
Setelah Ayana tidak sadarkan diri dokter kembali memasang selang infusnya dan memberikannya sebuah suntikan obat penenang agar ia bisa beristirahat lebih lama.
Ayana tertidur dengan sebuah dengkuran halus, menandakan ia lelah secara lahir maupun batin, matanya bengkak dan sembab bahkan masihbterlihat genangan di sudutnya.
Daren hanya bisa memijit kepalanya duduk disisi sebelah kiri Ayana,membayangkan betapa ia begitu kejam kepada gadis polos yang sudah ia perhatikan saat masa wisudanya dulu, tatkala ia diundang sebagai tamu kehormatan.
Ia hanya memikirkan kemalangan Barbara saat itu, padahal Ayana pun sama menderitanya.
Sementara Daniel di dekat pintu masuk terlihat berbicara serius kepada Adam Lee, ada bebera pekerjaan yang terpaksa ia limpahkan kepada Adam yang tidak sempat ia selesaikan hari ini, ditambah lagi ia memutuskan untuk menginap dan memantau keadaan Ayana bersama Daren.
Adam sempat mendelik tidak percaya kearah atasannya itu.
"Tenang saja saya hanya ingin memastikan Ayana Aman, tidak akan ada pertengkaran" ujar Daniel mengusap lengan kekar Adam, kini ia bisa paham mengapa Adam begitu perhatian kepada Ayana, karena pesan Terakhir tuan Kimura kepadanya.
"Kalau begitu saya permisi Tuan" pamit Adam sambil membungkuk sembilan puluh derajat kepada Daniel sebelum keluar.
Daniel menghela nafas saat memutar tubuhnya menatap punggung Daren dan Ayana yang terkulai, ia terlalu lelah untuk berdebat dan berharap semoga malam ini Daren tidak memancing Huru Hara.
Daniel menarik kursi kesisi yang berlawan dari Daren, ia duduk disamping ranjang Ayana sambil mengusap punggung tangan wanita itu. Meski Daren sempat meliriknya dengan tatapan jengah namun sama seperti Daniel, ia juga terlalu lemah untuk berdebat.
"Kenapa harus Ayana?" Daren memecah keheningan malam yang sudah dini hari.
"Entah...aku menyukainya sejak pertama melihatnya, dia ceria dan selalu bercerita mengenai kekasih yang begitu ia cintai"
Seketika Daren memicingkan mata seraya menajamkan pendengarannya.
"Dia begitu bangga padamu, tanpa tahu apa apa jika kau menggunakannya sebagai alat balas dendam cih..." Daniel berdecih diakhir kalimat.
__ADS_1
"Kau menggodanya duluan?"
"Aku tidak tahan ingin memilikinya, disampingnya aku merasa seperti pria berguna yang melindunginya"
Daren yang mendengar penuturan kakaknya seakan menahan gejolak Amarah yang tak akan ia keluarkan malam ini.
"Jangan bahas lagi!" Tukas Daren, ia tidak tahan mendengar cerita keintiman antara kakak kandungnya dan istrinya sendiri.
Malam semakin larut dua orang bersaudara itu tak bisa menyembunyikan riak kelelahan yang terpancar dari wajah masing masing, memimpin sebuah perusahaan ditambah lagi memikirkan wanita yang mereka cintai tengah mengalami kehilangan yang amat mendalam membuat beberapa hari tak bisa tidur dengan nyenyak, atau bahkan tidak tidur sama sekali.
Ayana mulai tersadar sepertinya efek obat penenangnya mulai hilang, ia mengerjapkan mata dan menatap langit langit, kesedihannya kembali tatkala menyadari jika semuanya memang benar terjadi, mungkin itulah alasan mengapa tuhan mengirim kedua orang tuanya kedalam mimpinya selama ini.
Kini yang ia miliki hanyalah Ryuu, namun bayi mungil itu tidak cukup untuk membangkitkan semangat hidupnya, bagi Ayana ia sudah terlalu jauh jatuh kedalam jurang. Ayana menoleh ke samping dan mendapati Daren yang tengah terlelap dengan posisi duduk dan wajah yang dibenamkan disisi ranjang, ia tak mungkin bersama pria yang berstatus suaminya itu bagi Ayana Daren terlalu menakutkan.
Ayana sadar diruangan yang nampak temaram itu Mereka tidak hanya berdua, ia bahkan bisa merasakan sentuhan Daniel yang begitu menenangkan di tangannya, pria itu menggenggam erat Ayana sebelum berpindah kesebuah sofa dekat jendela, Daniel tak ingin memancing emosi Daren malam ini, sehingga ia lebih memilih menjauh.
Ayana mencoba bangkit dari tidurnya dan melepas paksa infus yang melekat dipunggung tangan kanannya.
"Maaf sudah menghianatimu, Aku yakin kau dan Ibu akan menjaga Ryuu dengan baik, titip Ryuu" Sebenarnya Ayana ingin sekali menangis sejadi jadinya seraya memukul pria yang bahkan meringis dalam tidurnya itu sambil berteriak mengapa kau melakukan ini padaku?tapi Ayana sudah tak memiliki kekuatan, protes ,meraung, marah tak akan pernah mengembalikan kedua orang tuanya, dan akhirnya kata kata itu lolos begitu saja.
Dengan langkah gontai Ayana beejalan mendekati sofa ingin sekali ia mengelus pipi pria yang sudah membuat Ryuu lahir kedunia ini, namun urung ia lakukan, karena itu mungkin akan membangunkannya.
Di kehidupan berikutnya aku harap bisa terlahir kembali sebagai kekasihmu, yang bisa membuatmu selalu tersenyum bahagia dan saat itu tiba Aku berjanji akan mencarimu dan menemukanmu duluan, tidurlah dengan nyenyak sayang, maafkan aku. Ayana membatin.
Dengan berderai air mata dan langkah tanpa suara, Ayana berhasil meninggalkan ruang perawatannya setelah sebelumnya mengambil Long Coat milik Daniel untuk menutupi dress rumah sakit yang ia kenakan. Ayana berjalan pelan menyusuri koridor dengan tatapan hampa hingga akhirnya ia berhasil keluar dan menghentikan sebuah taxi. Ayana tidak sadar sepasang mata sudah mengawasi gerak geriknya sejak di pelataran parkir rumah sakit.
Ayana duduk di jok belakang sambil menatap keluar kearah jendela, meratapi penyesalan terdalamnya untuk melanjutkan study dikota yang ia anggap sudah mengutuk kehidupannya.
__ADS_1
"Anda mau kemana Nona malam malam begini?" tanya sang supir taxi setelah melirik jam digital yang terpasang di dashboardnya, pukul 3 pagi, biasanya ia hanya akan mendapatkan pelanggan mabuk pada jam segini.
"Current beach" jawab Ayana santai, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Current Beach?" supir taxi itu seakan tidak percaya, itu adalah pantai yang paling dihindari, dan lagi letaknya sangat jauh dari pusat kota butuh dua jam perjalanan dengan mobil baru bisa sampai.
"Apa nona punya kerabat disana atau memang tinggal di daerah sana?" tatapan supir taxi di spion depan nampak penuh selidik, entah mengapa ada perasaan mengganjal di hatinya saat seseorang menyebutkan pantai yang paling dihindari oleh orang banyak itu karena Rip Currentnya yang terkenal ganas, terlebih lagi gadis dibelakangnya adalah orang Asing.
Ayana bergeming dengan pertanyaan supir taxi tersebut, ia sudah tak memiliki semangat apapun untuk melakukan sesuatu.
Melihat reaksi Ayana sang supir pun berhenti untuk mencari tahu lebih dalam lagi, yang terpenting adalah ia mendapat pelanggan jarak jauh yang akan membayar mahal.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, Baik ayana maupun supir taxi tersebut tak lagi mengeluarkan kata kata, setelah hampir dua jam mereka tiba di kawasan current beach karena taxi itu melaju cukup cepat, Ayana turun dan menyerahkan sebuah cincin yang sudah lama melingkar dijari manisnya, itu adalah cincin yang sematkan Daren saat pertama kali melamar Ayana.
"Ini asli, anda bisa mengeceknya sendiri" ujar Ayana lemah.
Supir tersebut mengamati cincin yang terlihat sangat berkilau itu, meski bukan ahli perhiasan namun siapapun yang melihat bisa memgetahui jika benda itu memang sangat mahal.
"Tapi Nona anda tak ada uang cash ? Ini terlihat sangat berharga"
Ayana hanya menggeleng pelan.
Hufht....supir taxi itupun hanya bisa mendesah pasrah, entah cincin ini anugrah atau malah petaka.
Bagaimana jika cincin ini curian?
"Itu milikku sendiri, terima kasih sudah mengantarku!" Jelas Ayana seakan tahu isi hati supir taxi tersebut. Ayana lalu membungkuk memberi hormat dan berlalu.
__ADS_1
Sebelum masuk kembali kedalam taxinya supir tersebut mengedarkan pandangan dan menemukan sebuah mobil sedan bergoyang terparkir tepat dibibir pantai dengan ombak yang cukup tinggi itu.
Tak lama kemudian sedan lainnya datang, mungkin ia tak perlu khawatir toh setidaknya ada manusia lain didaerah ini.