
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Darren yang tak bisa menyembunyikan gurat kekahawatirannya dihadapan dokter yang badu saja menjalani serangkaian pemeriksaan kepada Ayana.
Kini wanita itu sudah lebih baik, ia telah tertidur lelap setelah diberi penenang disalah satu ruang perawatan Vvip, Luka diwajahnya akibat cakaran Lauren sudah tidak lagi terlihat menakutkan, hanya meninggalkan beberapa Goresan kecil yang tidak lagi mengeluarkan darah.
"Dia baik baik saja Tuan, begitupun kandungannya yang sudah memasuki usia delapan minggu"
Deg....
Darren bingung harus bereaksi seperti apa mendengar Ayana yang kini tengah mengandung buah cintanya bersama Daniel. Ini seakan mempertegas jika memang sudah benar benar tak ada lagi tempat dirinya dihati Ayana.
Dokter akhirnya meninggalkan Ayana dan Darren berdua.
Darren menarik sebuah kursi dan duduk disisi ranjang Ayana, meski sempat segan namun akhirnya ia tak bisa menahan ketika telapak tangannya mengusap lembut pucuk kepala Ayana.
"Maafkan aku Ayana" Ucapnya penuh sesal.
Sementara satu tangannya mengusap perut rata Ayana dari balik selimut.
"Ryuu, kau akan segera memiliki adik" gumamnya lagi, Darren tak bisa menahan saat bulir air matanya yang lolos begitu saja dari manik mata birunya, ia yakin kali ini Daniel akan memberikan kehidupan terbaik bagi Ayana, wanita yang ia cintai itu pasti mendapatkan curahan kasih sayang yang melimpah ruah dari suaminya dimasa kehamilannya yang kedua ini. Tidak seperti saat mengandung Ryuu dulu, Dirinya yang berstatus suaminya itu hanya bisa memberikan luka yang memilukan.
"Ayana mengapa begitu sulit merelakanmu? apakah keputusanku benar untuk hidup tersiksa dengan perasaan yang tak akan bisa hilang ini?" Darren mulai menyeka air matanya, namun kali ini tubuh Ayana bergerak menyamping hingga memunggungi Darren.
Punggung wanita itu nampak bergetar menahan isak tangis agar tak terdengar oleh Darren.
"Ayana,__"
"Terima kasih" desir Ayana, ia mengatakan itu dengan tangan yang mengepal sempurna, ia benci harus mengatakannya.
Kenapa harus pria itu yang membawanya kerumah sakit?
Ayana memang sempat tak sadarkan diri, namun saat berada didalam mobil ia bisa merasakan jika tubuhnya berada diatas pangkuan Darren.
__ADS_1
Pria itu bahkan beberapa kali mendaratkan kecupan dipucuk kepala Ayana bercampur rasa khawatir yang berlebih. Namun kondisi tubuh yang lemah membuat Ayana tak bisa menghindar , untuk membuka matanyapun ia tak sanggup.
"Kau tak perlu berterima kasih, bahkan jika aku harus memberimu nyawaku,aku masih belum layak mendengar kata terima kasih darimu"
"Aku ingin suamiku" Lirih Ayana, yang masih memunggungi Darren, ia seakan tak peduli dengan perkataan Darren barusan.
"Istirahatlah, sebentar lagi Daniel akan datang, kau harus menjaga kandunganmu" ucap Darren lesu.
"Hamil?" Ayana menggigit bibir bawahnya, ia sangat bahagia mendengar kabar kehamilannya, namun ia menyesalkan mengapa harus Darren yang menjadi orang pertama yang tahu!
Sudah tiga bulan ini Ayana memang tidak mengkonsumsi pil Kb yang diberikan Daniel, sehingga ia tak terlalu terkejut dengan kabar kehamilannya.
saat masih berada di Maldives, Ia sangat berharap bisa melihat jejak kaki kecil bisa terpatri diatas hamparan pasir putih yang begitu indah.
"Keluarlah!!" Titah Ayana pelan namun terdengar penuh penekanan.
Darren sadar kehadirannya mungkin akan berdampak buruk bagi Ayana, lagi pula wanita itu sudah sadar, itu artinya tugasnya menjaga Ayana sudah selesai, mungkin ada baiknya ia segera memberitahu Daniel perihal istrinya.
"Beristirahatlah, aku akan memberi pelajaran bagi Lauren" ucap Darren sebelum beranjak pergi. Meninggalkan Ayana yang bahkan tak sudi menatap wajahnya.
"Jangan biarkan saja!!" Cegah Ayana tanpa menoleh.
Meski Darren mengatakan akan memberi pelajaran pada Lauren namun yang sesungguhnya ia sudah meminta Asistennya untuk mengurus Lauren dan melaporkannya pada pihak berwajib.
"Mengapa kau selalu seperti ini Ayana? Kau terlalu mudah untuk ditindas, mengapa dulu kau tidak berontak padaku alih alih terus memohon?"
"Jika saat itu aku melawanmu mungkinkah orang tuaku masih hidup? "Ayana kini sudah berbalik dan terpaksa menatap lekat Darren, "Bukankah kau akan semakin menyakitiku?"
"Ayana...aku, "Lidah Darren tiba tiba kelu, ia memang kehilangan kesadaraannya dimasa lalu karena dendam dan hubungan Ayana dan Daniel.
"Aku sudah menyakitimu, maka dari itu aku tak ingin orang lain menyakitimu juga"
__ADS_1
"Berhenti!!" Tukas Ayana saat melihat Darren hendak berbalik,"Lauren pantas melakukannya, bahkan jika kau ingin melakukan hal yang sama aku juga akan menerimanya" Tutur Ayana yang membuat dada Daren semakin sesak.
"Aku tidak percaya kau tidur dengan Daniel dimalam sebelum pernikahan"
"Bukankah kau percaya aku dan Daniel tidur bersama di Maldives, karena itu kau mengajak Jal*ng itu dan melakukannya dihadapanku?"
"Maaf Ayana"
"Aku melakukannya dengan Daniel karena kecewa dengan mu, yang bahkan masih menyimpan semua kenangan Barbara, Aku merasa dilindungi saat bersama Daniel tapi kau bahkan membentakku hanya karena masuk keruangan sialan itu"
"Aku pertama kali melakukannya saat dirawat pertama kali dirumah sakit, awalnya aku merasa bersalah tapi tekanan yang kau berikan membuatku terus menerus merindukan perlindungan dan kenyamanan yang ditawarkan kakak iparku sendiri"
Dada Ayana naik turun menahan amarah dan rasa sedih yang bercampur tatkala mengutarakan kisah cintanya yang mungkin lebih bisa dianggap Aib dari masalalunya.
"Kita tidak akan pernah impas Darren, Kau akan selalu membenciku begitupun sebaliknya, jadi kumohon biarkan saja seperti ini berhenti melakukan sesuatu yang sia sia demi menebus kesalahanmu, karena aku juga tidak akan melakukannya" tutur Ayana, ia tiba tiba saja teringat dengan apa yang terjadi saat dirinya mengunjungi makam orang tuanya.
"Hal sia sia?" Darren membeo.
Ayana adalah tipikal wanita yang memiliki hati selembut sutra, ia benci ketika melihat Darren begitu peduli dengan makam kedua orang tuanya, Darren memang memastikan setiap hari harus ada persembahan di makam itu padahal di negaranya mereka hanya melakukan setiap tahun sekali.
Bahkan menurut penjaga makam, setiap sore sepulang dari kantor Darren pasti menyempatkan untuk melakukan penghormatan di depan makan mantan mertuanya itu. Saat mengetahui itu semua ada desiran aneh di dalam hati Ayana untuk memberi kesempatan Darren meminta maaf, namun tak bisa ia lakukan.
"Berhenti mengunjungi makam orang tuaku!" Tukas Ayana.
"Itu yang kau sebut sia sia? Ayana aku melakukannya bukan untuk mendapatkan maaf darimu, aku melakukannya agar tetap bisa melanjutkan hidupku, setidaknya ada sesuatu yang bisa kulakukan meski sama sekali tidak mengurangi rasa bersalahku, aku hanya ingin tetap bisa hidup demi Ryuu"
"Istirahatlah, aku pastikan Daniel akan segera tiba" akhirnya Darren meninggalkan Ayana, saat didepan pintu rawat, tubuh Darren merosot, ia terduduk sambil bersandar pada dinding.
"Benar Ayana, tetaplah seperti itu, kau tak boleh dengan mudah memaafkanku" lirihnya.
Sementara di dalam kamar Ayana mulai terisak, ia bukan Darren yang bisa menyimpan dendam berkepanjangan, namun ia tak rela memaafkan orang seperti Darren. Kini ia seperti berdiri disebuah persimpangan.
__ADS_1