HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 43


__ADS_3

Mendengar nama Ayana disebut Daniel segera menyambar Long Coat coklatnya, selain firasat yang tidak enak, ia juga tidak sabar untuk sekedar mengobati rindunya lagi pula tak ada Daren disana, ia melihat mobil adiknya itu sudah beranjak sejak tadi, Daniel memakai Long Coatnya sambil berlari untuk menutupi piyama tidur yang ia kenakan. Paviliun timur miliknya dan paviliun utama memang saling terhubung.


Daniel tiba di lantai tiga, tak ada pergerakan berarti sepanjang perjalanannya karena hampir semua pelayan sudah terlelap, Didepan kamar Ayana nampak berdiri Lohan dengan tatapan bingung dan takut yang berpadu menjadi satu.


Wanita itu memang asisten yang cocok untuk ibunya, Daniel sudah menebak jika Lohan juga mengetahui rencana gila sang nyonya besar.


"Tuan Jangan masuk dulu!" Lohan menghentikan langkah Daniel diambang pintu, dari sana ia hanya bisa melihat tubuh Ayana yang dibalut kain putih tebal.


"Mengapa?" Daniel tak sabaran, rasanya ia ingin segera melepas kerinduan dengan istri adiknya itu.


"Tuan Daren, memasang Cctv dikamar, maaf saat menelponmu aku melupakan hal itu" Lohan tertunduk merasa bersalah, jika dirinya saja yang dilihat Daren maka tidak mengapa, tapi Daniel? ah rasanya lohan ingin menoyor kepalanya kenapa tadi ia tak sempat berfikir.


Daniel mendesah berat sambil berkacak pinggang, setelah sekian detik tiba tiba saja petunjuk masuk dikepalanya, ia merogoh ponsel dari saku Long Coatnya dan melakukan panggilan, ia berbicara seraya membelakangi Lohan.


"Adam Lee hubungi bagian IT Bosley ponsel, minta mereka meretas ponsel Daren dan menghapus semua rekaman cctv didalamnya"


Daniel yakin jika cctv tersebut terhubung langsung dengan ponsel Daren, karena tidak mungkin adiknya itu menghubungkannya dengan ruang pengawas keamanan paviliun.


Panggilan berakhir, dengan kepercayaan diri penuh Daniel memghambur masuk kedalam kamar Ayana, Daren adalah CEO Bosley ponsel namun jabatan itu masih dibawah seorang Chairman, Daniel jamin tak akan ada penolakan dari orang orang Bosley ponsel.


Daniel menangkup wajah mungil Ayana dengan kedua tangannya, "Ia sedingin es, Lohan tolong nyalakan pemanas ruangan" pinta Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Ayana, wanita yang tadi masih meracau lirih itu seketika terdiam dan nampak sangat lelap saat Daniel menyentuh wajahnya.


Lohan yang sudah selesai menyalakan ruangan kembali berdiri dibelakang Daniel yang terduduk dihadapan Ayana, "Apa tuan akan membawa Nona Ayana ke rumah sakit?".


"Tidak!" mata Daniel terlihat melirik kebawah mengamati bayangan Lohan yang masih mengawasinya, "Lohan bisa kau keluar dan memberitahuku jika saja Daren sudah kembali?"


"Maksud tuan mengawasi?"


"Heem"


Lohan menurut saja, ia tahu Daniel ingin berdua saja bersama Ayana, ia paham betul situasinya, dengan begini baik bagi Ayana agar bisa cepat mengandung dan memberikan keturunan bagi keluarga Bosley.


Lohan memutuskan keluar menuju branda lantai tiga guna mengawasi pergerakan Daren, ia tak tidur semalam juga tak mengapa agar para atasannya itu bahagia.


Daniel menyusup kedalam selimut Ayana dan mendekap tubuh polos wanita itu, yang perlahan mulai menghangat setelah tiga puluh menit berpelukan. Dalam cahaya temaram lampu tidur yang dibiarkan menyala Daniel hampir menangis menyaksikan kondisi tubuh Ayana akibat ulah Daren. Ia mengepalkan kepalang tangannya kuat membayangkan Daren tersungkur dihadapnnya dengan satu kali hempasan tinju.


"Daniel...?" Ayana mulai mengerjapkan matanya, menatap sendu kearah manik yang memancarkan binar kebahagiaan, jika ini mimpi maka Ayana tak ingin cepat berakhir, ia memang begitu merindukan sosok kakak iparnya itu.


"Ayana...kau-" Ayana membekap mulut Daniel dengan tangannya.


"Jangan berbicara...aku tak ingin mimpi indahku berakhir," Ayana menelungkupkan kepalnya pada ceruk leher Daniel dan mendekapnya erat, sambil terisak ayana berbisik "Aku merindukanmu Tuan Daniel, sangat merindukanmu , aku fikir akan gila jika tak melihatmu".


"Aku juga merindukanmu sayangku," Balas Daniel, Ayana mendongakkan kepalanya rasanya ia seperti tidak bermimpi, Ayana menelan saliva dan mengedarkan pandangannya, ini kamarnya? tapi pria dihadapannya apakah benar Daniel? Ayana tersadar dan mendorong dada Daniel menjauh, ia takut pria tersebut ternyata Daren dan mendengar semua racauannya mengenai Daniel.

__ADS_1


Ia meraih remote di atas nakas, menekannya dan secara otomatis menyalakan lampu crystal yang menggantung indah di langit langit.


"Daniel?" Kali ini Ayana yakin pria itu Daniel, sekali lagi Ayana mengedarkan pandangan, ini kamarnya! dan akan berbahaya jika Daren pulang.


Daniel segera menarik lengan Ayana dan membuat wanita itu kembali berbaring dalam dekapan dada bidangnya.


"Aku senang mendengarnya kukira kau menyesalinya" ucap Daniel seraya mencium pucuk kepala Ayana


Mendengar perkataan Daniel seketika rona wajah Ayana berubah merah jambu, kali ini perasaannya pada Daniel yang sesungguhnya sudah diketahui kakak iparnya itu.


"Apakah kau mau ketempat rahasiaku?" Daniel mendongakkan kepala Ayana dan gadis itu hanya mengangguk dengan wajah yang bersemu merah, meski sebenarnya ia tidak tahu tempat apa yang dimaksud Daniel.


Daniel membantu Ayana memakai piyama dan sebuah long Coat berbahan katun lalu mengajaknya keluar paviliun menuju kandang kuda, ditengah perjalanan Ayana sempat menghentikan langkahnya hingga Daniel yang berjalan didepannya dengan menarik tangannya itupun ikut berhenti.


"Ada apa sayang?"


"Bagaimana dengan Daren?"


"Aku berjanji Daren tak akan pulang malam ini!" ujar Daniel yakin karena saat hendak keluar dari kamar Ayana ia menerima sebuah pesan gambar yang dikirim Calvin, saat adiknya itu masuk kedalam sebuah ruangan dengan seorang wanita.


Daniel membawa Ayana kesebuah kandang kuda, Dan memilih sebuah kuda hitam yang sangat besar untuk dipasangi pelana, "Namanya felicity" ucap Daniel sambil mengelus wajah kuda tersebut.


"Felicity..."Panggil Ayana lembut ia juga ikut mengelus tubuh kekar sang kuda, " Apa kita akan......"


Belum sempat Ayana melanjutkan perkataannya Daniel sudah mengangkat tubuh mungilnya naik keatas kuda disusul ia, kini mereka menunggangi kuda yang sama.


"Kita akan kemana?"


"Hutanku"


Kuda itu melaju tidak terlalu cepat, meyusuri hutan Maple yang nampak temaram oleh cahaya rembulan.


"Bukankah kau tak mengijinkan siapapun masuk kesini?"


"Itu tidak berlaku bagimu"


"Apa aku spesial?"


"Kau sangat spesial" Ujar Daniel penuh penekanan seraya menatap lekat wajah teduh Ayana yang kini mendongak melihat dirinya.


"Sejak kapan?" tanya Ayana


Daniel, bergeming ia hanya tersenyum dan mempercepat laju kudanya, merapatkan tubuhnya lebih lagi kepada wanita dihadapannya hingga mereka tiba di sebuah rumah berdindingkan batang kayu maple yang menghadap langsung kesebuah danau yang tidak begitu besar, Pancaran sinar rembulan di air seakan menambah kesan indah pada Danau, yang semakin memperindah wisata malam yang mereka lakukan.

__ADS_1


Daniel kembali menggendong tubuh Ayana dari atas kuda, meneggenggam tangannya erat hingga mereka sampai pada branda rumah yang berada tepat diatas Danau,Ayana duduk seraya menjulurkan kaki kedalam Danau.


"Apa kau tidak kedinginan seperti itu?"


"Heem" Ayana menggelang sambil menggerak gerakkan kedua kakinya didalam air,"Ini aman kan ? tak ada buaya?"


" Buayanya ada disampingmu!" Canda Daniel lalu ikut duduk disamping Ayana, memandangi sekitar hutan dan rembulan yang masih setia memberikan sinar temaramnya.


Dua orang itu saling menatap dalam, dan sesekali mengulum senyuman, apakah cinta memang seindah ini? Daniel seakan tak percaya jika kembali merasakan jatuh cinta layaknya seorang remaja.


"Kau belum menjawabku, sejak kapan aku spesial bagimu?" Ayana mengulang pertanyaan yang sama.


"Entahlah Sepertinya sejak pandangan pertama" Jawab Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Ayana.


"Di rooftop?"


Daniel hanya mengangguk.


"Bahkan liburanmu di Maldives pun semua aku yang mengaturnya" Kini Daniel mengaku, toh tak ada guna lagi menutupi semuanya.


"Apa??" pekik Ayana ia tak percaya apa yang didengarnya," Maksudnya itu bukan hadiah perusahaan??Jadi Calvin tahu semuanya ? lalu apa koperku yang hilang juga kau yang mengaturnya?" Kali ini Ayana sedikit kesal, ia menyilangkan tangan didada dengan bibir yang mengerucut mengingat kejadian itu.


kehilangan di bandara sebuah negara yang baru pertama kali dipijakinya adalah hal yang paling menakutkan yang pernah ia rasakan.


"Itu adalah kecelakaan, aku sangat khawatir saat itu, maafkan aku" ujar Daniel seraya membelai lembut kepala Ayana, hingga wanita itu kembali ke mode semula.


"Maafkan aku yang tidak menyadarinya" Ayana penuh penyesalan, dua manik matanya menatap dengan perasaan yang entah, ia merasa terjebak dalam sebuah hubungan yang tak memiliki ujung dan pangkal, Daniel memiliki istri dan begitupun dirinya ditambah lagi status saudara antara suaminya dan Daniel.


"Apa tak mengapa kita berselingkuh seperti ini" pertanyaan Ayana terdengar begitu polos dan bodoh, tentu saja mereka sadar jika itu adalah sebuah kesalahan besar.


"Apa kau keberatan? Daniel semakin merapatkan wajahnya, satu tangannya menarik pinggul Ayana yang duduk disampingnya.


Ayana menggeleng, pria itu lalu membaringkan tubuh Ayana dan mengungkuhnya dari atas, dua nafas anak manusia yg dimabuk nafsu itu kembali bergemuruh.


"Apa kau ingin merasakan sensasi bercinta disini?" Bisik Daniel.


"Di luar ruangan?"


"Heem..."


"Apa bisa?" itu adalah kata kata terakhir Ayana sebelum mereka larut dalam sebuah penyatuan dengan peluh yang saling bertukar, menjadikan malam temaram sebagai saksi permainan yang berlanjut hingga rona fajar mulai nampak di ufuk timur.


Daniel ini memang paling tidak bisa milih tempat, gak rumah sakit, outdor hadeuh🤣🤣😅

__ADS_1


__ADS_2