HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 49


__ADS_3

Ponsel Adam Lee telah menempel sempurna ditelinga Ayana, ia menunggu dengan penuh kecemasan saat suara tut di ponsel itu seakan menunggu untuk dijawab.


"Mosi mosi, " sapa Tuan Kimura Lembut, namun seketika ia menitihkan air mata saat bukan suara Adam yang didengarnya melainkan suara Ayana yang disertai deru tangisan bahagia yang penuh kerinduan.


"Ottosan...Ini Ayana putrimu hiks ...."


"Putriku? Ayana! Anakku bagaimana kabarmu sayang?"


"Aku baik baik saja Ayah!hiks..hiks.."isakan Ayana semakin menjadi, ia teringat Daren yang menyimpan dendam dengan pria yang paling mencintainya itu.


"Ayana...,ayah dan ibu sangat merindukanmu, mengapa tak pernah memberi kami kabar? dan bagaimana suamimu ia baik padamu putriku?"


"Iya a-yah dia Ba-ik" Jawab Ayana masih dengan isakan tangis.


Memdengar suara terbata putrinya Tuan Kimura Tahu jika semuanya sedang tidak baik baik saja.


"Apa Daren...Hufht...."Tuan kimura menghela nafas panjang tak sanggup rasanya ia menceritakan mengenai Daren, meski terbesit kemungkinian di hati pria tua itu jika Ayana sepertinya sudah mengetahui segalanya.


"Apa suami mu yang melarangmu untuk menghubungi ayah dan Ibu?Apa Daren menyakiti putri Ayah?"


Ayana menggeleng kuat "Ti-dak ayah" sangkalnya penuh dusta, Kali ini Adam memberikan sebuah saputangan putih bermotif bunga kepada Ayana untuk menyeka air matanya yang langsung digunakannya.


"Ayah menyayangimu putriku, maafkan ayah karena kesalah ayah dimasalalu kamu harus....."


"Apa maksud Ayah?kesalahan apa? Daren sangat baik padaku, ia hanya sangat protektif sehingga tidak membiarkanku memiliki ponsel" Ayana tak ingin membuat Ayahnya lebih sedih lagi dengan mengungkit kejadian masa lalu, meski ia pun sangat penasaran apa sebenarnya yang dilakukan ayahnya 7 tahun yang lalu terhadap Barbara.


"Benarkah nak? " Kini Tuan Kimura mulai terisak, ia terduduk disamping tubuh istrinya yang terlelap, ia tahu betul bagaimana Ayana menyembunyikan kondisi yang sebenarnya, yah anak itu sudah mengetahui segalanya.


"Ayah...jangan menangis"Ucap Ayana namun ia sendiri sesegukan.


"Ayana...ayah tidak ingin kau menjadi tumbal kesalahan ayah..jangan pura pura kau pasti sudah mengetahui segalanya, ayah hanya ingin kau tau jika waktu 7 tahun bisa diulang ayah tetap akan memyelamatkanmu bukan orang lain" Tutur Tuan Kimura.


Deg...Jantung Ayana seakan berhenti berdetak, kini ia mulai menerka, jika kematian Barbara memang karena dirinya,dalam kondisi kritis ayahnya lebih memilih menyelamatkan putrinya dari pada Barbara.

__ADS_1


"Ayah..." Panggil Ayana Lirih


"Heem...."


"Terima kasih Ayah, maaf mengecewakanmu" Ayana teringat bagaimana ia yang mengatakan ingin menggantikan posisi Barbara sementara Ayahnya mengorbankan nyawa orang lain untuknya.


"Tidak sayang, Ayana putriku sama sekali tidak mengecewakan Ayah, sekarang kau boleh jujur pada ayahmu ini, jika pernikahanmu tidak bahagia ayah akan membawamu pulang sekarang juga" Tuan Kimura tak bisa menghilangkan prasangkanya jikan Daren punya maksud terselubung dengan menikahi Ayana, ia tahu pria itu tidak segan menyakiti Ayana demi membalaskan dendamnya.


"Tidak ayah, aku bahagia" jawab Ayana, ia sangat merindukan kedua orang tuanya, namun bercerai disaat ia mengandung bukanlah keputusan yang baik, terlebih Ayana tahu jika anak yang dikandungannya adalah idaman mertuanya, maka semua persoalan tidak akan selesai semudah itu, "Berikan aku waktu ayah, tak ada yang menyakitiku disini jadi ayah tak perlu khawatir, kau bisa memantau keadaanku melalui....." Ayana menatap pria disampingnya, yang ia tahu dia adalah asisten pribadi Daniel, namun mereka sama sekali belum berkenalan secara resmi.


"Adam Lee Nona!" ucap Adam yang seakan mengerti maksud tatapan Ayana.


"Melalui Tuan Adam Lee, aku juga akan menghubungi Ayah melalui ponsel Tuan Adam lain kali"


"Ah iya ayah bagaimana kabar ibu.....?"


Belum sempat Ayana mendengar jawaban sang Ayah ia keburu mengakhiri panggilannya karena mendengar suara gagang pintu yang diputar paksa. adam Lee segera memgambil ponselnya dan berjalan menghampiri pintu untuk membuka kuncinya, jantungnya berdebar kuat menerka jika Daren adalah sosok dibalik pintu, maka ia tak akan memiliki alasan mengapa ia mengunci pintu dan berduaan dengan istrinya.


Namun Ayana dan Adam Lee bisa bernafas lega saat melihat seorang perawat dengan nampan berisi injeksi berada diambang pintu saat Adam Lee dengan perasaan entah membuka pintunya.


Adam Lee menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur, ia mengambil mochi di atas nakas dan hendak memberikannya kepada Ayana.


"Apa itu Mochi?"


"Benar Nona"


Ayana menerima kue kenyal nan lembut itu dengan dua tangan lalu memakannya.


"Terima kasih Tuan Adam Lee, aku kira tak ada lagi yang bisa kuajak bicara disini, ternyata tuhan masih baik dan mengirimmu"


"Jangan terlalu formal padaku Nona, kau bisa memanggilku Adam"


"Baiklah!" Ayana kembali mengambil mochi yang disuguhkan Adam, entah mengapa setelah berbicara dengan Ayahnya nafsu makan Ayana berangsur membaik setelah sebelumnya ia bahkan tak bisa menelan apa apa.

__ADS_1


"Nona, bisa rahasiakan ini dari Tuan Daniel? dia hanya tahu aku membawa Mochi tidak lebih dari itu" pinta Adam.


"Baiklah Adam....sekali lagi terima kasih, aku tak tahu harus membalas dengan apa kebaikanmu hari ini"


"Nona tak perlu berterima kasih padaku, kau hanya perlu menjadi putri yang baik bagi ayah dan juga ibumu"


Mendengar perkataan Adam kembali memunculkan rasa bersalah dihati Ayana karena ia bukanlah seoarang putri yang baik, ia menjelma menjadi seseorang yang bahkan melemparkan kotoran ke wajah kedua orang tuanya sendiri.


Ayana tertunduk dan kembali menyeka air matanya yang jatuh dipipi yang masih menggembul karena mengunyah mochi.


Hah....Adam mendesah ia meraih sapu tangannya di atas tempat tidur dan memberikannya kembali pada Ayana untuk digunakan. Pria itu sepertinya tahu apa yang kini dirasakan wanita dihadapannya.


"Jalani hidupmu dengan Baik nona, ingat kau masih punya tempat untuk pulang jika hidupmu memang begitu melelahkan"


"Terima kasih Adam Lee.., bisakah kau bicara tidak formal padaku? panggil Aku Ayana saja"


"Maaf Nona, tapi kau adalah istri atasan ku, aku tidak bisa melakukannya" Adam Lee menundukkan kepala sebagai tanda maaf.


"Kalau begitu panggil aku Ayana saat tak ada siapapun" pinta ayana lagi.


"Baiklah No...eh maksudku Ayana"


Mereka berdua saling melemparkan senyuman.


Ah...Ayana begitu lega hari ini, senyuman kepada Adam Lee adalah senyuman pertamanya setelah melewati hari hari yang seperti dipenjara.


Pria Korea itu berpesan agar Ayana menghabiskan mochinya sebelum beranjak pergi, namun saat hendak memutar gagang pintu tiba tiba Ayana kembali memanggilnya kembali.


"Adam...."Ayana menyodorkan sapu tangan yang sudah ia gunakan "Maafkan aku, sudah menggunakannya"


"Kau simpan saja"


"Tapi ini sepertinya Handmade , dia terlihat begitu berharga" ucap Ayana sambil meraba sulaman bunga yang terdapat pada saputangan tersebut.

__ADS_1


"Itu memang sangat berharga, aku titipkan padamu agar kau menjaganya dan selalu mengingat jika ada kehidupan berharga lainnya yang harus engkau jaga" ujar Adam dengan senyuman penuh arti, ia berharap Ayana semangat dalam menjalani hari harinya kelak.


"Baiklah!" Lirih Ayana saat asisten kekasihnya itu sudah benar benar hilang dibalik pintu.


__ADS_2