
Dengan nafas memburu Daren tak henti hentinya menatap Daniel melalui spion yang kini membaringkan kepala Ayana di pangkuannya, dan satu tangannya mengusap peluh dan rambut yang mengerubuni wajah pucat istrinya.
Daren semakin gusar tatkala raut wajah khawatir Daniel melebihi dirinya.
"Bisa kau tak menyentuhnya??" tegur Daren.
Seketika dua pandangan Bosley bersaudara itu bertemu dispion, sebuah tatapan penuh dendam dari keduanya.
Daniel tak mengindahkan perintah Daren, tangannya masih terpatri di pipi Ayana.
"Ceraikan ia!! Karena aku tahu tak ada cinta dihatimu untuk Ayana, kau menikahinya demi untuk membalaskan dendammu pada Dokter Kimura"
Heh....Daren tertawa miris " Kau menyelidikiku?" tatapan Daren tak percaya jika Daniel sudah berbuat sejauh itu untuk mengusik kehidupan pribadinya.
"Kau sadar apa yang barusan kau katakan? Mengapa aku harus....heh..."Daren tak bisa melanjutkan perkataannya, ia hanya tertawa tak percaya diujung kalimatnya.
"Ceraikan Ayana!" Tukas Daniel sekali lagi
"AKU MENCINTAINYA!!!!apa hakmu menyuruhku meninggalkan wanita yang mengandung anakku, Dendam katamu?? Aku bahkan bersedia melupakan dendamku karena rasa cinta!"
"Cih...." Daniel berdecih karena dua hal, yakni dendam yang memudar dan anak. Ia tak mau gegabah memberitahukan Daren jika bayi dikandungan Ayana adalah miliknya, karena tak ingin membuat Ayana berada diposisi yang paling disalahkan.
Mobil Hammer Daren kembali ke halaman paviliun utama, mereka berdua tahu jika Ayana memang akan lebih aman mendapatkan perawatan di rumah.
"ah...ish..."Ayana meringis dalam ketidak sadarannya dengan air mata yang terus berderai, dialam bawah sadarnya ia kini tengah memeluk kedua orang tuanya di Jepang, Ayana berfikir sudah berhasil kabur dari belenggu Daren dan keluarganya.
Terkadang mimpi bisa terasa begitu nyata jika kita sangat menginginkannya.
Daren membuka pintu belakang mobil di sisi yang berbeda, dua bersaudara itu saling melempar tatapan bringas saat kedua tangan mereka bersamaan hendak mengangkat tubuh Ayana.
"Aku akan membawa Ayana kekamar KAMI!!" ujar Daren penuh penekanan disetiap katanya, seakan ingin menegaskan jika Ayana adalah istrinya dan sebagai seorang kakak ipar Daniel tidak berhak menyentuhnya.
__ADS_1
"Cih..., Ayana istrimu tapi ia adalah wanita yang....." belum sempat Daniel menyelesaikan kalimatnya tiba tiba Nyonya Bosley dan Lohan serta beberapa pelayan sudah berada dibelakang Daren.
Wajah tuanya diliputi kepurapuraan, Daniel hanya bisa meraup wajahnya kasar melihat sang ibu yang mulai memgambil peran.
"Ayaaaanaaaku......."Tangis Nyonya Bosley pecah, ia menyingkirkan tubuh Daren dari ambang pintu mobil dan menyaksikan sendiri kondisi Ayana dengan telapak kaki dipenuhi darah segar.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN CEPAT ANGKAT MENANTUKU KE KAMARNYA!!" titah Nyonya Bosley disusul pergerakan kerumunan pelayan untuk mengangkat tubuh Ayana, sebuah roda Brankar terdengar mendekat Tubuh Ayana dilindahkan keatas brankar.
Semenjak Ayana hamil Daren memang mengisi salah satu ruangan dilantai 3 dengan beberapa alat alat rumah sakit, meski tidak selengkap dirumah sakit namun setidaknya bisa digunakan jika terjadi keadaan darurat seperti ini, sekarang ia tinggal menelpon dokter dan beberapa perawat untuk menangani Ayana.
Daren dan nyonya Bosley mengikuti pergerakan brankar yang kini sudah masuk kedalam lift, sedangkan Daniel hanya turut menyaksikan dari jarak yang sedikit agak jauh.
"Bagaimana keadaan istriku ??" tanya Daren, kepada Dokter yang baru selesai memeriksa Ayana, sementara dua orang perawat masih membalut telapak kaki Ayana dengan perban.
"Cucuku bagaimana dokter?" kali ini Nyonya Bosley menimpali pertanyaan yang lain.
Sementara Daniel hanya bisa bersandar pada sebuah dinding dengan tangan dilipat didepan dada. Menatap iba pada gadis yang terkulai lemah dihadapannya.
"Kandungannya baik baik saja, ia hanya terkena hypotermia ringan, saya harap anda sekeluarga bisa menjaganya karena tubuhnya begitu rapuh" jelas sang dokter.
Daren duduk ditepi ranjang sambil merapikan selimut tebal yang membekap tubuh dingin Ayana.
"Apa kau akan disana sepanjang malam?" Daren berujar tanpa memindahkan tatapannya dari sang istri.
Daniel tak bergerak sedikitpun ia hanya berdecih kesal "Cih....".
"Aku tahu tatapanmu itu! Aku pun seorang pria, dan yang lebih parahnya aku adalah adikmu Daniel Bosley" Daren kini berbalik dan langsung mencengkram kuat kedua sisi kerah piyama Daniel, namun sekali lagi pria itu tak berekspresi. Berbeda dengan Daren yang mulai menampakkan urat disekujur wajah dan lehernya, hingga buku buku tangannya ikut memutih karena cengkramannya yang begitu kuat, namun ia masih bisa menahan emosinya yang kini meluap luap. Rasanya sekali saja Daniel menyebut nama istrinya mungkin Daren akan melayangkan tinju kuat kewajah kakaknya itu.
Daniel mendektkan bibirnya ke telinga Daren, ia bisa merasakan nafas memburu sang adik.
"Apa kau tidak menginginkan kursi Chairman Bosley Group" Bisik Daniel, lalu menatap Daren datar.
__ADS_1
Daren memicingkan matanya, cengkramannya sedikit ia longgarkan, ia berusaha mencermati arti perkataan Daniel.
"Apa maksudmu?"
"Aku bisa membuatmu menjadi seorang Chairman asal kau bersedia memberikan ayana kepadaku" ujar Daniel santai, namun berhasil menyulut emosi Daren yang memang sudah berada di ubun ubun.
"BEDEBAH!!!!" Pekik Daren tidak terima.
Buk.....sebuah tinju akhirnya lolos ke wajah tampan Daniel, hingga ia terhuyung lalu terduduk. Daniel mengusap darah segar yang mengalir di sudut bibirnya.
Daren kembali mengangkat tubuh Daniel dengan menarik kasar kimono tidurnya. Kedua pria itu kembali berhadapan.
Daren merasa sepertinya telinga dan ubun ubunnya sudah mengeluarkan asap.
Kali ini Daniel juga mencengkram kerah baju Daren dan saling menatap benci seakan hubungan saudara yang terjalin diantara mereka berakhir detik itu juga.
"Kau...aku tidak menyangka kau pria yang seperti itu! Apa yang sudah kau lakukan pada istriku HAH!!!" bentak Daren.
"Aku akan memperjuangkan Ayana, meski harus kehilangan segalanya!"timpal Daniel.
"Brengsek kau Daniel!!"
Saat Daren hendak kembali memukul Daniel, Daniel menahannya dengan sebelah tangan lalu membalasnya juga dengan sebuah hantaman tinju yang cukup kuat, kini giliran Daren yang terjatuh dengan sudut bibir berdarah.
Mereka berdua saling memajui untuk menyelesaikan pertikaian hingga titik darah penghabisan, sekelibat bayangan masa kecil mereka sirna dan menguap begitu saja diudara, mereka berdua layaknya orang asing yang harus saling menghabisi dan hanya menyisakan satu orang sebagai pemenang.
"HENTIKAN!!!" Pekik Nyonya Bosley kuat, melihat pertengkaran dua putra kesayangannya.
Dengan berderai air mata Nyonya Bosley berjalan kesebuah meja bundar dimana terdapat sebuah botol Vodka milik Daren.
Wanita tua itu meraih dan memecahkan botol tersebut, lalu mengarahkan pecahannya kelehernya sendiri.
__ADS_1
"KALIAN INGIN MELIHAT MAYAT IBU DISINI???" Teriak nyonya Bosley kesetanan.
Sontak Daniel dan Daren saling mendorong dan menjauh.