HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 33


__ADS_3

Daniel segera mengangkat tubuh Ayana dan membaringkan kepala gadis itu diatas pangkuannya.


"Ayana....Ayana..."Panggil Daniel gugup sambil menepuk pipi gadis itu.


"Sayangku...Ayana" Daren yang hendak mengambil tubuh istrinya segera ditepis Daniel dengan sorot mata iblisnya.


"Apa yang kau lakukan pada Ayana?" Geram Daniel, bagaimanapun juga ia mendengar Daren membentak wanita pujaannya itu.


Daren tak menjawab ia masih begitu syok, perlakuannya terhadap Ayana barusan sangat berlebihan, ia sama sekali tak menyisakan belas kasih bagi istrinya itu untuk membela diri dan terus menghujamnya dengan umpatan, dibalik Dendam yang masih dipendamnya Daren sebenarnya sangat mencintai istrinya itu.


"Ayana..." Daniel meraskan sesuatu yang basah ditelapaknya, darah segar mengucur deras dikepala wanita yang kini tak sadarkan diri itu," Aku akan membawanya ke rumah sakit" Daniel bangkit seraya menggendong tubuh mungil Ayana.


"Aku akan membawanya!" Tukas Daren, menahan Daniel.


"Lepaskan! " Daniel tak menghiraukan permintaan Daren dan tetap membawa Ayana masuk kedalam Lift di lantai dua. ia menutup pintu lift dan tak membiarkan adiknya itu menyusul masuk, sehingga Daren harus menggunakan tangga.


"Ada apa Daniel? Kenapa dengan Ayana? " Nyonya Bosley yang datang bersama Lohan nampak panik melihat kepala Ayana yang bersimbah darah, Namun Daniel bahkan mengacuhkan mereka dengan segala pertanyaannya,ia  terus melangkah dan membawa tubuh Ayana lalu mendudukkannya didalam mobil Daren yang memang sudah siap didepan pintu dengan kunci yang masih belum sempat dicabut Daren saat masuk,


Mobil tersebut melesat jauh dibawah kendali Daniel yang tidak berhenti menatap Ayana dan Jalanan bergantian


Tak lama kemudian Daren datang, dengan peluh yang masih bercucuran ia keluar dan mencari keberadaan istrinya yang dibawa kabur oleh Daniel, Daren tak menemukan mereka bahkan mobilnya pun ikut menghilang, hanya ibu dan Lohan yang saling merangkul khawatir menatap jalanan panjang yang kini sudah kososng.


"Kemana Daniel dan Ayana Bu?"


"Daren, ada apa sebenarnya ini? Kenapa Ayana berdarah? "


"Ia terjatuh ditangga bu"  Jawab Daren, ia segera berlari menuju garasi dan tak lagi meladeni ibunya yang masih bertanya, toh wanita itu juga sepertinya takntahunkemana mereka pergi.

__ADS_1


"Kenapa bisa terjatuh??"


"Apa Daniel membawanya ke rumah sakit?"


.


.


.


Daren mengemudikan sebuah sedan lexus keluaran terbaru dengan gusar, ia terlihat  beberapa kali memukul stir dengan perasaan campur aduk. secara bersamaan amarah yang ia rasakan memuncah hingga ingin meledak diubun-ubun ia marah kepada dirinya sendiri karena sudah menyakiti istri yang begitu dicintainya, ia pun tak habis fikir mengapa Daniel yang membawa Ayana bukan dirinya, sorot mata Daniel juga begitu menakutkan kepadanya.


"PRIA ITU!!!" pekik Daren, kemana sebenarnya Daniel membawa istrinya? Daren mengamati setiap mobil dihadapannya sambil sesekali menekan klakson kuat, namun ia sama sekali tak melihat mobilnya yang dikemudikam Daniel.


.


.


.


Kerumunan petugas medis dengan pakaian senada terlihat sudah menunggu kedatangan mereka, Adam Lee nampak membaur  disana, kali ini ia harus merelakan hari liburnya dan melaksanakan perintah Daniel.


Tubuh Ayana dipindahkan diatas brankar dan dibawa kedalam ruang pemeriksaan untuk mendapatkan perawatan selanjutnya, seorang petugas nampak tak mengijinkan Daniel untuk ikut masuk, ia terpaksa menunggu di kursi panjang.


Adam menatap Daniel dengan tatapan penuh tanya, rona khawatir dengan mata merah saga lebih menandakan kekhawatiran seorang suami dibanding kakak ipar, pakaian berkuda yang masih lengkap juga tak luput dari perhatiannya namun asistennya itu tak mungkin bertanya, ia di gaji hanya untuk melayani Daniel bukan untuk mencampuri kehidupan pribadinya.


"Kau sudah meminta rumah sakit menyiapkan ruangannya?"

__ADS_1


"Sudah tuan, kamar vvip dengan pelayanan khusus" Jawab  Adam.


Tak lama kemudian seorang dokter berjas putih keluar dari ruang pemeriksaan.


"Bagaimana keadaannya dokter?" Sigap Daniel menghampiri sang dokter.


"Pasien tidak apa apa, pendarahan dikepalanya sudah dihentikan, ia juga tak mengalami geger otak, pasien akan kami pindahkan diruang perawatan" jelas dokter, yang membuat Daniel seketika mendesah lega seraya memegang pucuk kepalanya, luapan emosi yang ia rasakan kepada Daren perlahan memudar namun tidak benar benar hilang, ia berfikir akan memberikan Daren pelajaran berharga jika terjadi sesuatu yang serius pada Ayana.


.


.


.


Ayana yang masih belum sadar dipindahkan ke sebuah ruangan yang sangat luas bernuansa biru muda, ruangan itu lebih bisa dikatakan sebagai kamar hotel  ketimbang kamar rumah sakit.


Daniel memgambil sepasang kemeja dan celana bahan yang dibelikan Adam tadi, sebelum mengijinkan pria blasteran Korea Amerika itu pulang tak lupa ia berpesan agar keberadaan Ayana jangan sampai diketahui orang lain baik itu Daren terlebih Calvin.


Setelah mengganti setelan berkudanya Daniel menghampiri Ayana yang masih tertidur pulas akibat efek obat penenang yang disuntikkan dokter kedalam cairan yang menggantung dan terhubung sebuah selang ke punggung tangan kanan Ayana.


Daniel menarik kursi dan duduk disisi sebalah kiri Ayana, ia mengelus pucuk kepala Ayana yang kini berbalut perban putih, darahnya mendidih setiap kali mengingat bentakan Daren kepada gadis pujaannya itu.


Berani beraninya !!!Geram Daniel, bayangan saat Ayana terjatuh didepan matanya bahkan masih mengusik relung jiwanya, ia menyesal tak bisa datang lebih cepat untuk melindunginya.


Hufhh....Daniel menghembuskan nafas Kuat lalu perlahan mengangkat tangan kiri Ayana dan mengendusnya Dalam, bahkan ketika ia sedang sakitpun wanita itu masih bisa membangkitkan jiwa kelelakiannya, seakan enggan kehilangan Daniel terus mengecup tangan Ayana dengan brutal hingga wanita itu mendesis lirih.


"Tolong...Tolong..." gumam Ayana, mimpi itu kembali, mimpi yang selalu menghantuinya dikala dirinya tengah bergelut antara hidup dan matinya tujuh tahun yang lalu, ia bahkan bisa melihat dengan jelas manusia manusia berlumuran darah yang tertancap sebuah besi diatas langit langi bus.

__ADS_1


"Ayana....Baby, hei..hei...." Panggil Daniel, seketika tubuh Ayana bergetar hebat disertai peluh yang mengucur deras, tangan hangat yang digenggamnya berubah beku sedingin es, "Ayana ada aku...Baby...Baby " Daniel masih berusaha menenangkan Ayana yang berkutat dengan mimpi buruknya, ia lalu naik ketempat tidur yang memang bisa memuat dua orang itu, berbaring disamping tubuh Ayana dan memeluknya erat seraya mengecup pipinya berulang kali agar wanita itu bangun dari mimpinya.


Ayana tersadar dan mulai terisak, ia menoleh dan mendapati Daniel tengah memeluknya erat, masa bodo dengan siapa, Saat ini Ayana memang sangat butuh seseorang mendekapnya dan melindunginya dari rasa takut yang seakan menjalar diseluruh tubuhnya. Ayana semakin menelungkupkan tubuhnya kedalam tubuh Daniel, wajah kecilnya membenam sempurna didada bidang pria itu, sementara Daniel hanya bisa menepuk nepuk punggung Ayana seraya menjaga infusnya tetap stabil dan tidak menyakiti tangan gadis itu.


__ADS_2