
"Morning sleeping beauty" sapa salah satu perawat dari dua orang yang ditugaskan untuk merawat Ayana selama masa pemulihannya.
"Dia adalah definisi nyata seorang cinderella dan snow white secara bersamaaan" Timpal perawat yang satunya sambik mengecek aliran infus yang terhubung dengan tubuh Ayana.
"Cinderella karena dipersunting pangeran dari castle Bosley, tapi aku kasihan padanya ia bahkan tidak tahu jika kedua orang tuanya sudah tiada" Ujar salah satu perawat itu lagi sambil menggerakkan tubuh Ayana sedikit menyamping, karena akan membersihkan punggung Ayana.
"Hush...." Satu perawat lainnya segera mendesis nyaring, memperingatkan rekan sejawatnya agar lebih berhati hati berbicara.
Sadar akan kesalahannya perawat tersebut segera mengatupkan rapat kedua bibirnya, sesuai titah keluarga Bosley, direktur rumah sakit memang mewanti wanti kepada para staf medis dibagian persalinan agar tidak membicarakan mengenai kecelakaan pesawat xxx Air di sekitar Ayana.
Setelah selesai melakukan tugasnya kedua perawat itu hendak keluar, namun langkah kaki keduanya berhenti tatkala mendengar suara desiran lirih yang sedikit bergetar, mereka segera menghampiri Ayana dan melihat jari jemari wanita yang sudah menjadi ibu itu bergerak perlahan, bibir mungilnya bergerak pelan dengan mata yang mulai mengerjap.
Perlahan potongan potongan kehidupan masa kecil yang sudah pernah ia jalani dan seakan terulang kembali sedikit demi sedikit mulai memudar dan hilang seakan menyeruak bersama angin yang baru membangunkannya dari mimpi indahnya yang terasa begitu panjang.
Ayana membuka perlahan matanya yang seperti berselaput, ia tak bisa melihat dengan jelas kecuali gambar kabur dihadapannya.
"Nona...anda sudah siuman?" gema suara itu seakan menyambutnya dengan suka cita.
Salah seorang perawat segera menekan sebuah tombol dan memanggil Dokter serta staf lainnya. tak sampai satu menit mereka semua sudah berkumpul mengitari Ayana, beberapa dari mereka segera memeriksa tanda vital melalui layar yang terhubung pada tubuh Ayana sedangkan seorang dokter obgyn yang menangani Ayana saat operasi nampak antusias menunggu Ayana hingga kedua matanya terbuka sempurna.
"Nyonya Ayana Daren Bosley? Bagaimana perasaan anda?" Dokter itu nampak bersemangat , beberapa hari Ayana tak sadar ia dibuat frustasi karena tuntutan dari Daren Bosley.
"Ay-ana Ki-mu-ra" Lirih Ayana terbata hampir tak terdengar, ia nampak tidak terima dengan julukan yang disematkan sang dokter.
" Benar Anda Ayana Kimura, qSyukurlah Nyonya, anda sudah siuman sepenuhnya" Seru sang dokter, yang disambut senyum bahagia oleh petugas medis lainnya.
Sementara Ayana masih mencoba meraba apa yang sebenarnya ia alami.
"Apa yang anda rasakan Nyonya?"
"Mimpi.. Aku ber-mimpi me-lihat diriku saat ma-sih kecil" Ayana lalu memegang kepalanya yang sedikit nyeri, sambil meringis, mimpi indahnya seketika buyar ia teringat saat sebelum kehilangan kesadarannya.
Tangan kecil itu?
Ryuu putraku?
Ayana mencoba bangkit dari tidurnya, namun seluruh tubuhnya terasa seperti remuk redam.
__ADS_1
"Nyonya sebaiknya anda jangan banyak bergerak" Tegur Dokter, melihat Ayana yang sangat ingin mengangkat kepalanya seorang perawat berinisiatif menaikkan ranjang Ayana bagian atas sehingga posisi Ayana jadi setengah duduk dengan punggung yang masih bersandar.
"Putraku..."
"Putra anda baik baik saja nyonya, bahkan berat badannya sudah bertambah 300 gram sejak dilahirkan" tutur sang dokter dengan senyum yang merekah.
Sekejap Ayana tidak fokus dengan apa yang dikatakan dokter dihadapannya, ia mengangkat kedua telapak tangannya dan melihat bekas luka di sana sudah mengering bahkan hampir tidak meninggalkan bekas.
Lalu? Ayana menarik sedikit selimut yang menutup bagian kakinya dan menemukan sudah tak ada perban disana, padahal terakhir kali yang ia ingat luka akibat batu batu krikil itu masih sangat perih.
"Bera-pa Lama Aku?" Ayana terdengar menggantung pertanyaannya, ia teringat saat mengalami koma 7 tahun yang lalu, dan terbangun tiga bulan kemudian.
"Satu Minggu Nyonya, anda baru siuman setelah satu minggu"
"Hufht....." Ayana mendesah,membuang nafas yang seakan tercekat, ia bersukur hanya seminggu, tadinya ia berfikir sudah kehilangan beberapa moment bersama putranya.
"Kami akan mengabari Tuan Daren Bosley, mengenai anda yang sudah membuka mata, suami anda pasti sangat bahagia" ujar Dokter Obgyn itu lalu memerintahkan salah satu staff nya menghubungi Daren, akan tetapi Ayana segera mencegahnya.
"Ja-ngan!" Tukas Ayana ragu, " Ia akan datang nanti, jangan menghubunginya! Sekarang aku hanya ingin bertemu putraku" sambungnya lagi, ada perasaan tak sanggup bagi Ayana saat harus melihat wajah Daren.
"Baiklah Nyonya jika itu keinginan anda"
"Aku ingin melihat putraku" Ayana mengintrupsi, membuat para dokter dan staf medis lainnya saling bertukar pandangan.
Kondisi Ayana sebenarnya belum terlalu pulih, sehingga para staf tidak mengijinkan ia untuk keluar kamar.
"Maafkan kami Nyonya Ayana, anda belum dibolehkan keluar dari ruangan" ucap Dokter.
"Aku sangat ingin menemuinya Dokter, kumohon," Ayana berusaha mengatupkan kedua telapak tangannya, ada perasaan entah yang mendorongnya untuk segera melihat wajah sang putra.
Akhirnya karena wajah mengiba Ayana sang dokterpun mengijinkannya.
Dua orang perawat segera mengambil sebuah kursi roda elektrik, dan memapah Ayana untuk duduk diatasnya. Mereka mengawal Ayana Keluar dari ruangannya dan masuk kedalam Lift, menuju ruang NICU, dimana Baby Ryuu berada.
.
.
__ADS_1
.
Luruh Air mata Ayana melihat kondisi putranya yang terlihat memprihatinkan, meski ia sudah bisa menggerakkan jari jemarinya.
"Anda jangan sedih, putra anda sangat kuat, bobotnya bahkan sudah naik 300 gram, dia lebih kuat dari pada bayi bayi prematur pada umumnya" ujar salah seorang perawat yang mengantar Ayana, ia berusaha menguatkan ibu muda itu agar tidak terus meratapi putranya.
"Kapan ia bisa keluar dari sana?" Ayana mengusap wajah putranya melalui kaca inkubator.
"Saat bobotnya sudah melebihi 2000 gram dia sudah ikut pulang bersama anda Nyonya" jelas perawat itu lagi sembari tersenyum.
"Ryuu.... Ibu disini.." Nafas Ayana serasa tercekat saat ia melihat bayi kecil itu menaikkan alisnya,ia tersenyum sambil terus menangis dan memohon maaf kepada putranya itu.
Maafkan Ibu Ryuu
Karena ibu kau jadi seperti ini !
Batin Ayana seakan menjerit, ia tak akan bisa lagi hidup jika sesuatu yang buruk terjadi kepada putranya akibat kelahirannya yang prematur.
Melihat Ayana yang terus menangis, perawatnya berinisiatif untuk membawa Ayana kembali keruang perawatan, bagaimanapun Ayana masih dalam proses pemulihan stres yang berat seperti ini bisa sangat berpengaruh pada kesehatannya.
"Anda sebaiknya kembali Nyonya" Perawat itu mulai mendorong kursi roda Ayana keluar dan meninggalkan putranya. Tak ada penolakan dari Ayana karena ia pun merasa tubuhnya sudah mulai melemah.
"Aku ingin ke Toilet" usul Ayana saat ia sadar sudah melewati sebuah pintu Toilet.
"Anda ingin buang air kecil?" tanya perawat yang tiba tiba jongkok dihadapan Ayana, sebelum ke NICU, keteter yang membantu Ayana selama ia tidak sadar memang sudah dilepaskan.
"Aku hanya ingin membasuh wajahku" Jawab Ayana lemah.
"Baiklah"
Namun saat perawat itu juga ingin ikut masuk Ayana mencegahnya.
"Bisa tunggu aku dipintu saja?" pinta Ayana, sebenarnya ia sangat ingin menangis dalam kesendiriannya.
"Tapi Nyonya,...."
"Aku hanya akan ke wastafel" potong Ayana cepat.
__ADS_1
"Baiklah Nyonya kalau begitu" perawat itu mengalah, namun ia tak membiarkan pintu tertutup sehingga masih bisa memantau kondisi Ayana dari kejauhan.
Ayana menggerakkan sendiri kursi roda elektriknya, menuju wastafle yang terletak di ujung ruangan, sementara disisi kiri dan kanannya terdapat jejeran bilik toilet berdinding kaca yang tidak tembus pandang.