kembali hendak meraih pundak istrinya, namun wanita itu lekas berpaling membelakangi Daren.
"Kau....berbau alkohol" cicit Ayana dengan perasaan takut, dua minggu ini baginya Daren sudah berubah layaknya monster yang siap menerkamnya kapanpun, padahal dulu Daren begitu lembut, walaupun Ayana sadar jika hal itu disebabkan oleh dirinya yang tiba tiba saja muak jika berada didekat pria itu.
"Baiklah" ujar Daren pasrah, Dengan perasaan campur aduk dan rasa mabuk yang masih tersisa sedikit, ia berlalu masuk kedalam kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.
Cukup lama Daren berada didalam kamar mandi, dengan ponsel yang ditinggalkan begitu saja, padahal selain menyembunyikan ponsel Ayana Daren juga tak mengijinkan wanita itu menyentuh ponselnya. Namun kini ia seperti memberi ruang bagi Ayana untuk menggunakan ponsel trrsebut.
Ayana teringat sang ayah dan ibunya yang sama sekali tak pernah ia beri kabar.
sehatkah ayah dan ibu?
bagaimana kehidupan mereka setelah masa pensiun?
__ADS_1
Dan masih banyak lagi pertanyaan pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada kedua orang tuanya nun jauh disana. Hal itu mendorong Ayana untuk melakukan panggilan dengan ponsel Daren, toh sepertinya ia masih butuh waktu lama didalam sana.
"Tidak terkunci" gumam Ayana bahagia saat mendapati ponsel tersebut masih dalam keadaan layar yang menyala, ia memanggil nomor ayah, ibu, dan nomor telepon rumahnya secara bergantian namun tak kunjung ada jawaban, yah karena ponsel tersebut sudah diatur tidak akan bisa melakukan panggilan kenegara tersebut.
Ayana mendesah lirih, dan menghempaskan tubuhnya diatas kasur sambil mengamati langit langit kamarnya yang begitu indah dengan sebuah lampu crystal dan beberapa kamera cctv diatas sana.
Tunggu cctv? Ayana menepuk jidat, mengapa ia baru ingat hal itu! bagaimana jika Daren melihat Daniel masuk kekamar ini? kakak iparnya itu bahkan membantunya berpakaian kemarin malam.
Ayana kembali duduk dan memeriksa galery ponsel Daren, memeriksa satu persatu video yang terdapat disana, hingga ia menemukan sebuah video berdurasi hampir satu menit yang cukup membuat nafasnya tercekat.
Bibir Ayana terasa kelu, dengan gigi dan rahang yang saling mengatup kuat memperlihatkan urat leher yang tercetak jelas disana.
Marah!jijik! Ayana merasakan keduanya, tapi bagaimana dengan dirinya dan Daniel? mereka bahkan melakukannya berkali kali saat Dini hari tadi.
Meski ikut merasa bersalah dan merasa Adil jika Daren melakukan hai itu bersama wanita lain, namun tak bisa dipungkiri masih ada rasa cinta dan sayang yang teramat dalam untuk Daren itu membuat air mata lolos begitu saja dari sepasang mata bulatnya yang indah.
Baby....lanjutkan
Ayana....kau harusnya melakukannya sebaik wanita ini.
Setiap racauan yang keluar dari mulut Daren bagaikan belati yang menghunus tajam tepat kejantungnya, rasa bersalah dan sakit hati seakan menyatu jadi satu didalam dada hingga terasa menekan agar nafasnya yang memang tercekat tak lagi keluar, akankah Daren merasakan hal sama jika mengetahui perselingkuhan antara dirinya dan Daniel? Terlebih lagi Daniel adalah saudaranya.
"Apa yang kau lakukan?" Secepat kilat Daren yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk kimononya guna menutupi bekas kiss mark yang tidak sedikit ditubuhnya, merampas ponsel dalam genggaman Ayana yang memperlihatkan aksi liarnya.
Ayana hanya bisa menatap Daren dengan perasaan entah disertai deraian air mata, dan setelah sepersekian detik ia merasa sudah berada di alam lain.
.
.
__ADS_1
.