HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 5


__ADS_3

"Kau sudah bangun tuan?" Tanya Ayana ramah, ia lalu memberi kode bagi Daniel untuk bergeser sedikit karena ia juga ingin duduk, Daniel yang nampak bego itupun menurut saja, ia merasa selain Calvin baru kali ini ada orang yang berlaku tidak sopan padanya.


"Bukankah nyaman tidur disini tuan?aku juga suka beristirahat disini. sebelum aku masuk, tempat ini hanya penuh dengan tanaman hias yang kering kerontang sekarang bukankah begitu rindang? aku yang merawat tanaman tanaman ini" tutur Ayana menyombongkan diri seraya menepuk dadanya.


"Ck..."Daniel berdecak dan tertawa miris.


"Apa kau tak mengenalku?" tanyanya dengan suara berat dan sedikit serak. Ayana hanya menggeleng bingung.


" Apa kau juga bekerja disini?kau baru disini?"


Ayana segera menepuk jidatnya, tentu saja bagaimana mungkin ia bisa mengenal ribuan pegawai yang bekerja disetiap perusahaan yang berbeda, ada baiknya jika ia memperkenalkan diri duluan.


"Perkenalkan tuan namaku Ayana Kimura, Aku adalah pegawai kontrak di Bosley ponsel dan aku berasal dari Jepang."


Daniel tertegun ia memandangi gadis cantik yang masih sangat fresh dihadapannya itu. Ayana! itu adalah nama yang sama yang ia dengar dipembahasan meja makan pagi ini. Melihat Daniel yang melamun Ayana mengayunkan tangan dihadapan wajah Daniel hingga membuyarkan fikirannya.


"Tuan! tuan! mengapa kau melamun? ah aku tahu kau pasti menebakku dari korea iya kan?" Canda Ayana lalu tertawa renyah.


Daniel masih bergeming ia mebiarkan tawa Ayana menguasai rongga telinganya dan mata yang hanya dihiasi wajah gadis jepang itu.


Jadi seperti ini rasanya bergaul dengan seseorang yang sama sekali tidak mengenali diriku!!! daniel membatin


"Jadi tuan siapa namamu?"


"Daniel!!" jawab Daniel singkat tanpa memperkenalkan nama belakangnya, namun sudah terfikir olehnya untuk memperkenalkan diri sebagai Daniel Smith jika saja gadis itu bertanya mengenai nama belakangnya. Sial! daniel merasa sudah gila seperti Daren pantas saja anak itu selalu lari dari nama Bosley!


"Apa kau sudah punya kekasih? " Daniel yang tak pandai berbasa basi langsung membuka pertanyaan yang sangat pribadi. ia penasaran apa gadis ini benar kekasih Daren atau bukan.


Tatapan Ayana seketika berubah penuh kecurigaan, namun ia masih bisa mengimbanginyanya dengan balasan penuh canda dan nada ceria. "Tuan jangan berani berani !!" ujar Ayana seraya memperlihatkan cincin dengan berlian kecil, yang melingkar di jari manisnya ".


"Baguslah!!" Daniel lalu menyenderkan punggungnya dan menatap langit luas dengan mata dan jidar yang mengkerut.

__ADS_1


"Bukankah itu menyakitkan?" tanya Ayana


"Apa??"


"Menatap sang mentari!! tapi itulah hebatnya manusia ia bahkan bisa menjalani hal yang paling menyakitkan sekalipun tanpa memikirkan proses yang dilaluinya, Seperti dirimu demi kepuasan Hati menatap matahari kau tidak memikirkan matamu yang kesakitan"


"Ck...sok bijak!"


"Ah sudahlah aku juga tak tahu apa yang ku katakan" Ayana nyengir kuda.


Daniel melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua , ini artinya jam makan siang sudah berakhir dan ia masih melihat pegawainya santai disini, Meski ia tahu Ayana adalah calon adik iparnya namun ia tetap seorang karyawan yang harus memiliki rasa tanggung jawab.


"Mengapa kau masih disini? bukankah kau harusnya masuk kantor?" tanya Daniel dengan tatapan menginterogasi.


"Hufht.....Chairmanku hari ini berkunjung, mereka tengah mengadakan pertemuan penting dan tak ingin ada pegawai kontrak yang mengganggu, kau sendiri tahu kan terkadang tingkah pegawai kontrak lebih sok dari pada pegawai tetap, maka dari itu semua pegawai kontrak dibiarkan keluyuran"


"Oohh....Apa kau juga sok seperti pegawai kontarak lainnya?"


"Bagaimana jika Chairman mu sendiri yang mengangkatmu sebagai karyawan tetap?"


Tatapan Ayana menyipit ia seperti merasakan dejavu dengan pertanyaan seperti ini.


"Kau tahu tuan hari ini aku kesal dengan kekasihku karena memberiku pertanyaan yang berandai andai, bagaimana jika penerus Bosley group melamarku, dan kini kau bertanya bagaimana jika chairman mengangkatku, ah sudahlah aku tidak punya jawaban atas pertanyaan yang seperti itu"


"Apa kau merasa nyaman membahas kekasihmu pada orang asing?" tanya Daniel dengan wajah kesal, namun di dalam hatinya ia membenarkan jika Daren yang ia maksud memanglah anak dari keluarga Bosley. Meski begitu baru kali ini ia merasakan sensasi berbicara pada orang yang tidak mengenalnya dan ia harus terusik cerita mengenai Daren.


"Maafkan aku tuan, lagi pula apa masalahmu?" ketus Ayana dengan bibir yang dimajukan, Daniel yang melihatnya dari samping itupun merasa gemas.


Tak lama kemudian petir bergemuruh memekakkan telinga, dan seketika langit yang terang diselimuti awan hitam yang sangat tebal, Ayana dan Daniel menatap heran kearah langit yang tiba tiba berubah teduh.


tik

__ADS_1


tik


tik


hujan perlahan turun dan meninggalkan titik titik air yang semakin lama semakin banyak.


"Tuan ayo" ajak Ayana yang sudah berlari memayungi kepala dengan kedua tangannya, Daniel menyusul kemudian setelah menarik jasnya ia menyusul langkah Ayana yang terhenti didepan pintu keluar, ada sedikit kanopi disana sehingga jika berdiri didepan pintu tubuh tidak akan terkena hujan, namun sialnya pintunya macet dan tak bisa dibuka, Ayana berusaha membuka pintu namun tetap tak bisa.


"Ada apa?" tanya Daniel, ia kini berdiri tepat di belakang Ayana dengan menempelkan tubuhnya pada Ayana karena Kanopi yang hanya muat melindungi satu orang saja .


"Sepertinya terkunci tuan" jawab Ayana sedih, Daniel lalu semakin menempelkan tubuhnya untuk memutar gagang pintu namun tetap tak bisa terbuka.


posisi ini seketika membuat Ayana tak nyaman, ia bahkan bisa mendengar nafas Daniel yang saling berburu , tubuhnya yang mungil seakan tertelan kedalam tubuh Daniel yang kekar. Namun tak mungkin mendorong Daniel keluar atau ia akan kehujanan.


Hujan semakin tumpah ruah sesuka hatinya, dan tubuh Ayana dan Daniel pun semakin merapat, Ayana sedikit menggeser tubuhnya agar tercipta jarak dan membiarkan bagian belakang tubuhnya kebasahan hingga kemeja putih yang ia gunakan memperlihatkan siluet Bra hitam yang melingkar di punggunngnya.


Daniel yang menyadari hal itu segera menarik Ayana kepelukannya ia merangkul pinggang wanita mungil itu dengan satu tangan. kini bukan hanya desa*an nafas bahkan Ayana bisa merasakan usapan bulu dada Daniel di pipinya.


Ayana terdiam seribu bahasa ia hanya tertunduk sambil berdoa agar hujan segera reda dan pintu ini cepat terbuka.


Sementara Daniel menatap lekat kepala Ayana yang tertunduk malu, matanya tertutup menikmati wangi rambut Ayana tatkala ia menghirup nafas. Tangannya semakin erat memeluk tubuh calon adik iparnya itu hingga membuat Ayana harus menggigit bibir.


"Hanya hari ini saja" bisik Daniel, yang merasakan hawa panas mengalir diseluruh tubuhnya"Besok kita akan memiliki cerita yang berbeda" lanjut Daniel.


Ayana yang yang tak mengerti lalu mendongak keatas mendapati bibirnya tepat berada dibawah dagu Dañiel, "Benar tuan esok lupakan kejadian ini karena aku sangat malu dan takut pada kekasihku"


mendengar kata kekasih disebutkan Daniel semakin mempererat rangkulannya, kini wajah Ayana benar benar terbenam didalam dada bidangnya.


panas gak ?


panas gak?

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2