HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 30


__ADS_3

Ayana menggigit bibirnya sambil sesekali meraba dengan tangannya, ia masih belum sepenuhnya bangkit dari tempat tidur, masih menyenderkan punggungnya di sandaran ranjang dengan setengah tubuhnya dibalut selimut, tatapanya terlihat kosong sambil mengingat rasa yang masih tertinggal itu, tak ada gambaran yang bisa ia ingat karena terjadi dikegelapan malam.


Daren yang baru keluar dari dalam walk in closet yang menyatu dengan kamarnya itu menatap wajah Ayana yang terlihat begitu pucat pasi dengan buliran keringat yang mengerumuni wajah cantiknya.


"Sayang, Kau sakit?" Daren menghampiri Ayana yang masih memegang bibirnya dan menatap kosong kedepan, ia menempelkan jemarinya di dahi Istrinya itu. Dan betul dugaannya Ayana memang tengah demam.


"Aku akan memanggil dokter untuk merawatmu"


"Apa aku demam?" Kali ini Ayana memegang kepalanya," Benar aku demam" herannya, padahal ia tak merasakan apapun, hanya rasa nikmat yang sejak malam menggelitik relung hati dan jiwanya hingga membuatnya seakan tak bisa merasakan tubuhnya, ah perasaan apa itu yang membuatnya terasa melayang?


"Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan sarapan dikamar dan memanggil dokter merawatmu"


"Tidak perlu Daren, aku hanya butuh penurun panas dan istirahat" Benar, Ayana mengangguk ia memang akan mengurung diri dikamar guna menghindari Daniel dihari minggu ini, itu artinya dia tak bekerja dan akan tinggal dirumah.


"Baiklah kalau begitu, aku akan meminta pelayan menyiapkan yang kau butuhkan" ucap Daren sambil mendaratkan sebuah kecupan di dahi Ayana.


"Apa kau akan bekerja?" tanya Ayana melihat stelan jas lengkap yang dipakai Daren,"tapi ini hari minggu!" tukasnya.


"Iya sayang, hari ada pertemuan penting dengan salah satu rekan bisnisku," Jelas Daren.


"Huh...baiklah"


"Hemmm Daren...!" panggil Ayana lagi saat setengah tubuh suaminya itu sudah berada diluar .


Daren kembali dan memenuhi panggilan istrinya itu.


"Kenapa sayang?"


"Apa....hemm..apakah dalam keluarga Amerika ciuman dibibir itu hal lumrah? "tanyanya Ragu dengan suara yang dikecilkan diakhir.


"ciuman, dan kecupan berbeda, saat bertemu sepupuku yang perempuan terkadang aku mengecupnya, aku juga mengecup ibuku, bibi ...jadi...sepertinya itu lumrah" Daren mengerutkan dahinya "mengapa kau bertanya begitu? "


"Ah tidak...aku hanya asal bertanya" ujar Ayana sambil nyegir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Sepertinya 5 tahun di Amerika belum membuatmu tahu semua kebiasaan orang orang Disini, Baiklah aku pergi dulu" Pamit Daren sambil menutup pintu pelan.

__ADS_1


Ayana kembali meraba bibirnya, kecupan? itu bukan sekedar kecupan bahkan lidahnya meraung didalam mulutnya, hingga ia terengah engah.


"Ahhh....." Ayana membenamkan kepalanya dibantal lalu berteriak sekuat tenaga, bagaimana ia bisa menghadapi kakak iparnya itu kelak. apakah dibenaknya itu bisa dikatakan hadiah kepada adik ipar? sedangkan mengingatnya saja membuat nafsu Ayana bergelora.


Daniel kau!!!! pekik Ayana.


.


.


.


.


...****...


"Mana Ayana?" Tanya nyonya Bosley melihat Daren hanya datang seorang diri untuk sarapan, seraya menunggu seorang pelayang selesai mengoleskan mentega pada rotinya. posisi semua seperti biasanya Nyonya Bosley duduk di tempatnya dengan Daren dan Daniel yang saling berhadapan, Lohan mematung dengan sebuah Ipad dalam pelukannya tak sabar ingin memberitahukan sebuah berita besar pada nyonyanya.


"Dia sedang sakit!" santai jawaban Daren, sambil memberi kode kepada kepala pelayan agar mendekat padanya.


Daniel dan Nyonya Bosley terperanjat, namun pria 35 tahun itu dengan cepat menguasai ekspresinya.


Terbesit rasa khawatir di hati Daniel, bagaimanapun Ayana jatuh kekolam karena kesalahannya, andai dia tidak mematikan lampu! tapi andai ia tak melakukannya ia tidak akan bisa menyesap bibir gadis pujaannya itu, ah..mungkinkah ini nikmat yang membawa derita, meski merasa bersalah namun Daniel sama sekali tidak menyesal.


"Sakit? Lohaannn....panggil dokter keluarga untuk mengobati Ayana" titah sang nyonya besar panik.


"Tidak perlu bu...aku sudah menyuruh kepala pelayan membawakan makanan dan obat penurun panas"


"No....no..no...Ayana adalah calon ibu dari cucu ku dia harus mendapatkan perawatan dokter" Tegas nyonya Bosley.


"Sudahlah bu, kepala pelayan sudah pergi" Daren memberi kode pada Lohan agar menghentikan aktifitasnya mencari nomor telepon dokter keluarga mereka.


Pantas saja nyonya Bosley khawatir karena Ayana tak boleh sakit, itu akan mempersulit proses kehamilannya, ditambah lagi ia masih memikirkan cara bagaimana membuat Ayana dan Daniel semakin dekat, ia sudah mengutarakan niatnya kepada Lohan untuk mengirim Ayana dan Daniel berbulan madu tanpa sepengetahuan Daren tapi Lohan menolak rencana bodoh itu, wanita berkawat gigi itu tak habis fikir dengan rencana yang seperti muncul dari kepala anak tk itu.


Aku sudah kalut lohan! menantu dan salah satu anakku mandul, sementara aku sudah menua, bagaimana jika keluarga Bosley tak memiliki penerus, aku tidak bisa membayangkannya.

__ADS_1


Itu yang dikatakan Nyonya Bosley yang membuat Lohan sedikit terenyuh sehingga tak bisa tidur sepanjang malam memikirkan jalan keluar permasalahan atasannya itu , ia sedang berjalan mondar mandir dikoridor saat Ayana lewat dengan membawa segelas air di tangannya menuju kolam berenang.Karena itu ia tak sabar memberitahukannya kepada Nyonya Bosley informasi yang sudah ia kumpulkan.


.


.


.


"Mom...Aku brangkat!" pamit Daren lalu mengecup pipi ibunya itu, sedangkan kepada Daniel ia hanya menaikkan alisnya tanda pamit.


Ritual sarapan selesai, padahal sebelum berangkat dari paviliunnya Daniel sangat berharap bisa bertemu Ayana dimeja makan, namun gadis itu malah sakit. Daniel menatap jejeran undakan anak tangga lama, ada perasaan ingin menengok keadaan gadisnya itu , tapi apa yang akan dikatakan para pelayan nantinya jika melihatnya masuk kedalam kamar Daren !


Melangkah enggan pergi tak mau, itu yang dirasakan Daniel kini , ia hanya berdiam diri menatap anak tangga dihadapannya.


"Ada apa Daniel?" Tanya Nyonya Bosley dari arah belakang , ia bisa memastikan sepertinya kecurigaannya benar adanya, pria itu sangat ingin menemui Ayana.


"Ah tidak ada bu, aku menunggumu ingin mengajak berkuda " jawab Daniel asal.


"Ibu?berkuda? Ah..kau tau akhir akhir ini   belakang ibu sering sakit ibu sudah tidak sanggup lagi melakukan olahraga berat, bagaimana jika kau mengajak Ayana"


"Nyo...nya...." tegur Lohan pelan seraya berbisik, atasannya itu benar benar tidak sabaran, bagaimana jika Daniel bisa membaca gelagat ibunya yang seakan sengaja memberinya ruang bersama Ayana.


"Ayana??" Daniel menautkan kedua alisnya


"bukankah dia sedang sakit!"


"Oh iya ibu lupa" nyonya Bosley menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia terlalu bersemangat ingin melihat interaksi kedua orang itu.


"Baiklah ibu kalau begitu aku akan berkuda seorang diri"


Lohan dan nyonya Bosley menatap punggung Daniel bersamaan hingga pria itu tak terlihat lagi.


"Lohan...bukankah kau bilang ada kabar baik?"


"Benar nyonya..."Lohan menatap sekeliling lalu mengajak nyonya Bosley keruang seninya.

__ADS_1


"Jangan bicara disini Nyonya ayo keruang seni"


"Baiklah.."nyonya Bosley menarik dengan kuat tangan Lohan menuju lift yang membawanya satu lantai lebih tinggi.


__ADS_2